Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 80: Sama-Sama Terluka


__ADS_3

“Hiyaaaaaaa!!!”


Qingyi berteriak sambil memegang erat tangan Baili Qingchen. Selama periode waktu tersebut, dia mengubahnya menjadi sebuah pelukan erat. Angin kencang menembus tubuhnya. Gravitasi tertap berfungsi, apalagi dari tempat yang tinggi.


“Yinghao, parasutnya!”


Sebuah parasut besar lantas membentang, melayang di udara terbawa angin. Untung saja Yinghao menerbangkannya tepat waktu hingga Qingyi dan Baili Qingchen tidak mendarat di dasar tebing. Terlambat sebentar saja, mereka bisa menjadi mayat dengan tubuh hancur.


Qingyi menikmati momen itu bak paralayang professional. Seandainya tidak ada Baili Qingchen dalam pelukannya, gadis itu sudah melayang jauh ke tempat yang tidak pernah terbayangkan, merentangkan tangan menikmati angin yang berhembus dari ketinggian sekian ratus kaki.


Yinghao mengumpat, mengatakan kalau Qingyi adalah tuan yang gila. Bagaimana bisa dia memanfaatkan situasi ini seperti rekreasi sementara ia tengah berada di antara hidup dan mati? Oh tidak, tuannya benar-benar tidak tertolong!


Beberapa menit kemudian, parasut terbang merendah karena angin yang membawanya perlahan mengecil. Qingyi kesulitan mengendalikan parasut tersebut sampai dia berputar-putar di udara.


Sayang sekali, Qingyi tidak bisa mendarat dengan sempurnya. Parasut besar itu tersangkut di pohon yang tinggi, yang daun dan rantingnya menutupi arus air. Alhasil, Qingyi dan Baili Qingchen jatuh ke sungai.


“Aku benci air!” kesal Qingyi.


Selama empat hari ini, segala sesuatu yang berhubungan dengan air selalu membuatnya kesal. Tetapi, yang membuatnya semakin kesal adalah dia harus segera menyelamatkan Baili Qingchen. Tubuh pria itu masih tidak tahan dengan suhu yang dingin.


Arus sungai tidak cukup deras dan lumayan tenang. Qingyi berenang ke tepi sambil menyeret tubuh Baili Qingchen yang tidak sadarkan diri. Darah segar masih mengalir di dadanya, membuat pakaiannya semakin kotor. Pepohonan di sekitar sungai begitu lebat dan tinggi, suhunya lebih rendah dari tempat lain.


Gadis itu mengerahkan semua tenaganya untuk menggendong Baili Qingchen. Lima ratus meter dari sungai, terdapat sebuah gua yang terbentuk alami dari batu. Di atasnya adalah tebing tinggi. Hal penting yang harus dilakukan sekarang adalah mengobati luka Baili Qingchen terlebih dahulu.


Beralaskan jerami kering yang entah bekas siapa, tubuh Baili Qingchen dibaringkan perlahan. Qingyi membuka pakaian atas Baili Qingchen, dan melihat luka tusukan pedang di dada kirinya.


Berdasarkan alat pengetes kedalaman luka, tusukan pedangnya menembus sedalam tiga sentimeter ke arah jantung. Untungnya ada otot dada yang keras dan tebal sampai tusukan pedang itu tidak melukai organ vital.


“Keluarkan peralatannya dan bantu aku!” pintanya pada Yinghao.


Yinghao berubah wujud menjadi manusia dan mulai membantu Qingyi. Luka tusukan dibersihkan dengan alkohol, kemudian dijahit untuk menghentikan pendarahan. Kemudian, Qingyi menyuapkan antibiotik ke mulut Baili Qingchen yang sudah pucat.


Pria ini masih belum pulih sempurna, namun kembali terluka. Qingyi tidak bisa menyembuhkannya dengan obat biasa dalam waktu yang singkat. Untuk sesaat, Qingyi menjadi bimbang.

__ADS_1


Memikirkan situasi yang terjadi sekarang, satu-satunya jalan untuk menyembuhkan Baili Qingchen dan membuatnya sadar lebih cepat hanyalah air ajaib dari air terjun.


Sekali lagi, dia menggunakan fasilitas ruang dimensi. Qingyi merendam tubuh Baili Qingchen di kolam ajaib untuk menetralisir sisa racun secara keseluruhan.


Meskipun suhu airnya dingin, namun kandungan mineral dan kekuatan ajaib di dalamnya mampu membuat Baili Qingchen lebih cepat pulih. Bibir pucatnya mulai kembali berwarna.


Selagi merendam suaminya, Qingyi lalu merebahkan diri di atas rerumputan yang empuk. Matahari di sana cukup hangat, cukup untuk mengeringkan pakaiannya yang basah.


Lima belas menit kemudian, tubuh Baili Qingchen diangkat dari kolam ajaib. Qingyi mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan mata tertutup, lalu membalut luka Baili Qingchen dengan kain dari bajunya agar setelah sadar, pria itu tidak curiga.


Baili Qingchen baru siuman saat matahari sudah terbenam. Suhu hangat dari perapian membuatnya membuka mata. Rasa sakit dan ngilu di dadanya menjalar saat dia menggerakkan tubuhnya yang bagian atasnya terbuka.


