
Perlahan namun pasti, kota kekaisaran mulai pulih. Kaisar Baili menuruti saran Baili Qingchen untuk mengirimkan lebih banyak pasukan untuk membantu pemulihan dan membereskan kekacauan. Meskipun dia masih sedikit marah karena pamannya membentaknya di hadapan seluruh menteri, tetapi demi menjamin kestabilan kota kekaisaran, dia hanya bisa menahannya.
Baili Wuyuan sudah berhasil kembali dengan selamat. Bocah berusia tujuh tahun itu terkena obat bius yang cukup kuat hingga tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama. Syukurlah, tabib kekaisaran yang tidak jadi dipecat mengobatinya tepat waktu dan bocah itu sedang dalam masa pemulihan.
Sejak kembali, Baili Qingchen belum menginjakkan kakinya lagi di istana kekaisaran. Pria itu sibuk mengurus Qingyi yang jatuh sakit sejak mereka menghancurkan markas Paviliun Litao. Tabib kekaisaran berkata jika Putri Permaisuri Changle kehabisan banyak energi dan harus beristirahat total jika ingin benar-benar sembuh.
Di kota kekaisaran, kejadian malam itu, juga penangkapan pelaku pembuat kekacauan, sekarang menjadi topik yang panas untuk dibicarakan.
Mereka yang selamat dan pulih lebih cepat tidak henti-hentinya memuji Raja Changle atas tindakannya yang cepat tanggap, juga mengagumi keberanian dan kecerdasan Putri Permaisuri yang telah mengumpankan dirinya untuk menangkap satu-satunya organisasi pembunuh nomor satu di Bingyue itu.
Mereka berpikir jika hati Raja Changle begitu lapang. Orang sepertinya, yang memiliki kekuatan besar, ternyata masih tetap mengutamakan hubungan keluarga dan kelangsungan negara dibandingkan dengan nyawanya sendiri. Padahal, mereka tidak tahu jika Raja Changle marah, negara juga bisa porak poranda.
“Komandan Cui!” panggil Xiao Junjie saat Cui Kong melintas di depan halaman utara. Cui Kong berhenti, menyahuti panggilan Xiao Junjie dan menunggunya menghampirinya.
“Apa yang bisa kubantu, Pangeran Kecil?”
“Apa A-Chen baik-baik saja?”
“Ya. Yang Mulia baik-baik saja.”
“Bagaimana dengan luka-lukanya?”
Xiao Junjie memiliki kekhawatiran yang besar akan luka-luka di tubuh Baili Qingchen. Ia mengenal betul seperti apa pria itu saat menghadapi masalah serius.
Baili Qingchen bisa saja mengabaikan seluruh dunia, termasuk dirinya sendiri ketika dilanda sebuah masalah besar. Xiao Junjie yakin orang kesayangannya itu pasti mengabaikan luka-lukanya.
“Sudah membaik. Sebelumnya, Yang Mulia Putri sudah mengirimkan sebotol obat luka dan itu sangat ampuh,” ucap Cui Kong. Dahi Xiao Junjie mengerut.
“Dia mengirimkan obat luka? Bahkan saat dirinya berada di markas pembunuh?”
Komandan pasukan dan pengawal khusus Raja Changle itu mengangguk. Xiao Junjie tiba-tiba menghela napas. Semakin hari, Qingyi semakin hebat di matanya. Itu juga sebuah ancaman yang semakin besar.
Dia dengan cepat meraih tempat dan menunjukkan banyak keunggulan. Xiao Junjie bahkan tidak menyangka jika penculikannya adalah sebuah kesengajaaan. Xiao Junjie menyesal telah meremehkan seorang Liu Qingyi.
“Pangeran Kecil, apa kau memiliki sesuatu untuk dikatakan?”
__ADS_1
Xiao Junjie menatap Cui Kong, lantas menggelengkan kepalanya.
“Tidak. Syukurlah jika dia baik-baik saja.”
Cui Kong sungguh merasa kasihan pada Xiao Junjie. Dulu, dia adalah orang yang paling tidak bisa disinggung di mansion ini. Meskipun tidak sombong dan tidak mendominasi, namun karena dia memiliki tempat di hati Raja Changle, semua orang tidak berani bertentangan dengannya. Dia berada di tempat tinggi, sulit digapai maupun digoyahkan.
Kini, tampaknya posisi tinggi itu sudah memiliki pemilik baru. Sejak seorang Putri Permaisuri Changle masuk, sadar atau tidak sadar, sosok Pangeran Kecil seperti Xiao Junjie mulai terlupakan.
Xiao Junjie seperti bulan, namun Qingyi seperti matahari. Dua-duanya sama-sama bercahaya, tetapi semua orang jelas tahu siapa yang bersinar lebih terang.
Selama mengikuti Raja Changle, Cui Kong tidak pernah melihat Baili Qingchen sepanik itu. Selama ini rajanya selalu menahan diri dan menahan semua kemarahannya.
Akan tetapi, saat Kaisar Baili menekannya dan berkata tentang permaisurinya, semuanya meledak seperti bom waktu. Oh, Cui Kong bahkan tidak menyadari sejak kapan rajanya itu memiliki perhatian yang lebih kepada seorang wanita.
“Baiklah. Kalau begitu, saya pamit dulu, Pangeran Kecil.”
Xiao Junjie mempersilakan Cui Kong untuk pergi. Setelah itu, dia kembali masuk ke dalam kediamannya. Xiao Junjie duduk di dekat jendela, memandangi langit musim semi yang sebentar lagi akan berganti dengan musim gugur. Dia menghela napas beberapa kali.
