
Kabar mengenai Putri Permaisuri Changle yang jatuh sakit juga sampai ke Istana Dalam. Selir-selir yang pandangannya telah berubah terhadap Qingyi mulai memiliki sedikit simpati yang berubah menjadi sebuah kekhawatiran.
Mereka tidak menunjukannya secara langsung, karena jelas mereka tahu bahwa Kaisar Baili sangat tidak senang terhadap segala hal yang berkaitan dengan Putri Permaisuri Changle.
Aneh, jelas-jelas dia sendiri yang mengangkat Qingyi menjadi Putri Permaisuri Changle. Ah, mungkin Kaisar Baili terlalu kesal karena Qingyi lebih hebat mempermainkan orang dibanding dirinya. Kemampuan gadis itu dalam menarik hati orang lain jauh lebih hebat dibanding dirinya yang seorang kaisar.
Selir Jia, yang hidupnya telah terselamatkan juga tidak melepas tangannya. Dia mengirim Baoning ke mansion Raja Changle untuk menyampaikan rasa terima kasihnya atas bantuan yang diberikan oleh Putri Permaisuri Changle.
Akan tetapi, pelayannya kembali lagi dan mengatakan bahwa Raja Changle melarang kunjungan terhadap Putri Permaisuri dan menutup pintu gerbang mansionnya.
Melihat semua hadiahnya dibawa kembali, Selir Jia jadi tahu bahwa permasalahan keracunan Putri Permaisuri Changle cukup parah. Jika tidak, Raja Changle tidak mungkin sampai menutup kediamannya sendiri. Gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya itu tampaknya menempati posisi penting di dalam hati Raja Changle.
“Aku akan pergi sendiri,” ucapnya. Baoning membulatkan matanya.
“Tidak, Nyonya. Selir tidak boleh keluar tanpa izin Yang Mulia,” dan mata pelayan itu berkaca-kaca.
Kemarin majikannya sudah membuat masalah dengan meminta bantuan sampai Kaisar Baili tidak senang. Jika sekarang melakukannya lagi, bisa-bisa majikannya akan berakhir di Istana Dingin.
Memikirkannya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. Tempat seperti Istana Dingin bukan tempat yang bagus. Selain kotor, di sana juga bau dan pekerjanya kasar.
Baoning pernah mendengar ada selir-selir yang diasingkan di sana melakukan bunuh diri karena hidup tertekan dan tidak dikasihi kaisar. Rumor mengenai Istana Dingin yang berhantu juga bukan hal baru di harem kerajaan.
“Kita memang tidak bisa pergi tanpa izinnya. Tapi, seseorang bisa membuat kita keluar dari istana dengan mudah,” ujar Selir Jia, wajahnya dipenuhi senyum kemenangan.
Tengah hari kemudian, sebuah kereta kuda berbendera keluarga kekaisaran terparkir di depan mansion. Orang yang keluar dari kereta itu adalah Janda Permaisuri Ming, diikuti oleh Selir Jia dan beberapa pelayan serta penjaga.
Melihat tamu Raja Changle adalah sang Ibu Suri, para penjaga itu lantas membukakan pintu gerbang dan mempersilakan mereka masuk dengan mudah. Salah seorang penjaga agak terkejut saat matanya melihat Baoning.
Janda Permaisuri Ming menemui Baili Qingchen di kediamannya. Namun, pria itu tidak ada dan pelayan mengatakan bahwa tuan mereka sedang merawat Putri Permaisuri di halaman barat.
Hati Janda Permaisuri Ming berbunga-bunga. Ia pikir itu bagus, daripada melihat pasangan itu beradu mulut setiap hari.
“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat,” ucapnya ketika sampai di halaman barat.
Saat itu, Baili Qingchen sedang memaksa Qingyi untuk membawanya masuk ke dalam kamar, karena waktu untuk bersantai di luar sudah cukup.
Baili Qingchen melepaskan gadis itu, lalu berjalan menghampiri Janda Permaisuri.
“Yang Mulia,” sapanya. Janda Permaisuri Ming tersenyum.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
Baili Qingchen mengerti, kemudian pergi ke halaman timur bersama Janda Permaisuri Ming. Sementara itu, Selir Jia tetap di kediaman Qingyi, menatap Qingyi dari atas sampai bawah. Tatapannya aneh, Qingyi merasa curiga. Wajahnya terlihat kesal dan sangat ingin memakan orang.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Salam kepada Yang Mulia Putri Permaisuri Changle,” kata Selir Jia dibarengi dengan gerakan memberi hormat ala gadis-gadis Bingyue ketika menghadapi orang yang lebih tua dan mulia.
Qingyi tercengang, lalu di melangkah mundur. Hei, apa yang selir itu lakukan barusan? Dia memberi hormat padanya?
