Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 73: Ucapan Selamat Tinggal


__ADS_3

“A-Chen, apa yang sedang kau pikirkan?”


Xiao Junjie sesekali memandangnya sambil menyeduh teh. Baili Qingchen meliriknya sesaat sebelum dia menggelengkan kepalanya. Xiao Junjie menebak mungkin Baili Qingchen tengah memikirkan apa yang harus dilakukan agar Baili Wuyuan yang kemarin diantar ke istana bisa memiliki status dan diakui sebagai pangeran.


Sebenarnya, bukan itu yang ia pikirkan. Baili Qingchen yakin keponakannya bisa mengambil keputusan yang tepat untuk putra sulungnya. Apa yang membuatnya terjun bebas ke dalam lamunan dan pemikiran panjang adalah tentang mimpi semalam yang begitu aneh namun tampak nyata.


Ladang obat, air terjun tinggi, kolam ajaib, gunung es, kebun persik, juga pondok yang sangat asri itu terasa benar-benar nyata. Tempat itu mirip sebuah lembah. Tidak ada di Bingyue, namun sepertinya benar-benar ada. Sekeras apapun ia memikirkannya, dia tidak menemukan jawaban di mana tempat itu berada.


“Semalam, bagaimana caraku kembali?” tanya Baili Qingchen.


“Putri Permaisuri yang menggendongmu pulang. Kau basah kuyup dan tidak sadarkan diri,” jawab Xiao Junjie.


“Tenaganya sebesar itu?”


“A-Chen, sebenarnya mengapa pakaianmu bisa basah kuyup dan kau tidak sadarkan diri?”


“Oh, itu, aku tanpa sengaja terjatuh ke dalam danau. Putri Permaisuri juga ikut terjatuh karena aku menabraknya.”


Xiao Junjie mengangguk ringan. Pantas saja semalam mereka pulang begitu larut. Pemikirannya sudah melayang liar ke mana-mana.


Melihat orang tersayangnya pulang, malam itu juga Xiao Junjie berjaga semalaman sampai Baili Qingchen sadar. Ia pikir, lebih baik menanyakannya setelah sadar.


“Putri Permaisuri marah dan menghukum Cui Kong,” ujar Xiao Junjie lagi. Kali ini, Cui Kong juga bersalah karena tidak menjemput Baili Qingchen dan Qingyi pulang.


“Di mana dia sekarang?”


“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah penasaran terhadap aktivitas Putri Permaisuri.”


Baili Qingchen agak tersentak. Kata-kata itu bagaikan sebuah sindiran yang memukul kepalanya dari belakang. Xiao Junjie tidak pernah mengatakan hal yang di luar batas seperti ini sebelumnya.


Mengapa sekarang dia semakin berani? Apa itu karena Baili Qingchen sudah terlalu sering mengabaikannya?


“Bagaimana dengan persiapan Festival Zaochun? Urusan di istana terlalu rumit sampai aku terpaksa menundanya,” Baili Qingchen mengalihkan pembicaraan agar Xiao Junjie tidak terlalu larut dalam kekecewaan.


“Hanya tinggal menyebar undangan,” Xiao Junjie menjawab singkat.


Baili Qingchen terkesiap, belum pernah ia mendengar Xiao Junjie bicara begitu ringkas padanya. Ia rasa, mungkin Xiao Junjie benar-benar marah.


“A-Jie, bersantailah. Aku mempunyai urusan yang harus kuselesaikan.”


Setelah itu, ia meninggalkan halaman timur, meninggalkan Xiao Junjie seorang diri. Baili Qingchen mengabaikan tatapan Xiao Junjie yang seolah tidak rela dirinya pergi.


Kakinya terus melangkah dengan pikiran kosong, dan tanpa sadar telah membawanya ke halaman barat. Di depan gerbang, ia berhenti. Kepalanya mendongak menatap papan tulisan yang tergantung di atas.


Biasanya, pemilik halaman ini sering terlihat tengah bersantai di kursi malasnya sambil menikmati cahaya matahari pagi yang hangat. Namun kali ini, bahkan setelah Baili Qingchen berkeliling, pemilik halaman ini tidak tampak di manapun.

__ADS_1


Ia seolah hilang ditelan bumi. Tidak ada jejak bahwa Qingyi tinggal di sini dalam beberapa waktu. Semuanya rapi. Persis seperti beberapa waktu yang lalu.


Seorang pelayan, yang kala itu ditunjuk karena terpaksa lantas menghampirinya. Tuannya tampak bingung namun ia tak berani bicara. Pelayan itu kemudian memberitahu bahwa Putri Permaisuri Changle telah pergi sejak pagi buta. Dia bahkan melewatkan sarapannya.


