Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 133: Bermimpi Lagi


__ADS_3

Baili Qingchen terbangun beberapa jam setelah Qingyi mengembalikannya ke mansion. Saat dia membuka mata, kepalanya berdenyut dan rasanya suhu tubuhnya sedikit tidak normal. Baili Qingchen mendapati dirinya dibungkus dengan selimut tebal dan diikat sampai tubuhnya terlihat seperti seekor ulat putih.


“Apa ini?” tanyanya sambil memperhatikan tubuhnya sendiri.


Oh, ini pasti ulah Putri Permaisurinya! Ingatan Baili Qingchen berhenti saat mereka di kereta kuda, dan setelah itu ia tidak ingat.


Samar-samar Baili Qingchen sepertinya bermimpi lagi, dengan mimpi yang sama saat dia terluka. Satu kali mungkin wajar, tetapi jika ia sampai memimpikannya berkali-kali, bukankah itu memerlukan sebuah penjelasan?


Baili Qingchen harus bertanya langsung pada Qingyi. Kali ini, harus ada jawaban.


Pria itu lantas segera melepas bungkusan selimut dengan mudah. Namun, dia terkejut saat melihat tubuhnya sendiri. Ternyata, dia hanya memakai pakaian dalam berwarna putih! Pantas saja dia dibungkus seperti ini!


Jika ada yang tahu Raja Changle dikerjai oleh istrinya seperti ini, seluruh dunia pasti menertawakannya. Pasalnya, seorang Dewa Perang Bingyue dan Pengawas Negara tiba-tiba bangun dengan hanya memakai pakaian dalam, itu sungguh memalukan.


Baili Qingchen memijat keningnya, menenangkan diri atas perbuatan aneh permaisuri ajaibnya.


“Kapan wanita itu bisa berperilaku normal?” desisnya sembari mencari pakaiannya.


Setelah menemukan pakaian dan memakainya, dia langsung bergegas menuju halaman barat. Saat itu, hari sudah malam dan bintang-bintang berkelip di langit. Musim semi sedang berada di puncak, dan mansion ini akan selalu ramai pada malam-malam tertentu.


Baili Qingchen bukan orang yang benar-benar dingin. Setiap musim, dia selalu memberikan waktu luang kepada semua pelayan di sini dan membiarkan mereka berhenti dari pekerjaan sejenak, lalu menikmati waktu luang tersebut untuk merayakan suatu perayaan.


Meskipun tragedi festival puncak musim semi masih membekas, namun orang-orang di mansion Raja Changle tidak ingin larut dalam kesedihan.


Bahkan, Baili Qingchen melihat pelayan-pelayan sedang asyik menerbangkan lentera ke langit. Melihat itu, senyum di bibirnya terbit, melengkung membentuk bulan sabit yang tipis.


Apakah setiap tahun seperti ini? Mungkin dia tidak terlalu memperhatikannya pada tahun-tahun lalu.


Setibanya di halaman barat, dia melihat Qingyi tengah menyalakan beberapa lentera teratai yang disimpan di sepanjang taman. Wajah tenang wanita itu membuat Baili Qingchen tertegun sesaat.


Dia tampak bersinar di bawah cahaya redup ini. Bahkan setelah melawan Zhao Ping’er di perjamuan hari ini, dia tetap terlihat menarik dan kembali pada ketenangannya.


“Tuan, mengapa kau tidak mengekspos persekongkolan Liu Erniang dan Zhao Ping’er?” tanya Yinghao yang tengah mengaktifkan mode tampak. Pada kecil itu bermain-main dengan lentera teratai dan melemparnya ke udara.


“Aku masih ingin bermain-main dengan mereka,” jawab Qingyi sekenanya.


Wanita itu tidak menyadari jika Baili Qingchen memperhatikannya dari pintu masuk.


Setelah ini, dia telah menyiapkan skenario baru untuk mengatasi Liu Erniang. Qingyi sangat tahu adiknya tidak akan pernah berhenti memusuhinya. Liu Erniang akan mencoba cara terakhirnya, yakni berusaha dicintai Kaisar Baili dan memberinya keturunan yang bisa membuatnya memiliki kuasa.


