Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 70: Mengacaukan Malam Pertama


__ADS_3

Perjamuan berakhir lebih cepat dari yang diperkirakan. Para menteri dibubarkan dan pulang dengan berbagai spekulasi bergumul di dalam kepala.


Menurut mereka, pertunjukkan tadi lebih menarik ketimbang saling menjatuhkan saat rapat pengadilan. Tentang bagaimana keluarga Raja Changle mengejutkan kaisar dengan membawa seorang keturunan kekaisaran dari luar, juga tentang bagaimana mereka membungkam keluarga perdana menteri.


Mereka pikir, satu keluarga Raja Changle sudah cukup untuk menggemparkan seluruh kota kekaisaran!


Kabar ini pasti akan segera menyebar hingga segala penjuru, entah cepat atau lambat. Beberapa hari ke depan kota kekaisaran sepertinya akan sangat ramai. Itu bagus, musim semi tidak boleh sepi.


Baili Qingchen menjelaskan semuanya dengan lebih detail secara pribadi dengan Kaisar Baili. Mereka meninggalkan perjamuan lebih awal dan bicara empat mata di taman istana kaisar. Seusai berbincang, seorang pelayan kemudian datang dan menyampaikan pesan bahwa Janda Selir Sun meminta Raja Changle untuk menemuinya.


“Apa yang ingin Ibu bicarakan denganku?” tanya Baili Qingchen.


Janda Selir Sun mengatur napasnya sejenak. Ada gejolak di dalam dirinya yang sedang mencoba menghentikan dia untuk mengatakan yang ada di pikirannya.


Janda Selir Sun sengaja bertemu dengannya secara pribadi, karena apa yang ingin ia sampaikan harus diketahui oleh putranya. Jika tidak diberitahukan, itu hanya akan menjadi beban pikirannya yang lain.


“Wang Yuyang adalah saudari kembar Pangeran Permaisuri Pertamamu,” jawab Janda Selir Sun selang beberapa detik setelah pertanyaan putranya keluar dari mulutnya.


Baili Qingchen tidak terkejut, ia hanya penasaran dari mana ibunya mengetahui itu. Setahunya, informasi di penjara Pengadilan Tinggi Kekaisaran begitu rapat terutama untuk anggota harem.


Melihat reaksi putranya yang biasa saja, Janda Selir Sun tidak merasa heran. Putranya mungkin telah menebak dan lebih dulu tahu. Dalam beberapa tahun ini, pembicaraan terkait Wang Lingshan bagaikan tabu untuk Janda Selir Sun, karena jelas ia masih tidak menyukainya meskipun Wang Lingshan telah mati.


“Beberapa hari yang lalu, Putri Permaisuri Changle mengirimnya ke istanaku,” tambah Janda Selir Sun. Barulah Baili Qingchen tampak terkejut dengan pernyataan kedua ibunya ini.


“Putri Permaisuri?”


“Melihat reaksimu, sepertinya Putri Permaisuri Changle tidak memberitahumu. Chen’er, berhati-hatilah, dia tidak sesederhana yang kau pikirkan.”


Dalam hatinya, Baili Qingchen berteriak tentu saja ia tahu. Bahkan, ia lebih memahami ketidaksederhanaan Qingyi daripada orang lain.


Ibunya hanya tahu bahwa gadis itu tidak sederhana, namun Baili Qingchen lebih tahu Qingyi itu orang seperti apa. Dia adalah tipe wanita yang melakukan apapun yang ia inginkan, dia juga seorang perencana yang sangat matang.


“Kenapa? Apa Ibu juga berniat menyingkirkannya?”


Janda Selir Sun tertawa miris. Yah, sampai kapanpun, putranya pasti akan selalu mencurigainya. Satu kali berbuat, maka selamanya akan dikenang.


Janda Selir Sun sudah menjatuhkan kepercayaan kepada Qingyi, meskipun kini ia tahu menantunya tidak bisa diprediksi, ia sama sekali tidak berniat untuk menyingkirkannya. Justru sebaliknya, ia rasa bagus juga jika ada orang seperti Liu Qingyi di sisi putranya.


“Aku hanya memperingatkanmu. Jika dia bisa membantumu, maka aku tidak akan memperhitungkan segala kelancangannya kepadaku.”


Meskipun Baili Qingchen tidak mengerti mengapa ibunya begitu serius membicarakan ini, namun perkataannya barusan telah memenuhi harapannya. Baguslah jika ibunya tidak berniat menyingkirkan Qingyi.


Lagipula, jika dia bersikeras melakukannya, dia juga tidak akan mampu menghadapi seorang Liu Qingyi. Baili Qingchen juga akan melindunginya bahkan jika dia harus kembali membenci ibunya untuk yang kedua kalinya.


Baili Qingchen mengangguk ringan dan berkata, “Baiklah. Kalau begitu, putramu akan pergi.”


