Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 93: Kecurigaan Satu Nama


__ADS_3

Qingyi pergi ke ruang dimensi untuk menenangkan kemarahannya.


Gadis itu berendam di kolam air terjun dan menutup matanya. Dadanya kembang kempis, menghirup dan mengeluarkan udara dari paru-parunya.


Begini lumayan bagus, ketenangan di ruang dimensi perlahan mendinginkan bara api di hatinya. Dia benar-benar lelah.


“Tuan, berapa banyak obat yang kau habiskan kali ini?”


Yinghao dijadikan babu oleh gadis itu. Seharian ini, dia menyuruhnya menanam kembali tanaman obat di ladang ruang dimensi.


Yinghao kelelahan, berkali-kali dia meminta tuannya agar memberinya waktu istirahat namun tetap ditolak. Yinghao tidak bertenaga lagi, dia berbaring di pinggir kolam air terjun dan meratap dengan sedih.


“Satu hektar.”


“Satu hektar ladang obat? Tuan, itu terlalu banyak!”


“Kau sendiri yang menyuruhku menggunakan cara itu.”


Yinghao kehabisan kata. Tuannya memang susah ditebak! Kemarin masih berkata tidak mau merugi, tapi hari ini malah menyumbangkan obat langka yang berharga senilai jutaan tael secara cuma-cuma ke istana!


Tidak bisakah tuannya itu menggenggam erat prinsip dan perkataannya?


“Jangan cerewet. Aku tahu kau memarahiku dalam hati,” ucap Qingyi.


Ini salah Yinghao juga. Dia sendiri yang menyuruhnya menggunakan obat. Untung saja tanah ajaib ini bisa menumbuhkan mereka kembali dalam waktu singkat.


Jika tidak, Qingyi bisa gila karena ladang obatnya gundul. Tidak salah jika dia menyuruh panda tersebut untuk menanamnya kembali.


“Oh, aku benar-benar kehabisan kata,” keluh Yinghao.


“Kalau begitu jangan bicara.”


Telinga kecil Yinghao bergerak. Segera saja Qingyi keluar dari kolam dan menyambar pakaiannya.


Beberapa detik kemudian, dia telah kembali ke kamar di mansion Raja Changle dalam kondisi tubuh yang tidak menutup sempurna. Dia berdecak, siapa yang berani memasuki kamarnya di saat seperti ini?


Namun, tatapannya berubah saat melihat sosok Baili Qingchen tengah duduk di tepi ranjang. Mereka bersitatap dalam beberapa waktu sampai akhirnya Qingyi tersadar dan menutupi tubuhnya sebisa mungkin.


Pada saat itu, Baili Qingchen mengedipkan matanya berkali-kali dan susah payah menelan ludah. Suara detak jantungnya dirasa begitu keras sampai-sampai wajahnya sedikit memerah.


“Kau!”


Baili Qingchen mengubah ekspresinya menjadi dingin. Di mata yang membuat semua orang waswas itu tersimpan kilatan jahil yang bercampur dengan kemarahan yang tengah ditekan.


Qingyi bergidik, firasatnya mengatakan pria ini pasti ingin memarahinya. Qingyi secara alami mundur beberapa langkah, sebelum ia berbalik, BailibQingchen telah menariknya dan menekannya ke tempat tidur.


“Menyingkir dariku!”


Qingyi berusaha menutupi tubuhnya dan mencoba menyingkirkan Baili Qingchen. Akan tetapi, usahanya sia-sia.


Tubuh kecilnya tidak bisa menandingi tenaga dari tubuh kekar Baili Qingchen yang telah terlatih sebagai Dewa Perang Bingyue. Yang ada, tangannya malah sakit dan pria itu dengan sengaja menguncinya.

__ADS_1


Deru napas Baili Qingchen menyapu wajah Qingyi. Pelahan, emosinya mulai naik dan Qingyi tidak tahan. Ditatapnya dengan berani pria itu, kemudian Qingyi berujar, “Jika kau mau marah, setidaknya biarkan aku berpakaian dengan benar terlebih dahulu!”


“Bukankah aku sudah memperingatimu agar jangan membuatku mengulang yang ketiga kalinya? Putri Permaisuri, kau mengabaikan peringatanku,” tekan Baili Qingchen.


