Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 41: Tidak Ada Gunanya


__ADS_3

Sialnya, para pengawal mansion Raja Changle yang lain sudah menunggunya di bawah jendela lengkap dengan sebuah kain untuk menangkapnya. Dengan jumlah sebanyak itu, mustahil Qingyi bisa melawan dengan terang-terangan. Jika ketahuan ia bisa bela diri, urusannya bisa jadi lebih rumit.


Qingyi pergi ke jendela yang lain, namun justru dirinya dibuat lebih terkejut karena bukan lagi pengawal mansion yang menunggunya, melainkan Baili Qingchen. Pria itu berdiri dengan tatapan dinginnya, menengadah menatap Qingyi sambil melipat kedua tangannya di dada.


Jubah kerajaannya masih ia kenakan, artinya ia belum pulang ke mansion. Penampilannya menarik perhatian banyak orang, terutama mereka yang kebetulan berada di dekat gedung.


“Mengapa dia harus datang juga?” kesal Qingyi.


Terlambat untuk berbalik karena pengawal mansion yang lain sudah berhasil menangkap Luo Niang dan kini tinggal ia sendiri.


Qingyi meminta bantuan Yinghao, namun panda kecil itu tampaknya sedang off sehingga tidak memunculkan diri. Baili Qingchen memandangi gadisnya sambil menunggu apa yang akan ia lakukan pada saat seperti ini.


Baru saja ia pulang dari pengadilan dan suasana hatinya sedang buruk, ia kini malah disuguhkan dengan pemandangan Putri Permaisurinya yang malah datang ke rumah bordil pria alih-alih berdiam diri di mansion. Bagaimana dia tidak kesal?


“Kau turun sendiri atau aku yang menurunkanmu?” tanya Baili Qingchen dengan nada khasnya. Qingyi kehabisan cara.


“Aku bisa turun sendiri!”


Para pengawal menyiapkan tangga dari luar dan kain penangkap karena berpikir Putri Permaisuri Changle mereka akan turun dengan baik. Akan tetapi, pemikiran mereka meleset jauh. Qingyi melompat langsung dari jendela lantai dua, membuat semua orang terkejut dan panik. Orang pikir ia bunuh diri.


Qingyi sengaja melompat untuk membalas dendam. Arahnya yang pas dengan posisi Baili Qingchen adalah sasaran utamanya. Baili Qingchen tidak sempat mempersiapkan diri, ia refleks menangkap Qingyi dalam pelukannya.


Keduanya jatuh dan terhempas ke tanah bersama-sama dalam posisi Qingyi berada di atas tubuh Baili Qingchen.


Cui Kong keluar dan melongo menyaksikan pemandangan di depannya. Bisa-bisanya Raja Changle dibuat jatuh di depan banyak orang!


“Tangkapan yang bagus!” ucap Qingyi setelah ia bangun.


Baili Qingchen segera bangkit dan membenarkan pakaiannya sambil berdehem. Orang-orang di sekeliling mereka berbisik-bisik aneh melihat kejadian tersebut.


“Dia berani mempermainkanku?” gumam Baili Qingchen. Pria itu tak banyak bicara lalu menyusul Qingyi yang telah masuk ke dalam kereta kuda terlebih dahulu.


Luo Niang dibawa kembali ke istana dengan kereta kuda yang lain. Sementara itu, di dalam kereta kuda Raja Changle, Qingyi dan Baili Qingchen sama-sama diam. Qingyi sibuk mengumpati dan memarahi Baili Qingchen di dalam hatinya, sementara Baili Qingchen sibuk memikirkan kekacauan yang dibuat oleh istrinya.


Tidak ada hari yang benar-benar damai dalam hidupnya. Setelah perang berakhir, hidupnya justru diusik oleh kedatangan gadis ajaib yang entah seperti apa pemikirannya yang sebenarnya.


Baili Qingchen tidak habis pikir mengapa gadis pintar seperti Qingyi bisa dengan mudah setuju memasuki gedung seperti itu bersama Luo Niang.

__ADS_1


“Benar-benar pengacau!” ujar Baili Qingchen.


“Kenapa? Kau marah?” balas Qingyi.


“Bagaimana bisa Putri Permaisuri Changle mengunjungi rumah bordil pria?”


“Memangnya kenapa jika aku Putri Permaisuri Changle? Raja Changle saja bisa memiliki kekasih pria berstatus Pangeran Kecil, mengapa aku tidak boleh?”


Suasana hati Baili Qingchen benar-benar buruk sekarang. Provokasi Qingyi membuat kemarahan di hatinya membara. Seharusnya gadis ini lebih bijak dan lebih sadar akan statusnya.


Ia adalah Putri Permaisuri Changle, apa yang dilakukannya tentu tidak akan lepas dari sorotan publik. Apalagi akhir-akhir ini ia melakukan banyak hal yang menarik perhatian orang.


Tanpa pikir panjang, Baili Qingchen menarik pundak Qingyi dan mendekatkannya ke wajahnya. Ia menekan tengkuknya dan mendaratkan bibirnya di bibir Qingyi sebagai bentuk pelampiasan amarahnya, juga untuk membungkamnya agar Qingyi berhenti mendebatnya.


Baili Qingchen menciptakan sedikit celah yang membuat bibirnya terbuka sedikit, lalu menangkap bibir bawah Qingyi dan menggigitnya pelan.


