
“Yang Mulia Putri, aku datang atas perintah Yang Mulia,”
Cui Kong merasa cukup tenang saat pintu gerbang halaman barat tidak lagi dikunci. Beberapa pelayan pria datang bersamanya sembari membawa beberapa peti harta. Peti-peti itu diambil langsung dari gudang harta mansion Raja Changle, dan dipilih isinya yang paling baik.
“Apa pangeranmu ingin aku melupakan masalah itu?”
“Yang Mulia sebenarnya tahu dia bersalah. Hanya saja dia tidak tahu cara mengungkapkannya. Jadi, dia memintaku untuk mengirimi Yang Mulia Putri beberapa barang yang sedikit ini.”
Pelayan membuka peti-peti itu. Emas, tael, perabotan langka, lukisan, juga kain-kain brokat kualitas premium begitu memanjakan mata. Seandainya Qingyi orang yang gila harta, dia pasti sudah mengambil semuanya. Melihat benda benda sebanyak itu, Qingyi menunjukkan wajah tidak berminat sama sekali.
“Asal kau tahu, aku tidak akan memaafkannya. Bawa kembali benda-benda ini dan jangan mengotori halamanku!”
Cui Kong yang otaknya sedikit lambat itu kemudian memerintahkan pelayan untuk mengangkut kembali peti-peti harta. Yinghao yang tengah bergelayut manja di kaki Qingyi lantas segera memberitahu bahwa waktu yang dimiliki Qingyi hanya tersisa empat puluh hari lagi dan mungkin tuannya membutuhkan waktu tambahan kembali.
Mengingat itu, Qingyi langsung menghentikan para pelayan.
“Tunggu! Simpan peti tael dan sutera. Sisanya bawa kembali!”
Cui Kong mengangguk. Beberapa peti tael dan kain sutera disimpan di halaman. Pengawal itu berbalik, lalu tersenyum. Memang benar-benar wanita, selalu jual mahal di awal. Pada akhirnya, dia tetap menerimanya meskipun hanya sebagian.
Putri Permaisuri Changle sungguh sangat pandai menilai. Harga sutera-sutera di dalam peti itu lebih mahal daripada harga benda-benda langka yang dibawa kembali ke gudang.
Kalau bukan karena harus menggadaikan barang untuk menukarnya dengan tambahan waktu, Qingyi tidak sudi menerima hadiah dari Baili Qingchen. Rasa kesalnya belum hilang sampai sekarang meskipun dia telah mengerjai Qingchen hari itu.
Pria itu bilang mau menjelaskan, tapi sampai sekarang bahkan tidak menampakkan batang hidungnya.
Sudahlah, dia juga tidak perlu penjelasan apapun. Qingyi sudah mengetahui semuanya dengan jelas. Dia menebak, saat ini Wang Yiyuan pasti sedang diinterogasi dan siap dihukum mati.
Kaisar Baili pasti sedang mencak-mencak karena para menterinya masih mempersoalkan pemakzulan perdana menteri dan keputusannya yang tidak akan mencari posisi pengganti. Alias, posisi itu dibiarkan kosong begitu saja.
Jelas-jelas itu adalah sebuah kesempatan besar. Menjadi perdana menteri bukan hanya menjadi pejabat tertinggi di kekaisaran, melainkan menjadi perwakilan kaisar atau secara tidak langsung menjadi pengatur pemerintahan. Ada banyak orang yang ingin menggantikan posisi Liu Wang, namun Kaisar Baili dengan jelas menutup kesempatan itu.
__ADS_1
Hah, negara dengan sistem monarki memang sulit dipahami jika tidak betul-betul mengerti. Qingyi memasukkan peti-peti harta ke ruang dimensi, lalu bersantai di taman. Matahari musim semi sedang hangat dan itu bagus untuk kesehatan tulangnya.
Sejak datang kemari, dia belum pernah benar-benar beristirahat. Hampir setiap malam, dia keluar untuk menyelesaikan misi atau mengatasi berbagai permasalahan.
Siangnya, dia diganggu oleh Xiao Junjie dan antek-antek perdana menteri. Belum lagi gangguan Baili Qingchen yang terkadang menggoda iman dan kesabarannya. Hidupnya tampak santai, namun sebenarnya sangat sulit. Tiba-tiba saja dia merindukan rumahnya di dunia nyata, merindukan suara ribut tetangga dan omelan bosnya di kantor.
“Aku harus segera menyelesaikan misiku,” gumamnya.
Sistem sama sekali tidak memberitahu bagaimana keadaan di dunia sana. Apakah apartemennya terbengkalai atau semua barangnya dikemasi dan disimpan di luar karena tidak membayar sewa tahunan, apakah bosnya mencarinya, apakah dunia sana baik-baik saja tanpa kehadirannya, dia tidak tahu.
Qingyi merasa bosan belama-lama di mansion. Tiba-tiba mood jalan-jalannya datang dan memenuhi hatinya. Qingyi menggendong Yinghao, lalu masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Setelah rapi, dia menyelinap keluar mansion lewat gerbang belakang.
