
“Yang Mulia! Apa Yang Mulia mendengar suara kami?”
Cui Kong memimpin pasukan bersama Xiao Qi untuk menyusuri sungai di sekitar tebing esok harinya. Mereka mulai menyisir area sekitar pondok, kemudian ke hutan lebat dan tebing yang kemungkinan menjadi lokasi terakhir raja mereka berada. Di sana, terdapat bekas-bekas pertarungan yang sengit.
Cui Kong turun ke daerah yang lebih rendah, menyusuri sungai-sungai yang besar. Berkali-kali dia menampar dirinya karena terlambat.
Saat itu, Cui Kong memang tengah diperintah untuk mengawasi keadaan di kota kekaisaran hingga dia tidak ikut dalam pencarian Tabib Shen. Begitu mendengar kabar bahwa Raja Changle menghilang, dia langsung panik dan bergegas memimpin pasukan untuk mencarinya.
“Komandan Cui! Putri Permaisuri Changle juga menghilang!” lapor salah satu pengawal.
Dia semakin panik saat laporan mengatakan jika Putri Permaisuri juga menghilang. Dugaannya langsung benar bahwa majikan putrinya itu pasti mengikuti penyergapan dan ikut hilang bersama rajanya. Tugasnya bertambah berat karena ada dua tanggungjawab yang dipikulnya.
“Yang Mulia! Yang Mulia Putri!” teriaknya lagi.
“Sisir kembali area sungai!” seru Xiao Qi.
Tidak disangka, pondok itu ternyata hanya umpan untuk memancing Raja Changle. Xiao Qi sudah mencari semalaman, namun belum ada petunjuk di mana Raja Changle dan Putri Permaisurinya berada.
Pencarian diperluas ke seluruh area lereng Gunung Changsan. Saat ini, sangat penting bagi mereka untuk menemukan kembali Baili Qingchen dan Qingyi.
Cui Kong bergerak semakin jauh hingga ke hutan rimbun. Dedaunan dan dahan yang menutupi area sungai dilewati dan diperiksa dengan terliti. Pada akhirnya, dia menemukan sebuah benda besar yang tersangkut di atas pohon. Itu adalah parasut yang digunakan Qingyi kemarin. Cui Kong langsung mengenali bahwa benda aneh itu adalah milik Putri Permaisuri Changle.
“Cepat! Mereka mungkin ada di sekitar sini!” perintahnya pada pengawal.
Dari kejauhan, tampak sesosok wanita berpakaian pria dalam bayangan yang samar, sedang berjalan seperti orang linglung. Mulutnya komat-kamit entah menggumamkan apa. Yang jelas, Cui Kong mengenali sosok itu dan langsung berlari menghampirinya. Tampilannya begitu berantakan dan lengan kirinya diikat kain.
“Yang Mulia Putri!”
Qingyi bergeming. Tatapannya masih kosong dan linglung.
“Semalam hanyalah mimpi. Anggap saja aku menjadi gila karena terlalu lelah dan tidak sadar melakukannya,” gumamannya terus terdengar. Dahi Cui Kong berkerut.
“Yang Mulia Putri?” tanya Cui Kong dengan nada suara sedikit lebih keras dari sebelumnya.
“Ah? Kau memanggilku? Kau siapa? Aku siapa?”
“Saya Cui Kong, dan Yang Mulia adalah Putri Permaisuri.”
“Oh, kau pengawal, ya?”
“Yang Mulia Putri, di mana Yang Mulia Changle?”
“Yang Mulia Changle siapa?”
Dahi Cui Kong semakin berkerut. Apa otak Permaisuri Changle bermasalah?
“Raja Changle, suami Yang Mulia Putri,” ucap Cui Kong, berharap Qingyi segera sadar.
“Oh. Aku tidak kenal. Ah, di sana ada seorang pria, kau cepat tolonglah dia. Barangkali dia orang yang kau cari.”
__ADS_1
Qingyi kemudian menunjuk gua yang semalam dijadikan tempat istirahat. Di sana, Baili Qingchen masih setengah berbaring dalam kondisi memejamkan mata.
“Yang Mulia! Akhirnya aku menemukanmu!”
Cui Kong melompat ke dalam gua dan segera membangunkan Baili Qingchen. Terkejut dengan teriakan keras dan guncangan di tubuhnya, dia membuka matanya. Kepalanya agak pusing, seluruh tubuhnya terasa pegal. Baili Qingchen mencoba mengumpulkan kesadaran untuk mengenali orang yang ada di depannya.
