Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 123: Dianggap Selir


__ADS_3

Qingyi dibangunkan pagi-pagi sekali oleh para pelayannya. Mereka bilang ada kabar mendesak dari istana. Katanya, Janda Permaisuri Ming jatuh sakit setelah semalam terjatuh ke dalam air. Untung saja seseorang telah menyelamatkannya sebelum orang tua itu tenggelam.


Karena dilarang pergi ke istana oleh Baili Qingchen, Qingyi hanya bisa menitipkan obat-obatan herbal yang dipetiknya dari ruang dimensi kepada pelayan pengantar pesan. Dia juga memberikan instruksi terkait penggunaan obat itu dan menyarankan agar diminum tiga kali sehari.


Qingyi berharap dia mendapatkan hati dan hari yang damai hari ini. Akan tetapi, pikirannya diusik oleh perkataan Selir Jia yang menceritakan Zhao Ping’er. Seharusnya dia tidak menganggap serius perkataan selir itu, karena baik masuk ke harem manapun, seharusnya tidak ada masalah.


Tidak bisa. Qingyi tidak bisa berhenti memikirkannya. Gadis bernama Zhao Ping’er itu pasti sangat cantik. Dia lahir di keluarga jenderal dan dibesarkan dengan hati-hati.


Tutur katanya pasti lebih lembut dan etiketnya lebih sopan. Kulitnya mungkin lebih lembut karena setiap hari ada pelayan yang merawatnya.


Qingyi menggelengkan kepala, membuang jauh semua pikiran konyolnya. Untuk apa dia membandingkan gadis itu dengannya?


Itu tidak akan berhasil. Meskipun gadis bernama Zhao Ping’er itu cantik dan lembut, tapi apakah dia mampu menggerakkan dan melawan Baili Qingchen sepertinya, jika gadis itu memang ingin masuk ke harem Raja Changle?


“Tuan, kau sepertinya cemburu,” kekeh Yinghao yang terus memperhatikan gerak-gerik tuannya sejak tadi.


“Untuk apa aku cemburu pada gadis yang tidak jelas itu?”


Xiao Junjie saja tidak ia cemburui. Bagaimana bisa dia cemburu pada seorang gadis yang bahkan belum pernah dilihatnya? Konyol! Terlebih lagi, atas alasan apa dia punya rasa cemburu?


“Benarkah? Kalau begitu, bagaimana jika sistem memberimu misi untuk membiarkan karakter bernama Zhao Ping’er masuk ke dalam mansion sebagai selir?” tantang Yinghao. Qingyi langsung memukulnya dan melemparnya ke atas bunga-bunga karena kesal.


“Sistem sialan! Apa kau ingin aku menguburmu hidup-hidup? Berhenti memberiku misi yang tidak masuk akal!”


Yinghao meringis, merasakan kembali penindasan tuannya yang tiada habisnya ini. Padahal, dia hanya menggodanya. Hati manusia memang tidak bisa ditebak. Tuannya berkata tidak sesuai dengan hatinya. Untung saja Yinghao bukan manusia, jadi dia tidak punya hati yang labil seperti tuannya.


Hari sudah lumayan siang. Seharusnya Baili Qingchen sudah pulang dari pengadilan istana. Ada sesuatu yang harus ia bicarakan terkait kasus penculikan Baili Wuyuan oleh para pembunuh Paviliun Litao.


Meskipun Baili Qingchen sudah menyerahkan kasusnya untuk ditangani sendiri oleh Kaisar Baili, Qingyi tidak yakin jika kaisar pemalas itu bisa berhasil dalam waktu cepat.


Dia memanggil pelayan, lalu bertanya, “Apa Yang Mulia sudah kembali?”


Pelayan itu gelagapan seolah-olah pertanyaan ini adalah penentu hidup dan matinya. Bagaimana ini? Apakah dia harus menjawabnya atau berpura-pura tidak tahu apa-apa?


Gadis itu menatap si pelayan dengan tajam. Dia paling tidak suka menunggu.


“Jangan pernah berpikir untuk menutupi sesuatu dariku,” tegasnya.


Pelayan itu menggigil. Dia menyesal telah melintas di depan halaman barat. Seharusnya dia berputar arah agar tidak berpapasan dengan Putri Permaisuri!


“Yang-Yang Mulia sudah tiba. T-tapi, ada seseorang yang ikut pulang bersamanya,” jawab pelayan ragu-ragu. Jantungnya berdegup kencang.


“Dia seorang wanita?”