Di sana sudah ada satu kereta kuda yang sengaja disiapkan Qingyi sebagai bentuk kewaspadaan, kalau-kalau suatu saat dia punya hal mendesak dan harus pergi sendirian.
Saat itu, jalanan kota kekaisaran sedang ramai dikunjungi banyak pedagang dari luar kota dan luar negara. Ada yang dari Barat, Dataran Utara, bahkan ada juga yang datang jauh-jauh dari wilayah selatan, yang masuk ke kota kekaisaran Bingyue secara resmi. Mereka punya surat izin lewat dan izin masuk kota kekaisaran, jadi tidak perlu khawatir ditangkap dan dipenjara.
“Tuan, ayo pergi beli sesuatu,” ucap Yinghao saat tiba di sana.
“Oke,” ujar Qingyi.
Qingyi dan Yinghao duduk di kedai makanan yang tidak terlalu ramai pengunjungnya. Pemilik kedai bicara menggunakan logat yang lumayan asing dan Qingyi kesulitan memahaminya. Dia meminta Yinghao menerjemahkannya. Panda kecil itu memberitahu kalau kedai ini menyediakan angsio daging rusa dan daging sapi panggang.
Untuk sesaat, Qingyi terdiam mencerna omongan pedagang itu. Dua makanan yang dikatakan olehnya adalah menu dari dapur kekaisaran, dan hanya keluarga istana yang boleh menikmatinya. Aneh, pikir Qingyi. Seorang pedagang kecil tidak mungkin bisa membuat hidangan mewah yang resepnya hanya ada di dapur istana.
“Apa kau pernah bekerja di istana?” tanya Qingyi.
Pedagang itu menjawab dengan dialeknya, membuat Qingyi menggelengkan kepala seketika dan berkata, “Gunakan bahasa formal kota kekaisaran.”
Barulah si pedagang menggunakan bahasa resmi di Bingyue untuk berkomunikasi.
“Tidak, Nona. Saya hanyalah koki biasa dari Fujian. Beberapa tahun lalu, Yang Mulia Kaisar datang berkunjung ke Fujian. Karena tidak terbiasa makan makanan dari luar, Yang Mulia membawa serta koki istana. Kebetulan, saat itu saya sedang berguru pada koki yang membantu koki istana, jadi saya mempelajari menu masakan ini dari sana.”
__ADS_1
Fujian? Bukankah itu adalah sebuah kota yang dijuluki ‘Kota Emas’ Bingyue?
Kota itu letaknya jauh di sebelah tenggara. Katanya, di sana kehidupannya cukup makmur. Ada beberapa tambang emas yang digali dan diperjualbelikan atas izin Kaisar Baili.
Qingyi tidak menyangka kalau kaisar pemalas itu juga pernah berkunjung ke sana. Dia pikir, Baili Jingyan selamanya hanya bisa diam di istana kekaisaran saja.
“Mengapa kau datang kemari? Kau bisa menjadi orang kaya di Fujian jika menjual menu masakan ini. Tidak semua orang bisa menikmatinya dan merasakan masakan dengan rasa yang sama persis dengan makanan istana,” ujar Qingyi.
Pedagang itu tersenyum canggung dan berkata bahwa dia datang kemari karena suatu tugas. Menjadi pedagang makanan dan mendirikan kedai di sini hanyalah sebuah selingan saat ia menjalankan tugas.
Kebetulan saja di kota kekaisaran sedang ramai dan festival musim semi sebentar lagi berlangsung. Dia ingin merasakan sensasi hidup di kota kekaisaran sebelum pulang ke Fujian.
Qingyi mengangguk mengerti. Pedagang bernama Xiao Wu itu menelisik penampilan Qingyi dari ujung rambut dengan ujung kaki. Aksesoris kepala terbuat dari emas, riasan wajah sederhana, pakaian mewah bersulam benang mahal, sepatu jahit kualitas super, dan juga gantungan giok langka, membuat Xiao Wu berpikir kalau pelanggannya bukanlah dari keluarga biasa.
Selain itu, ada aura keagungan yang bercampur dengan keanggunan dalam dirinya.
“Apa Nona adalah seorang putri dari keluarga bangsawan?” tanyanya.
Dengan santai Qingyi menjawab, “Bukan. Hanya saja suamiku seorang pejabat licik dan pintar bermain strategi, jadi uangnya banyak dan hartanya berlimpah.”
“Apa suamimu mengenal Raja Changle?”
Pada saat itu, Qingyi menyembunyikan keterkejutannya.
“Untuk apa kau menanyakannya?”
“Oh, begini. Raja Changle begitu hebat, saya ingin sekali melihatnya walau hanya dari jauh. Apa Nona bisa membantu saya untuk menyampaikan pesan lewat suami Nona?”
“Datangi saja mansionnya secara langsung.”
Qingyi lalu menuliskan alamat mansion Raja Changle dan meninggalkan catatan itu di meja. Xiao Wu mengambilnya dan membacanya dengan teliti. Raut wajahnya sangat senang dan ia hendak berterima kasih. Tapi, Qingyi ternyata sudah pergi. Wanita itu bahkan belum memesan makanan sama sekali.
__ADS_1