“Cui Kong?” tanya Baili Qingchen.
“Yang Mulia, kupikir Yang Mulia tidak selamat. Aku sangat khawatir!”
“Omong kosong! Di mana Putri Permaisuri?”
Cui Kong lantas menunjuk posisi Qingyi, namun ekspresinya sangat canggung dan bingung. “Di sana. Tetapi, otaknya mungkin sedikit bermasalah,” ucap Cui Kong.
“Sembarangan! Dia masih waras!”
Baili Qingchen merapikan bajunya yang sudah compang-camping dan kotor. Dia dipapah keluar dari gua. Rasa ngilu dari luka di dadanya terasa sampai membuatnya berhenti beberapa saat, mengaduh sebentar lalu kembali berjalan. Di depannya, Qingyi masih berdiri menghadap jalan, menggumamkan hal yang sama dengan perkataan tadi.
Baili Qingchen menepuk pundak istrinya pelan, membuat gadis itu berbalik dan menatapnya. Kosong, linglung. Baili Qingchen tidak tahu sebab Qingyi terlihat mengerikan seperti ini. Dia seperti melihat orang gila yang baru sembuh dari kegilaannya, atau orang normal yang baru menunjukkan gejala kegilaannya.
“Kau Raja Changle? Kau suamiku?” tanya Qingyi.
Wajah bodohnya tampak. Baili Qingchen mengangguk.
“Oh. Semalam hanyalah mimpi, aku terlalu lelah dan berhalusinasi.”
Semalam? Baili Qingchen lantas teringat akan malam tadi. Obrolan malam yang panjang yang terjadi semalam telah membawa mereka ke suatu momen yang tidak bisa diekspresikan dengan kata.
Qingyi sebetulnya tidak menjadi bodoh. Dia sedang berusaha mengendalikan dirinya dan mendoktrin bahwa yang semalam itu hanyalah sebuah mimpi. Dia dan Baili Qingchen sedang sama-sama terluka, pikiran mereka kacau hingga beberapa situasi yang tidak diinginkan mungkin terjadi.
Saat bangun lalu mendapati dirinya ada di pelukan Baili Qingchen, kepala Qingyi seperti dipukul benda yang keras sampai akal sehatnya tidak berfungsi. Dia mencubit diri sendiri dan mencoba untuk melupakan kejadian semalam. Ia menganggapnya sebagai mimpi, dan itu seharusnya tidak dibahas lagi.
“Bawa Putri Permaisuri terlebih dahulu,” ucap Baili Qingchen.
“Tapi, Yang Mulia, kau terluka parah!”
“Apa kau tidak melihat dia seperti orang linglung? Kondisinya lebih parah dariku!”
Saat Qingyi mendengar itu, dia langsung menendang kaki Baili Qingchen. Dia masih waras, tadi itu hanya sebuah reaksi agar dia bisa melupakan kejadian itu.
Tendangan Qingyi mengenai tulang kering Baili Qingchen, dan rasanya sangat sakit. Cui Kong sampai harus menahan tangan Baili Qingchen agar pria itu tidak jatuh karena kehilangan keseimbangan.
Dari kejauhan, Xiao Qi berlari bersama beberapa pengawal. Saat sampai, dia langsung berlutut memohon ampun karena teledor dan tidak menjaga Baili Qingchen dengan baik. Dirinya juga minta dihukum karena bodoh dan termakan jebakan Tabib Shen. Baili Qingchen berkata dengan tenang dan menyuruhnya untuk berdiri.
“Yang Mulia, Tabib Shen ditemukan tergantung di atas pohon,” tutur Xiao Qi setelah ia berdiri dengan benar.
“Bunuh diri?” tanya Baili Qingchen. Xiao Qi menggeleng.
“Lebih tepatnya, dia terjebak dalam keranjang tali.”
__ADS_1
Senyum Qingyi terbit dan beberapa saat kemudian tawanya meledak. Itu mengejutkan semua orang. Mereka berpikir Putri Permaisuri sudah kehilangan akal, namun Baili Qingchen justru mencium sesuatu yang lain. Nuraninya mengatakan kalau istrinya itu pasti berulah sebelum membantunya kemarin. Jika tidak, dia tidak mungkin tertawa tiba-tiba.
“Buruanku sudah tertangkap?” tanya Qingyi.
Tanpa menunggu jawaban, dia langsung berlari, bergegeas menuju tempat Tabib Shen terjebak. Di belakangnya, Baili Qingchen dan Cui Kong mengejar, berusaha menyusulnya.
