Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 64: Mahakarya Putri Permaisuri


__ADS_3

Saat mansion Raja Changle sudah betul-betul sunyi, Baili Qingchen kembali pergi ke halaman barat. Siapa tahu, permaisurinya sudah meredakan kemarahan dan mau membukakan pintu. Dia akan langsung menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewat. Ia akui, ia memang bersalah.


Kakinya melangkah teratur memijaki pekarangan depan gerbang halaman barat. Lampu-lampu lentera yang tergantung hanya cukup untuk menerangi tanah pijakan, dan sebagian besar kawasan itu gelap gulita. Baili Qingchen berhenti sejenak, meneliti keadaan sekeliling yang begitu sunyi.


Ah, kenapa dia baru sadar kalau jalan menuju pekarangan barat tidak cukup terang?


Besok, dia akan meminta pelayan memasangkan lebih banyak lentera. Baili Qingchen tidak mau Qingyi terjatuh ketika berjalan di malam hari.


Ia tahu, Qingyi tidak selalu tidur di kediamannya, melainkan sering keluyuran ketika orang-orang sudah tidur. Walau Baili Qingchen tidak tahu mengapa, tetapi dia tidak akan mengungkitknya.


Beberapa saat kemudian, dia tiba di depan gerbang. Diketuknya perlahan pintu yang tertutup itu. Dia juga mendorongnya dengan tenaga, namun sia-sia karena pintu itu masih dikunci dari dalam.


Baili Qingchen mundur ke samping, lalu melihat-lihat ke atas tembok yang memagari kediaman barat. Ada banyak tumbuhan merambat yang entah tumbuh sejak kapan.


Baili Qingchen memusatkan tenaga, kemudian melompat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dia berhasil mendarat di taman kediaman Qingyi tanpa menyentuh tanaman beracun itu.


Tanpa sadar dia menoleh ke pintu gerbang, dan sedikit mengernyitkan dahi kala tahu jika Qingyi terlah memaku gerbang itu dengan kayu.


“Benar-benar tidak terduga,” gumamnya.


Lentera dan lilin di kediaman itu memang menyala, namun Baili Qingchen sama sekali tidak dapat menemukan Qingyi di mana-mana. Dia sudah mencarinya ke semua sudut bangunan, tetapi orangnya tidak ada.


Pakaian dan ranjang juga sangat rapi, menandakan bahwa pemiliknya sama sekali tidak menyentuhnya.


Baili Qingchen berdiri di depan ranjang tidur Qingyi, memunggungi pintu. Sunyi, sama sekali tidak ada suara apapun.


Itu sebabnya telinganya jadi lebih sensitif dan lebih tajam dalam mendengarkan. Ini sudah tengah malam, ke mana istrinya itu pergi? Baili Qingchen sedikit khawatir karena Qingyi pergi dengan kemarahan yang membawa.


Dia tidak mungkin kabur, kan?


Tidak, tidak. Baili Qingchen membuang jauh-jauh pikiran itu. Sungguh tidak disangka, seorang Raja Changle sepertinya ternyata juga bisa berpikir berlebihan. Ini semua gara-gara Qingyi.


Dulu Baili Qingchen tidak pernah punya pemikiran buruk dan belum pernah merasa gelisah hanya karena dirinya membuat marah seseorang.


Sebuah suara, mirip seperti seseorang yang baru saja melompat dari tempat yang tinggi tertangkap indera pendengaran Baili Qingchen. Kemudian, suara gerutuan wanita yang sangat ia kenal datang menyusul.


Tahu jika Qingyi sudah kembali dan pasti masih marah, Baili Qingchen langsung berbaring di ranjang Qingyi dan berpura-pura tidur.

__ADS_1


“Astaga! Kenapa orang ini ada di sini?” ucap Qingyi setengah terkejut.


Dia baru saja selesai menggerutu karena Yinghao malah menghilang saat dirinya mengembalikan Wang Yiyuan ke penjara.


Tubuhnya sudah lelah, tapi ketika ia pulang justru malah melihat orang yang membuatnya ingin meracuni tidur di ranjangnya. Qingyi jadi kesal lagi, terutama setelah melihat wajah tenang Baili Qingchen.


“Ck…Apa orang ini tidak punya kasur di kamarnya? Bisa-bisanya merebut tempat tidurku saat aku tidak ada!” gerutunya.


Baili Qingchen, dalam hatinya, tidak bisa menahan senyum. Dia berusaha tetap diam seperti orang yang tidur sungguhan.


Qingyi ingin langsung menendangnya dari tempat tidur dan menggulingkannya ke lantai. Lumayan, rasa sakitnya bisa bertahan sampai dua hari jika dia menggunakan seluruh tenaga dalamnya. Namun, Qingyi tiba-tiba memiliki ide lain yang kebetulan jauh lebih menyenangkan daripada sekadar menendang dan mengusirnya keluar.


“Baik, karena kau begitu tampan, aku akan membuat seluruh wanita di Bingyue tergila-gila padamu. Tidak, bukan hanya wanita, tapi juga para pria. Kau sudah membuatku marah, jadi, kuberikan kau kesempatan untuk menghiburku,” ujar Qingyi. Senyum liciknya terbit.


Apa yang akan dia lakukan, tanya Baili Qingchen dalam hati.


Qingyi mengeluarkan kotak rias edisi premium terbaru dari ruang dimensi. Ini adalah hadiah dari sistem, kebetulan dia belum menggunakannya. Qingyi mulai merias wajah Baili Qingchen. Dia membersihkannya terlebih dahulu menggunakan micellar water, mengusapnya dengan kapas dan gerakan perlahan.