“Mengapa kau tidak ikut?” tanya Baili Qingchen. Dia sudah mengatakan bahwa Putri Permaisuri tidak boleh berkeliaran sendiri.


“Yang Mulia Putri bilang saya terlalu berisik. Jadi, dia meninggalkan saya di sini, Yang Mulia,” pelayan itu menjawab dengan nada pasrah.


Sejak masuk kemari dan dipilih, majikan putrinya selalu tidak ingin dilayani dan selalu berkata bahwa ia sangat berisik, padahal dia tidak banyak bicara.


Baili Qingchen lalu menyuruh pelayan tersebut kembali ke tempatnya. Dia sendiri memutuskan untuk berjalan-jalan keluar mansion tanpa didampingi Cui Kong. Kasihan, pengawal itu mungkin masih harus beristirahat karena Qingyi menghukumnya malam tadi. Dengan balutan busana biru muda yang elegan, Baili Qingchen keluar dengan santai.


Jauh di kediaman Liu Wang, semua orang tengah sibuk mengemas barang. Kaisar Baili sudah resmi memakzulkan perdana menterinya dan dia disuruh pulang kampung, serta tidak boleh kembali ke kota kekaisaran tanpa izin.


Kaisar Baili menyuruh Liu Wang untuk pergi sehari setelah Liu Erniang masuk istana. Maka dari itu, kini semua orang di kediamannya dibuat sangat sibuk.


Qingyi berjalan santai di antara tumpukan peti-peti barang yang terkumpul di taman. Karena terlalu sibuk, para pelayan melewatinya begitu saja. Sesekali Qingyi menyentuh tutup peti yang isinya pasti harta langka.


Ia yakin, kekayaan yang ditumpuk Liu Wang selama puluhan tahun pasti tidak sedikit. Apalagi, si tua itu suka sekali mencari keuntungan dari kerja sama dengan beberapa penjahat kelas kakap seperti Wang Yiyuan.


Melihat gadis yang sangat dibencinya datang, wajah Liu Wang seketika menjadi suram. Dia berjalan menghampirinya, lalu dengan kemarahan tertahan dia bertanya, “Untuk apa kau kemari?”


Qingyi tersenyum sebentar sebelum raut wajahnya berubah menyebalkan.


“Tidak perlu. Aku tidak kekurangan sesuatu hingga perlu kau sumbang.”


Liu Wang masih sangat marah perihal kejadian kemarin. Kekacauan di perjamuan saat Liu Erniang hendak menerima dekret membuat Liu Wang sakit kepala dan tidak bisa tidur semalaman.


Bagaimana tidak, sepasang suami istri dari mansion Raja Changle telah mengacau begitu besar. Bisa-bisanya mereka membawa seorang anak keturunan kaisar di hari putrinya masuk istana!


Wajah Liu Wang seperti ditampar dan kepalanya seperti dipukul dengan keras. Gelar Selir Tinggi ditangguhkan, dan sekarang muncul seorang pangeran. Jalan putrinya ke depan sana pasti tidak akan semulus sebelumnya. Dirinya tidak akan bisa membantu banyak karena ia sendiri akan meninggalkan kota kekaisaran hari ini.


“Benarkah? Sayang sekali. Padahal, aku telah menyiapkan hadiah yang bagus untukmu.”


Qingyi lalu memanggil pelayan dari mansionnya, membawa sebuah peti lagi. Ketika dia membukanya, mata Liu Wang terbelalak. Sekarang bukan hanya paket pakaian duka yang datang, melainkan setumpuk uang kertas yang jumlahnya jutaan tael.


Liu Wang menatap Qingyi, meminta penjelasan dari mana uang sebanyak ini datang. Raja Changle tidak mungkin mengeluarkan uang sebanyak ini untuknya.


“Aku khawatir kau kehabisan uang setelah meninggalkan kota kekaisaran. Karena kau menolaknya, kalau begitu aku akan membawanya kembali.”


Disertai lambaian tangan, pelayannya kemudian menutup kembali peti uang itu dan membawanya keluar. Liu Wang tampak tidak rela.


Rasanya seperti kau telah menangkap seekor ikan dalam pancingan, namun ikan itu lepas sebelum kau memasukannya ke dalam ember. Kalau tahu hadiah yang dimaksud Qingyi adalah uang sebanyak itu, Liu Wang tidak akan buru-buru menolak.


“Kau harus ingat, jalan putrimu di istana tidak akan semudah yang kau bayangkan. Ayahku sayang, jangan pernah menyesal atas keputusan yang telah kau buat,” ucap Qingyi. Liu Wang mengepalkan tangannya.

