Love Imagination System

Love Imagination System
SIDE STORY 3: PERTOBATAN KAISAR BAILI


__ADS_3

Beberapa hari berlalu seperti kilat yang menyambar dalam waktu singkat sejak kudeta Liu Erniang dipadamkan.


Para menteri yang terlibat, telah digiring ke penjara Kementrian Kehakiman dan akan dihukum dengan berat. Walau mereka punya alasan bagus mengapa ikut terlibat, namun tindakan mereka tidak dapat dibenarkan.


Kaisar Baili perlahan mulai pulih dari racun yang menyerangnya. Di istananya, dia merenung sepanjang hari, entah apa yang sedang ia pikirkan. Rona wajah yang biasanya memerah akibat marah, sekarang justru berubah menjadi pias.


Dia seperti berubah menjadi seorang pemikir yang dalam tanpa disadari.


Barangkali, ia telah menyadari betapa besar kesalahannya pada Baili Qingchen. Kaisar Baili terlalu dibutakan oleh rasa takut akan perebutan takhta, yang sejatinya hanya sebuah ketakutan dalam hatinya saja.


Pada akhirnya, ia justru dikhianati oleh salah satu istrinya sendiri dan hampir mati. Negara hampir musnah, rakyat hampir menderita kembali akibat peperangan dengan Selatan.


Saat dia terbangun di tengah aula pengadilan yang bersimbah darah, dia melihat banyak prajurit terkapar tak bernyawa. Dia juga melihat Xiao Junjie dan Selir Sun mati bersimbah darah setelah saling membunuh.


Pamannya, Baili Qingchen, duduk dengan tatapan kosong. Tangannya memegang erat sebuah liontin yang berlumur darah. Luka di dadanya yang ditusuk pedang, secara ajaib menutup dan sembuh. Tapi yang paling penting daripada itu adalah: Kaisar Baili tidak melihat Putri Permaisuri Changle di manapun. Bahkan tanpa jejak kaki.


"Paman...." lirihnya kala itu. Namun, suaranya tidak didengar Baili Qingchen.


Ia ingat, sebelum jatuh tak sadarkan diri, dia melihat paman dan bibinya bertarung melindungi istana dan melawan Liu Erniang serta Liu Wang dan antek-anteknya. Ia juga melihat Xiao Junjie menusuk pamannya dengan pedang, kemudian dia dibunuh oleh Janda Selir Sun.


Dia ingat, Qingyi mendorongnya menjauh dan menggantikannya menyangga tubuh Baili Qingchen. Setelah itu, ia tidak ingat apa-apa, begitu pula dengan semua orang. Tapi satu hal yang jelas adalah: Putri Permaisuri Changle telah pergi.


Kaisar Baili tidak tahu ke mana wanita yang ia inginkan musnah itu pergi. Setelah benar-benar pergi, Kaisar Baili justru merasa bahwa ia tak seharusnya memiliki kebencian terhadapnya. Qingyi, mungkin sangat menyebalkan dan kurang ajar. Tetapi, dialah yang telah menyelamatkan kekaisaran ini, dan juga menyelamatkan pamannya.


"Yang Mulia," panggil Kasim Li. Kaisar Baili terperangah.


"Apakah Putri Permaisuri Changle sudah ditemukan?" tanya Kaisar Baili. Kasim Li menggeleng.


"Tidak ada jejak yang bisa ditemukan, Yang Mulia. Raja Changle sudah mengerahkan seluruh pasukannya, tetapi tetap tidak memiliki hasil."

__ADS_1


"Tidak peduli seberapa jauh ia pergi, kalian harus tetap menemukannya!"


Kasim Li hanya bisa mengangguk ketakutan. Jika itu dulu, berita menghilangnya Putri Permaisuri Changle akan sangat membuatnya bahagia. Tapi, situasinya sudah berbeda sekarang. Kaisarnya ini, sepertinya mulai memiliki belas kasih lagi.


"Yang Mulia, Raja Changle meminta untuk bertemu," ucap Kasim Li setelah beberapa saat.


"Cepat! Suruh dia masuk!"


Lalu, Baili Qingchen dengan segala ketampanan dan wibawanya berjalan masuk ke dalam ruang belajar kaisar. Dia memakai jubah berwarna abu-abu. Tidak ada yang aneh dari penampilannya, hanya saja auranya dipenuhi dengan kesedihan dan terlihat gelap.


"Yang Mulia, apa tubuhmu sudah pulih?" tanya Baili Qingchen.


"Ya, Paman. Berkat obat yang ditinggalkan Putri Permaisuri, racun di tubuhku dapat dikeluarkan. Hanya saja, Putri Permaisuri, dia...."


Kaisar Baili tak kuasa melanjutkan kata-katanya kala melihat Baili Qingchen tertunduk. Kepergian Putri Permaisuri Changle, tidak ada bedanya dengan kepergian seorang kekasih. Kaisar Baili memahami penyebab pamannya begitu terpukul, tetapi jika pamannya saja tidak tahu di mana wanita itu seharusnya, bagaimana bisa dia mengharapkan yang lebih?


