
Seorang pengawal rahasia yang ditugaskan bersama Cui Kong datang melapor.
Saat itu, Baili Qingchen tengah menyusun laporan resmi terkait penutupan kasus Janda Selir Sun dan mendiang Selir Sui serta penangkapan dan penghukumannya.
Dia mengesampingkan perasaan tidak nyaman dan gelisahnya untuk sementara sampai dia mendapatkan jawaban pasti atas alasan Qingyi.
“Yang Mulia, Yang Mulia Putri pergi ke rumah bordil untuk bersenang-senang dan membeli tempat itu secara langsung.”
Aktivitas Baili Qingchen seketika berhenti. Ada emosi yang perlahan mulai berkumpul di hatinya. Pengawalnya menunduk takut. Dia bisa melihat bahwa rajanya mulai marah.
Hubungan Raja Changle dan Putri Permaisuri sedang renggang, dan pernyataan ini mungkin telah menumpahkan minyak tanah ke dalam bara api yang membara.
Baili Qingchen memejamkan matanya sesaat. Kuas tinta diremas sampai patah, tinta hitam menyebar mengotori laporan tertulis yang sedang ia buat. Jubahnya kotor, suasana di dalam ruang belajar menjadi mencekam. Pria itu meletakkan kuas patah dengan kasar, lalu berdiri seketika.
“Gadis nakal itu masih di sana?”
“Ya. Beberapa pria penghibur tengah melayaninya dengan musik dan tarian.”
Ini gila! Baili Qingchen masih dapat memaklumi jika gadis itu tidak menemuinya dan tidak menjelaskan apapun. Dia juga masih bisa menahan kesabarannya dengan sikap lancangnya yang terkadang benar itu.
Namun, pergi ke rumah bordil untuk menerima layanan pria penghibur, apalagi sampai membeli tempat itu merupakan sebuah pelanggaran serius! Sikap gadis itu sungguh sudah melampaui batas!
Baili Qingchen segera pergi menuju rumah bordil tersebut dengan membawa pasukan pengawal khusus Raja Changle.
Rombongan itu membentuk barisan memanjang yang membelah kota kekaisaran. Ketika kereta Raja Changle berhenti depan rumah bordil, para penjaga segera mundur dan memilih berdiam di barisan belakang.
Aroma anggur yang kuat langsung menusuk hidungnya saat dia masuk ke dalam rumah hiburan tersebut. Tabuhan musik seketika berhenti saat sosok seorang Raja Changle tiba.
Mereka tidak mampu menahan aura membunuh yang terpancar dari Dewa Perang Bingyue. Meski mereka tidak tahu mengapa raja ada di sini, namun mereka dapat merasakan jika orang itu datang bukan dalam suasana hati yang baik.
Lebih baik menghindar daripada terkena imbas kemarahan raja yang satu ini!
“Siapa yang menyuruh kalian berhenti?”
Qingyi langsung tersedak teh saat dia melihat Baili Qingchen datang mendobrak pintu. Pria-pria penghibur langsung terdiam.
Baili Qingchen menatap penuh kemarahan pada permaisurinya, lalu kepada para pria yang ada di sisinya. Matanya semakin menyala kala salah seorang dari pria itu tanpa sengaja memegang tangan Qingyi.
“Baili Qingchen?” ucapnya tanpa sadar. Qingyi seperti istri yang ketahuan selingkuh!
Bagaimana ini? Aura membunuh pria itu sangat kuat. Baili Qingchen tampak ingin memakannya hidup-hidup.
Yinghao menyingkir, kemudian menonaktifkan diri. Panda kecil tersebut lebih memilih dimarahi Qingyi daripada harus melihat kemarahan Raja Changle yang mengerikan.
__ADS_1
Kaisar Baili saja berani dia bentak, apalagi istrinya sendiri!
“Singkirkan tangan kotormu dari tubuh permaisuriku!”
