
Qingyi terperanjat ketika dia merasa seseorang naik ke tempat tidurnya. Ia langsung bangkit dan melihat Baili Qingchen dengan tatapan bingung.
Pria itu duduk di tepi ranjang dan sedang membuka pakaiannya, lalu menaruhnya di tempat pakaian pinggir ranjang. Lapis demi lapisnya mulai tertanggal dan hanya menyisakan satu lapis pakaian putih yang cukup tipis. Setelah itu, Baili Qingchen melepas sepatunya.
“Hei-hei-hei, apa yang kau lakukan?” tanya Qingyi.
“Tidur.”
“Di sini? Tidak! Kau pergi, jangan tidur di kamarku!”
“Kediaman ini terlalu kecil. Tidak ada kamar lain lagi.”
Qingyi menatap horror pada suaminya. Sekamar lagi? Itu tidak mungkin. Qingyi sudah cukup tersiksa saat dia tidak bisa tidur nyenyak semalaman karena Baili Qingchen bersamanya. Tidak untuk hari ini dan seterusnya, dia tidak mau sekamar lagi dengan pria itu. Rasanya begitu menakutkan dan Qingyi mungkin tidak akan tidur satu detikpun.
Akan tetapi, Baili Qingchen tidak peduli. Apapun yang terjadi, malam ini dia akan tidur di sini. Tubuhnya juga lelah setelah perjalanan jauh, belum lagi urusan Akademi Xizhou yang tampaknya tidak sederhana.
Siang tadi, dia bertemu pengawas Akademi Xizhou dan memperoleh kesimpulan bahwa masalah di tempat itu mungkin jauh lebih serius daripada yang dilaporkan ke istana. Dia perlu istirahat dan memulihkan tenaga sebelum memikirkan cara menyelesaikan permasalahan tersebut.
Baili Qingchen menggeser tubuh Qingyi hingga ke pojok, membuat gadis itu semakin tidak suka dan menatapnya dengan tajam. Lantas, ia merebahkan tubuhnya dan menarik selimut tanpa mempedulikan aksi penolakan Qingyi.
Terkejut oleh pengabaiannya, Qingyi kemudian menendang pinggang Baili Qingchen sampai membuat pria itu jatuh terguling ke lantai. Untung saja dia membungkus tubuhnya dengan selimut sampai rasa sakitnya tidak terlalu berasa. Baili Qingchen menatap kesal pada Qingyi.
“Liu Qingyi! Apa kau gila?”
“Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak memaksakan kehendak.”
“Kau berani menendang Raja Changle?”
“Heh, di sini tidak ada Raja Changle atau Putri Changle. Kau hanya Baili Qingchen, menantu dari Zhao Yinniang,” cibir Qingyi.
Baili Qingchen semakin kesal. Sebelumya tidak pernah ada yang seberani ini padanya. Bahkan Xiao Junjie saja harus memberikan tempat tidurnya secara penuh ketika dia datang. Gadis ini, bukannya menyerah, justru malah menendangnya seperti menendang sebuah guling.
__ADS_1
Apa dia tidak sadar atas apa yang dilakukannya?
Tubuh seorang pangeran, apalagi yang sudah bergelar seperti Raja Changle sangat berharga. Kain-kain di tempat tidurnya saja harus menggunakan sutera yang lembut dan berkualitas. Baili Qingchen sudah merendahkan diri dengan bersedia tidur di tempat kecil ini.
Bukan berarti dia tidak pernah sengsara, karena pada saat berperang dia bahkan pernah tidur di atas rumput beratap langit. Baili Qingchen hanya kesal karena keberanian Liu Qingyi yang menurutnya keterlaluan.
“Kalau kau ingin marah, ayo. Lagipula kau sendiri yang berinisiatif bermalam di tempat ibuku. Mengapa kau tidak pergi tidur di wisma Akademi Xizhou saja?”
“Apa kau begitu takut aku melakukan sesuatu padamu?” tanya Baili Qingchen.
Qingyi tertawa remeh. Apa yang dia takutkan? Baili Qingchen tidak punya nafsu kepada wanita. Pria itu tidak menyukai wanita, dan lebih menggemari kecantikan dari pria lainnya.
Qingyi hanya istri berdasarkan status dan dekret. Pada kenyataannya, yang seperti istri itu adalah Xiao Junjie. Qingyi tidak punya alasan untuk takut, dia hanya tidak mau sekamar dengan Baili Qingchen saja.
“Untuk apa aku takut?”
Baili Qingchen melompat dan menangkap tubuh Qingyi. Dia mengurungnya di atas ranjang dan mengunci kedua tangannya dengan tangan kiri. Tangan kanannya bergerak mengitari wajah Qingyi yang dipenuhi keterkejutan. Senyum jahil yang terlihat mengerikan di mata Qingyi langsung membuat bulu kuduknya berdiri.
Baili Qingchen mendekatkan mulutnya dan mengatakan itu di depan telinga Qingyi, lalu dia meniupnya sampai membuat Qingyi meremang.
“Kalau kau berani bertindak lebih jauh, aku akan membuatmu tidak bisa menjadi laki-laki sepenuhnya,” ancam Qingyi tidak mau kalah. Kebetulan, kakinya masih bebas dan bisa menendang senjata Baili Qingchen kapan saja.