Baili Qingchen meninggalkan taman istana kekaisaran dengan langkah lebar. Jubahnya berkibar diterpa angin musim semi. Para pelayan yang berpapasan dengannya berhenti sejenak untuk memberi hormat, lalu kembali berjalan sampai menghilang di persimpangan.

__ADS_1


Mereka juga telah mengetahui kejadian di aula Istana Xueyue beberapa jam yang lalu, hingga mereka diam-diam membicarakannya ketika Raja Changle sudah tidak terlihat.


Saat itu, langit telah menjadi gelap. Matahari sudah begitu kelelahan dan ingin beristirahat sejenak. Baili Qingchen hendak kembali ke mansion, namun kakinya justru tanpa sadar melangkah memasuki kawasan istana harem milik Kaisar Baili.


Ketika ia sadar, ia menghentikan langkah dan hendak memutar arah. Namun, matanya memicing saat melihat sosok Qingyi berjalan mengendap-endap memasuki gerbang.


Baili Qingchen terpaksa mengikutinya diam-diam. Ia ingin tahu apa yang hendak dilakukan permaisurinya kali ini. Dia belum meminta penjelasan atas disembunyikannya Baili Wuyuan dan mengapa gadis itu tidak memberitahunya dulu. Namun, Baili Qingchen lebih penasaran akan rencana istrinya kali ini.


Qingyi yang tidak menyadari bahwa Baili Qingchen tengah membuntutinya terus melanjutkan langkah sampai ia tiba di depan sebuah istana yang lumayan besar. Itu adalah istana yang diberikan Kaisar Baili kepada Liu Erniang setelah dia mengangkatnya menjadi seorang selir.


Saat itu, tidak banyak pelayan dan penjaga yang ada di sana. Itu menunjukkan bahwa Liu Erniang sebenarnya belum diterima di sini.


Qingyi mengendap-endap dan bersembunyi di samping istana. Sesekali dia melihat ke depan, mengecek apakah orang yang dia inginkan datang atau tidak. Di belakangnya, Baili Qingchen mulai mendekat dan langsung berdiri tanpa suara.


“Sistem sialan! Berani-beraninya menyuruhku berbuat seperti ini!” gerutu Qingyi dengan suara pelan.


Penasaran dengan rencana istrinya, Baili Qingchen menunduk mendekatkan kepalanya.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Astaga!”


Qingyi hampir saja melompat karena hembusan napas Baili Qingchen menggelitik telinganya dan ia sangat terkejut. Qingyi menoleh, mendapati suaminya tengah menatapnya penuh tanya.


Gawat, pikirnya. Sejak kapan Baili Qingchen ada di belakangnya? Mengapa Qingyi tidak menyadarinya?


“Mengapa kau di sini?” tanya Qingyi setelah detak jantungnya sudah stabil.


“Seharusnya aku yang bertanya. Putri Permaisuri, kau tidak pulang ke mansion dan malah berkeliaran di istana Selir Xian. Apa kau juga ingin menjadi seorang selir?”


“Tentu saja tidak! Keponakanmu itu sepertinya cukup menyukai selir barunya. Meskipun dia menangguhkan gelar Selir Tinggi, bukan berarti dia tidak akan datang.”


“Kau mau mengacaukan malam pertama mereka?” tanya Baili Qingchen tidak percaya. Astaga! Mengapa ia punya permaisuri yang tidak tahu malu seperti ini?


“Ssssttttt….Kecilkan suaramu! Kalau kau ingin cucu pertamamu aman, maka jangan biarkan Kaisar Baili jatuh cinta padanya.”


Baili Qingchen bukan orang picik yang suka bermain di belakang. Namun ia merasa perkataan Qingyi ada benarnya. Kalau Kaisar Baili jatuh cinta dan Selir Xian menjadi kesayangan, dengan sifat wanita itu, keponakannya pasti mudah terbujuk.


Reputasi Liu Erniang sudah terkenal sebagai wanita licik yang penuh siasat, bahkan tidak segan-segan disebut sebagai rubah  betina.


Lambat laun mereka akan membalas kekalahan hari ini. Kedudukan Baili Wuyuan belum ditentukan, tidak boleh ada gangguan sebelum status dan posisinya stabil dan masuk ke dalam silsilah keluarga kekaisaran. Baili Qingchen terdiam sesaat, menimbang apakah ia akan ikut serta dalam aksi permaisurinya atau tidak.


“Dia datang,” gumam Qingyi.


Kaisar Baili memasuki pekarangan istana Liu Erniang bersama kasim utamanya. Rupanya benar, pria itu memang tertarik kepada Liu Erniang. Sikapnya yang dingin sewaktu di aula hanyalah sebuah topeng untuk menutupi keinginannya. Jika tidak, tidak mungkin dia akan datang setelah terjadi kehebohan yang begitu besar.


“Apa rencanamu?” tanya Baili Qingchen.

