
Nyonya Zhao, setelah bercerai dengan perdana menteri dan keluar dari tempat busuk itu, menjalani kehidupan sebagai seorang penjaga toko. Dia membuka sebuah toko kain di tengah Kota Xizhou dengan modal mahar dan uang yang diberikan oleh Qingyi.
Kehidupannya seratus kali lebih baik daripada kehidupannya di kediaman perdana menteri. Di sini, dia bisa bebas, tidak ada orang yang menekannya.
Bertahun-tahun hidup di kediaman perdana menteri dan di bawah tekanan Gao Hui telah menyisakan luka batin yang sangat dalam dalam diri Nyonya Zhao. Hanya karena masuk sebagai selir tanpa latar belakang keluarga yang jelas, dia dihina dan ditindas sepanjang hidupnya. Tidak ada yang benar-benar nyaman dari itu. Nyonya Zhao bertahan hanya demi melindungi Liu Qingyi, putri semata wayangnya.
Saat tahu kalau perdana menteri membuatnya menjadi istri Raja Changle, Nyonya Zhao tidak terima. Siapa pula yang akan menyerahkan putrinya kepada pria sakit yang bahkan tidak punya perasaan. Namun, dia juga tidak bisa berbuat banyak. Hanya saja dia sedikit tenang ketika melihat putrinya dalam keadaan baik-baik saja.
Kini, setiap kali mendengar berita tentang kediaman perdana menteri, Nyonya Zhao selalu tidak senang. Ada kalanya dia harus berpura-pura tutup karena pelanggannya membicarakan kabar dari ibukota. Nyonya Zhao berusaha hidup dengan baik sesuai dengan permintaan putrinya. Teman putrinya yang menjadi perantara kehidupannya di sini juga sangat baik.
Siang ini, dia tengah merapikan beberapa gulung kain satin yang baru tiba. Di depan tokonya, dia mendengar para pengantar kain tengah membicarakan gossip terbaru yang sedang hangat di ibukota.
Katanya, baru-baru ini Putri Permaisuri Changle muncul di sebuah restoran dan menjewer Pangeran Ketiga dan Tuan Muda Kedua Liu yang tengah berdebat masalah tempat duduk.
“Tuan-tuan, apakah kalian bisa membicarakannya nanti? Aku perlu menghitung jumlah kain ini dan membereskannya. Jika kalian terus berbicara, pekerjaan ini tidak akan selesai,” ucap Nyonya Zhao pada para pengantar kain.
Dia tidak ingin mendengar gossip perihal putrinya. Para pengantar kain itu meminta maaf dan langsung berhenti berbicara.
“Ibu, apakah kau akan terus menutup telinga dari kabar mengenai putrimu?” tanya seseorang. Begitu menoleh, Nyonya Zhao langsung terkejut.
Qingyi berdiri lima meter darinya bersama Baili Qingchen dan Cui Kong. Nyonya Zhao langsung berlari memeluknya dengan erat. Air matanya sampai jatuh ke pundak Qingyi. Qingyi balas memeluknya dan mengelus punggung Nyonya Zhao. Meski sebenarnya dia bukan putri kandungnya, tapi Qingyi merasa kalau dia punya ibu lagi.
Nyonya Zhao seperti telah melupakan sesuatu. Dia tersadar dan melepas pelukannya. Dia pikir dia telah melakukan kesalahan. Putrinya ini bukan lagi Liu Qingyi yang dulu. Sekarang putrinya adalah Putri Permaisuri Changle, istri sah Raja Changle.
Itu artinya, dia adalah seorang putri terhormat terlepas dari latar belakang keluarganya. Nyonya Zhao hendak memberi hormat, tapi Qingyi langsung mencegahnya.
“Ibu, aku tetap datang kemari secara diam-diam. Jangan melakukan ini atau aku akan ketahuan,” ucap Qingyi.
“Kita bicara di dalam,” ucap Nyonya Zhao.
Nyonya Zhao membawa ketiganya masuk ke ruangan belakang toko kain. Rupanya, di sana terdapat sebuah taman yang cukup luas dengan pemandangan yang cukup indah. Nyonya Zhao menanam beberapa bunga dan menatanya dengan baik. Taman ini lebih bagus daripada taman di kediaman perdana menteri.
Nyonya Zhao kemudian mempersilakan mereka masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya ruang keluarga. Toko kain itu bukan hanya toko, tapi juga sebuah rumah.