Pria itu menggigil kedinginan di malam hari yang tidak dingin ini. Refleks dia langsung bergerak menjauh dari Qingyi.
Baru saja dia sadar jika wanita cantik nan kaya yang dilayaninya adalah Putri Permaisuri Changle. Pantas saja uangnya banyak, pantas saja bibi germo langsung tunduk padanya.
“Putri Permaisuri, sudah cukupkah kau bermain-main?”
Qingyi hendak menjawab, akan tetapi Baili Qingchen telah mengunci titik vitalnya dengan cepat. Tubuh Qingyi jadi kaku, semua sendinya tidak bisa bergerak.
Selain itu, dia masih dalam posisi duduk. Qingyi mangap-mangap seperti ikan kehabisan napas. Dia berteriak tanpa suara memanggil Yinghao, namun percuma karena panda itu telah pergi beberapa saat yang lalu.
Baili Qingchen langsung menggendongnya dengan paksa seperti karung beras. Amarah telah menguasainya. Seluruh isi rumah bordil seperti pahatan es dingin yang abadi.
Bibi germo tidak mampu bicara, dia hanya bersembunyi di balik tirai sambil sesekali melirik Raja Changle yang telah membawa pergi istrinya. Situasi itu bahkan jauh lebih menegangkan daripada kejadian pembunuhan!
Tanpa kereta, dia membawa pulang Qingyi dengan mengendarai kuda. Dia melesat seperti anak panah dari busur yang ditarik kencang.
Malam itu, jalan kota tidak terlalu ramai karena kota kekaisaran masih dalam proses pemulihan. Hanya ada beberapa pemilik toko dan penginapan yang menyaksikan betapa cepatnya Raja Changle mengendalikan laju kudanya.
Keduanya memasuki halaman barat dengan Qingyi masih dalam gendongannya. Tahu akan situasi, para pelayan menyingkir dari halaman barat dan meninggalkan mereka, menjauh sejauh mungkin untuk tidak mendengar atau melihat kejadian selanjutnya.
Baili Qingchen menendang pintu kamar Qingyi dengan kasar, lalu pintu itu tertutup dan terkunci secara ajaib. Qingyi membelalakkan matanya, terkejut dengan dalamnya energi suaminya. Dia bahkan sampai bisa menutup pintu dan menguncinya dari kejauhan.
Qingyi dibaringkan di tengah tempat tidur. Baili Qingchen membuka kunci vital suaranya, sampai suara Qingyi terdengar kembali.
“Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah benar-benar gila?” teriaknya marah.
“Bahkan jika kau membenciku dan marah padaku, kau tidak bisa membawaku dengan cara seperti itu di hadapan semua orang!”
“Oh? Apakah aku harus mengarakmu dengan kereta kencana baru kau akan merasa puas?”
Dada Baili Qingchen naik turun. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun kepalanya dan hendak meledak. Dia menatap sengit pada permaisurinya, hatinya dipenuhi api yang membara.
Sialan, gadis ini telah membuatnya melanggar batas-batas yang diciptakannya sendiri selama ini!
“Kenapa? Kau tidak senang aku mengganggu waktumu bersenang-senang dengan para pria murahan itu? Kau bahkan tidak sadar dengan statusmu sendiri! Apa kau mengharapkan aku menutup mata dan membiarkanmu merusak citraku?”
“Baili Qingchen, bicaralah dengan bahasa manusia!”
Perdebatan itu berlangsung selama beberapa saat. Baik Qingyi maupun Baili Qingchen, keduanya sama-sama dikuasai amarah dan terus mencela satu sama lain.
__ADS_1
Qingyi sungguh tidak mengerti mengapa pria ini tiba-tiba semarah ini sampai membawa pasukan untuk menjemputnya. Qingyi butuh penjelasan berupa alasan, setidaknya pria ini harus memberitahunya apa kesalahannya.
“Sepertinya kau terlalu senang dengan kemampuanmu sampai kau lupa bahwa kau adalah Putri Permaisuri Changle!”
