Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 42: Kepercayaan yang Horor


__ADS_3

Tengah malam, mansion Raja Changle kembali sepi. Bagi beberapa orang, mansion yang terlihat mewah tersebut merupakan rumah masa depan.


Kediaman kekaisaran, yang khusus diperuntukkan untuk para keturunan kekaisaran tentu saja selalu terlihat menawan dibanding dengan mansion biasa. Selain luas, mansion itu juga dilengkapi banyak bangunan dan taman yang indah.


Halaman barat memang termasuk salah satu halaman yang indah. Itu karena Qingyi melakukan perbaikan besar-besaran dan merombak beberapa bagian yang tidak pas untuknya.


Kini, di seluruh mansion Raja Changle, kediaman Putri Permaisuri menjadi sebuah kediaman yang paling nyaman ditinggali.


Pemiliknya masih asyik berguling-guling di ranjangnya dengan pikiran kacau. Yinghao disurunya menjadi boneka, lalu Qingyi memainkannya karena gemas.


Yinghao si sistem sialan ini sengaja bersembunyi karena tak ingin repot diminta bantuan oleh Qingyi. Jadi ketika dia muncul, Qingyi langsung menghukumnya.


“Tuan, aku sudah pusing. Hentikan permainannya,” Yinghao memohon belas kasihan Qingyi. Namun, gadis itu semakin bersemangat mengerjainya.


“Siapa suruh kau bersembunyi?”


“Tuan, kau terus menyiksaku. Apa jangan-jangan telah terjadi sesuatu selama aku tidak ada?” tanya Yinghao. Dia curiga sesuatu telah terjadi hingga menyebabkan tuannya marah dan kesal sampai selarut ini.


“T-Tidak. Berhenti menebak atau aku akan mengubahmu menjadi patung panda pertama di Bingyue!”


Suara ketukan pintu di luar membuat Qingyi menghentikan permainannya. Dia merapikan rambutnya, lalu bergegas menuju pintu. Baili Qingchen tampak berdiri di depannya dalam setelan jubah berwarna abu-abu muda. Baili Qingchen menatapnya tanpa emosi, lalu segera menarik tangan Qingyi dan membawanya ke taman.


“Ada yang perlu kutanyakan,” ujarnya sambil berjalan.


“Kalau begitu bicara saja. Tidak perlu sampai menarik tanganku begini. Tenagamu itu begitu besar, bisa-bisa tanganku copot!”


Di bawah pohon persik yang memayungi area taman halaman barat, Baili Qingchen berdiri membelakangi Qingyi setelah melepas cekalannya. Ia harus memastikan sesuatu dengan bertanya sendiri kepadanya.


Gadis itu mengerucutkan bibirnya, kesal akan perilaku Baili Qingchen yang semakin hari rasanya semakin menyebalkan. Tidak hanya suka ikut campur, dia juga jadi sering melakukan hal-hal yang seenaknya saja.


“Kau yang membersihkan makam Wang Lingshan?” tanya Baili Qingchen langsung pada intinya.


“Siapa? Oh, istri pertamamu ya?”


“Jawab aku, Qingyi!”


Qingyi berdecak dan melipatkan kedua lengannya di dada. Cahaya bulan redup, hanya lentera taman yang menjadi penerangan. Lamat-lamat, Qingyi memperhatikan postur Baili Qingchen yang sedang berdiri membelakanginya.


Tubuh itu tinggi dan tegap, sempurna untuk ukuran seorang pria. Baili Qingchen lebih menawan ketika ia berbalik seoalah dunia adalah tempat yang ada di genggamannya.


Begitu misterius.


Baili Qingchen membalikkan tubuhnya karena tak kunjung mendapatkan jawaban. Ketika ia berbalik, matanya beradu tatap dengan mata kejora Qingyi. Seberkas sinar memercik dari bola mata hitam itu, lalu jatuh ke dalam relung hati yang tak pernah tersentuh sebelumnya. Peraduan tatap tersebut bak sebuah embun yang menetes, atau seperti sengatan listrik pada detik berikutnya.