Pria itu jelas marah. Istrinya ini selain tidak bisa diatur dan gila, juga sangat keras kepala. Kemarin ia sudah berkata bahwa Qingyi tidak boleh ikut campur dalam masalah tiga selir kaisar, namun lagi-lagi gadis itu mengabaikannya.


Hari ini, dia tidak hanya mengacaukan acara pengobatan, bahkan dengan sengaja membawa Selir Jia ke penjara!


Bagaimana bisa dia tidak marah akan hal itu?


“Bukan aku yang memulainya! Selir Jia sendiri yang memaksaku!” elak Qingyi. “Dia bilang dia punya cara, jadi aku memanfaatkannya!”


Tatapan Baili Qingchen tiba-tiba meredup. Gejolak emosi di dalam dirinya bercampur dengan perasaan putus asa yang datang tiba-tiba. Wanita ini ternyata tidak mempercayainya sama sekali.


Mengapa Qingyi selalu ingin repot sendiri? Padahal, jelas-jelas Baili Qingchen bisa diandalkan!


“Kau tidak mempercayaiku rupanya,” ucap pria itu.


Nada suaranya rendah, namun siapapun bisa tahu bahwa pria itu benar-benar marah dan kecewa.


Qingyi mengurangi kewaspadaannya. Jadi, pria ini sedang mengungkapkan kekecewaannya? Tapi, di matanya justru terlihat lucu. Baili Qingchen yang biasanya mendominasi kini seperti seekor pungguk yang merindukan bulan, menunduk tanpa daya.


“Bukan itu maksudku.”


“Lalu apa?”


“Yah, aku hanya ingin mengandalkan diri sendiri. Kau tahu, menjadi Putri Permaisuri Changle sangat sulit. Jika aku tidak berdiri di atas kakiku sendiri, apa mungkin aku masih pantas berdiri di sisimu?”


Ketika Qingyi benar-benar melepaskan kewaspadaannya, kepala pria itu menunduk dan menyerang leher Qingyi. Dia menggigitnya dan meninggalkan jejak berwarna merah yang tidak bisa ditutupi.


“Baili Qingchen, kau!”


Saat itu, dia melepaskan kunciannya dan membiarkan Qingyi bebas. Baili Qingchen berdiri, merapikan pakaian sebentar kemudian berbalik dan berkata, “Rapikan bajumu. Kita bicara di luar.”


Seandainya ada bola basket, Qingyi ingin sekali menimpuk kepala Baili Qingchen sampai pingsan, lalu mengikatnya di pohon sampai malam dan membiarkan dia digigit nyamuk sampai semua kulitnya memerah.


Betapa tidak, lagi-lagi pria itu mencuri kesempatan! Qingyi geram, tapi tidak berdaya.


Dia hanya bisa memandangi bekas gigitan Baili Qingchen di cermin. Sungguh, ini sedikit memalukan. Bagaimana bisa dia keluar dalam kondisi seperti ini.


Qingyi mengambil bedak, mencoba menutupinya namun gagal. Bekas merah itu masih ada dan tidak akan hilang sampai besok pagi.


“Ah, bagaimana caraku menutupinya?” ucapnya putus asa.


Qingyi lantas keluar dari kamarnya dalam balutan busana merah muda yang cerah. Wajahnya masih masam karena ulah Baili Qingchen.


Melihat permaisurinya datang, dia mendongak sesaat lalu menunggunya di halaman.  Yang membuat Qingyi heran ialah pria itu membawa seorang mentri pendek yang wajahnya sudah tua.


“Salam, Yang Mulia Putri,” ucap menteri itu, terdengar tulus dan penuh hormat.


“Siapa dia?” tanya Qingyi. Baili Qingchen kemudian menjawab, “Menteri Pengadilan Tinggi Kekaisaran, Gao Lian.”

__ADS_1


“Kau saudara sepupu Gao Hui?”


Menteri Gao Lian mengangguk, lalu tersenyum. Ia segera memverifikasi bahwa dirinya tidak berhubungan baik dengan istri mantan perdana menteri itu.


