
Sejak terbangun di kamar apartemennya, Qingyi mengalami depresi yang cukup berat. Dia kesulitan membedakan dan memilah ingatannya.
Setiap kali tidur, dia sering bermimpi ada di mansion, lalu ketika bangun ia akan menangis dan menggumamkan nama Baili Qingchen.
Rekan sejawatnya yang juga sama-sama editor dengan sigap merawatnya sepanjang waktu. Dia tidak tahu ke mana temannya ini pergi selama lebih dari sembilan bulan dan tidak bisa dihubungi.
Saat melihat kondisinya, ia begitu khawatir sampai ia rela tinggal sementara untuk merawat Qingyi. Karena temannya ini tidak kunjung membaik, akhirnya dia membawa Qingyi ke rumah sakit dan memeriksakannya ke dokter.
Akan tetapi, dia sangat terkejut saat dokter itu mengatakan bahwa Qingyi harus dirujuk ke dokter kandungan, karena sepertinya ada janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Qingyi segera dibawa ke sana dan diperiksa. Hasilnya, dia positif hamil.
Rekannya langsung berspekulasi jika selama sembilan bulan ini, Qingyi pergi bersama kekasihnya dan kembali dalam keadaan hamil. Ia menebak kekasihnya meninggalkan Qingyi, karena itulah rekannya itu menjadi depresi.
Padahal, Qingyi sama sekali tidak gila. Dia hanya kesulitan membedakan ingatan. Begitu mendengar bahwa ia hamil, ia langsung teringat dengan perkataan Yinghao.
Panda kecil itu benar, dia memang sedang mengandung. Karena Qingyi memintanya menyelamatkan Baili Qingchen dan bayinya, janin yang ada di perutnya ikut terbawa ke dunia nyata.
Rekan sejawatnya sangat khawatir dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah orang tuanya. Depresi yang dialami Qingyi bisa saja membahayakan janin yang ada di perutnya.
Rekannya itu tidak bisa menjaganya sepanjang waktu. Ia akhirnya meminta izin kepada kepala penerbitan untuk membiarkan Qingyi memulihkan diri.
“Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu lagi merawatku,” ucap Qingyi beberapa hari setelah pemeriksaan.
“Kau yakin? Kau sedang hamil muda dan kondisimu tidak stabil. Setidaknya biarkan aku merawatmu sampai kau membaik,” ucap rekannya yang tidak setuju akan pengusiran Qingyi.
Rekannya tampak ragu, namun Qingyi bersikeras menyuruhnya pergi dan tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.
Walau hatinya masih sakit dan ingatannya masih tercampur secara acak, Qingyi mencoba bertahan. Ia harus hidup dengan baik jika ingin bayi di dalam perutnya lahir dengan selamat.
Meskipun ayah dari bayi ini ada di dunia lain yang terdengar tidak nyata, tapi Qingyi tidak akan pernah menyingkirkannya. Sebaliknya, ia harus merawatnya dengan baik.
Setiap hari, Qingyi akan mengajaknya bicara. Dia juga sering berjalan-jalan di luar untuk mengobati dirinya sendiri. Di dunia itu, dia begitu kuat.
Saat sampai di dunia nyata, dia harus lebih kuat. Pemulihan yang baik hanya dapat dilakukan oleh dirinya sendiri. Dia sendiri yang akan memulihkan luka itu.
“Kau tahu? Ayahmu itu adalah pria yang lebih dingin dari es di kutub utara dan kutub selatan. Setiap kali dia marah, matanya yang tajam akan berubah menjadi dingin dan menusuk. Dia punya alis tebal yang melengkung seperti pelangi, garis rahangnya tegas dan wajahnya putih seperti bulan purnama. Ah, kurasa dia lebih cocok disebut cantik alih-alih tampan,” ucap Qingyi pada suatu sore, saat dia duduk di balkon apartemennya sembari menikmati senja.
