Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 113: Tragedi Malam Musim Semi


__ADS_3

Saat matahari terbenam dan langit menjadi gelap, pemandangan kota kekaisaran menjadi menakjubkan. Kaisar Baili telah tiba di menara kota bersama keluarga kekaisaran lainnya.


Mereka berdiri di atas tempat yang tinggi itu, menatap ke dataran kota kekaisaran Bingyue yang luas.


Di bawah menara, rakyat berdesakan ingin melihat kaisar  dan keluarga kekaisaran yang agung. Festival kali ini menarik lebih banyak minat penduduk, hingga kota kekaisaran yang biasa ramai menjadi lautan manusia.


Sosok agung nomor satu di Bingyue berdiri tepat di dekat tembok menara, melepaskan lentera sebagai simbol diresmikannya festival puncak musim semi.


Acara pelepasan lentera diikuti oleh keluarga kekaisaran yang lain. Beberapa saat kemudian, langit Bingyue menjadi terang dengan ribuan lentera mengapung di udara.


Rakyat bersuka cita, festival berlangsung meriah. Suara tabuhan musik dan genderang bertalu-talu, menggema ke seluruh penjuru kota. Pedagang tetap dan pendatang semuanya bersuka cita karena malam ini, pelanggan mereka lebih banyak dibanding hari-hari biasa.


Tidak dipungkiri, Qingyi juga turut merasakan kegegapgempitaan malam tersebut. Pertama kalinya dalam hidup ini dia melihat festival puncak musim semi kerajaan kuno secara langsung. Riuh musik dan suara tawa penduduk adalah sebuah musik alami yang menggetarkan hati.


Dia turun dari menara dan berbaur dengan penduduk. Malam ini, tidak ada Putri Permaisuri Changle, hanya ada Qingyi, wanita bebas yang tidak terbelenggu aturan.


Dia sengaja memisahkan diri dari rombongan keluarga kekaisaran karena tidak ingin terikat banyak aturan. Qingyi tidak berniat menjaga keanggunan seorang Putri Permaisuri Changle, dia ingin menjadi dirinya sendiri.


“Nona, manisannya sudah jadi, silakan,” pedagang tanghulu lalu memberinya beberapa tusuk tanghulu merah yang mengkilap.


Mata Qingyi berbinar cerah. Setelah memberikan beberapa keping uang, dia berjalan-jalan dan melihat keramaian. Dua distrik yang menjadi jantung kota kekaisaran dibuka, dan itu menarik perhatian. Di tengah distrik itu terdapat sebuah sungai yang dipenuhi dengan lentera teratai.


Rakyat bersorak gembira saat sebuah perahu hias melaju di tengah sungai dengan cahaya gemerlap. Di atas perahu itu, seorang wanita dari rumah bordil paling terkenal di kota kekaisaran tampil menari untuk semua orang.


“Itu Nona Lin Peipei! Lihat! Dia menari untuk kita semua!” seru pemuda di samping Qingyi dengan semangat.


Pemuda lain di sampingnya menimpali, “Benar! Oh, dia seperti dewi yang turun ke bumi! Mungkin sekali seumur hidup kita bisa melihatnya menari seperti ini!”


Pandangan Qingyi juga lurus ke perahu hias. Dia juga menyukai keindahan. Melihat gadis cantik menari di atas perahu, hatinya ikut senang. Bukan berarti dia tidak normal.


Mengagumi kecantikan seseorang adalah hal berbeda dengan sebuah orientasi. Gadis rumah bordil bernama Lin Peipei itu memang sangat cantik, tubuhnya lentur ketika dia meliuk-liuk di atas perahu hias.


Julukan gadis rumah bordil paling cantik nomor satu pantas disandang olehnya. Meskipun wajahnya dipenuhi riasan, Qingyi bisa membedakan dengan jelas dan tahu bahwa gadis itu sudah cantik dari lahir. Polesan riasan panggung di wajahnya membuatnya lebih bersinar.


Tiba-tiba, otak jahilnya berseru. Pemuda-pemuda di sampingnya sangat bersemangat dan begitu mengagumi Lin Peipei. Jika gadis itu terjatuh ke sungai atau perahunya terbalik, apakah mereka akan menolongnya dengan menceburkan diri juga? Akankah mereka berlomba-lomba menyelamatkan pujaan hati mereka?


Sebelum dia berhasil melakukan niatnya, Yinghao muncul dan memperingatinya. Qingyi merengut. Panda ini muncul di saat yang tidak tepat. Momen berharga satu tahun sekali jadi hilang Padahal, dia baru saja akan melihat sebuah pertunjukan yang seru!


“Tuan, jangan bermain-main atau membuat keributan. Sistem tidak menghendakimu mengacaukan festival ini,” ucap panda itu setelah berubah wujud menjadi manusia.

__ADS_1


“Aku tahu. Kau seharusnya muncul nanti saja!” ketus Qingyi.


Hatinya tidak senang. Qingyi diam-diam mengambil sebuah kerikil dan berniat melemparkannya ke perahu. Dengan sedikit trik beladiri dan tenaga dalam, lemparan kerikil itu bisa saja menjungkirbalikkan perahu hias. Memikirkan pertunjukkan menarik ini, Qingyi menahan tawa.


Sekali lagi, dia gagal. Sebelum jarinya menjentikkan kerikil, sebuah tangan putih yang lembut memegang tangannya.


Qingyi menoleh, wajah Baili Qingchen yang berkerut menatapnya dengan penuh ancaman. Bahu Qingyi seketika turun. Sial, mengapa pria ini juga muncul di sini?


“Jangan mengacau! Perahu hias itu bukan mainanmu,” tegur Baili Qingchen.