“Mengapa kamu bisa ke sini?” tanya Nyonya Zhao.
“Yang Mulia Raja Changle ditugaskan mengunjungi Akademi Xizhou. Jadi, sekalian saja aku ikut dengannya,” jawab Qingyi.
__ADS_1
Nyonya Zhao melirik Baili Qingchen, lalu dia melihat pria itu mengangguk. Artinya putrinya tidak berbohong. Nyonya Zhao bernapas lega karena tidak akan terjadi masalah serius jika Putri Permaisuri Changle datang bersama suaminya.
Dia memegangi tangan Qingyi dengan erat seolah Qingyi akan langsung hilang jika dia melepasnya. Kerinduannya pada putrinya membuncah.
“Kalau begitu, aku akan menunggumu di Akademi Xizhou,” ujar Baili Qingchen. Qingyi mengangguk. Pria itu lantas meninggalkan Qingyi dan bergegas menuju Akademi Xizhou.
Nyonya Zhao lantas menyiapkan makanan dan minuman untuk putrinya. Qingyi kegirangan karena sejak kejadian penyergapan di hutan itu, dia hanya makan dua kali dalam sehari dan itu pun tidak cukup.
Untung saja saat di ujung hutan mereka bertemu dengan rombongan pedagang yang hendak pergi ke Xizhou, jadi mereka bisa menumpang ikut ke sana. Mereka baru tiba di pusat Kota Xizhou beberapa jam setelah kejadian itu.
Melihat putrinya makan dengan lahap, Nyonya Zhao turut senang. Ia menebak kalau perjalanan kemari pasti sulit. Desas-desus itu mengatakan bahwa putrinya ini menimbulkan banyak masalah di mansion Raja Changle, dan selalu ribut dengan Xiao Junjie. Bahkan dia juga sempat membuat perdana menteri marah sampai sakit. Bukan tidak mungkin kalau mereka mengalami sesuatu yang buruk di perjalanan.
“Apa Yang Mulia memperlakukanmu dengan baik?” tanya Nyonya Zhao.
“Yah, begitulah. Sebenarnya dia tidak banyak ikut campur. Hanya saja ‘sahabat sehidup semati’-nya itu sangat merepotkan. Kau tidak perlu khawatir, aku bisa mengatasinya sendiri,” jawab Qingyi.
“Apa kediaman Perdana Menteri mencari gara-gara denganmu? Mereka mengusikmu?” tanyanya lagi.
Qingyi terdiam sesaat. Tidak bisa dipungkiri kalau kediaman perdana menteri memang selalu mencari masalah dengannya. Kalau bukan Liu Wang dan Gao Hui, maka Liu Erniang yang mencari gara-gara dengannya.
Adiknya itu membuatnya menjadi sasaran tuduhan tak berdasar, dan dengan keberaniannya masih mencoba mengusik hidupnya. Padahal Erniang jelas tahu kalau Qingyi adalah Putri Permaisuri Changle, bukan seorang Liu Qingyi yang dia kenal sebelumnya. Namun, Qingyi bingung apakah dia harus memberitahukan ini atau tidak.
Nyonya Zhao bernapas lega. Dia bersyukur jika kediaman perdana menteri cukup tahu diri untuk tidak mengganggu putrinya lagi.
Usai makan, Qingyi berjalan-jalan di sekitar toko. Yinghao langsung muncul dan memberitahukan misi khususnya. Misi khususnya adalah menemukan identitas asli Nyonya Zhao.
Dalam cerita itu, dikatakan bahwa Nyonya Zhao hanyalah putri angkat seorang pedagang kecil dan masuk ke kediaman perdana menteri saat berusia dua puluh tahun. Jika sistem menyuruhnya mengungkap identitas asli, itu berarti ada masalah dengan identitas Nyonya Zhao selama ini.
“Bagaimana cara memulainya?” gumam Qingyi.
Seingatnya, Nyonya Zhao tidak lagi punya kerabat setelah menjadi selir perdana menteri.
“Mungkin ada benda atau sesuatu yang bisa menunjukkan itu,” ujar Yinghao.
Tanpa sepengetahuan Nyonya Zhao, Qingyi mengobrak-abrik kamar ibunya. Hanya ada puluhan pakaian yang dia temukan beserta beberapa kotak berisi kepingan uang perak hasil penjualan kain.