Qingyi berdehem untuk menormalkan situasinya.


“Hari ini hari peringatan kematiannya, bukan?” tanya Qingyi. “Itu sebabnya suasana hatimu begitu buruk sampai aku terkena imbasnya,” tambah Qingyi.


Diam. Sunyi. Halaman barat mendadak seperti tempat yang sangat asing. Baili Qingchen sedang berupaya mengendalikan hatinya, mengendalikan emosinya yang tertahan.


Baili Qingchen menyadarkan dirinya sendiri. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Masih banyak hal yang harus ia lakukan, masih banyak rencana yang belum diselesaikan.


Qingyi tidak termasuk ke dalam rencana itu, dia adalah variabel yang datang tanpa diundang. Baili Qingchen tidak boleh memberinya ruang untuk melihat celah dari dirinya.

__ADS_1


“Itu karena perilakumu tidak seperti seorang Permaisuri,” ucap Baili Qingchen.


Kata-kata itu refleks diucapkan karena seringnya perdebatan di antara mereka. Alhasil, ucapan itu membuat Qingyi jengah dan ingin memukuli pria ini sekarang juga.


“Aku tidak butuh kau untuk mengajariku. Aku juga tidak pernah bermimpi menjadi permaisuri seorang pangeran,” seloroh Qingyi. “Asal kau tahu, aku bisa menjadi diriku kapan pun aku mau.”


Keduanya jatuh dalam keheningan yang lumayan panjang. Situasi macam apa ini, mereka juga tidak tahu. Baili Qingchen telah menyimpang dari tujuannya, dan Qingyi dengan mudahnya terpancing. Seharusnya tadi dia diam dan tidak membuka pintu itu. Pembicaraan mereka seperti sampai di jalan buntu secara tiba-tiba.


Ternyata setelah hidup bersama sekian lama, keduanya masih tidak mau mengalah satu sama lain dan selalu ingin menang sendiri. Qingyi dengan keras kepalanya, Baili Qingchen dengan keegoisannya.


Suami istri itu di dalam mansion ini benar-benar seperti kucing dan anjing. Tapi uniknya, Qingyi adalah sejenis kucing ganas yang bertengkar dengan siapapun.


Keduanya terperanjat ketika suara langkah kaki terdengar berirama. Dari ketukannya, jumlahnya mungkin lebih dari dua orang. Qingyi dan Baili Qingchen langsung sigap, lalu mengawasi area sekitar. Suara langkah kaki itu seperti menginjak genteng setiap bangunan dan mengarah ke halaman barat.


“Hati-hati,” ucap Baili Qingchen.


Beberapa orang berpakaian hitam muncul bersamaan. Jumlahnya sepuluh orang bersenjata pedang yang panjang. Seperti biasa, wajah mereka ditutupi kain hitam hingga hanya mata saja yang terlihat.


Qingyi menatap garang, ia lebih kesal karena setiap kali bersama Baili Qingchen, selalu saja ada pembunuh yang menyergap. Lihat, mereka bahkan berani datang ke mansion Raja Changle.


“Mau mengantarkan nyawa sendiri? Kalian benar-benar bodoh!” seru Qingyi.


Lalu, sepuluh pembunuh itu menyerang Qingyi dan Baili Qingchen bersama-sama. Untuk sementara, Qingyi bersembunyi di belakang Baili Qingchen. Dia bukannya tidak bisa berkelahi, hanya saja sekarang ia ragu menunjukkannya di depan Baili Qingchen. Situasi sekarang tidak seperti di hutan yang memungkinkan dia menggunakan gas air mata dan membuat pria itu menutup matanya.


Bertarung tanpa senjata, tangan Baili Qingchen dengan sigap mempermainkan serangan para pembunuh. Hanya dengan beberapa ayunan saja, para pembunuh itu sudah jatuh ke tanah.