__ADS_1


“Anak durhaka! Jika kau tidak mengacaukannya, dia tidak akan sengsara! Liu Qingyi, kau benar-benar tidak tahu diuntung!” Liu Wang tersulut emosi. Justru inilah yang Qingyi inginkan. Melihat musuhnya marah sampai susah bernapas adalah sebuah pemandangan yang menakjubkan.


“Kau sendiri yang mendorongnya ke tempat buruk itu. Seperti apa kehidupan harem, ayah, kau jelas lebih mengetahuinya daripada aku, bukan?”


Qingyi maju selangkah, lalu menatap Liu Wang penuh intimidasi.


“Kau pikir aku tidak tahu bahwa putrimu mendambakan suamiku dan berharap menjadi seorang Permaisuri Changle?”


Liu Wang tertegun. Qingyi menyeringai. Liu Erniang menyukai Baili Qingchen, dan itu sebabnya kebenciannya terhadap Qingyi bertambah besar kala dekret pernikahan datang kepada Qingyi, bukan kepadanya.


Pada saat adiknya itu menyuruh penjahat meracuni Xiao Junjie, Qingyi jelas mendengar bahwa Liu Erniang melakukannya karena ingin menyingkirkan Qingyi, sebagai pembalasan karena telah merebut Raja Changle darinya.


Jika dipikir kembali, itu cukup lucu. Bagaimana mungkin anak-anak seorang perdana menteri bermarga Liu semuanya menaruh minat pada Raja Changle.


Liu Qingti mengaguminya sebagai Dewa Perang Bingyue yang hebat, Liu Erniang menyukainya dan berharap menjadi istrinya, dan Qingyi yang seharusnya tidak ada di sini justru malah ikut terlibat menjadi permaisurinya.


Namun, setelah kejadian ini, mungkin Liu Erniang berbalik membenci Raja Changle. Itu juga cukup baik, pikir Qingyi. Satu Xiao Junjie sudah membuatnya emosi. Jika ditambah satu Liu Erniang, dia bisa mati darah tinggi. Qingyi justru ingin melihat setinggi apa Liu Erniang akan memanjat dengan statusnya sebagai selir kaisar saat ini.


“Kau! Dia adalah Selir Xian, selir Yang Mulia Kaisar! Beraninya kau membicarakannya?”


“Aku memang berani. Memangnya kenapa? Jika kau mau, tulis permintaan dan suruh Kaisar menurunkan dekret untuk menghukumku!”


“Kau! Benar-benar anak kurang ajar!”


Liu Wang hendak menampar Qingyi, namun sebuah tangan kemudian menahannya. Ketika ia mendongak, ia melihat Baili Qingchen yang tampak menahan emosinya. Wajahnya yang dingin menusuknya hingga ke tulang. Liu Wang menjadi gugup dan semua kemarahannya menguap.


“Kau pikir kau bisa menyakiti Putri Permaisuriku hanya karena kau adalah ayahnya? Tuan Liu, kau bahkan tidak berhak menyentuh sehelai rambutnya!”


Baili Qingchen berkata penuh penekanan. Nadanya tertekan dan Qingyi bisa merasakan kemarahan yang besar dari pria itu. Menyaksikan suami yang biasanya hanya membuatnya marah membelanya, dia tertawa dalam hati. Baili Qingchen benar-benar sangat pandai berkata-kata!


“Y-Yang Mulia…Aku..”


“Menyakiti Putri Permaisuri adalah kejahatan. Kau bukan hanya menyinggung Raja Changle, tetapi juga keluarga kekaisaran!” ucap Baili Qingchen.


“Aiya! Yang Mulia, kau menakuti ayahku. Lihat, wajahnya sudah sangat mengkhawatirkan. Ayo, berbaik hatilah padanya,” sela Qingyi.


Baili Qingchen melepaskan tangan Liu Wang namun matanya masih memandangnya dengan marah. “Jangan ikut campur. Biarkan aku mengucapkan salam perpisahan kepada ayahku ini.”


Baili Qingchen mundur beberapa langkah, memberikan ruang untuk Qingyi agar dia bisa leluasa bicara dengan Liu Wang. Qingyi kemudian berbisik, “Perjalanan kali ini panjang. Ayah, kau telah banyak menyinggung orang. Hati-hati, jangan sampai kau kembali hanya tinggal nama.”


Qingyi kemudian berbalik, menarik tangan Baili Qingchen.


“Salam perpisahannya sudah diucapkan. Yang Mulia, mari pulang.”


Baili Qingchen menurut seperti seekor kucing.

__ADS_1


__ADS_2