Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 90: Meminta Bantuan


__ADS_3

“Yinghao, ketiga selir centil itu pasti sudah mulai menabuh genderang dan mulai berperang, bukan?”


“Apa kau tertarik mencampuri perang internal di harem orang yang kau benci?”


Qingyi menggeleng. Sebelum bicara lebih banyak, dia terlebih dahulu menyuapkan camilan ke dalam mulutnya dan mengunyahnya sampai lembut.


Dia juga menenggak minuman bersodanya, membiarkan cairan itu meluncur ke tenggorokannya. Yinghao mendelik, menatap sengit pada tuannya.


“Bukan mencampuri. Aku hanya ingin menambah bara api baru. Tidak seru jika apinya terlalu kecil.”


Mulai lagi, pikir Yinghao. Tuannya mulai kembali bertingkah menyebalkan. Aneh, kenapa dia begitu suka melibatkan dan menyusahkan diri sendiri? Urusan pengobatan saja belum selesai, tapi tuannya ini justru malah ingin menambah masalah baru!


“Tidak. Tuan, jangan melibatkan diri dalam urusan mereka,” ujar Yinghao.


“Siapa bilang aku melibatkan diri? Aku hanya akan menjadi perantara yang menyulut api agar lebih besar. Api untuk pertunjukkan itu tidak boleh kecil!”


Percuma saja, Qingyi tidak akan bisa dibujuk dengan cara apapun. Sekali membuat keputusan, maka dia akan menjalaninya tanpa menoleh kembali ke belakang.


Baili Qingchen saja tidak mampu menahannya. Di dunia ini, jika Dewa Perang Bingyue tidak bisa menghadapi seorang Liu Qingyi, lantas siapa lagi yang bisa?


Ada senyuman aneh terukir di bibir yang menjadi tempat favorit Baili Qingchen itu. Qingyi berpikir bahwa pertunjukkan tidak boleh tanpa intrik.


Biarpun ketiga selir itu bersekutu, akan tetapi ia yakin saat ini mereka telah saling bermusuhan. Segala sesuatu yang menyangkut kasih sayang kaisar selalu tidak bisa ditoleransi.


“Yang Mulia, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Yang Mulia,” lapor pelayan.


“Siapa?”


“Baoning, pelayan dari Selir Jia.”


Dahi Qingyi mengernyit. Untuk apa dia datang kemari?


Qingyi masih ingat bagaimana Selir Jia ikut memprovokasinya dan mencoba menjatuhkannya. Tiba-tiba saja Qingyi tertawa. Sungguh tidak disangka, orang yang beberapa hari lalu memusuhinya denganbsengit tiba-tiba datang mengutus pelayan.


Apa Selir Jia sedang ingin meminta bantuan kepadanya?


“Katakan bahwa aku tidak ingin menemuinya.”


Pelayan tersebut ragu. Setiap kali Putri Permaisuri Changle seperti ini, maka tidak akan ada hal baik yang terjadi.


Dia menatap Qingyi dengan takut, namun gadis itu justru mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga mekar di taman kediaman. Qingyi sama sekali tidak peduli dengan pelayan Selir Jia atau pelayan selir manapun.


“Tapi, dia bilang dia mempunyai sesuatu yang ingin diberitahukan kepada Yang Mulia.”


“Sudah kubilang, aku tidak ingin menemuinya. Apa kau tuli?”


Dia ingin tahu seberapa gigih pelayan bernama Baoning itu. Jika betul-betul ingin bertemu dengannya, Baoning harus berkorban sedikit.


Qingyi bukan orang yang bisa ditemui sesuka hati. Dengan statusnya saat ini, selain terpandang di mata Janda Permaisuri Ming, dia juga Putri Permaisuri Changle yang menjadi ikon mansion Raja Changle. Kehormatan menemuinya tidak datang semudah itu.

__ADS_1


Si pelayan ketakutan dan pergi untuk menyampaikan pesan. Baoning yang telah menunggu di depan gerbang menjadi kesal, lalu meminta pelayan itu bertanya kembali kepada Putri Permaisuri Changle.