Sopan santun Selir Jia membuatnya takut. Ini tidak seharusnya terjadi. Selir Jia, mungkinkah otaknya sudah rusak karena depresi?
Kemarin-kemarin jelas masih meminta bantuan dengan kasar, sekarang malah berubah total? Qingyi jadi curiga selir itu menginginkan sesuatu.
__ADS_1
“Aku tidak butuh salam hormatmu. Segera pergi dari sini!” usir Qingyi.
Sudah tahu akan diusir, selir itu menanggapinya dengan senyuman yang penuh kesabaran. Dia memberi isyarat pada Baoning, lalu menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang kepada Qingyi.
“Ini adalah sedikit hadiah dariku. Mohon Yang Mulia Putri menerima niat baikku.”
“Apa yang kau inginkan?”
Ditatap dengan heran, Selir Jia kemudian tersenyum lagi. Kali ini senyumnya terlihat lebih tulus. Ia tahu, Putri Permaisuri Changle pasti tidak mempercayainya.
Gadis itu menolongnya karena terpaksa dan bukan atas keinginannya sendiri. Meskipun caranya sangat ekstrim, setidaknya itu masih berguna.
Jelas-jelas itu pilihan yang lebih baik ketimbang harus tunduk pada Selir Xian. Perkataan orang benar, Putri Permaisuri Changle yang tidak bisa ditebak ini sungguh luar biasa.
Dalam satu gerakan, dia berhasil membuat Selir Xian dihukum dan nyawanya sendiri terselamatkan. Yah, meskipun Selir Sui harus mati akibat insiden itu.
“Yang Mulia Putri, aku datang untuk berterima kasih padamu atas bantuan yang kau berikan.”
“Itu saja?”
“Ya. Tidak ada niat lain.”
Qingyi berdecak malas. Jadi, selir ini jauh-jauh datang dari istana hanya untuk mengucapkan terima kasih? Ah, Qingyi merasa ini sudah berlebihan. Dia menolongnya karena terpaksa, dan Selir Jia ternyata sangat tersentuh.
Jika tahu begini, dia akan menuruti perintah Baili Qingchen untuk tidak ikut campur dalam urusan ketiga selir itu. Lebih baik dia fokus mencari pelaku utama.
“Hadiahnya sudah kuterima. Kau boleh pergi.”
Selir Jia malah masih berdiri di sana.
Bukan Qingyi namanya jika hatinya tergerak. Qingyi bukannya tersentuh, ia justru bergidik.
Baili Qingchen benar, seharusnya dia tidak mencampuri masalah di antara Selir Sui, Selir Jia, dan adiknya Liu Erniang. Gadis itu menatap Selir Jia sekali lagi, menyurhnya agar segera pergi dari kediamannya.
“Hah, aku tidak suka orang yang bermulut manis. Terserah apa maumu, aku tidak ingin kau ada di sini,” usir Qingyi. Kemudian, dia melengang masuk ke dalam kamarnya.
Selir Jia menghela napas. Usahanya setidaknya berhasil. Dia bisa mengungkapkan keinginannya meskipun respon dari Qingyi tidak sesuai harapan. Seperti yang ia duga, Putri Permaisuri Changle tidak mudah mempercayai orang.
Jangankan wanita yang awalnya menjadi musuhnya, bahkan Raja Changle saja mungkin masih belum mendapat kepercayaannya. Selir Jia tiba-tiba berhadapan dengan orang yang lebih sulit pemikirannya daripada seorang permaisuri.
“Baoning, tidak peduli apapun yang dilakukan Putri Permaisuri dan seperti apapun responnya, dia adalah sekutu kita.”
Baoning, mengangguk mengikuti perintah majikannya.
Di halaman timur, Janda Permaisuri Ming dan Baili Qingchen duduk saling berhadapan dalam satu meja. Udara dingin menyusup, padahal jelas ini baru tengah hari.
Janda Permaisuri Ming menatap adik iparnya dengan dalam, menyelami ketajaman manik mata yang diwariskan dari mertuanya itu. Lalu, dia menghela napas.
Dulu ketika Baili Qingchen masih muda, Janda Permaisuri yang saat itu masih menjadi Permaisuri Ming sering mengunjungi istana tempat Janda Selir Sun tinggal. Setiap kali melihat Baili Qingchen kecil, dia selalu menggendongnya dan mengajaknya bermain. Tidak jarang dia juga sering membawa putranya, Baili Jingyan, untuk ikut bermain bersama paman kecilnya.
Sayang sekali, hubungan yang manis itu harus kandas ditelan situasi. Kekuatan mengerikan yang ada pada kendali Baili Qingchen memaksa putranya menjatuhkan wibawa pamannya sendiri dan terus menekannya.
Tidak ada lagi kehangatan yang terjalin seperti dulu. Di mata putranya, pamannya ini adalah musuh yang nyata.