Dengan begitu, Liu Erniang bisa menekan Qingyi dan Raja Changle. Akan tetapi, Qingyi telah menyiapkan rencana untuk melawan adiknya itu.


Yinghao tanpa sengaja melirik ke arah Baili Qingchen. Melihat protagonis pria datang, dia segera memberitahu tuannya: “Tuan, protagonis telah tiba. Berhati-hatilah, mungkin dia akan memaksamu membongkar semua rahasiamu.”


Qingyi juga menolehkan kepala, dan kebetulan pandangan mereka bertemu. Senyum Baili Qingchen terbit, pria itu lalu berjalan menghampirinya.

__ADS_1


Qingyi mengabaikan Baili Qingchen, wanita itu malah melanjutkan aktivitasnya dengan menyalakan lentera yang lain. Sikap lancangnya ini sudah tidak mampu membuat Baili Qingchen menggelengkan kepalanya lagi.


Merasa diabaikan, Baili Qingchen kemudian memeluknya dari belakang. Pria itu menumpu dagunya di bahu Qingyi, tangan kanannya melingkari pinggang ramping permaisurinya dan dijalin di perutnya. Napasnya yang hangat menerpa kulit leher Qingyi yang terbuka.


Qingyi tersentak karena pelukan yang tiba-tiba ini. Seketika dia menghentikkan aktivitasnya, lilin penyebar apinya ia letakkan di tanah. “Hei, apa yang kau lakukan?”


“Memeluk kucing liar yang nakal.”


Dahi Qingyi mengkerut. Alih-alih kucing, dia lebih mirip dengan seekor singa.


“Bisakah kau melepaskanku? Lenteranya belum kunyalakan semua,” pinta Qingyi sambil berusaha melepaskan tangan Baili Qingchen yang terjalin di perutnya.


Gerakkan kecil berupa gelengan kepala terasa, dan pria itu malah semakin erat memeluknya.


“Aku sedang mengulang mimpi,” ucap Baili Qingchen.


“Apa mimpimu begitu menarik?”


“Ya. Karena aku bermimpi kembali ke tempat itu.”


Qingyi tertegun, wajahnya menyembunyikan kewaspadaan. Ia pikir pria ini akan lupa, tapi ingatannya terlalu bagus. Setiap kali Qingyi membawanya ke ruang dimensi, Baili Qingchen selalu mengingatnya dengan jelas.


Jika terus terjadi, Qingyi khawatir pria ini akan memaksanya membongkar jati dirinya. Peringatan Yinghao tampaknya benar.


“Bukankah hanya mimpi? Tidak ada yang istimewa dari itu.”


Astaga, selain pandai bertarung, apa pria ini juga seorang cenayang?


Jantung Qingyi tiba-tiba berdegub kencang. Baili Qingchen tampaknya sudah semakin curiga padanya. Ini salahnya.


Seharusnya dia menuruti saran Yinghao untuk mengobati Baili Qingchen dengan cara lain, bukan dengan membawanya ke ruang dimensi. Qingyi melupakan fakta bahwa suaminya ini adalah seorang raja yang penuh kewaspadaan dan rasa curiga.


“Mengapa aku harus menjelaskan mimpimu?”


“Karena setiap kali mimpi itu terjadi, kau juga ada di sana.”


“Mungkin hanya kebetulan. Sudahlah, ada sesuatu yang harus kuberitahukan padamu.”


Baili Qingchen sudah tahu jika wanita ini pasti akan beralasan. Meskipun masih penasaran, dia terpaksa menundanya sesaat karena sesuatu yang akan dikatakan olehnya sepertinya sangat penting.


Dia dengan enggan melepas pelukannya, dan sebelum itu dia mengigit daun telinga Qingyi sampai tangan wanita itu bergerak hendak mendorongnya. Sebelum berbalik menghadap Qingyi, dia melihat sebuah bekas gigitan merah di leher Qingyi.


Bekas gigitan merah itu adalah karya yang dibuatnya saat dia merasa di dalam mimpi tersebut, dan hanya satu satunya. Qingyi tampaknya tidak menyadari itu.