Baili Qingchen tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Kemarahan dan segala perasaan yang berkecamuk selama ini membuncah.
Melihat permaisurinya masih menatapnya dengan sengit, batas kesabarannya sudah benar-benar putus. Dia tak lagi mengenal dirinya sendiri, Baili Qingchen melupakan batasan dan prinsipnya sendiri.
Gadis ini membuatnya menjadi gila! Awalnya semua baik-baik saja, namun saat dia datang, kehidupannya menjadi kacau dan hatinya menjadi tidak seteguh dahulu. Qingyi memang bintang keberuntungannya, namun gadis itu juga menjadi ujian terbesarnya dalam hidup ini.
Apakah dia begitu ingin bercerai sampai-sampai mempermalukan dan merendahkan dirinya sendiri dengan mencari pria di rumah bordil?
Baili Qingchen tidak tahan lagi. Dirinya tidak bisa mengabulkan permintaan gadis itu, ia juga tidak bersedia menanyakan alasannya.
Otaknya sekarang dipenuhi dengan bayangannya, yang membuatnya menjadi semakin gila. Napas pria itu memburu, dengan tatapan tajam menembus dada, dan aura sedingin salju kutub selatan.
Pria itu mencengkram erat kedua tangan Qingyi, kemudian menciumnya secara brutal. Qingyi dapat merasakan mulut dan bibirnya ditekan dengan kuat.
Suaranya tercekat di tenggorokan. Wajahnya mengeras namun tidak berdaya. Baili Qingchen telah mengunci titik vitalnya sampai dia tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk melawan.
Qingyi punya firasat buruk. Pria ini sudah dikuasai amarah. Mungkinkah dia....
Qingyi mencoba menepis pemikiran ngawurnya. Akan tetapi, dia segera dijatuhkan dari angan-angannya itu. Baili Qingchen melepas ciumannya, namun bukannya melepaskan Qingyi, dia malah memindahkan ciuman itu ke leher dan bahunya secara bergantian.
Gigitan demi gigitan tercipta dan bekas merah baru muncul di mana-mana. Rasa sakit bercampur dengan geli. Bibir Baili Qingchen sangat pintar mempermainkan dan menyentuh titik sensitifnya. Qingyi tidak menyangka jika pria itu tahu titik kelemahan wanita.
“Baili Qingchen... Hentikan!”
Qingyi khawatir jika pria itu tidak mengentikannya, kejadian selanjutnya mungkin akan disesali esok hari. Dirinya mencoba melepaskan diri dengan melepaskan titik kunci tubuhnya secara paksa, namun sia-sia karena kedua tangannya bahkan dicekal Baili Qingchen.
Baili Qingchen menghentikan aktivitasnya sejenak, dia berdiri di sisi ranjang lalu mulai menarik simpul pengikat pinggangnya. Jubahnya telah teronggok di lantai sejak lama.
Dengan gerakan kasar, dia telah berhasil melepas pakaian luarnya seluruhnya. Pakaian dalam berwarna putih yang tipis masih menempel di tubuhnya, mencetak jelas bentuk tubuhnya yang kekar itu.
Qingyi tidak sanggup melihatnya. Dia menutup matanya, mencoba memungkiri pemikiran kotor yang menyambangi otaknya.
Tidak, Baili Qingchen tidak boleh melakukan ini padanya. Pria itu harus berhenti. Tetapi, dengan kondisinya saat ini, bisakah ia benar-benar menghentikannya?
Setelah melepas pakaian luarnya, Baili Qingchen kembali menyerang Qingyi. Pria itu mengurung Qingyi di bawah tubuh kekarnya, lalu mulai melancarkan aksinya lagi. Qingyi meringis, dia berteriak. Baili Qingchen mendongak, menatap dalam wajah marah permaisurinya.
“Izinkan aku bersikap egois malam ini,” ucapnya dengan serak.
Qingyi menggelengkan kepalanya, namun rasanya sia-sia.
__ADS_1