Mereka bangkit lagi, kemudian menyerang kembali dengan lebih brutal. Setiap ujung pedang mengarah pada Qingyi, Baili Qingchen dengan cepat menangkisnya dan memindahkan tubuh Qingyi.


“Berapa lama kau bisa bertahan?” tanya Qingyi.


“Baik.”


Lalu, Qingyi menendang ************ salah satu pembunuh sampai pegangan pedangnya terlepas. Dengan sigap ia menangkap pedang itu dan memberikannya kepada Baili Qingchen. Ia sendiri mengeluarkan stik golfnya dari ruang dimensi dan mulai memukuli para pembunuh.


Pertarungan jadi semakin sengit. Sepasang suami istri itu berkelahi dengan sepuluh orang pembunuh. Sesekali Baili Qingchen melirik Qingyi, di wajahnya tertera pertanyaan, “Dia bisa berkelahi?”


Seakan mengerti maksud ekspresinya, Qingyi lalu berujar, “Nanti saja kujawab. Sekarang, bereskan mereka lebih dulu!” ujar Qingyi.


Merepotkan sekali, kesal Qingyi. Tengah malam begini bukannya tidur, mereka justru malah berkelahi. Para pembunuh itu memang tidak sekuat pembunuh dari Paviliun Litao, hanya saja mereka lebih gesit dari yang mereka kira.


Sudah setengah jam berlalu namun pertarungan belum menunjukkan tanda akan berakhir.


Pada saat seperti ini, Qingyi menyayangkan mengapa Cui Kong tidak ada. Baili Qingchen pasti menyuruhnya melakukan sesuatu dan pengawal jelek itu belum kembali.


Padahal jika ada dia, perkelahian ini bisa lebih cepat selesai. Suara pedang beradu menggema di sekitar halaman barat, dan efeknya membuat tumbuhan di sekitar bergoyang.


“Kalian merusak tanamanku!” seru Qingyi yang marah karena tanaman hasil budidayanya terinjak-injak dan hancur berantakan. Dia semakin sengit memukuli para pembunuh dengan stik golfnya.


Para pembunuh yang menyerangnya semuanya tumbang dengan posisi tangan memegangi bagian bawah tubuh mereka. Rupanya, Qingyi melumpuhkan mereka di bagian ‘itu’.


Sisa lima pembunuh yang masih berdiri melawan Baili Qingchen. Dalam beberapa gerakan, pembunuh itu langsung tumbang dan leher mereka mengeluarkan darah. Sayang sekali satu pembunuh berhasil lolos.


“Raja Changle, kau tunggu saja! Kami pasti akan kembali untuk merebut plakat emas itu!” seru si pembunuh sebelum ia melompat ke atap dan menghilang.

__ADS_1


“Jangan dikejar! Biarkan dia melapor pada tuannya!” cegah Qingyi ketika Baili Qingchen hendak melompat ke atap untuk mengejar pembunuh itu.


Qingyi menghampiri lima pembunuh yang ia lumpuhkan. Baili Qingchen membuang pedangnya, lalu memperhatikan gerak-gerik Qingyi. Ia hendap menghentikan gadis itu, namun terlambat karena Qingyi telah lebih dulu memukul mereka sampai pingsan. Gadis itu juga membuka penutup wajah mereka satu persatu.


“Para pembunuh ini tidak boleh mati,” ucap Qingyi.


Baili Qingchen lalu menghampirinya dan membantunya. Keduanya memeriksa mulut para pembunuh itu, dan benar saja, ditemukan racun mematikan yang dapat merenggut nyawa dalam hitungan detik jika tertelan. Racun itu segera dikeluarkan dengan hati-hati. Qingyi memasukkannya ke dalam plastik untuk diperiksa.


“Wah, apa ini semacam sianida?” tanyanya.


“Sianida itu apa?”


“Semacam zat kimia tetapi sangat mematikan.”