Dia menyentuh lukanya dan mendapati luka itu telah dibalut dengan kain. Kepalanya menoleh, menangkap sosok Qingyi yang tengah sibuk bermain api.


“Uh…” lenguhan cukup panjang mengejutkan Qingyi. Tahu jika suaminya sudah sadar, Qingyi menoleh sedikit untuk memastikan. “Kau sudah sadar?”


“Emh…Bagaimana dengan lukamu?” tanya Baili Qingchen.


Baili Qingchen memaksakan diri untuk bangun. Hawa dingin menyusup ke dalam pori-pori, namun tidak terlalu terasa. Bagian dadanya terbuka dan pakaiannya hanya tersampir di bahu.


Qingyi dengan malas membantunya duduk, bersandar pada batang pohon kering di belakangnya. Tangan Baili Qingchen tanpa sengaja menyentuh lengan kiri Qingyi yang terluka, gadis itu mengaduh.


“Kau terluka,” ucapnya.


“Kau yang terluka. Sudah begini pun masih berlagak kuat? Siapa yang menyuruhmu menghadapi mereka sendirian?”


“Aku tidak tahu jika Tabib Shen berhubungan dengan pembunuh Paviliun Litao.”


Gadis itu menghembuskan napasnya. Dia memijat keningnya. Betapa lucunya adegan ini. Lagi-lagi, dia bertemu pembunuh Paviliun Litao yang ganas. Kalau tahu lebih awal, seharusnya Qingyi menggunakan granat yang lebih besar untuk melumpuhkan mereka. Rasanya ingin sekali dia meledakkan markas para pembunuh itu.


“Kupikir, kita akan mati. Mengapa kau memilih melompat dan terjun bersamaku?” tanya pria itu.


Gadis itu menjawab sekenanya, “Yah, tidak seru jika hanya Raja Changle yang jatuh sendirian. Aku harus membuat musuh mengetahui bahwa Putri Permaisuri Changle juga terjun bebas. Lagi pula, aku tidak akan membiarkanmu mati.”

__ADS_1


Alasan yang terlalu dibuat sembarangan. Entah benar atau tidak, yang jelas Baili Qingchen ingin marah padanya. Jelas-jelas Qingyi bisa menyelamatkan diri. Gadis itu malah menahannya dan terjun bersamanya. Padahal jika saat itu Qingyi melepasnya, Qingyi bisa bebas dan tidak akan diganggu olehnya lagi.


Baili Qingchen mulai bertanya-tanya bagaimana caranya mereka mendarat dengan selamat. Berdasarkan ketinggian tebing itu, tubuh mereka normalnya akan hancur ketika tiba di dasar tebing. Namun, bukan hanya tidak mati, bahkan dislokasi atau patah tulang pun tidak mereka alami.


Seakan tahu pemikiran Baili Qingchen, Qingyi kemudian berkata ringan, “Bajuku tersangkut di ranting pohon dan kita jatuh ke sungai.”


BailiQingchen menatap sesaat pada Qingyi.


“Terima kasih,” ucapnya tulus.


Suasana jadi absurd. Kedua orang itu kehilangan topik pembicaraan. Pertama kalinya bagi mereka untuk tinggal berdua di alam bebas seperti ini. Tidak ada hangatnya mansion Raja Changle, hanya ada sedikit hangat dari perapian yang membara. Suara binatang malam terdengar seperti nyanyian, mengalun lalu bersahut.


Tidak baik jika berlalu terlalu lama. Malam masih panjang.


“Jadi, apa sekarang kau bisa memberitahuku rahasiamu?” tanya Qingyi tiba-tiba.


Saat ini hanya ada mereka berdua, dan mungkin ini saat yang tepat untuk mengetahui semua alasan Baili Qingchen menjadikan dirinya seperti sekarang. Termasuk, tentang pernikahan pertamanya dan mengapa dia memilih jalan itu.


Jika memungkinkan, Qingyi juga akan menjawab beberapa pertanyaan yang selama ini terpendam di dalam benak Baili Qingchen perihal dirinya. Dia bisa memberitahu beberapa hal yang tidak diketahui Baili Qingchen.


Entah itu perihal sifatnya, atau tentang kecerdasan yang tidak pernah dikira orang. Itu semua tergantung dari keputusan Baili Qingchen, apakah pria itu akan memberitahunya atau tidak. Jika tidak, maka dia juga tidak akan memberitahu apapun.


“Berapa banyak yang ingin kau tahu?”


“Semuanya.”


Ada keraguan yang tampak di mata Baili Qingchen. Ia tidak tahu, inikah momen yang tepat yang selalu ia nantikan atau bukan. Situasi ini begitu tidak terkendali, bahkan ia sendiri tidak tahu apakah besok dirinya masih hidup atau akan mati. Jika memang ini adalah saatnya, meskipun momennya tidak tepat, Baili Qingchen akan mencoba mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah diketahui siapapun di dunia.


Mengapa? Karena orang yang mengetahui rahasianya telah lama mati.


“Kau yakin?” tanya Baili Qingchen memastikan.


“Aku yakin.”

__ADS_1


__ADS_2