Pelayan itu mengangguk. Qingyi mendecih, kemudian menyeringai remeh. Qingyi menebak gadis itu adalah Zhao Ping’er yang dimaksud oleh Selir Jia. Baili Qingchen benar-benar membawa Zhao Ping’er pulang.

__ADS_1


Terbersit keinginan untuk melihat seperti apa rupa gadis asing itu, yang berhasil memikat Janda Permaisuri Ming dan membuat Selir Jia sangat waspada.


Dari kejauhan, dia bisa melihat suaminya berjalan dari gerbang utama menuju taman, diikuti seorang wanita cantik berpakaian abu-abu muda. Samar-samar, Qingyi bisa mendengar suara gadis itu yang rasanya terdengar seperti rengekan manja seorang remaja kepada kekasih hatinya.


“Kakak Chen, mansionmu ternyata cukup luas dan indah. Pelayan di sini pasti sangat telaten dalam merawatnya,” Zhao Ping’er mengekori Baili Qingchen sambil terus berlagak kagum.


Matanya berbinar cerah. Zhao Ping’er merasa mansion ini sangat bagus. Kaisar sebelumnya pasti sangat menyayangi Baili Qingchen sampai memberikan kediaman seindah dan seluas ini.


Bunga-bunganya mekar dan tertata rapi. Bebatuan hias dan kolam ikan terletak di posisi yang strategis. Taman ini tidak ada bedanya dengan taman istana kekaisaran.


Baili Qingchen hanya berdehem singkat, tidak berniat menanggapi perkataan Zhao Ping’er dengan serius. Dia sudah berkata jika gadis ini hanya boleh berkunjung ke mansion bersama ayahnya nanti.


Tapi, gadis ini ternyata cukup keras kepala. Dia malah menunggu di depan gerbang istana dan bertingkah manja, sampai Baili Qingchen tidak punya pilihan lain selain membawanya kemari.


“Kakak Chen, berapa banyak kediaman utama yang dibangun di mansion ini?” tanya Zhao Ping’er. Dia berangan-angan dan membayangkan ia akan tinggal di mana jika dia menjadi salah satu penghuni mansion ini.


“Yo, ada tamu rupanya. Yang Mulia, mengapa kau tidak memberitahuku kau akan membawa pulang seorang gadis?” celetuk Qingyi. Dia muncul dari balik pendopo.


Baili Qingchen sedikit terkejut. Oh, apa lagi ini. Ini yang paling tidak dia inginkan. Baili Qingchen berharap tidak ada masalah datang lagi.


Alasan mengapa dia melarang Zhao Ping’er untuk berkunjung tanpa Jenderal Zhao, selain untuk menghindari rumor, juga untuk menghindari kemungkinan dia mencari masalah dengan Putri Permaisuri Changle.


“Gadis cantik, kau bertanya ada berapa kediaman utama di mansion ini?”


Rambutnya yang menjuntai panjang berwarna hitam mengkilap, dan kepalanya dihiasi jepit rambut emas yang terbilang sederhana. Dari segi pakaian, wanita itu memakai gaun yang terbuat dari satin.


Informannya mengatakan jika Putri Permaisuri Changle berwajah jelek dan memiliki bekas luka akibat penyiksaan di kediamannya dahulu. Wanita ini pasti bukan Putri Permaisuri Changle.


Zhao Ping’er tampaknya belum tahu wajah sebenarnya dari Putri Permaisuri Changle, yang membuatnya tidak sadar jika wanita yang dimaksud sekarang berdiri di hadapannya dalam tatapan setajam panah.


Apakah wanita ini adalah selir Raja Changle? Tapi, mereka berkata jika tidak ada selir di sini. Hanya ada Pangeran Permaisuri dan Putri Permaisuri.


Zhao Ping’er kemudian berpikir mungkin informannya tidak mendapatkan informasi secara akurat. Mungkin saja Raja Changle memiliki seorang selir yang tidak diketahui publik.


“Biarkan aku memberitahumu. Mansion ini memiliki empat bangunan utama. Sayang sekali, keempatnya sudah memiliki pemilik. Gadis manis, tidak ada tempat yang kosong lagi.”


Zhao Ping’er mengepalkan tangannya di bawah. Wanita ini sangat lancang! Secara tidak langsung dia mengatakan bahwa tidak ada tempat untuk menampung selir, dan Qingyi dengan jelas menunjukkan kalau Zhao Ping’er juga tidak memiliki tempat di mansion ini.


Hatinya menjadi marah, namun dia tidak bisa melampiaskannya secara langsung di hadapan Baili Qingchen.


