Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 115: Kemarahan Raja yang Mengerikan


__ADS_3

Tragedi malam festival puncak musim semi benar-benar mengerikan.  Lebih dari seribu penduduk tewas dalam kejadian itu. Tiga ratus pasukan pengawal istana tewas dalam upaya melindungi keluarga kekaisaran.


Kota kekaisaran hancur, apinya bahkan masih menyala di beberapa titik sampai pagi. Tanah yang semula berwarna kekuningan menjadi hitam dengan darah yang mengering. Bau anyir berbaur dengan sisa-sisa barang yang terbakar.


Kota kekaisaran hancur dalam satu malam.


Kaisar Baili sangat marah. Di aula pengadilan, dia membentak para menteri. Saat tragedi itu terjadi, para menterinya malah sibuk melarikan diri dan tidak mempedulikan rakyat. Sebagai menteri mereka seharusnya menyelamatkan rakyat lebih dulu, bukan berpikir selamat sendirian.


Jika Kaisar Baili bukan kaisar, dia sudah pasti memerintahkan pasukan yang melindunginya untuk menyelamatkan mereka terlebih dahulu. Apa daya, negara tidak bisa tanpa pemimpin.


Jika Kaisar Baili tidak dilindungi, maka fondasi negara akan hancur. Bahkan jika peperangan atau kudeta terjadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan kaisar terlebih dahulu.


Malam tadi, seharusnya komandan pengawal memanggil pasukan penyelamat, namun situasi tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


Kaisar Baili menatap tajam Baili Qingchen yang berdiri di tengah aula. Dia kecewa, karena di bawah pengaturan pamannya, tragedi mengerikan ini bisa terjadi.


Padahal, dia sangat berharap jika festival ini bisa berlangsung tanpa kendala. Kaisar Baili mulai mempertanyakan pengaturan seperti apa yang bisa menyebabkan semua ini terjadi.


“Paman, apa kau memiliki kata-kata untuk menjelaskan kejadian ini?”


Para menteri tercekat, menahan napas di dada. Mereka takut jika Kaisar Baili menyalahkan Raja Changle. Namun, mereka juga tidak bisa membohongi diri sendiri, bahwa mereka juga memiliki pertanyaan yang sama dengan kaisar mereka.


Benar, festival ini berada dalam pengaturan Raja Changle. Seharusnya tidak terjadi hal besar yang mengerikan.


Baili Qingchen menarik napasnya sejenak. Ketenangan di wajahnya terpancar meskipun suasana hatinya sedang buruk. Dia tahu keponakannya pasti akan meminta penjelasan.


Kejadiannya sangat mengerikan, Baili Qingchen bahkan tidak menyadari tanda-tanda bahayanya. Padahal, dia sudah mempersiapkannya sebaik mungkin. Keamanan juga sangat ketat, tapi tetap saja terjadi.


“Apa yang harus kujelaskan, Yang Mulia? Aku memang bertanggungjawab atas perayaan festival. Namun, apakah mungkin aku sengaja melakukannya?”


Suaranya tenang, namun di dalamnya penuh dengan penekanan. Jika Baili Qingchen memang sengaja melakukannya, mengapa baru sekarang?

__ADS_1


Dia bisa saja melakukannya sejak dulu. Tidak perlu sampai menunggu festival puncak musim semi dan mengorbankan banyak penduduk tidak bersalah. Selain itu, dia juga terluka cukup parah akibat pertarungan semalam.


“Mengapa kesalahan seperti ini bisa terjadi? Bukankah aku sudah menyuruh Paman untuk berhati-hati?” tanya Kaisar Baili lagi. Dadanya cukup sesak karena menahan emosi.


“Karena kelalaianmu, tragedi ini bisa terjadi. Bukan hanya rakyat tidak berdosa yang menjadi korban, bahkan Pangeran Manyue juga menghilang dan belum ditemukan sampai sekarang! Paman, apa kau benar-benar tidak ingin menjelaskan ini?”


Melihat keponakannya memaksanya dan menyalahkannya, hati Baili Qingchen yang sedang sensitif tersulut api amarah. Keponakannya bersikap egois.


Setiap kali memandatkan tanggungjawab akan suatu hal dan terjadi yang tidak diinginkan, keponakannya pasti selalu melemparkan tanggungjawabnya kepadanya.


Kaisar Baili selalu bersikap seolah-olah semua kesalahan di dunia ini adalah milik Baili Qingchen, sementara dia merasa paling benar sendiri. Siapa pula yang mengharapkan sebuah tragedi?


“Jadi, Yang Mulia ingin aku mengakui kesalahan yang tidak kulakukan?”


Para menteri mulai ketakutan. Kaisar Baili sepertinya melupakan fakta bahwa Raja Changle adalah paman dan Dewa Perang Bingyue. Sebelum Kaisar Baili naik takhta, Raja Changle telah berada di medan perang bertahun-tahun lebih lama dan telah membangun reputasinya sendiri. Mendiang kaisar bahkan sangat menyayanginya dan mengaguminya.


Temperamen Raja Changle, semua orang sudah tahu. Dia dingin dan kejam ketika diliputi amarah. Sejak dulu, Raja Changle tidak pernah pandang bulu dalam menghukum seseorang. Ibunya sendiri bahkan berani ia hukum. Raja Changle itu seperti pedang bermata dua.