Hal ini sangat mendesak, dan tuannya telah menyuruhnya menemui sang putri bagaimanapun caranya.


“Nona Baoning, Yang Mulia Putri sedang tidak ingin bertemu siapapun. Kembalilah lain kali,” ucap pelayan mansion. Namun, Baoning tidak akan menyerah.


Dia yakin, Putri Permaisuri Changle masih punya hati dan mau menemuinya. Hanya saja ia harus menunggu tidak peduli seberapa lama pun itu.


Baoning terus berdiri di gerban bdan berkali-kali meminta pelayan untuk menyampaikan pesan. Dia bahkan sampai memohon dengan berlutut.


Kepala pengurus yang kebetulan lewat merasa iba. Sepertinya Baoning datang di waktu yang salah. Putri Permaisuri Changle sedang dalam suasana hati yang tidak baik karena pagi tadi, Pangeran Kecil alias Xiao Junjie membuatnya marah akibat keberadaan sepasang angsa yang dibawa dari istana.


“Nona Baoning, datanglah esok hari. Yang Mulia Putri benar-benar tidak bisa ditemui hari ini,” ucap kepala pengurus, berharap Baoning segera pergi dari mansion dan tidak memohon lagi.


Melihat bahwa kepala pengurus mansion sampai turun tangan, Baoning menjadi yakin bahwa Putri Permaisuri Changle betul-betul tidak ingin ditemui.


Kalau begitu, dia menyerah hari ini. Baoning tidak ingin datang dengan sia-sia, dia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada kepala pengurus dan memintanya untuk menyerahkan kotak itu kepada Putri Permaisuri Changle. Setelah itu, barulah ia kembali ke istana.


“Racun dingin. Liu Erniang benar-benar tidak sabar rupanya,” decak Qingyi saat kepala pengurus menyerahkan kotak kecil itu kepadanya.


“Dia menginginkan kendali. Itu sebabnya dia membuang kedua sekutunya,” suara pria, dan ketika Qingyi menoleh, Baili Qingchen sudah ada di sisinya.


“Menurutmu, apa dia akan berhasil?” tanya Baili Qingchen. Qingyi tentu saja menggeleng. Dia berkata dengan remeh, “Adikku bermimpi menjadi phoenix. Tapi, dia lupa bahwa burung elang lebih ganas dari burung apapun.”


Sebutan burung elang itu tentu saja merujuk kepada dirinya sendiri. Baili Qingchen sudah mengerti itu, dan dia masih mengingat jelas bagaimana Qingyi mematuk ular berbisa seperti Su Wan’er ketika di Xizhou. Aneh, jelas-jelas Liu Erniang juga pernah dipatuk dan ditendang sampai jatuh, tetapi malah tidak jerabsama sekali.


Liu Erniang ternyata cukup berkemampuan juga. Adik ipar sekaligus keponakan iparnya itu mampu membeli racun seperti ini dan begitu berani memberikannya secara terang-terangan.


Kedatangan Baoning jelas bukan untuk sekadar menyerahkan ini. Baili Qingchen dapat mengetahui dengan jelas bahwa Selir Jia sekarang berada di jalan buntu.


Karena itulah dia merendahkan diri dan membuang rasa malunya dengan datang ke mansion ini. Permintaan bantuannya sungguh unik.


“Jangan terlibat. Biarkan Kaisar yang menyelesaikan mereka bertiga,” peringat Baili Qingchen. Dari gelagat Qingyi, gadis itu pasti ingin mengacau lagi.


“Aih, aku justru khawatir keponakanmu itu tidak bisa menyelesaikannya.”


Pria itu menghela napas mendengar keluhan istrinya yang tidak pernah berhenti mengejek dan mengolok-olok Kaisar Baili. Ia heran mengapa Qingyi begitu membenci keponakannya.


Seingatnya, Kaisar Baili hanya mencoba menjebaknya karena Qingyi


duluan yang mencari masalah. Siapa sangka dendam itu ternyata mengakar begitu dalam.


“Lalu apa rencanamu?” tanya Baili Qingchen.


