
Pagi ini, mansion Raja Changle kedatangan tamu yang tidak diundang. Beberapa orang tampak sedang berdiri di depan gerbang mansion. Beberapa orang lagi sedang berdebat dengan pasukan pengawal istana yang sedang berjaga. Orang-orang itu terus berada di sana sampai keinginan mereka terkabulkan.
“Mereka belum juga pergi?” tanya Qingyi kepada kepala pengurus mansion.
Kepala mengurus mansion menggeleng. “Belum, Yang Mulia Putri. Orang-orang itu tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan.”
Qingyi berdecak malas. Ia sebetulnya masih mengantuk, tapi sekumpulan orang berisik ini mengganggu tidurnya dan ia terpaksa bangun.
Qingyi ingin mengusir mereka, tapi setelah tahu siapa orang-orang itu, ia mengurungkan niatnya. Qingyi membiarkan orang-orang itu bertengkar dengan pasukan pengawal dan menjadikannya sebagai hiburan untuknya.
Menonton orang berdebat di saat sedang suntuk, bukankah sangat menyenangkan?
Orang-orang itu dari Keluarga Xiao. Setelah mendapat kabar kalau mansion Raja Changle dikepung pasukan pengawal kekaisaran, kepala keluarganya langsung menyuruh bawahan untuk datang dan menjemput Xiao Junjie. Menurutnya, sudah saatnya putra mereka keluar dari mansion Raja Changle.
Xiao Junjie telah tinggal lama di sana. Sebelumnya, mereka mengizinkannya karena Raja Changle memperlakukan Xiao Junjie dengan baik. Namun semenjak ia menikah lagi dan hadir seorang Putri Permaisuri, keberadaan Xiao Junjie seolah terlupakan dan hidupnya menderita.
Kaisar Baili pernah berjanji jika kapanpun Keluarga Xiao ingin mengeluarkan Xiao Junjie dari mansion Raja Changle, mereka bisa menjemputnya. Sekarang Raja Changle tidak ada di mansion, tuduhan dijatuhkan dan mansion dikepung. Keluarga Xiao memutuskan untuk menjemput kembali putra keluarga mereka dan mengeluarkannya dari penderitaan.
Qingyi juga berpikir untuk membiarkan mereka masuk dan menjemput Xiao Junjie. Keberadaannya di sini juga hanya akan menyengsarakan dirinya sendiri.
Pria itu terlalu memaksa sampai tidak melihat bahwa situasi telah berbeda untuknya. Namun, Qingyi tidak juga melakukannya karena ia pikir, Xiao Junjie adalah urusan rumah tangga Baili Qingchen. Kalau bukan Baili Qingchen yang memutuskannya, maka biarkan dia memutuskannya sendiri.
Qingyi kemudian mendatangi halaman utara. Di sana, ia melihat Xiao Junjie sedang berdiri menatap pohon persik dalam balutan busana merah jambu yang panjang.
Wajah tampan tapi cantiknya tampak bersinar, namun matanya begitu sayu. Ia tampak sedang kebingungan.
“Kau sudah memutuskannya?” tanya Qingyi datar.
Xiao Junjie menoleh, lalu menghela napas. Ia kembali menatap pohon persik yang tiga tahun lalu ia tanam bersama Baili Qingchen. Saat ini, dia bingung karena harus segera memilih. Keluarganya datang menjemputnya, namun ia bahkan tidak tahu apakah ia harus pergi atau tidak.
“Jika kau datang untuk mengejekku, maka kuucapkan selamat. Kau menang, Putri Permaisuri,” ujar Xiao Junjie dengan nada rendah.
Pada kenyataannya, Xiao Junjie hanya membodohi dirinya sendiri. Sudah jelas Baili Qingchen berubah dan hatinya telah digenggam Qingyi, namun ia bersikeras bertahan dengan kenangan dan ingatan akan kisahnya yang tidak seberapa itu. Sekarang istana kekaisaran sedang kacau, Baili Qingchen tidak ada di kediaman dan ia bisa mati kapan saja.
“Terserah apa pemikiranmu. Aku tidak berniat mengusirmu, kau hanya perlu memutuskannya sendiri.”