Baili Qingchen menerbitkan senyumnya, dan ia sampai pada satu kesimpulan yang sejak dulu dia timbang di dalam otaknya: mimpi itu memang bersumber dari Putri Permaisurinya.

__ADS_1


“Apa kau vampir? Mengapa kau selalu mengigitku setiap ada kesempatan?” tanya Qingyi yang kesal karena Baili Qingchen selalu menggigit daun telinga, leher, dan bahunya sampai merah.


“Oh, itu kegemaran baruku. Rasanya sangat manis,” jawab Baili Qingchen.


Kata-kata ini, bukankah terdengar seperti gombalan seorang pemuda kepada wanita yang ia sukai?


Mungkin itu akan berefek pada wanita biasa, tetapi tidak untuk Qingyi. Dia malah merinding, dan tanpa sadar mundur selangkah untuk menjauhkan diri. “Mengapa kau tidak sekalian meminum darahku juga?”


“Hm, kedengarannya menarik.”


Baili Qingchen maju selangkah, kemudian menarik pinggang Qingyi dan ia mendekapnya lagi. Pelukan ini sehangat pelukan yang ia rasakan di tempat indah itu. Baili Qingchen memejamkan matanya sesaat, menghirup aroma tubuh Qingyi yang sangat wangi dan menenangkan.


Qingyi bergerak dengan gelisah. Ayolah, jangan terus bersikap manja seperti ini!


“Jika kau mengigitku dan tidak melepas pelukanmu, kau tidak akan mendengar apapun,” ancam Qingyi.


Baili Qingchen tertawa tanpa suara, lalu melepaskan pelukannya. Tatapannya segelap langit malam dan setenang air danau.


“Katakan, apa yang ingin kau beritahukan?”


“Perihal mantan calon selirmu.”


“Calon selirku? Aku tidak punya calon selir.”


“Maksudku, Zhao Ping’er. Ada otak lain yang menjadikannya boneka dalam rencana ini.”


Baili Qingchen mengangguk ringan, seolah-olah yang ia dengar hanya hal biasa.


Reaksinya tentu mengundang pertanyaan di benak Qingyi dan dia tidak tahan untuk tidak mengatakannya. “Kau sudah mengetahuinya?”


Baili Qingchen mengangguk. “Selir Xian yang membantunya.”


Ya ampun, sekarang tampaknya Qingyi yang telat selangkah. Baili Qingchen mengetahuinya lebih awal. Tidak heran, dia memiliki basis kekuatan yang kuat dan bisa menggerakkan banyak orang. Mencari tahu siapa yang membantu Zhao Ping’er juga bukan hal yang bisa menyulitkannya.


“Lalu mengapa kau tidak memberitahuku?”


“Karena kau tidak bertanya, Putri Permaisuri.”


Qingyi kehilangan kata-kata, dia merengut dan wajahnya jadi gelap.


Baili Qingchen khawatir wanitanya marah, kemudian dia menariknya dan memeluknya untuk yang ketiga kalinya. Kepala Qingyi ia elus perlahan, memberikan ketenangan yang tidak pernah ia berikan pada siapapun. Mata Baili Qingchen menerawang jauh.


“Seorang pelayan istana memberitahu jika Selir Xian bertemu Zhao Ping’er secara diam-diam. Tidak perlu khawatir, aku sudah memberitahu Kaisar. Akan kupastikan kau tidak akan pernah melihat wajah Zhao Ping’er lagi dan adikmu akan mendapatkan ganjaran karena mencoba mengusik seorang Raja Changle.”


Qingyi bergeming, tubuhnya seperti mematung. Dia membiarkan Baili Qingchen mendekapnya dengan erat. Tidak lama kemudian, dia membenamkan wajahnya di dada Baili Qingchen, menyesap aroma cendana yang familier.

__ADS_1


Dada bidang itu terasa sangat hangat. Qingyi mulai merasa lelah, tanpa sadar ia telah melingkarkan tangannya di pinggang Baili Qingchen.


__ADS_2