
“Kakak Chen!”
Baili Qingchen yang baru keluar dari aula pengadilan menoleh saat seseorang memanggil namanya dengan sebutan kakak. Sekilas, dia mengernyit karena penasaran siapa yang telah memanggilnya dengan sebutan itu. Selain Luo Mingyue, rasanya tidak ada lagi gadis yang memanggilnya seakrab itu.
Seorang gadis jelita berusia delapan belas tahun menghampirinya dengan senyuman indah di wajah putihnya. Gadis itu berseri-seri seperti melihat matahari pagi. Langkahnya ringan, dan wewangian menguar dari kantung pewangi yang tergantung di sisi bajunya.
“Kaka Chen, lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?” tanya gadis itu.
Baili Qingchen memperhatikannya sekilas dari atas hingga ke bawah. Pakaiannya mewah, aksesorisnya juga indah. Mungkinkah gadis ini adalah salah satu putri menteri yang dilupakannya? Tapi, mengapa rasanya dia juga sedikit familiar dengan suara lembut gadis ini?
“Ini aku, Ping’er. Zhao Ping’er,” Zhao Ping’er membantu Baili Qingchen mengingatnya kembali.
“Zhao Ping’er? Kau putri Jenderal Zhao?”
Zhao Ping’er mengangguk senang.
Dia sejatinya adalah teman masa kecil Baili Qingchen. Saat Jenderal Zhao masih ditugaskan di kota kekaisaran, Zhao Ping’er dan Baili Qingchen sering pergi bermain di istana bersama-sama. Zhao Ping’er adalah gadis lugu yang cerdas. Setiap kali Baili Qingchen mengajarinya sesuatu, dia akan lebih cepat menguasainya dan mengingatnya dengan baik.
Ingatan Baili Qingchen mungkin telah lama hilang sebagian akibat banyaknya peperangan dan kisah pelik yang dialaminya. Sependek ingatannya, dia hanya punya beberapa memori tersisa tentang Zhao Ping’er. Berpindahnya Zhao Ping’er ke kota perbatasan barat juga membuat memori itu lebih cepat terhapus dari otak Baili Qingchen.
“Apa yang membuatmu kembali ke kota kekaisaran?” tanya Baili Qingchen. Senyum cerah di wajah indah Zhao Ping’er sedikit memudar.
“Yang Mulia baru menyetujui permohonan pensiun ayahku beberapa waktu yang lalu. Dia mengizinkan ayah kembali ke kota kekaisaran. Karena harus mengurus beberapa hal di kediaman lama, aku tiba lebih awal,” jawab Zhao Ping’er.
“Oh, begitu, ya.”
Ada raut kecewa di wajah bak purnama itu. Zhao Ping’er tidak berharap Baili Qingchen mengingat kenangan mereka saat kecil, dia hanya berharap setidaknya Baili Qingchen masih mengingat namanya.
__ADS_1
Itu saja sudah cukup untuk menyenangkan hatinya. Tapi, ternyata dia harus menanggung rasa kecewanya sendirian.
Zhao Ping’er menyukai Baili Qingchen sejak kecil. Kalau bukan karena perpindahan tugas, mungkin sekarang yang menjadi Putri Permaisuri Changle bukan gadis dari marga Liu itu. ‘Kakak Chen’-nya juga mungkin tidak akan mendapat reputasi buruk karena menikah dengan pria sebelumnya. Keberadaan ‘Pangeran Permaisuri’ bernama Xiao Junjie juga bisa saja tidak ada.
Seandainya waktu diputar kembali, Zhao Ping’er akan memilih menjadi pelayan dan melayani Baili Qingchen sepanjang hidupnya. Namun karena dia adalah putri seorang jenderal besar yang ternama, dia juga tidak bisa meninggalkan keluarganya. Kediaman Jenderal Zhao dibangun atas prestasi perang dan militer, dia tidak bisa mengacaukannya karena keinginannya sendiri.
Tetapi, sekarang situasinya sudah berbeda. Ayahnya sudah dibebastugaskan dari menjaga perbatasan barat dan sudah boleh kembali ke kota kekaisaran.
Ini adalah sebuah berkah yang membuat Zhao Ping’er menyalakan kembali harapannya. Dia akan membantu Baili Qingchen mengingat semua kenangannya, dan berharap dia bisa memasuki hatinya dengan itu.
“Kenapa? Apa kau tidak senang aku kembali?” tanya Zhao Ping’er. Baili Qingchen menggelengkan kepala.
“Bukan begitu. Hanya saja Jenderal Zhao muncul di situasi yang kurang tepat,” jawab Baili Qingchen.
“Apa karena insiden festival puncak musim semi itu?”