“Bukankah itu benar, Yang Mulia?” tanya Qingyi pada Baili Qingchen. Baili Qingchen hanya berdehem untuk menjawabnya.


“Siapa kau? Kakak Chen, apa dia selirmu?”


Qingyi terperangah. “Selir?”

__ADS_1


“Apa aku terlihat seperti selirnya?”


“Kakak, apa kau adalah selir Kakak Chen? Oh, kau pasti telah menderita dalam beberapa waktu ini. Tidak apa-apa, kelak kita bisa menjadi saudara,” ujar Zhao Ping’er tanpa tahu malu. Qingyi tertantang untuk bermain dengan gadis ini.


“Oh? Mengapa kau berpikir begitu?”


“Aku sudah mendengar rumor terkait Putri Permaisuri yang kejam dan seperti iblis. Kau pasti menderita karena berada di bawah kuasanya. Kakak Chen, aku tidak bermaksud mengatai permaisurimu. Hanya saja, rumor di luar sulit untuk dihindari.”


Baili Qingchen terbatuk, menahan tawanya. Dia melihat raut wajah Qingyi menggelap. Celaka, Zhao Ping’er mencari masalah sendiri. Baili Qingchen hendak meluruskan kesalahpahaman ini, namun hati kecilnya berkata bahwa dia lebih baik membiarkan permaisurinya bermain-main dengan Zhao Ping’er.


“Oh. Putri Permaisuri memang seperti iblis kecil,” ucap Baili Qingchen.


Qingyi memberikan sebuah tatapan tajam padanya sebelum dia beralih kembali pada Zhao Ping’er.


“Benar, bukan? Kakak, kau tenang saja. Kelak Putri Permaisuri Changle tidak akan bisa menggertakmu.”


“Begitukah? Kau berpikir kalau Putri Permaisuri Changle telah menggertakku?”


Zhao Ping’er merasa waspada. Qingyi maju selangkah, mengikis jarak antara dia dengan Zhao Ping’er. Gadis ini cantik seperti yang dikatakan Selir Jia, tapi otaknya bodoh dan kurang berfungsi.


“Kalau begitu, mau kutunjukkan bagaimana dia menggertakku?” ucap Qingyi.


Tanpa aba-aba, dia langsung mendorong Zhao Ping’er sampai jatuh. Setelah itu, dia menamparnya di pipi kanan sebanyak satu kali dan pipi kiri satu kali.


Qingyi mengangkat dagu Zhao Ping’er dengan telunjuknya, kemudian membuangnya dengan kasar. Zhao Ping’er meringis, hatinya marah karena selir ini tiba-tiba mendorongnya dan menamparnya.


“Kakak, mengapa kau melakukan ini padaku? Aku berbaik hati ingin menjadi saudarimu, tetapi kau malah memperlakukanku seperti ini!” keluh Zhao Ping’er dengan suara lembutnya. Air matanya menetes.


“Bukankah kau ingin tahu bagaimana Putri Permaisuri Changle menggertakku? Kau mungkin akan mempertimbangkan kembali kenyataan perkataanmu barusan setelah tahu bagaimana cara Putri Permaisuri memperlakukan wanita lain di sini.”


Zhao Ping’er menggeram marah. Gadis cantik keturunan jenderal negara itu menatap Baili Qingchen, mengharapkan pertolongan dan pembelaan darinya. Akan tetapi, Baili Qingchen tidak menggubrisnya sama sekali. Zhao Ping’er kembali kecewa untuk kedua kalinya.


“Kakak Chen...”


“Nona cantik, apa kau masih ingin bertamu? Kurasa Putri Permaisuri sebentar lagi akan bangun dan memeriksa kepulangan Yang Mulia,” kata gadis itu, diselingi dengan seringaian mengejek.


Zhao Ping’er segera bangkit. Kemudian, dia segera berlari keluar dari taman mansion tanpa menoleh lagi. Qingyi terkikik melihat gadis cantik itu lari terbiri-birit seperti dikejar hantu.


Baili Qingchen turut senang melihat istrinya puas mengerjadi Zhao Ping’er. Dia melangkah, kemudian berdiri sejajar dengan Qingyi.


“Hm. Selirku, kau mengusirnya dengan cara yang unik.”


Pada saat itu, Qingyi membekukan seringaiannya dan menatap tajam Baili Qingchen. Dia kemudian berkata, “Aku tidak mau bicara denganmu.”


Lalu, Qingyi pergi begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2