Mengapa Kaisar Baili harus memprovokasi Raja Changle di saat seperti ini? Alih-alih saling menyalahkan, akan lebih baik jika segera menyelesaikan inti permasalahan dan mencari  tahu siapa yang sudah merencanakan pembunuhan sampai menjadi sebuah tragedi itu.


Kaisar Baili meninggikan suaranya. Dia bahkan memukul meja sampai beberapa dokumen terjatuh. Kemarahan di hatinya bukan lagi sekadar kemarahan biasa. Pamannya sudah lalai, dan seharusnya tidak menyangkal jika dia sudah melakukan kesalahan.


Mendengar keponakannya meninggikan suara, raut wajah Baili Qingchen menjadi suram. Dia berkata dengan dingin, “Bukan hanya putramu yang menghilang. Permaisuriku juga belum ditemukan.”


Baili Qingchen juga kecewa karena keponakannya selalu bersikap egois. Baili Qingchen sudah menahannya sejak lama hanya karena dia adalah pamannya.


Baili Qingchen dengan tulus membantu keponakannya mengurus kerajaan. Namun, semuanya seperti tidak pernah ada nilainya. Keponakannya hanya selalu berpikir dia akan merebut kekuasaannya dan menjadikannya boneka.


Kaisar Baili tertawa remeh.


“Bukankah hanya seorang permaisuri? Aku bisa memberimu permaisuri yang baru, yang lebih berguna dan terhormat dibandingkan wanita itu!”

__ADS_1


“Baili Jingyan!”


Suara Baili Qingchen meninggi. Para menteri hampir jantungan mendengar teriakan Raja Changle. Mereka mundur beberapa langkah, napas mereka tercekat dan benar-benar ketakutan.


Raja Changle biasanya menahan diri dan selalu bersikap tenang. Raja Changle sudah benar-benar marah. Dia bahkan membentak Kaisar Baili dan memanggilnya dengan nama aslinya!


Kaisar Baili tersentak, dia hampir jatuh dari singgasananya.


“Sebagai Kaisar, kau menggenggam dunia di tanganmu. Akan tetapi, tidak seharusnya kau memperlakukan manusia seperti yang kau inginkan. Manusia bukan barang. Tidak apa-apa jika kau terus mengujiku dan mencoba melemparkan tanggungjawab padaku, tetapi jangan pernah sekalipun berpikir untuk menghina dan merendahkan keluargaku!”


Pada akhirnya, kemarahan yang tertahan itu tidak bisa dibendung, tumpah seketika seperti tanggul air yang jebol. Baili Qingchen sudah di ambang batas kesabarannya. Pada saat seperti ini, dia kesulitan untuk berpikir jernih.


Baili Qingchen sangat terganggu dengan tragedi semalam, selain itu permaisurinya juga menghilang dan keponakannya malah ingin dia mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Baili Qingchen juga manusia. Dia punya batas yang bisa patah jika terus diprovokasi.


“Paman! Kau berani membentak seorang Kaisar?” seru Kaisar Baili.


Kasim di sisinya melihat situasi tidak bagus, dia maju selangkah, mendekati Kaisar Baili, kemudian berkata dengan pelan, “Yang Mulia, tekan amarahmu. Yang Mulia tidak boleh memprovokasi Raja Changle di saat seperti ini.”


Sepertinya, peringatan kasimnya cukup berguna. Kaisar Baili menarik napasnya, mencoba bersikap tenang dan mengendalikan dirinya. Kasimnya benar, jangan memprovokasi pamannya di saat seperti ini.


Yang lebih penting, dia tidak boleh menyinggung soal putri permaisuri. Meskipun Kaisar Baili marah dan tidak suka pamannya membentaknya, memanggil namanya di hadapan para menteri, dia mencoba menahannya. Tangannya terkepal sampai kuku jarinya memutih.


“Jika seorang Kaisar Bingyue bahkan tidak mampu menahan amarah dan menutup sebelah matanya, apakah Dataran Bingyue ini masih memiliki sandaran?” ucap Baili Qingchen.


Suaranya mulai merendah, namun auranya sangat dingin sampai menusuk tulang dan sendi.


“Kusarankan agar Yang Mulia mengirim pasukan untuk membantu membereskan kekacauan dan memulihkan kembali kota kekaisaran. Terkait Pangeran Manyue dan Putri Permaisuri, kau tidak perlu ikut campur. Aku sendiri yang akan mencari mereka!”


Kaisar Baili tidak bisa berkata-kata. Baili Qingchen berbalik, menatap para menteri dengan tajam sampai mereka bergetar ketakutan.


Auranya sangat kuat, mengalahkan aura seorang kaisar. Baili Qingchen kemudian menuruni tangga, dan keluar dari aula pengadilan dengan kemarahan yang masih membara.

__ADS_1


Melihat Raja Changle pergi, para menteri mulai menghembuskan napas lega. Tadi itu benar-benar mengerikan. Raja Changle, sejatinya lebih menakutkan daripada iblis sekalipun.


Pada saat itu, Kaisar Baili kembali memukul mejanya dan menatap kepergian pamannya dengan sorot mata penuh kegelapan.


__ADS_2