Namun karena ada keperluan mendesak, dia pulang beberapa saat sebelum tragedi terjadi. Zhao Ping’er saat itu sangat ingin bertemu dengan Baili Qingchen, tetapi dia tidak bisa melakukannya karena mempertimbangkan banyak hal.
“Kota kekaisaran baru pulih dan rakyat baru saja sembuh dari trauma. Kepulangan Jenderal Zhao mungkin akan mengundang respon kurang positif dari menteri-menteri tinggi.”
Seingat Baili Qingchen, Jenderal Zhao ditugaskan menjada kota perbatasan barat karena dia bertentangan dengan banyak menteri.
Di pengadilan, seorang jenderal kerap kali mendapat tekanan politik dari menteri tinggi, yang merasa jika militer dan politik harus terpisah. Karena itulah dia dikirim ke perbatasan barat dan berjaga di sana.
Zhao Ping’er tersenyum lagi. Ia tahu, ayahnya kurang dipandang oleh beberapa menteri. Namun sekarang, ayahnya hanya datang untuk menyerahkan plakat militer dan menerima dekret pensiun, bukan untuk mendebat para menteri seperti sembilan tahun yang lalu. Sekalipun dibenci dan tidak disenangi, efeknya tidak akan terlalu mempengaruhinya.
“Tidak apa-apa. Ayahku bukan pemberontak. Dia pensiun secara resmi. Kakak Chen, apa aku boleh berkunjung ke mansionmu?”
__ADS_1
“Mengapa?”
“Kita berpisah sepuluh tahun yang lalu. Tidak banyak memori yang mungkin tersisa di ingatanmu. Tapi, bagaimanapun, kita adalah teman masa kecil. Aku ingin mengenalmu kembali dan kau juga harus mengenalku kembali.”
Tindakan ini, apakah dibenarkan? Sekalipun mereka adalah teman masa kecil, tapi itu sudah berlalu bertahun-tahun. Baili Qingchen sudah banyak melupakan kenangan masa kecilnya. Sekarang, Zhao Ping’er tidak lebih dari seorang gadis asing yang datang padanya.
“Aku juga ingin bertemu dengan Putri Permaisuri dan Pangeran Permaisurimu. Mungkin saja kami bisa menjadi teman baik,” tambahnya lagi.
Baili Qingchen tidak yakin akan hal itu. Zhao Ping’er bersikap naif seperti gadis belia pada umumnya. Dia mungkin belum tahu seperti apa kehidupan mansion Raja Changle yang sebenarnya. Tempat itu tidak lebih dari medan perang. Zhao Ping’er sama sekali tidak tahu jika kedua pendamping Baili Qingchen adalah dua singa ganas penguasa hutan rimba!
“Tidak perlu terburu-buru. Kau bisa menunggu sampai ayahmu kembali jika ingin mengunjungi mansionku,” ujar Baili Qingchen. Sebetulnya, dia sedikit risih karena Zhao Ping’er bersikap sangat akrab dengannya.
Senyum Zhao Ping’er membeku. Dia mencoba menutupi rasa kecewanya. Remaja yang dulu menggendongnya ketika terjatuh, sekarang seperti orang asing. Jangankan berbicara lebih akrab, Zhao Ping’er bahkan bisa melihat raut ketidaksenangan Baili Qingchen di wajahnya. Pria itu juga menjaga jarak sejauh dua meter dari hadapannya.
“Kakak Chen, apa kau sungguh tidak mengingatku? Atau, kau sudah benar-benar melupakan kenangan masa kecil kita?”
“Aku mungkin melupakan beberapa hal tentang masa kecil kita.”
“Kalau begitu, biarkan aku membantumu untuk mengingatnya.”
Zhao Ping’er maju selangkah. Dia hendak meraih tangan Baili Qingchen, namun pria itu mundur selangkah lebih jauh. Wajahnya berpaling ke samping, dahinya sedikit berkerut. Zhao Ping’er maju lagi selangkah, namun Baili Qingchen kembali mundur untuk menjauh.
“Ping’er, aku harus pergi. Kau bisa membicarakan masa kecil itu lain hari,” ucap Baili Qingchen.
Pria itu berjalan cepat meninggalkan halaman aula pengadilan, kemudian bergegas menuju gerbang istana. Di sana, Cui Kong sudah menunggu bersama kusir kereta. Dia sempat bertanya mengapa rajanya keluar sedikit lebih lambat. Baili Qingchen hanya mengatakan bertemu teman lama dan berbincang sebentar.
Sementara itu, di halaman aula pengadilan, Zhao Ping’er masih berdiri menatap kepergian Baili Qingchen. Ujung pakaiannya berkibar diterpa angin. Dia mengepalkan tangannya, menahan semua rasa kecewa dan kesedihannya.
__ADS_1
“Kakak Chen, aku pasti bisa menggapaimu kembali!”