Baili Qingchen agaknya tidak mau terus larut dalam situasi ini. Dia tiba-riba mendongak menatap keponakannya, lalu dengan mantap berkata, "Yang Mulia, aku berniat mengundurkan diri dari jabatan Pengawas Negara."


"Jingyan, aku pernah mengatakan bahwa kau sudah dewasa sebelum mati saat itu. Kau sudah bisa menerima kerja sama dari orang yang tidak kau sukai. Kakakku menitipkanmu padaku karena tahu kau belum dewasa."


"Tapi, Paman, bisakah kau tetap mendampingiku beberapa tahun lagi?"


"Rakyat tidak akan tenang jika aku terus membayangimu. Bukankah kau selalu ingin lepas dari pengawasanku?"


"Paman....."


Baili Qingchen menyunggingkan senyumnya. Itu adalah senyum pertama yang ia tunjukkan sejak kejadian mengenaskan tempo hari. Bagi Baili Qingchen, tugasnya sebagai pendamping keponakannya telah tuntas sejak Kaisar Baili memutuskan untuk bekerja sama dengan Qingyi. Baili Qingchen tak perlu lagi khawatir negara ini akan kacau suatu saat.


Baili Qingchen mengeluarkan dekret rahasia mendiang kaisar dari jubahnya, kemudian membakarnya di hadapan Kaisar Baili. Itu menunjukkan bahwa dia tak lagi terikat dengan dekret rahasia dan sepenuhnya terbebas, dianggap telah menyelesaikan tugasnya meski kendali Kavaleri Jingyi tidak bisa ia serahkan.

__ADS_1


"Aku juga akan menyerahkan gelar dan posisiku sebagai Raja Changle. Yang Mulia, kau sudah bisa tenang."


"Paman, apa kau benar-benar ingin pergi? Lebih baik kau marahi aku seperti biasa, itu lebih melegakan daripada melihatmu membalikkan punggung dariku dan dari pengadilan," ucap Kaisar Baili sungguh-sungguh. "Apa kau benar-benar tenang menyerahkan kekaisaran kepada seseorang sepertiku? Bagaimana jika aku menghancurkan jerih payahmu selama ini? Tetaplah di sini, Paman."


"Separuh hidupku digunakan untuk membangun negara dan melihatmu menjadi dewasa. Pelatihan dan pengawasan yang kuberikan, akan membuatmu menyadari kelemahan dan kekuatanmu. Kali ini, biarkan aku menjalani separuh sisa hidupku untuk diriku sendiri."


Barulah Kaisar Baili sadar jika sebagian besar kehidupan pamannya dihabiskan di medan perang dan pengadilan istana. Dia, benar-benar belum memiliki kehidupan untuk dirinya sendiri. Bagaimana bisa Kaisar Baili menyalahpahami orang yang dengan tulus mengabdikan hidupnya untuk kedamaian?


Semakin dipikirkan, semakin besar pula rasa bersalahnya.


"Paman..."


"Yang Mulia, jangan jadikan aku sebagai alasan dan jangan biarkan jerih payah permaisuriku sia-sia. Baili Wuyuan dan adiknya yang belum lahir, harus memiliki kehidupan yang baik."


Kaisar Baili memalingkan wajah, mendesahkan napas beberapa kali. "Aku memang berencana mengangkat Selir Jia sebagai Permaisuri Bingyue."


"Itu bagus. Yang Mulia, jaga baik-baik istana ini, dan dirimu sendiri."


Baili Qingchen berbalik, kata-katanya seolah-olah mengisyaratkan ia akan pergi jauh, jauh sekali sampai tidak bisa kembali. Kaisar Baili tercekat, ia hendak berlari kepadanya, tapi kakinya berhenti di depan ranjang.


"Paman," panggilnya. Baili Qingchen berhenti tanpa berbalik.


"Maaf."


Mendengar kata itu terucap dari mulut keponakannya untuk yang pertama dan terakhir, tidak ada yang bisa dilakukan Baili Qingchen selain tersenyum dalam diam. Bagaimanapun, keputusannya sudah bulat. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan sekarang adalah mencari Qingyi.


Ketika sosok Baili Qingchen benar-benar menghilang di balik pintu istana yang besar dan kokoh, Kaisar Baili terduduk kembali. Pertobatannya kali ini, adalah untuk mengantarkan pamannya pergi.


...***...

__ADS_1


...Haloo, pembaca setia Changle couple kesayangan Otor! Hehe, ini ada tambahan side story lagi ya, siapa tahu ada yang kangen sama mereka, siapa tahu ada yang mau dibikinin season 2-nya, hihihi. Selamat membaca dan terima kasih sudah mengikuti jejak Otor sampai cerita ini! ...


__ADS_2