__ADS_1


Masa bodoh jika dia harus dipanggil tidak bermoral, toh reputasinya di luar juga sudah pernah memburuk dirusak olehnya sendiri. Malam ini, ia sedang senggang dan ingin mencoba bermain dengan istrinya.


“Kau mau bergabung?” tanya Qingyi.


“Tidak ada pekerjaan mendesak. Aku hanya ingin menghabiskan sedikit waktu,” jawab Baili Qingchen.


Meskipun Qingyi tahu itu hanya alasan yang dibuat-buat, tapi boleh juga. Dua orang lebih baik daripada satu orang. Qingyi mengeluarkan sebuah botol minyak tanah, lengkap dengan korek apinya. Dia juga membawa sebuah tungku tembaga dan kayu bakar. Tidak lupa, ia juga mengeluarkan beberapa kaleng ikan kering dari tasnya.


“Merusak properti akan dikenakan ganti rugi. Lebih baik membuat mereka tidak berselera dengan benda ini,” ujarnya sambil menata alat-alat.


Hari itu, malam sudah mulai larut. Qingyi menebak Kaisar Baili dan Liu Erniang pasti sudah bertukar arak pernikahan dan cukup lama berbincang. Beberapa saat lagi, mereka pasti akan pergi ke tempat tidur.


Tebakannya benar, beberapa menit setelah itu, cahaya di dalam istana mulai meredup dan lilin-lilinnya padam satu persatu.


Baili Qingchen sungguh malu. Bisa-bisanya dia bergabung dengan permaisurinya! Dia, Raja Changle, seorang wali dan Pengawas Negara, malah diam-diam ingin merusak malam pertama Kaisar Baili dengan Selir Xian!


Baili Qingchen tidak sanggup membayangkan mereka yang hendak menikmati momen indah harus membatalkan niat mereka karena sesuatu terjadi. Mau ditaruh di mana wajah mansion Raja Changle jika ini benar-benar tersebar ke luar?


Tapi, sudahlah. Sudah tanggung dan tidak ada jalan mundur. Sebelum keponakannya benar-benar terlena, dia dan Qingyi mulai menyalakan api. Kayu-kayu bakar di dalam tungku tembaga yang sudah disiram minyak tanah itu disulut api dan seketika cahaya mirip seperti meteor berkilat dan membumbung.


Cahaya di sekitar sana menjadi terang. Qingyi dan Baili Qingchen lantas memasukkan beberapa kaleng ikan kering ke dalamnya, dan bau ikan asin yang dibakar langsung menguar ke seluruh penjuru istana.


“Ayo, kita kabur!” ucap Qingyi.


Baili Qingchen dan Qingyi segera keluar dari istana tersebut dan bersembunyi. Mereka melihat para pelayan berlarian keluar dengan panik sambil berteriak, “Api! Api!”


Orang-orang di sana menutup hidung sambil membawa ember karena mengira telah terjadi kebakaran di dalam istana. Panik dan takut bercampur menjadi satu kala mereka mengingat bahwa di dalam sana, Kaisar Baili dan Selir Xian baru saja tidur. Mereka bisa dihukum jika tidak bisa memadamkan apinya!


Bau ikan asin yang sangat menyengat telah masuk ke dalam bagian dalam istana. Kaisar Baili dan Liu Erniang yang hendak pergi ke ranjang langsung mencium bau tidak sedap sampai hampir muntah.


Suara ribut dari luar juga membuat mereka berpikir kalau ada yang tidak beres. Saat mereka keluar, mereka melihat banyak pelayan berlarian membawa ember berisi air.


“Apa yang terjadi?” tanya Kaisar Baili.


Seorang pelayan kemudian melapor, “Yang Mulia, seseorang telah menyulut api yang sangat besar di dalam tungku raksasa. Api itu juga membakar belasan kilogram ikan asin kering.”


Kaisar Baili menggeram marah. Dia mengancam akan membunuh semua orang jika apinya tidak padam dan baunya tidak hilang. Sialan, seseorang pasti sengaja melakukannya!


Kaisar Baili masih tidak senang atas kejadian hari ini, ia pikir beban pikirannya sedikit berkurang jika dia bermalam di istana selir barunya. Siapa sangka malah terjadi hal sebesar dan sememalukan ini!


Mau ditaruh di mana muka Kaisar Baili?


“Aku tidak peduli! Cari pelakunya, bawa ke hadapanku hidup atau mati!”


Kasim utama lantas mendekat.


“Yang Mulia, sebaiknya Yang Mulia kembali ke istana Yang Mulia. Api terlalu besar dan itu bisa membahayakan Yang Mulia,” ucapnya. Api sebesar itu jika tidak padam juga, maka akan menyebar ke bangunan utama istana.

__ADS_1


Kaisar Baili mengangguk. Dia meninggalkan istana Liu Erniang tanpa berkata apa-apa. Liu Erniang mengepalkan tangannya dan memarahi semua pelayan yang lewat di depannya. Keterlaluan! Ini benar-benar menguji kesabarannya!


__ADS_2