Para pembunuh itu lalu dikirim ke penjara rahasia yang hanya bisa diakses dengan token milik Raja Changle. Qingyi masih ada di halaman barat, menunggu pria itu kembali untuk memastikan sesuati. Saat Baili Qingchen kembali, Qingyi langsung menyanderanya di taman itu.


“Sekarang beritahu aku. Plakat emas apa yang mereka maksud?” tanyanya. Pria itu tidak menjawab. Qingyi mengikat Baili Qingchen di kursi, dan terus memaksa agar pria itu mau memberitahunya.


“Yang Mulia, sudah seperti ini dan kau masih tidak ingin bicara?” ulang Qingyi.


“Lepaskan aku dulu.”


Setelahnya, Qingyi melepaskan ikatan itu. Baili Qingchen membawanya ke ruang belajar dan mengunci pintunya. Tangannya bergerak membuka sebuah kotak kayu yang disimpan di antara tumpukan buku.


Ukiran dari kotak itu berbentuk rangkaian pola yang memanjang dan dipahat oleh tangan ahli. Sekilas, Qingyi sudah bisa menebak kalau kotak kayu itu buatan pengrajin kerajaan.


Baili Qingchen menyuruhnya duduk dan ia memperlihatkan sesuatu di dalamnya. Setelah dibuka, tampaklah sebuah plakat berbentuk harimau berwarna emas, mengkilap di bawah cahaya lilin.


Mata Qingyi langsung silau sampai ia tak sadar kalau Yinghao sudah duduk di pundaknya. Panda kecil tersebut muncul karena ia juga penasaran terhadap benda kecil itu.


“Tampaknya, benda ini membawa aura yang tidak baik dan sangat berbahaya,” ujar Qingyi.


“Ini adalah plakat emas yang bisa memerintah seluruh prajurit Kavaleri Jingyi.”


Kavaleri Jingyi? Mengapa di cerita aslinya tidak disebutkan perihal ini?


“Kakakku memberikan plakat ini tiga tahun sebelum ia meninggal. Kavaleri Jingyi adalah pasukan militer khusus yang dilatih secara rahasia. Hanya aku dan mendiang kakakku yang mengetahuinya.”


“Itu artinya, para pembunuh itu diutus oleh orang yang mengetahuinya juga, entah sengaja atau tidak,” tebak Qingyi.


Qingyi mulai waswas jika Yinghao tiba-tiba memberinya misi untuk mengungkapkan dalang sebenarnya. Tapi, syukurlah panda itu tidak berkata apa-apa.


“Benda kecil ini membuatmu menjadi incaran. Selain Kaisar Baili dan Perdana Menteri, ternyata kau masih punya musuh lain. Haish, benar-benar merepotkan. Tapi, kau memberitahuku sebanyak ini, apa kau tidak takut aku mencurinya?” tanya Qingyi, nada bicaranya terdengar ringan dan ada semu canda.


“Aku percaya padamu.”


Bulu kuduknya merinding. Dipercaya oleh Raja Changle bukan sesuatu yang luar biasa untuknya. Sebaliknya, ia malah merasa itu sangat menakutkan. Suaminya ini, seorang Raja Changle, ternyata musuhnya tidak terbilang.


Masalah demi masalah datang silih berganti, dan pertaruhan nyawa selalu menjadi permainan yang tidak diduga. Qingyi tiba-tiba penasaran bagaimana pria itu melewatinya selama ini.


Tiba-tiba, Baili Qingchen limbung. Ia batuk beberapa kali, lantas darahnya menyembur menodai jubah abu-abunya. Dadanya terasa sesak seperti dipukul berkali-kali. Qingyi terbalalak dan segera menahannya supaya tidak limbung sepenuhnya. Kepala Baili Qingchen bersandar di tangannya, wajahnya berubah pucat.


“Hei, kau kenapa? Jangan menakutiku!”

__ADS_1


Qingyi memeriksa pakaian pria itu, lalu ditemukan sebuah luka tusukan jarum di dekat lehernya. Bekasnya membiru. “Sial, pembunuh itu mahir menggunakan jarum!”


__ADS_2