Pria itu turun dari menara kota karena melihat permaisurinya berjalan-jalan sendirian di tengah penduduk. Baili Qingchen menyusulnya dan mengikutinya sampai kemari, khawatir jika permaisurinya ini mengacau.


“Kau seharusnya tidak muncul saat ini,” keluh Qingyi.


“Festival puncak musim semi adalah untuk kebahagiaan. Tidak boleh ada tragedi di dalamnya.”


“Cih, seakan kau tidak pernah mengacau saja. Apa kau lupa jika kau juga pernah mengacaukan malam pertama keponakanmu bersamaku?”


Baili Qingchen seketika membungkam mulutnya dengan tangan. Di sini banyak orang, tidak baik jika ada yang mendengarnya. Akhir-akhir ini rumor di kota kekaisaran sudah semakin aneh. Jika ditambah rumor baru, entah sampai kapan baru benar-benar berakhir.


“Baiklah, baiklah, aku tidak akan mengacau. Tragedi yang kau maksud mungkin tidak akan disebabkan olehku,” ujar Qingyi.


Pasukan pengawal rahasia kekaisaran juga bersiap melihat tuan mereka bersikap waspada. Karena mereka menyamar, aksi mereka tidak terlalu tampak.


“Tidak! Tolong!”


Semua mata membelalak menatap perahu hias yang mengapung di atas sungai. Perahu hias bergoyang, lalu terbalik.


Semua penumpang termasuk Lin Peipei dan pemusiknya tercebur ke dalam sungai dan tenggelam. Semua orang berteriak panik, beberapa pemuda berjiwa pahlawan langsung terjun untuk menolongnya.


Qingyi mengangkat kedua tangannya dan berkata bukan dia yang melakukannya. Sungguh, dia juga tidak tahu mengapa perahu hias itu bisa terbalik.


Baili Qingchen semakin waspada, pasukan rahasia kekaisaran sudah bergerak menuju menara kota dan sebagian berjaga di dekat Baili Qingchen.


“Firasatku buruk. Baili Qingchen, berapa banyak pasukan rahasia yang kau tempatkan?”


“Tiga ratus orang. Sisanya adalah pengawal istana yang menjaga keamanan Kaisar dan Janda Permaisuri.”


“Itu tidak akan cukup untuk menyelamatkan penduduk yang jumlahnya ribuan ini.”

__ADS_1


Atmosfer kota kekaisaran di malam itu tiba-tiba berubah. Kemegahan dan kemeriahannya seperti menghilang secara perlahan.


Firasat Qingyi memberitahu jika malam ini, tragedi yang tidak diinginkan oleh Baili Qingchen akan terjadi. Matanya menatap sekeliling penuh kewaspadaan.


Ekspresi gembira yang awalnya terpasang di wajah Qingyi seketika berubah drastis, menjadi dingin dan panik. Di kejauhan, dia melihat asap membumbung tinggi.


Kemudian, dia melihat bayangan-bayangan hitam melompat di atas atap bangunan. Tidak hanya itu, suara teriakan minta tolong tiba-tiba terdengar dari arah belakang.


Ratusan orang berlari menuju menara kota dengan panik. Asap membumbung tinggi dari arah mereka datang. Sudah jelas, tragedinya sudah dimulai.


Rakyat yang lain mulai panik dan ikut berlari, berdesak-desakan, menabrak apapun di depannya. Perapian yang disiapkan untuk memasak hidangan di pinggir jalan jatuh, apinya membakar lentera-lentera kertas dan kain yang kering.


Qingyi meremas tangan Baili Qingchen. Matanya menatap lurus dengan kosong ke depan. Kepalanya menoleh saat telinga tajamnya menangkap suara, dan beberapa orang berpakaian hitam muncul dari dalam air.


Sungai di tengah distrik yang dipenuhi lentera bergejolak, berbarengan dengan terbangnya senjata tersembunyi ke arah orang-orang yang ada di pinggi sungai.


“Baili Qingchen, awas!”


Qingyi mendorong tubuh Baili Qingchen menjauh saat sebuah anak panah tangan melesat menyasar lehernya. Baili Qingchen sekarang mengerti akan maksud perkataan permaisurinya.


Tatapannya menjadi dingin, dan dalam satu gerakan, dia mengambil anak panah itu, mengembalikannya kepada mereka yang melemparnya.


“Ada pembunuh! Ada pembunuh!” teriak orang-orang.


Kota kekaisaran yang awalnya ramai dan gegap gempita, mendadak berubah menjadi medan perang. Kekacauan terjadi di mana-mana. Api menyebar cepat, membakar rumah-rumah penduduk.


Kedai-kedai di pinggir jalan hancur. Orang-orang berlarian ke sana kemari untuk menyelamatkan diri.


Orang-orang ini tidak seperti manusia saat menghadapi bahaya.


Mereka mengabaikan apapun yang menghalangi mereka. Bahkan seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa sampai terjatuh di tengah jalan. Anak itu menatap bingung pada orang-orang dewasa yang berlarian di sekitarnya.


“Dasar manusia siluman!” seru Qingyi marah.


Biasanya dia tidak terlalu menyukai anak kecil, tapi melihatnya teraniaya, hatinya jadi tidak tega.


Qingyi melompat ke tengah jalan untuk menyelamatkannya. Sementara itu, para pembunuh dari sungai menyerang Baili Qingchen.


Para pembunuh itu tampaknya tahu siapa orang yang mereka serang. Setelah mengamankan anak kecil, Qingyi bergabung bersama suaminya dan bertarung menghadapi mereka.

__ADS_1


“Putri Permaisuri, cepat lari! Mereka bukan tandingamu!”


__ADS_2