Rasanya berbeda ketika ia menikmati sore sendirian seperti ini. Saat di mansion itu, dia selalu berbaring di kursi malas dan menunggu malam sambil memikirkan masalah.
Sekarang, ia hanya mampu menikmatinya sambil berusaha menyembuhkan luka hatinya sendiri.
“Kalau kau laki-laki, jangan mewarisi sifat dinginnya itu. Kau hanya perlu menjadi kuat dan tampan saja, karena aku yang akan melindungimu. Jika kau perempuan, maka kau harus berakal licik sepertiku. Jika tidak, tidak akan ada yang bisa melindungimu, karena hanya dirimu sendiri yang bisa melakukan itu.”
Lima bulan kemudian, kondisi Qingyi sudah kembali pulih. Depresi yang ia alami sekarang sudah sembuh. Meskipun ingatannya masih sering acak, namun ia sudah terbiasa menghadapinya.
Qingyi bahkan mulai menekuni kembali pekerjaannya. Ia memperbaiki naskah yang membuatnya memiliki kisah itu, menyelesaikannya dan berniat ingin bertemu langsung dengan penulisnya.
Tetapi, pernyataan kepala penerbit sangat mengejutkan.
“Ratu Fantasi Kharismatik kesayanganku, hasil kerjamu memang sangat bagus. Tapi, perlu kau ketahui, penulis naskah ini sudah membatalkan publikasi naskahnya beberapa hari yang lalu.”
Sontak saja Qingyi membelalak. Apa? Penulis membatalkan publikasinya?
Tidak, Qingyi tidak bisa membiarkan itu. Ia sudah susah payah memperbaiki naskahnya, bahkan ia sampai harus masuk ke dalam dunia itu dan mempengaruhi seluruh hidupnya. Jika dibatalkan begitu saja, semua usahanya sia-sia! Qingyi tidak bisa terima!
“Mengapa?” tanyanya.
__ADS_1
“Oh, harus kukatakan juga. Penulis mengalami beberapa hal yang membuatnya tidak ingin mempublikasikannya lagi.”
Kepala penerbit lalu bercerita bahwa penulis naskah asli juga menghilang selama beberapa bulan dan tidak bisa dihubungi. Saat tahu Qingyi menghilang dan naskah sudah sampai deadline, kepala penerbit menghubungi penulis asli untuk meminta tambahan waktu.
Siapa sangka penulis asli tidak dapat dihubungi dan menghilang selama beberapa bulan.
Penulis baru bisa dihubungi beberapa bulan lalu dan keadaannya seperti linglung. Beberapa hari lalu, dia datang ke kantor dan ingin membatalkan publikasi ceritanya yang digarap oleh Qingyi.
Karena penulisnya meminta secara langsung, kepala penerbit langsung menyetujuinya dan tidak bisa menolak.
Qingyi tidak rela. Dia memaksa kepala penerbit untuk menghubungi kembali penulis asli dan ia ingin menemuinya secara langsung.
Setelah bernegosiasi cukup lama, akhirnya penulis asli setuju untuk bertemu dengannya secara langsung. Mendapat kabar ini, Qingyi sangat berterima kasih dan tidak akan melewatkan kesempatan tersebut.
Pada hari yang dijanjikan, Qingyi kemudian pergi ke tempat yang sudah disepakati untuk memulai pertemuan. Ia berangkat menggunakan mobil pribadinya dan sangat berhati-hati. Karena perutnya mulai membuncit, pakaiannya jadi agak longgar dan tertutup.
Lima belas menit kemudian, Qingyi sampai di sebuah restoran di pinggiran kota. Setelah memarkirkan mobilnya, dia turun dan berjalan santai ke dalam restoran. Selama beberapa menit ia mencari, lalu menemukan sebuah meja yang cocok untuk bicara di lantai dua.
Sekarang, hanya tinggal menunggu orangnya datang.