Setelah sepersekian detik, Baili Qingchen baru melepasnya. Otak Qingyi berhenti bekerja sesaat dan tatapannya kosong. Lalu, dahinya mengernyit. Tanpa sadar, ia menyentuh bekas gigitan Baili Qingchen di bibir bawahnya.


Kereta kuda berhenti, lalu Baili Qingchen keluar tanpa mengucapkan satu kata pun. Qingyi seperti tersihir, lamat-lamat ia bergumam, “Apa bajingan gila itu baru saja menciumku?”


Qingyi segera menyadarkan diri sendiri dan terburu-buru turun dari kereta. Ekspresinya jelas masih kebingungan, tapi ia juga tidak bisa menampilkan salah tingkahnya.


“Cui Kong,” panggil Qingyi.


“Ya, Yang Mulia?” respon Cui Kong, disertai rasa heran karena tidak biasanya Qingyi memanggilnya dengan nama lengkap.


“Apa pria gila itu sudah kehilangan akal sehat?”


“Ah? Maksud Yang Mulia?”


“Tidak. Dia bukan kehilangan akal sehat, tapi sudah gila. Dia bajingan gila yang brengsek.”


Gadis itu bertingkah seolah dunia akan runtuh setelah Baili Qingchen menciumnya barusan. Sungguh, akal sehatnya justru kini seperti tersedot ke suatu tempat yang entah ada di mana. Qingyi melengang seperti orang linglung, dengan bulu kuduk berdiri. Sesekali ia bergidik memikirkan situasi yang baru saja terjadi kepadanya.


Jauh di halaman timur, Baili Qingchen menjadikan momen yang baru saja terjadi seperti sesuatu yang tidak pernah terjadi. Pria itu duduk di ruang belajarnya, lalu membaca beberapa laporan dari departemen dan kementrian yang ada di bawah kuasanya. Suasana hatinya memang sedang buruk.


Selain karena hari ini hari peringatan kematian istri pertamanya, dia juga dipersulit oleh Kaisar Baili. Di pengadilan, Kaisar Baili terus menerus menyindirnya sebagai wali yang melebihi wali. Bagaimana tidak, Kaisar mungkin mulai kembali ketakutan karena kekuatan dan pengaruh Baili Qingchen perlahan pulih seiring waktu.

__ADS_1


Yah, memang tidak akan bertahan selamanya. Baik atau buruk selalu berganti dan tidak pernah menetap selamanya. Baili Qingchen sering berpikir mengapa dia tidak kembali ke perbatasan dan hidup damai di sana bersama orang-orang yang dikasihinya saja.


Tetapi, apakah bisa? Kembali atau tidak, Kaisar Baili tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun.


“A-Chen,” panggil Xiao Junjie. Pria itu melengang masuk dalam jubah putih yang panjang dan lembut.


“Kau sudah kembali?”


Xiao Junjie mengangguk. Hari ini ia telah mewakili Baili Qingchen untuk pergi mengunjungi makam Wang Lingshan dan menebarkan dupa serta beberapa sesembahan di sana.


Sekilas saja Xiao Junjie langsung tahu kalau suasana hati Baili Qingchen sedang buruk. Tadi, ia mendengar dari pelayan kalau hari ini Putri Permaisuri Changle berbuat onar dengan mengunjungi gedung bordil pria bersama Luo Niang.


“Apa Kaisar mempersulitmu lagi?”


“Akhir-akhir ini kinerja beberapa departemen menurun dan Kaisar sepertinya tidak senang,” ucap Baili Qingchen diiringi helaan napas yang cukup panjang.


Xiao Junjie justru berpikir kalau sumber ketidaksenangan Kaisar Baili adalah ketidakpuasannya kepada Qingyi. Kaisar Baili pasti tidak senang karena perilaku Qingyi yang berada di luar dugaan dan kendalinya. Xiao Junjie memijat bahu Baili Qingchen, berusaha menenangkannya dan berharap suasana hatinya membaik.


Ada yang hendak ia sampaikan. Xiao Junjie mengehentikan gerakan jarinya, lalu duduk di kursi.


“A-Chen, sepertinya seseorang telah mengunjungi makam Pangeran Permaisuri Wang kemarin malam,” ucap Xiao Junjie.


Baili Qingchen mengernyitkan dahinya, berpikir dan menebak siapa yang telah datang ke tempat itu. Setahunya, istri pertamanya itu sudah tidak punya keluarga.


“Apa dia meninggalkan jejak?”


“Tidak. Orang itu hanya membersihkan nisan dan rerumputan sekitarnya.”


“Mungkinkah itu dia?” gumam Baili Qingchen.


Jawaban tebakannya tertuju pada gadis itu, tetapi ia menepisnya karena gadis itu tidak mungkin mengetahui lokasi pemakaman Wang Lingshan.


“Apa yang kau gumamkan?”


“Oh, tidak ada.”


“Kalau begitu, kau beristirahatlah. Aku akan menyuruh dapur menyiapkan makan malammu,” ucap Xiao Junjie.

__ADS_1


Baili Qingchen mengangguk, lalu mengantar kepergian Xiao Junjie dengan tatapannya sampai sosok itu menghilang. Ruang belajar yang kembali sepi membuat Baili Qingchen menebak kembali.


Semalam, siapa yang datang ke makam itu?


__ADS_2