“Aku tidak punya rencana. Bukankah kau bilang aku tidak boleh terlibat? Yah, kecuali jika kau mengizinkanku,” jawab gadis itu.


Tatapan Baili Qingchen menjadi tajam dan wajahnya jadi suram. Ada kemarahan menggelora dalam dadanya yang bidang. Qingyi segera menutup mulutnya, menyadari jika Baili Qingchen sangat tidak suka jika dirinya melibatkan diri dalam pertarungan harem Kaisar Baili.


Qingyi bukan takut, ia hanya tidak ingin lebih repot lagi. Untuk saat ini, dia harus menjaga agar Baili Qingchen tetap dalam emosi yang stabil. Pria misterius itu sangat mengerikan jika marah.

__ADS_1


Qingyi sudah bosan terus menerus bertentangan dengan Xiao Junjie, karena setiap kali Baili Qingchen tidak senang, Xiao Junjie pasti mendatanginya dan bertengkar dengannya.


“Jangan pernah terlibat. Jangan biarkan aku mengulangi perkataanku untuk yang ketiga kalinya, Putri Permaisuri,” tegas Baili Qingchen.


“Terserah.”


Suasana hati Qingyi jadi buruk. Mengapa setiap kali ia berhadapan dengan Baili Qingchen, dia tetap tidak bisa menandingi keagungannya?


Tidak peduli seberapa keras ia mencoba melawan dengan gayanya, Qingyi masih belum bisa menyamai kharisma Baili Qingchen, terutama ketika pria itu menegaskan sesuatu.


Ah, apa ini karena dia adalah protagonis utama?


Tapi, ini tidak adil! Jelas-jelas di sini Qingyi yang memegang kendali!


Gadis itu mengalihkan pandangan, menghindari kontak mata dengan pria itu. Emosinya meledak-ledak padahal ia tidak melakukan apapun.


Saat ini, keinginan terbesarnya adalah mengusir Baili Qingchen pergi dari taman kediamannya. Keberadaannya hanya membuat Qingyi marah saja.


“Mengapa kau masih belum pergi?” tanya gadis itu.


“Tabib Shen tetap menutup mulut dan enggan memberitahu di bawah perintah siapa dia bertindak,” jawab Baili Qingchen.


Itu mungkin salah satu alasan yang bisa membuatnya tetap berada di kediaman Qingyi.


Mengingat nama itu, ekspresi Qingyi tiba-tiba berubah. Ada pertunjukkan menarik lagi!


Dia menatap Baili Qingchen dengan serius, meminta pria itu menjelaskan situasinya secara rinci. Sebelum mulai bicara, Baili Qingchen terlebih dulu menarik napasnya. Dia kemudian menyuruh pelayan pergi dan memberikan ruang untuk bicara berdua dengan Qingyi.


“Menarik. Tabib sialan itu tidak akan buka mulut sampai mati, kecuali jika kita menghadirkan seseorang untuk menggoyahkannya,” ujar Qingyi.


“Dia yatim piatu.”


“Tidak masalah. Aku akan mencobanya nanti.”


“Kau yakin?”


Qingyi mengangguk. Akalnya tidak sependek itu dan otaknya tidak sesempit itu. Qingyi tidak pernah kehabisan cara.


Mengatasi Tabib Shen adalah hal yang mudah. Ia hanya perlu mencari bumbu penyedap agar pertunjukkan Tabib Shen bisa lebih menarik dan di luar ekspektasinya.


Baili Qingchen yang percaya pada Putri Permaisurinya kemudian menyerahkan sebuah token masuk. Benda itu bisa membuat Qingyi memasuki penjara Pengadilan Tinggi Kekaisaran dengan mudah.


Walaupun Qingyi bisa masuk tanpa benda itu, tapi menurutnya, ini akan jadi lebih mudah. Dia tidak akan khawatir ketahuan dan para penjaga akan memberikannya ruang yang lebih bebas.


“Oke.”


“Berhati-hatilah. Aku akan menangani masalah lain yang harus diselesaikan.”


Qingyi hanya mengangguk ringan.

__ADS_1


__ADS_2