Setelah mengatakannya, Qingyi duduk di kursi yang ada di sana. Jarang-jarang ia datang tidak dengan emosi. Kebetulan, ia haus dan Xiao Junjie tampaknya baru saja menyeduh teh. Wanita itu dengan santai meneguknya tanpa mencium aromanya terlebih dahulu.
“Baili Qingchen tidak pernah menginginkanmu menderita. Kau saja yang terlalu cengeng.”
__ADS_1
“Aku tahu. A-Chen tidak pernah bermaksud mendiamkanku. Hanya saja hatinya telah berubah.”
Qingyi menatap iba padanya. Xiao Junjie ini tidak sepenuhnya bersalah karena ia hanya menginginkan Baili Qingchen saja. Pria ini menjalani hidup seperti pelajar yang taat sampai ia bertemu Baili Qingchen.
Bertemu dengan pria itu adalah sebuah keberuntungannya, namun juga menjadi petaka untuknya. Xiao Junjie malah mengorbankan diri dan bersikap layaknya seorang istri yang rela tersakiti.
“Kau putuskan sendiri pilihanmu. Aih, mengapa mansion ini jadi lebih sesak?”
Wanita itu menggeliat, lalu hendak meninggalkan halaman utara. Sebelum dia melangkah, Xiao Junjie terlebih dahulu berkata dengan lirih, “Jika aku pergi, apa kau bisa menjaga A-Chen untukku?”
“Aku tidak menerima perintah siapapun. Tanpa kau minta pun, aku akan melindunginya dengan hidupku.”
Setelah itu, Qingyi benar-benar meninggalkan halaman utara tanpa ingin tahu lagi keputusan apa yang akan diambil oleh Xiao Junjie. Dia masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu dan masuk ke dalam ruang dimensi. Qingyi memilih satu kostun, berganti, kemudian keluar kembali.
Yinghao menebak tuannya akan beraksi lagi, ia bersiap untuk mengikutinya. Qingyi berjalan menuju gerbang belakang yang tidak dijaga pengawal kekaisaran. Ia mengeluarkan seekor kuda putih yang tinggi dan kuat dari ruang dimensi, mengusap bulunya yang halus dengan pelan.
“Xiao Bai, ayo, akan kuuji seberapa cepat kau berlari.”
Lalu, Qingyi naik ke atas kuda putih tersebut. Dengan kostumnya yang unik, dia melaju meninggalkan mansion dalam kecepatan yang sama cepatnya dengan sebuah sepeda motor.
Kecepatannya di atas 40 KM/jam. Jalan yang dilewatinya segera menjadi ramai setelah ia melintas karena orang-orang takjub akan kecepatan kudanya.
Setelah merasa tidak ada orang yang melihatnya, ia turun dan mengirim kudanya kembali ke ruang dimensi. Qingyi mengganti tumpangannya dengan sepeda motor jenis trail dan mengendarainya.
Motor gunung itu melaju menembus hutan belantara dan medan jalan yang terjal. Beberapa kali ia hampir jatuh, namun keseimbangannya menyelamatkannya.
“Tuan, bisakah kita beristirahat sebentar?” tanya Yinghao yang kelelahan. Panda kecil itu hampir mati karena Qingyi melajukan motornya seperti orang kesetanan.
“Tidak. Aku harus menjemputnya sebelum penobatan.”
“Tapi, tubuhmu bisa terluka. Suamimu pasti baik-baik saja.”
“Entahlah. Orang bodoh menyebalkan itu entah sudah menerima suratku atau tidak.”
Tanpa mengindahkan keinginan Yinghao, Qingyi kembali mengendarai motor trailnya. Saat memasuki pemukiman atau kota, ia menggantinya lagi dengan seekor kuda, seperti itu sampai dua hari kemudian, dia sampai di gerbang kota terakhir. Setelah melewati gerbang ini, dia akan masuk ke jalan yang membawanya menuju kota perbatasan utara.
Kudanya tiba-tiba meringkik dan tidak bisa dikendalikan. Qingyi menarik tali kendalinya dengan susah payah sampai kudanya tidak mengamuk lagi.