"Kulitmu ternyata sama halusnya dengan wanita,” ucap Qingyi saat jarinya tak sengaja menyentuh kulit wajah Baili Qingchen.


Kemudian, dia memakaikan pelembab, foundation, concellar, bedak, dan pemerah pipi. Tidak lupa, dia juga merias kelopak mata Baili Qingchen dengan eyeshadow berwarna peach, memadukannya dengan gliter. Ujung matanya dipakaikan eyeliner hitam, tipis dan rapi.


“Oh, lihat, dia lebih manis daripada kebanyakan gadis,” ujarnya setelah selesai merias.


Wajah Baili Qingchen yang semula sangat tampan, kini berubah menjadi wajah seorang wanita muda yang sangat cantik. Qingyi bahkan iri melihatnya.


Karena terlalu lelah, Qingyi mengurungkan niat untuk menendang Baili Qingchen dari ranjang. Dia menggeser tubuh itu hingga ke sisi ranjang yang paling dalam, lalu berbaring di sisi ranjang paling luar dengan jarak yang tidak terlalu jauh.


Qingyi membelakangi Baili Qingchen, sebelum menutup matanya, dia berujar pelan, “Lelah sekali.”


Saat Qingyi sudah tertidur lelap, Baili Qingchen membuka matanya. Kelopak matanya terasa berat dan kulit wajahnya seperti menebal.


Ia ingin melihat hasil karya istrinya, tapi letak cermin terlalu jauh dan ia malas bergerak. Yang pasti, wajahnya sekarang pasti sudah berubah jadi wajah seorang gadis.


Baili Qingchen lantas membetulkan posisi tidur Qingyi yang saat itu berbaring menyamping. Setengah bangun, dia menarik tubuhnya hingga telentang dan memakaikan selimut hingga ke dada.


Baili Qingchen menatap sejenak, lalu tangannya bergerak menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi kening Qingyi. Gadis itu terlihat sangat lelap, entah sedang mimpi apa.

__ADS_1


“Tidak baik tidur membelakangi suami,” ujar Baili Qingchen.


Ia kembali berbaring, tidak berniat pergi dan ikut memejamkan matanya.


Pagi harinya, Qingyi terusik saat merasakan tangannya seperti menyentuh sesuatu yang sangat keras. Pelan tapi pasti ia membuka matanya, dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah seorang gadis yang sangat cantik. Qingyi membelalakkan mata, seketika lupa ingatan dan tidak mengenali wajah itu.


“Astaga, hantu!”


Entah sejak kapan, dia dan Baili Qingchen bertukar tempat. Qingyi baru sadar kalau dia berada di sisi ranjang paling dalam dan Baili Qingchen ada di sisi paling luar.


Seingatnya, ia tidur di sisi paling luar. Lalu, dia juga sedikit meringis saat menyadari bahwa dirinya tengah memeluk Baili Qingchen dari samping, persis seperti terakhir kali saat mereka berada di Xizhou.


“Emhh…”


Lenguhan panjang Baili Qingchen membuat Qingyi waspada. Dia melihat mahakaryanya, lalu dalam beberapa detik kemudian, dia mendorong Baili Qingchen dari ranjangnya.


Terdengar suara mengaduh saat tubuh pria itu mendarat di lantai. Baili Qingchen langsung terbangun dan menatap Qingyi yang memasang ekspresi menyebalkan.


“Ppfftt…. Hahahaha!”


Qingyi tertawa tanpa dosa. Baili Qingchen menghela napas.


“Tidak bisakah kau bersikap sedikit lebih lembut, Putri Permaisuri?”


“Siapa suruh kau merebut ranjangku! Jelas-jelas kau punya ranjang yang lebih besar dan empuk, tetapi malah menindasku!”


Matahari baru saja terbit, tapi seseorang telah membuat Raja Changle kesal!


“Baili Qingchen, kuperingatkan kau. Jika kau menerobos dan merebut ranjangku lagi, aku akan melemparmu ke dalam kolam saat itu juga! Lihatlah wajahmu ini, begitu imut dan lucu. Sangat disayangkan jika harus berakhir di kolam ikan!”


Memang tidak pernah ada perkataan baik keluar dari mulut Putri Permaisuri Changle. Baili Qingchen menarik tangan Qingyi, menjatuhkan tubuh gadis itu di atas tubuhnya.


Sebelum Qingyi memberontak, dia dengan cepat mengunci tangannya dengan tangan kiri, sementara tangan kananya menekan tengkuk Qingyi, membungkam mulut tajam itu dengan mulutnya.


Sama seperti sebelumnya, Baili Qingchen mengigitnya sedikit selama beberapa detik sebelum dia melepasnya. Warna merah terang dari lipstik berpindah ke bibir Qingyi.


“Kalau begitu, nikmati baik-baik hasil karyamu ini sebelum kau melemparnya ke kolam, Putri Permaisuri,” bisik Baili Qingchen di telinga Qingyi. Dia meniup telinga Qingyi dengan pelan, membuat Qingyi bergidik dan bulu kuduknya bergidik.

__ADS_1


“Baili Qingchen brengsek! Aku akan merobek mulutmu yang kurang ajar itu!


Sementara itu, Baili Qingchen sudah keluar dari halaman barat dengan riasan hasil karya Putri Permaisuri yang masih menempel di wajahnya.


__ADS_2