Ruangan sederhana itu tidak memuat banyak barang, jadi dia tidak bisa menemukan apapun. Lelah karena tidak menemukan apa yang ia cari, Qingyi akhirnya malah tertidur di kamar Nyonya Zhao dalam keadaan berantakan.
__ADS_1
Nyonya Zhao terkejut melihat kamarnya acak-acakan. Dia lebih terkejut melihat putrinya tertidur di antara pakaian-pakaian yang berserakan di lantai. Nyonya Zhao menggunakan segenap tenaganya untuk mengangkat tubuh putrinya ke tempat tidur dan membaringkannya di sana.
Dia menatap lekat wajah Qingyi, mengelusnya perlahan seolah ini adalah wajahnya ketika masih muda. Selimut tipis kemudian ditarik untuk menutupi tubuh Qingyi.
“Sudah menjadi Putri Permaisuri Changle, tapi tingkahmu masih saja kekanak-kanakan,” gumam Nyonya Zhao.
Nyonya Zhao kemudian keluar dan menyiapkan kamar yang lain. Kedatangan Qingyi dan Baili Qingchen yang tiba-tiba membuatnya tidak sempat menyiapkan tempat yang bagus.
Nyonya Zhao berharap kedatangan putrinya bersama suaminya kali ini akan membawa nasib baik untuk masa depan putrinya dan juga bisa mengembalikan semua yang hilang ketika anak itu masih kecil.
Malam harinya, Qingyi terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali dan yang ia lihat hanyalah langit-langit kayu dan kelambu berwarna ungu tua. Ketika dia bangkit, dia baru bisa mengingat kalau dia mengacak-ngacak kamar Nyonya Zhao dan tertidur karena lelah.
Dia lupa kalau dia harus pergi ke Akademi Xizhou sesuai dengan pesan Baili Qingchen. Dengan langkah terburu-buru, dia keluar dari kamar Nyonya Zhao.
Halaman itu cahayanya redup. Lilin penerang hanya ada beberapa, tidak seperti di mansion Raja Changle. Qingyi hampir saja salah menginjak pijakan karena terlalu terburu-buru dan pencahayaan kurang. Dia melihat Nyonya Zhao masuk sembari membawa satu kotak kayu. Ketika melihatnya, Qingyi terdiam.
“Nak, kau sudah bangun?” tanya Nyonya Zhao.
“Ya. Ibu, aku lupa kalau Yang Mulia menyuruhku menyusulnya ke Akademi Xizhou. Aku harus segera ke sana.”
“Tidak perlu,” ucap seseorang. Qingyi berbalik. Baili Qingchen sudah berdiri beberapa meter darinya. Dahi gadis itu mengernyit.
“Kau di sini?” tanya Qingyi. Baili Qingchen menghampirinya.
“Malam ini kami akan bermalam di sini. Kuharap Nyonya tidak merasa terganggu,” ujar pria itu. Nyonya Zhao tersenyum ramah.
Dia bilang, “Tentu. Yang Mulia dan putriku sangat boleh tidur di kediaman kecil ini.”
Mengabaikan kegembiraan di wajah Nyonya Zhao, Qingyi berbalik menatap Baili Qingchen dengan tatapan tak suka. Dia mencibirnya karena Baili Qingchen tidak konsisten. Tadi menyuruhnya menyusul ke Akademi Xizhou, sekarang malah ingin bermalam di sini. Qingyi jadi kesal karena otaknya langsung menurut begitu mengingat pesan itu.
“Dasar tidak konsisten!” gerutunya pelan. Baili Qingchen menatapnya, namun ekspresinya begitu datar tanpa emosi.
“Kau sedang memarahiku?” tanyanya. Qingyi mendengus, lalu meninggalkannya di halaman bersama Nyonya Zhao.
“Yang Mulia, saya sudah menyiapkan satu kamar untuk Yang Mulia,” ujar Nyonya Zhao setelah melihat putrinya pergi.
Baili Qingchen kemudian berucap bahwa dia sebaiknya satu kamar dengan Qingyi saja. Kediaman ini tidak cukup luas, pasti hanya ada beberapa kamar kecil saja.
__ADS_1
Dia meminta Nyonya Zhao agar memberikan kamar kosong itu kepada Cui Kong saja. Mendengar itu, Nyonya Zhao lantas mengangguk sambil berlalu. Senyumnya tidak pernah pudar dari bibirnya yang agak kecil itu.