Pada malam festival puncak musim semi, dia tidak ikut pergi karena Baili Qingchen masih tidak senang padanya. Jadi, dia tidak tahu persis bagaimana tragedi itu bisa terjadi. Dia hanya tahu saat Baili Qingchen pulang dengan sedikit linglung, luka-luka di tubuh pria itu sudah sangat banyak.
Xiao Junjie ingin mengobatinya, namun ketidaksenangan Baili Qingchen tampaknya masih belum hilang sampai dia memilih mundur dan membiarkan Cui Kong merawat luka-lukanya.
Entahlah. Dia sendiri meragukannya.
Sementara itu, Baili Qingchen terus berada di samping Qingyi sepanjang waktu. Tabib kekaisaran memang berkata jika istrinya itu hanya kelelahan, namun sampai sekarang dia belum sadar. Mata sebening kristal yang biasa menatapnya dengan santai dan terkadang sengit itu masih tertutup rapat bersama bulu matanya yang cantik.
Sesekali Baili Qingchen mengelap wajahnya dengan kain sutera lembut. Saat ini, tidak ada yang lebih penting selain kembalinya kesadaran Putri Permaisuri.
Semua ini salahnya. Andai saja Baili Qingchen tiba lebih cepat, andai saja dia bisa bergerak jauh lebih awal, mungkin kondisi Qingyi tidak akan seperti ini.
“Bangunlah. Aku merindukan mata kristalmu yang menatapku dengan sengit,” gumam Baili Qingchen.
Dia seperti seseorang yang kehilangan barang berharganya. Tidak, lebih dari itu. Qingyi bukan barang, tapi orang. Orang yang penting di dalam hidupnya.
Qingyi masih memejamkan matanya. Pertanyaan di benak Baili Qingchen, yang ingin ia tanyakan pada gadis ini semakin hari semakin banyak.
__ADS_1
Namun, dia selalu tidak memiliki waktu untuk menanyakan dan mendapatkan jawabannya. Keduanya terlalu sibuk mengurusi beragam permasalahan sampai melupakan beberapa hal yang seharusnya diperjelas sejak awal.
Setiap ada kesempatan, dia dan Qingyi sering mengabaikannya. Baili Qingchen mencoba membendung semua kekhawatirannya, namun melihat gadis nakal ini berbaring tidak berdaya membuat hatinya sakit. Baili Qingchen sungguh-sungguh berharap permaisurinya segera bangun.
“Yang Mulia,” Cui Kong datang untuk menanyakan sesuatu.
Baili Qingchen menyahut, tanpa menolehkan kepalanya sama sekali. Pria itu masih fokus mengelap wajah dan leher Qingyi dengan sutera.
“Ada apa?”
“Bagaimana dengan para pembunuh itu?”
Sejak ditangkap, kekaisaran belum memutuskan tindakan. Semua pembunuh digiring masuk ke dalam penjara Pengadilan Tinggi Kekaisaran, namun sampai sekarang belum ada tindakan lanjut mengenai perbuatan mereka. Pengadilan Tinggi belum bisa melakukan sesuatu karena sampai saat ini Kaisar Baili tidak memberikan perintah, dan Raja Changle pun tidak memberikan instruksi.
Baili Qingchen berhenti sejenak, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya. Cui Kong merasa canggung, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Jadi, dia harus bertindak atau tidak?
Jika ya, rajanya seharusnya mengatakanya dengan jelas. Jika tidak, setidaknya berikan dia beberapa patah kata untuk menunjukkan keengganannya. Jika begini, Cui Kong jadi bingung sendiri.
Tidak lama kemudian, Baili Qingchen berkata dengan tenang, “Biarkan Kaisar yang memutuskan. Dia harus belajar memikul tanggungjawabnya sendiri.”
“Baiklah. Aku akan menyampaikan perintahnya pada Pengadilan Tinggi Kekaisaran.”
Baili Qingchen mengangguk. Kemudian, Cui Kong segera pergi untuk menjalankan perintah. Dia pikir, ini keputusan yang terbaik. Rajanya akhirnya menyerahkan urusan yang sangat penting ini kepada keponakannya.
Orang mungkin berpikir jika Raja Changle sedang membalas dendam, namun Cui Kong sangat mengerti bahwa ini bukanlah balas dendam. Ini hanyalah sebuah bentuk pelampiasan kekesalan yang menguntungkan.
Sepeninggal Cui Kong, Baili Qingchen mengambil penutup mata dan hendak mengganti pakaian Qingyi. Pekerjaan itu seharusnya dilakukan pelayan wanita, namun pria ini menolaknya dan membiarkan dirinya sendiri yang menggantikan tugas mereka.
Baili Qingchen tidak bisa lagi percaya sepenuhnya pada pelayan sejak kejadian percobaan pembunuhan tempo hari. Sejak hari itu, dia menjadi sangat waspada terhadap semua pelayan yang bekerja di mansionnya.
Tangan Baili Qingchen baru saja terulur hendak menarik pita baju Qingyi, ketika sebuah tangan yang lembut tiba-tiba mencegahnya.
Qingyi membuka matanya, lalu menangkap tangan pria itu. Matanya yang bening menatap suaminya sebentar, lalu dia berkata, “Aku hanya tidak sadarkan diri beberapa hari, dan kau sudah menjadi seorang pelayan?”
Mendengar suara Qingyi, kegelapan di hati Baili Qingchen langsung sirna, tergantikan oleh cahaya yang terang. Suara ini, benar, suara ini adalah suara Putri Permaisuri! Tutup mata putih yang sudah terpasang itu langsung direnggut, Baili Qingchen kemudian beradu pandang dengan Qingyi.
__ADS_1
Sebuah tarikan napas yang terasa lega kemudian berhembus.
“Aku senang kau akhirnya kembali.”