Samar-samar ia mendengar suara mirip sebuah pertarungan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Telinganya jelas mendengar suara pedang beradu, tapi dari mana arahnya ia tidak tahu.
__ADS_1
“Tuan, sebelah sana!” seru Yinghao sambil menunjuk arah utara.
Qingyi segera membawa kudanya menuju arah yang ditunjuk Yinghao. Beberapa saat kemudian, ia melihat sebuah pemandangan yang membuat matanya membelalak.
Di area hutan yang tidak terlalu lebat, ia melihat Baili Qingchen, Baili Qingyan, Liu Qingti, Cui Kong dan pasukannya bertarung melawan orang asing bersenjata lengkap. Dari seragamnya, ia tahu bahwa orang asing itu adalah orang selatan.
“Kurang ajar! Beraninya mengeroyok suamiku!” serunya marah.
Baili Qingchen yang sudah sadar dirinya masuk jebakan tidak membuang waktu dan langsung bergegas kembali ke kota kekaisaran keesokan harinya seperti yang direncanakan.
Namun, mereka tiba-tiba menyadari ada sebuah pergerakan aneh ketika melewati hutan ini. Baili Qingchen melihat sekelompok orang mirip tentara diam-diam melintas dengan senjata lengkap.
Pertarungan pun terjadi. Pasukan itu ternyata membawa banyak orang dan Baili Qingchen kewalahan. Meskipun Baili Qingyan membantunya, namun kemampuan orang-orang ini begitu tinggi. Mereka tidak kalah dalam jumlah, tetapi kalah dalam stamina dan energi.
Sebuah pedang melintas dengan cepat menghalangi tebasan tentara selatan beberapa detik sebelum tebasan itu sampai di dada Baili Qingchen.
Pria itu menoleh, mendapati istrinya sedang bergegas turun dari punggung kuda dengan pakaian aneh. Baili Qingchen tidak bisa terkejut lagi karena ia sudah terlalu sering dikejutkan.
“Mengapa kau kemari?” tanyanya saat Qingyi tiba di tengah pertarungan.
“Menjemputmu,” jawabnya singkat.
Kemudian, pertarungan itu menjadi lebih sengit sejak kedatangan Qingyi. Tentara selatan marah karena urusan mereka diganggu oleh seorang wanita. Mereka telah salah, mereka telah menyinggung seorang iblis kecil. Dengan bergabungnya Qingyi ke dalam pertarungan, mereka tidak mungkin menang!
Baili Qingyan kemudian berseru, “Kakak Kedua, kakak ipar, pergilah lebih dulu! Aku dan Liu Qingti akan menahan orang-orang ini!”
Qingyi baru sadar bahwa kakaknya juga di sini. Ia menoleh, lalu berdecak kagum. Rupanya, Liu Qingti menjadi lebih kuat setelah mengikuti Baili Qingyan ke Kekaisaran Chen. Kakaknya itu sekarang lebih pemberani, bahkan begitu pandai beladiri. Melepaskan atribut Keluarga Liu ternyata sangat berguna.
“Baiklah. Kuserahkan urusan di sini kepadamu!”
Kemudian, Baili Qingyan dan Liu Qingti membukakan jalan untuk Baili Qingchen dan Qingyi. Mereka berhasil keluar dari kerumunan pertarungan, lalu melompat ke atas kuda putih milik Qingyi. Dengan kekuatan kuda itu, Baili Qingchen membawa Qingyi melewati hutan belantara menuju kota kekaisaran.
Qingyi merasa mereka akan terlambat jika mengandalkan kuda. Kaisar Baili mungkin sudah siuman dan sudah mendengar instruksinya lewat Kasim Li, tapi dia belum tentu bisa menghadapi Liu Wang dan Liu Erniang sekaligus. Penobatannya besok, jika terlambat, istana kekaisaran benar-benar akan jatuh ke tangan mereka.
“Baili Qingchen, pejamkan matamu dan jangan membukanya sampai aku minta!”
“Ah?”
Baili Qingchen kebingungan akan maksud perkataan istrinya. “Turuti saja perkataanku!”
__ADS_1