“Maaf, apa kau Nona Qingyi?”
Qingyi mendongak begitu sebuah suara milik seorang pria menginterupsinya. Dia terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna sesuatu yang baru saja dilihatnya.
Pria ini, mengapa memiliki wajah dan suara yang sama dengan Baili Qingchen? Tetapi, ia kemudian menggelengkan kepalanya menepis semua pemikiran anehnya.
Tidak, itu tidak mungkin. Baili Qingchen tidak ada di sini. Pria itu adalah tokoh yang tercipta secara nyata dan ada di dunia yang berbeda.
Pria ini hanya memiliki wajah dan suaranya, tetapi tidak denga auranya. Qingyi mengendalikan dirinya, menata hati dan pikirannya sebelum ia mulai bicara.
Pria itu mengangguk, kemudian duduk di hadapannya.
“Kudengar Nona ingin membicarakan naskah yang kubatalkan penerbitannya?”
“Ah, itu benar. Aku kebetulan bertanggungjawab dalam pengeditannya. Begini,”
Qingyi lantas menceritakan alasan mengapa ia tidak ingin pria itu membatalkan publikasi. Menurutnya, ceritanya sangat bagus dan menarik.
Setelah diedit olehnya, ia menyerahkan naskah itu kepada pria tersebut dan menyuruhnya untuk membacanya. Ia berharap pria ini bisa mempertimbangkan kembali publikasi naskahnya yang sudah susah payah ia edit sampai hidupnya terpengaruh.
Pria penulis naskah tersebut mengangguk-ngangguk saat membaca karyanya yang telah diedit.
Kemudian, dia beralih menatap Qingyi dan berkata, “Ini memang terlihat bagus. Tetapi, maaf, Nona. Aku tetap tidak akan mempublikasikannya.”
“Mengapa?”
“Kau mungkin tidak tahu. Meski terdengar tidak masuk akal, tetapi apa yang kualami benar-benar sebuah pengalaman yang aneh. Nona, kuakui, sejak aku menyerahkan naskah ini ke perusahaanmu, hidupku mulai tidak tenang.”
“Tidak tenang seperti apa yang kau maksud?”
Pria itu kemudian bercerita bahwa sejak naskahnya diserahkan, ia kerap mengalami mimpi yang aneh. Hingga suatu ketika, ia tiba-tiba terbangun di sebuah tempat yang sangat aneh, tetapi juga tampak familiar dalam ingatannya.
Katanya, dia seperti tersedot ke dunia lain dan bermimpi sangat panjang. Bahkan, keluarganya sampai mengatakan bahwa ia menghilang dan tidak bisa dihubungi lebih dari sembilan bulan.
Dia merasa mimpi itu sama persis dengan cerita yang ditulisnya, hanya saja tidak yakin. Terdengar seperti ilusi, tapi rasanya benar-benar nyata. Saat ia terbangun, ia menjadi linglung dan kondisi mentalnya tidak stabil.
Alasan utama mengapa ia tidak ingin mempublikasikan naskahnya ialah karena ia merasa, penggalan kisah dalam ceritanya itu adalah separuh kisah hidupnya di dunia itu.
__ADS_1
Mendengar cerita itu, Qingyi sungguh berharap jika pria ini benar-benar Baili Qingchen. Namun ketika memikirkannya lagi, itu mustahil.
Baili Qingchen jelas orang yang berasal dari dunia itu, terlahir dan berdarah asli keturunan dunia itu. Mungkin apa yang dialami oleh pria ini hanya sebuah kebetulan dan kisahnya sangat mirip dengan apa yang ia alami.
Qingyi menghela napasnya, merasa bahwa sia-sia ia datang kemari. Pria ini cukup keras kepala dan tetap tidak ingin mengubah keputusannya.
Saat pria itu hendak pergi, sesuatu terjatuh dari saku pakaiannya dan berdenting di lantai. Rupanya, benda yang terjatuh itu adalah sebuah liontin giok berwarna merah.