Meskipun mereka saudara, namun karena ambisi dan ulah Liu Wang, mereka menjadi musuh. Mendengar ini, Qingyi mengangguk dan bernapas lega.


“Baguslah. Jika kau adalah sepupu akrabnya, aku akan langsung mengusirmu.”


Menteri Gao takjub akan kelugasan Putri Permaisuri Changle. Sebelumnya, ia hanya mendengarnya dari cerita orang-orang di jalanan bahwa Putri Permaisuri Changle sangat lugas dan pandai berkata-kata. Di antara ribuan gadis di kota kekaisaran, mungkin hanya dia yang seterbuka ini.


“Saya mengagumi kelugasan Yang Mulia Putri. Yang Mulia Putri, saya mendengar hari ini Yang Mulia mengunjungi penjara Pengadilan Tinggi Kekaisaran. Tidak tahu apakah Yang Mulia Putri mendapatkan sedikit informasi?”


Sebagai menteri tinggi, Gao Lian ditugaskan Kaisar Baili untuk mengusut kasus ini sampai tuntas bersama Raja Changle.


Mengingat bahwa Putri Permasiuri Changle juga terlibat, dia langsung meminta Baili Qingchen agar dipertemukan dengan Qingyi. Mungkin saja wanita terhormat ini bisa memberinya sedikit petunjuk.


Qingyi menghela napas kecil. Ia kira orang-orang istana memang suka mencari kesempatan. “Aih, si tabib sialan itu menggila. Apa yang bisa kudapatkan dari orang gila sepertinya? Menteri Gao, kau terlalu memandang tinggi aku.”


Baili Qingchen menatapnya tajam. Qingyi menangkapnya sebagai ungkapan bahwa dia tidak boleh berbelit-belit. Akhirnya, Qingyi menyerah karena tidak ingin ribut. Terutama ia ingin menteri pendek itu segera pergi dari kediamannya.


“Selir Jia punya lencana yang membuat tabib itu menggila. Datanglah padanya dan selidiki lencana itu!” ucap Qingyi kemudian.


“Terima kasih atas petunjukmu, Yang Mulia Putri. Saya menteri tua ini akan membalas budimu.”


“Jika kau ingin membalas budi, lekas pergi dari sini.”


Walaupun diusir, namun menteri itu tidak marah. Dia keluar dari mansion Raja Changle dengan hati yang senang, karena pada akhirnya ia mendapatkan sebuah petunjuk.


Sepeninggal Menteri Gao, Baili Qingchen dan Qingyi duduk bersama di taman. Mereka masih harus menyelesaikan urusan mereka sendiri.


“Kau sudah mengetahui siapa dalangnya, bukan?” tanya Qingyi.


Tidak mungkin orang sepintar Baili Qingchen tidak mengetahui siapa pelaku utamanya. Pria itu mengangguk pelan, namun wajahnya terlihat suram dan lesu. Seakan-akan, dia telah mendapat sebuah masalah yang lebih besar daripada kematian.


“Bukankah kau juga sudah menyadarinya?” Baili Qingchen bertanya balik. Qingyi menyunggingkan senyum kecilnya.


Jika dikatakan, sepasang suami istri itu memiliki pemikiran yang sama. Dalam otak mereka telah terukir satu nama yang mungkin menjadi pelaku utama.


Hanya saja, hanya saja mereka tidak berani mempercayai pemikiran mereka sendiri. Qingyi dan Baili Qingchen seperti dijatuhkan ke dalam lubang yang sama.


Siapa orang itu, hanya mereka berdua yang mengetahuinya.


Baili Qingchen meratap dalam diam, sementara Qingyi tenggelam dalam pikirannya. Keabu-abuan dari kasus itu mulai menunjukkan endapan putihnya.


Sayangnya, endapan putih ini justru membawa mereka ke dalam pusaran yang lebih rumit. Bagaimana mereka harus bersikap?


“Apa keputusanmu?” tanya Qingyi. Dirinya yakin Baili Qingchen sedang bimbang.


“Entahlah,” jawab pria itu singkat.


Satu nama. Hanya satu nama, tetapi begitu sulit diucapkan.

__ADS_1


__ADS_2