__ADS_1
“Apa yang ingin kau katakan, Yang Mulia?” tanya Baili Qingchen.
“Panggil aku kakak ipar,” jawab Janda Permaisuri, mengoreksi panggilan Baili Qingchen.
“Aku hanya menggunakannya ketika kakakku masih hidup. Rasanya begitu asing memanggilmu dengan sebutan itu.”
Itu benar. Sejak kakaknya meninggal dan hubungan keluarga kekaisaran renggang, Baili Qingchen tidak pernah lagi menggunakan panggilan ‘kakak ipar’ kepada Janda Permaisuri Ming.
Dia hanya memanggilnya dengan sebutan ‘Yang Mulia’ atau ‘Ibu Suri’ setiap kali bertemu. Nama itu menjadi akrab seiring waktu dan Baili Qingchen perlahan melupakan bahwa dulu hubungan mereka pernah terjalin begitu dekat dan hangat.
“Jika dipikir-pikir, rasanya sudah lama sekali. Mungkin enam, atau tujuh, atau lebih. Aih, lihatlah ingatanku yang buruk ini,” ucap Janda Permaisuri Ming.
“Jika Yang Mulia datang untuk bernostalgia tentang masa lalu, maka silakan kembali ke istanamu.”
Melihat kelugasan dan keengganan di mata Baili Qingchen dalam membicarakan masa lalu, Janda Permaisuri Ming menyerah. Seperti biasa, adik iparnya ini selalu mengatakan sesuatu secara langsung.
“Baiklah, aku tidak akan bercanda lagi. Apa kau sudah mengetahui siapa pelaku sebenarnya dari semua kejadian ini?”
Sudut mata Baili Qingchen berkedut. Namun, dia tetap tenang seperti biasa. Gejolak emosi yang meradang di dalam hatinya tidak tampak dari luar.
Dia menatap ke langit sebentar, kemudian bergumam untuk menjawab pertanyaan Janda Permaisuri Ming, “Ya. Tapi akan sangat sulit memberitahukannya kepada publik. Beberapa orang mungkin tidak akan dapat menerimanya.”
“Sudah kuduga. Apa orangnya ada di istana?”
Untuk pertanyaan ini, Baili Qingchen membiarkan Janda Permaisuri Ming menjawabnya sendiri. “Baiklah. Terserah padamu. Putraku telah memberikan otoritas penyelidikannya kepadamu, aku tidak meragukanmu,” sambungnya.
“Sebagai Pengawas Negara, kau bisa melakukan tugasmu dengan baik. Tapi, sebagai seorang paman, kau terlalu keras pada keponakanmu sendiri. Yan’er memang keras kepala, tapi dia bukan orang yang ceroboh. Kesalahannya kali ini tidak sepenuhnya harus ditumpahkan kepadanya.”
Baili Qingchen mendongak.
“Dia bukan ceroboh, tapi terlalu lamban dan teledor,” ucap Baili Qingchen.
Jika ada pengawal atau pejabat yang mendengarnya, Raja Changle ini pasti akan dikritik dan dijebloskan ke penjara karena menghina kaisar.
Tapi, di hadapan Janda Permaisuri Ming dan di matanya sendiri, sosok Kaisar Baili hanyalah keponakannya yang nakal dan naif. Itu sebabnya dia harus selalu berdiri di sampingnya agar langkahnya tidak salah.
“Kau bahkan mengejeknya di hadapan ibunya sendiri. Chen’er, kau memang keturunan ayah mertuaku.”
“Sebagai Kaisar, dia bahkan tidak bisa melindungi istri-istrinya sendiri. Yang Mulia, setelah kau kembali, ajari dia bagaimana caranya melindungi istri.”
Tawa Janda Permaisuri Ming tertahan di tenggorokan. Baili Qingchen ini sedang mengatai siapa? Siapa sebenarnya yang tidak bisa melindungi dan memanjakan istri?
“Ikuti perkataanmu saja. Aku kemari bukan hanya untuk menanyakan itu.”
“Lalu apa lagi?”
“Aku ingin menjemput Xiao Du dan Xiao Di.”
“Tidak ada Xiao Du dan Xiao Di yang kau maksud di sini.”
“Ada. Permaisurimu membawanya dari istana beberapa hari yang lalu.”
Barulah Baili Qingchen teringat akan sepasang angsa putih yang dibawa Qingyi ke mansion. Rupanya merekalah yang dimaksud Xiao Du dan Xiao Di.
__ADS_1
Baili Qingchen menyunggingkan senyum tipisnya, lalu berkata dengan ringan tanpa emosi, “Mereka ada di kediaman Pangeran Kecil. Tangkaplah jika Yang Mulia ingin mengambilnya kembali.”
Janda Permaisuri Ming agak terkejut. Ternyata, ini tujuan Putri Permaisuri Changle membawa kabur kedua angsa kesayangannya!