Masuk akal, pikir Baili Qingchen. Ia akhirnya melepaskan Qingyi, lalu merebahkan tubuhnya dan memunggunginya tanpa berbalik lagi. Qingyi menatap kosong pada langit-langit, lalu mengernyit seolah ia telah melupakan sesuatu.
Tidak lagi ia pedulikan detak jantungnya yang masih berdebar kencang dan napasnya yang terasa sesak. Ia hanya memikirkan satu hal: mengapa Baili Qingchen melakukan itu?
“Mengapa aku merasa kalau Baili Qingchen adalah pria tulen yang normal?” gumamnya.
Dia bisa melihat tatapan mata Baili Qingchen beberapa saat yang lalu dengan jelas. Tatapan itu jelas bukan tatapan seorang pria dengan orientasi ‘miring’ kepada wanita biasa.
Asumsinya mengatakan bahwa pria yang menyukai pria cenderung menganggap wanita sebagai teman atau rekan, dan tatapannya jelas bukan seperti tadi. Tatapan mata Baili Qingchen yang tadi lebih seperti tatapan pria normal kepada wanitanya, persis seperti kepada pasangannya.
__ADS_1
“Apa selama ini dia berpura-pura?” gumam Qingyi lagi. Dirinya sangat yakin kalau dia tidak salah lihat. Di benaknya jadi timbul beragam pertanyaan.
Mungkinkah Baili Qingchen hanya berpura-pura? Jika benar, lalu apa alasannya? Untuk seorang keluarga kekaisaran sepertinya, merusak reputasi sendiri seperti itu bukanlah gaya seorang bangsawan. Kecuali, kecuali jika Baili Qingchen sengaja melakukannya demi tujuan lain.
Qingyi tertawa sendiri memikirkan kesimpulan yang dibuatnya. Hatinya meneriaki Baili Qingchen yang ternyata menyimpan sesuatu yang tidak diketahui orang lain. Pria ini tidak mudah dan sulit diprediksi.
Kalau dia tidak berhati hati dan tidak mengenalnya dengan baik, bisa jadi dia malah jadi objek permainannya. Di matanya kini terbayang ekspresi Xiao Junjie jika pria itu mengetahui kesayangannya ternyata tidak benar-benar menyayanginya.
Qingyi balik memunggungi Baili Qingchen, menarik selimut lalu memejamkan matanya. Dia seperti mendapat sebuah jackpot malam ini. Senyum liciknya tersungging di bibir. Ia pikir tidak rugi dia membiarkan Baili Qingchen tidur seranjang dengannya hari ini. Berkat itu, dia bisa menyadari sesuatu.
“Apa dia menyadari sesuatu?” ucap Baili Qingchen yang ternyata belum benar-benar tidur.
Dia hanya berpura-pura agar gadis itu berhenti berisik dan bisa membuatnya istirahat lebih cepat. Baili Qingchen mungkin sudah ceroboh kali ini, tapi jika dia tidak melakukannya, Qingyi tidak akan berhenti mengusirnya seperti anak anjing. Baili Qingchen kembali memejamkan mata saat ia tidak ingin menebak apa yang ada di pikiran Qingyi sekarang.
Tengah malam, Baili Qingchen dibangunkan karena sesuatu yang berat seperti menimpa tubuhnya. Dalam cahaya remang dari tiga buah lilin di sudut ruangan, samar-samar ia melihat kaki melintang di atas perutnya.
Selain itu, sebuah tangan juga melingkari dadanya. Baili Qingchen kegelian saat merasakan tiupan halus di lehernya. Dia menoleh, dan mendapati wajah Qingyi begitu dekat dengannya.
“Aku akan menyembuhkanmu….Baili Qingchen, kau harus membiarkan aku pulang…” gumam Qingyi dalam tidurnya.
Baili Qingchen berdecak tak percaya. Apa gadis ini sedang memimpikannya bahkan menggundamkannya?
Tadi saja masih menendangnya dan mengancamnya, sekarang justru memimpikannya dan berkata akan menyembuhkannya. Wanita memang benar-benar tidak bisa dipercaya ucapan dan kata hatinya.
“Kau serius?” tanyanya. Sepertinya gadis itu mendengarnya karena dia merasa Qingyi langsung mengangguk setelah ditanya begitu.
“Xiao Junjie….Aku akan membuatmu jadi seorang biksu…”
Qingyi memeluknya seperti guling besar. Dia membuatnya tidak leluasa bergerak. Baili Qingchen menghela napas, lalu perlahan menurunkan tangan dan kaki Qingyi dari tubuhnya.
Tanpa diduga, Qingyi malah bergerak dan semakin mengeratkan pelukannya. Wajahnya menyusup di ceruk leher Baili Qingchen, membuat bulu kuduk pria itu meremang seketika. Helaan napas panjang terdengar, dan Baili Qingchen mendiamkannya.
__ADS_1
“Aku pikir aku akan dituduh mesum jika memaksa melepaskannya,” gumamnya. Jadi, biarkan Qingyi terbangun dan melihat sendiri seperti apa perbuatannya malam ini.