Love Imagination System

Love Imagination System
SIDE STORY 1: SETELAH DIA PERGI


__ADS_3

Lima bulan setelah kudeta yang dilakukan oleh Liu Erniang dan Liu Wang, Istana Kekaisaran akhirnya menjatuhkan hukuman mati untuk kedua orang itu. Pada pukul sepuluh pagi di awal musim gugur, keduanya dieksekusi di alun-alun kota kekaisaran disaksikan banyak orang.


Tidak ada hukuman yang lebih pantas dijatuhkan pada kedua orang itu. Membunuh dan bersekutu dengan orang selatan dengan mengadu domba Bingyue dan Chen, menjadikan Raja Changle kambing hitam, sudah merupakan kesalahan besar yang tidak termaafkan.


Bahkan, kematian pun sebetulnya tidak cukup untuk menghukum mereka berdua. Liu Erniang yang telah meracuni Kaisar Baili seharusnya dicambuk terlebih dahulu, baru dieksekusi.


Setelah Selir Xian mati, semua pelayannya yang ikut terlibat dijadikan budak pemerintah dan diasingkan. Sisanya dikembalikan ke Divisi Istana Dalam untuk ditempatkan kembali.


Saat itu, situasi sudah relatif stabil. Berkat obat yang ditinggalkan oleh Putri Permaisuri Changle, racun di tubuh Kaisar Baili berhasil dikeluarkan dan tubuhnya kembali sehat. Sekarang, ia sudah bisa duduk di singgasananya lagi.


Namun, ada yang berbeda dari biasanya. Sekarang, pengadilan istana tidak lagi memiliki seorang pengawas negara.


Pria itu, Raja Changle alias Baili Qingchen, telah memohon pada keponakannya untuk memberinya izin pengunduran diri beberapa hari setelah dia sembuh. Baili Qingchen mundur dari posisi Pengawas Negara dan wali sah Kaisar, kemudian menyerahkan gelar rajanya kepada Kaisar Baili.


Pada akhirnya, Kaisar Baili kini memerintah sendiri. Baili Qingchen telah mengeluarkan dekret rahasia dari kakaknya, maka itu tandanya tugasnya sudah selesai. Akan tetapi, ia tidak pernah menyerahkan plakat harimau emas pengendali Kavaleri Jingyi, dan plakat itu tetap berada di tangannya.


Suatu sore, ia tengah berdiri menatap pohon persik di halaman barat yang daun-daunnya sudah gugur. Sejak mundur dari pengadilan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di sini, di tempat istrinya yang sudah pergi.


Satu helai daun persik yang tersisa jatuh di telapak tangannya. Angin saat itu berhembus pelan. Baili Qingchen menghela napasnya, lalu menoleh saat melihat sosok Cui Kong berjalan memasuki halaman.

__ADS_1


"Yang Mulia, istana sudah mengirimkan kabar. Penobatan akan dilakukan dua hari lagi."


"Ah... Seorang Permaisuri Bingyue pada akhirnya tetap akan dipilih."


Keponakannya itu pernah meminta pendapatnya mengenai penobatan permaisuri baru. Keponakannya itu merasa ia membutuhkan seorang permaisuri dan sudah saatnya itu terjadi. Ia lantas mengatakan bahwa ia ingin mengangkat Selir Jia sebagai permaisuri.


Yah, keponakannya itu masih memilih seorang permaisuri berdasarkan kehamilannya. Kali ini, Baili Qingchen tidak banyak memberi komentar. Ia hanya berkata bahwa Selir Jia cukup baik dan semua keputusan ada di tangan Kaisar Baili.


Bisa dibilang, Kaisar Baili telah bertobat setelah hari itu. Rasa hormatnya menjadi lebih tinggi kepada Baili Qingchen, kepercayaannya juga sudah jatuh seluruhnya. Keponakannya tidak lagi mewaspadainya, bahkan lebih cocok dikatakan bahwa dia menganggap Baili Qingchen sebagai sesepuhnya.


Cui Kong hanya terdiam mendengar perkataan majikannya. Meskipun telah mundur, namun Kaisar Baili sebenarnya tidak pernah memberinya izin untuk melepaskan gelar rajanya. Soal pengawas negara, itu masih bisa diterima. Namun perihal gelar raja, Kaisar Baili tetap ingin pamannya menggunakan gelar tersebut.


"Yang Mulia, anginnya terlalu kencang. Apa Yang Mulia ingin beristirahat di kamar Yang Mulia Putri?"


Baili Qingchen menggelengkan kepalanya. Hatinya memang merasakan kehilangan, tapi bukan berarti ia menjadi terpuruk. Baili Qingchen hanya sering merindukannya. Ia akan berdiri di sini, memandangi pohon persik sambil memegang erat liontin peninggalan wanita itu.


Cui Kong lantas pergi, membiarkan rajanya menenangkan diri. Baili Qingchen mengabaikannya, lalu kembali asyik menatap pohon persik yang gugur itu.


"Sudah pertengahan musim gugur. Wanita, apa kau benar-benar baik-baik saja di sana?"

__ADS_1


Ia mengatakannya sembari mencengkram erat liontin tersebut. Jarinya mengelus permukaan liontin, tiba-tiba saja aura di sekitar berubah. Saat Baili Qingchen membuka matanya, ia sangat terkejut.


Pasalnya, yang dilihatnya sekarang bukan lagi halaman barat di mansionnya, melainkan sebuah alam indah yang selalu ia mimpikan! Tidak, bukan yang ia mimpikan, tapi yang ia lihat beberapa bulan lalu!


Pria itu melangkahkan kakinya di atas rerumputan hijau yang empuk. Pandangannya menyapu ke sekeliling. Sekarang, ia bisa melihat dengan jelas setiap detail dari tempat ini.


Air terjun yang tinggi, kolam kecil yang jernih, pepohonan persik yang tidak pernah meranggas dan gugur, ladang obat, pondok, semuanya benar-benar ada di depannya. Saat Baili Qingchen masuk ke dalam pondok, ia melihat banyak sekali perabotan dan barang aneh yang familier namun tidak bisa ia ingat.


"Jadi, di sinilah kau selalu bersembunyi, Putri Permaisuri?" tanyanya pada ruangan kosong.


Tempat itu mungkin adalah tempat tinggal permaisurinya ketika ia tidak ada di mansion. Pantas saja Baili Qingchen tidak bisa menemukannya di manapun saat dia menghilang.


Baili Qingchen membuka sebuah lemari, lantas melihat banyak pakaian dalam model berbeda tergantung dan tersusun rapi. Termasuk, pakaian aneh yang kerap ia lihat digunakan oleh istrinya, yang menurutnya kurang bahan itu.


Dia tersenyum. Alangkah bagusnya jika Putri Permaisurinya ada di sini, bersamanya. Baili Qingchen tidak akan merasa kesepian seperti ini. Ia mungkin terlihat baik-baik saja, tapi tidak ada yang tahu jika ia sedang menahan kesepian dan kerinduannya.


Setelah wanita itu pergi, Baili Qingchen seperti seorang pengelana yang berjalan tak tentu arah di dunia ini.


"Kalau begitu, biarkan aku yang merawat tempat ini untukmu."

__ADS_1


__ADS_2