“Apa yang membuat Yang Mulia Putri begitu bersemangat?” Xiao Qi bertanya dengan heran.
Cui Kong memberinya jawaban dengan sebuah timpukan kecil di pundak Xiao Qi, berharap kebodohan kepala pengawal itu bisa hilang.
Di area hutan, Tabib Shen yang diburu oleh kekaisaran terjebak di dalam anyaman tali kain. Dia menggantung di udara, di bawah sebuah pohon tinggi. Orang itu bergerak untuk melepaskan diri, namun sia-sia karena tenaganya hampir tidak bersisa. Qingyi tertawa terbahak-bahak saat melihat orang yang diburunya masuk perangkap.
“Kau pikir hanya kau yang bisa menjebak orang?”
Pasukan pengawal dan Xiao Qi seketika sadar bahwa ini semua adalah jebakan Putri Permaisuri Changle. Wanita itu sengaja membuat sebuah jebakan untuk memerangkap Tabib Shen. Dia seperti telah mengetahui jika Tabib Shen punya dukungan yang kuat yang akan menyelamatkan nyawanya.
Qingyi bukan orang yang berpikir skeptis. Orang seperti Tabib Shen, yang bisa bersembunyi dengan baik dan kabur dengan mudah tentu memiliki latar belakang pendukung yang tidak biasa.
Tuannya di istana pasti telah mengatur rencana untuknya. Karena itulah, Qingyi memasang jebakan dan mengacaukan rencana yang telah diatur. Tidak disangka orangnya terperangkap dengan mudah.
Para pengawal lantas menurunkan Tabib Shen dan langsung dikawal dengan ketat. Kakinya yang kemarin terkena sabetan pedang Baili Qingchen sudah diperban dengan kain kasa putih. Walau jalannya pincang, namun Qingyi akui jika Tabib Shen punya stamina yang kuat. Dia telah kehilangan banyak darah, namun masih bisa berdiri.
“Katakan! Di mana resepnya?” todong Qingyi.
Mulut Tabib Shen terkunci rapat. Baili Qingchen membantu menginterogasi, namun malah sebuah ludahan yang ia terima. Cui Kong langsung menodongkan pedang ke lehernya karena Tabib Shen telah berani bertindak kurang ajar dan tidak sopan dengan meludahi Raja Changle. Qingyi mengeluarkan buah umeboshi dari balik bajunya, kemudian menyumpal mulut Tabib Shen dengan buah tersebut.
“Mulutmu ini seharusnya dijahit dan lidahmu dipotong!”
Mata Tabib Shen membelalak karena rasa dari buah yang disumpalkan ke mulutnya sangat asam. Rasanya ia seperti berkumur dengan cuka. Qingyi menatapnya tajam, lalu menyuruh pengawal membawa Tabib Shen ke kota kekaisaran untuk ditindak. Xiao Qi memimpin pengawalan secara langsung.
“Lepas pakaianmu!” titah Qingyi pada Cui Kong.
“Ah?”
“Kubilang lepas pakaianmu!”
Cui Kong ragu, dia menatap Baili Qingchen untuk memohon bantuan. Sayangnya, tuannya tidak berniat membantunya. Dia malah menyuruhnya untuk mengikuti perintah Qingyi.
Cui Kong terpaksa melepas pakaian atasnya, kemudian memberikannya pada Qingyi. Setelah itu, Qingyi menyodorkan pakaian tersebut kepada Baili Qingchen.
“Pakai dan kembalilah dengan bermartabat! Pakaian seorang Raja tidak boleh dikotori seorang penjahat seperti tabib sialan itu!”
Senyum Baili Qingchen terbit. Tangannya terulur menerima pakaian tersebut, kemudian ia melepas pakaian atasnya dan menggantinya dengan pakaian Cui Kong. Sekarang penampilannya jauh lebih baik. Qingyi mengangguk kecil, kemudian berbalik dan berjalan pergi.
“Yang Mulia Putri, lalu bagaimana denganku? Apa aku harus kembali dengan setengah telanjang seperti ini?” teriak Cui Kong. Dari kejauhan, Qingyi menjawabnya dengan teriakan yang tidak kalah keras.
“Pikirkan caranya sendiri!”
Cui Kong merengut.
__ADS_1
“Yang Mulia, lihat! Yang Mulia Putri begitu kejam!”
Baili Qingchen hanya tersenyum, kemudian bergegas menyusul Qingyi.