Liontinnya pecah menjadi beberapa bagian. Qingyi membantu pria itu memungutnya. Saat tangan mereka menyentuh pecahan liontin yang sama, tiba-tiba kepala mereka berdenyut dan telinga mereka berdengung.
Sebuah suara yang menyakitkan datang, membuat keduanya seketika terdiam dan duduk di lantai.
Tiba-tiba saja ingatan acak yang susah payah disusun ulang dan dipilah oleh Qingyi tercerai berai. Ingatan itu membuatnya kembali tertekan.
Ia menatap pria itu, yang tengah memegang kepalanya dengan kuat. Dia tampak kesakitan. Qingyi mencoba membantunya, namun tubuhnya justru terdorong.
“Ah! Sialan! Ingatan ini datang lagi padaku!” ucap pria itu.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Qingyi khawatir.
Alih-alih menjawab, pria itu malah mengabaikannya dan terus bergumam tidak jelas. Di antara ratusan kata tidak jelas itu, Qingyi menangkap sebuah kalimat yang membuat jantungnya berdetak kencang: “Liu Qingyi, kapan kau akan keluar dari kepalaku?”
Qingyi seketika membatu. Kemudian, dia memegang bahu pria itu dan memaksanya untuk menatapnya. Ia ingin mencoba, bertaruh, apapun hasilnya nanti.
“Baili Qingchen, lihat aku dengan jelas!”
Pria itu anehnya langsung menurut dan menatap Qingyi. Tatapannya menjadi kian dalam dan semakin dalam, seolah-olah semua ingatan acak di otaknya mulai tersusun kembali menjadi sebuah penggalan kisah.
Pria itu berkedip beberapa kali, dengan lirih dan tak yakin ia bekata, “Kau Liu Qingyi?”
Aneh bin ajaib. Qingyi tidak percaya sihir atau keajaiban, tetapi apa yang dialaminya benar-benar nyata. Pria di hadapannya ini benar-benar Baili Qingchen!
Qingyi hampir tidak percaya, tetapi mata itu benar-benar miliknya! Wajah, suara, kisahnya, semuanya benar-benar menunjukkan bahwa dia memang Baili Qingchen!
“Ya Tuhan! Aku tidak percaya ini,” ucap Qingyi.
Baili Qingchen juga menggeleng tak percaya. Tidak, tidak mungkin. Sosok bernama Liu Qingyi itu, yang menjadi Putri Permaisurinya hanya ada di dalam mimpi itu dan telah pergi.
Ia menatapnya penuh arti, menelisik lebih jauh ke dalam hatinya. Wajah dan suara wanita ini sama persis, tapi entah mengapa ia masih ragu.
Dia takut bermimpi lagi. Di dunia itu, dia menjadi orang lain. Jika kebetulan seperti itu memang ada, mengapa itu datang kepadanya?
“Kau… sungguh Putri Permaisuri?” tanya Baili Qingchen ragu.
Qingyi dengan cepat mengangguk.
“Sebentar saja aku meninggalkanmu, kau sudah melupakanku? Apa kau benar-benar tidak tahu terima kasih?”
Barulah setelah mendengar kalimat ini, Baili Qingchen yakin. Baiklah, ia akan mencoba mempercayai keajaiban mulai sekarang.
Dia menatapnya lagi dan lagi, lalu tersenyum. Baili Qingchen langsung memeluk Qingyi dengan erat, seakan ia takut jika ia melepasnya, wanita ini akan hilang dari pandangannya.
Qingyi membalas pelukan itu sambil meneteskan air matanya.
“Jadi, Tuan Raja, apa kau masih tidak ingin mempublikasikan cerita ini?”
Mendengar itu, Baili Qingchen hanya tersenyum dan memeluknya semakin erat lagi.
__ADS_1