
Baili Qingchen pulang dalam keadaan mabuk. Ketika pria itu selesai berbincang dengan ibunya, dia pergi ke tempat Luo Niang dan mengambil beberapa kendi anggur.
Luo Niang sampai mengusirnya karena Baili Qingchen terus merampok anggur miliknya. Dia berteriak memanggil Cui Kong dan memintanya mengantarkan kembali Raja Changle ke mansionnya.
Mansion Raja Changle sudah sepi kala itu. Lampu-lampu taman yang dipasang untuk menerangi jalan bergoyang ditiup angin. Pelayan sudah beristirahat, kediaman begitu sepi.
Cui Kong memapah Baili Qingchen dengan susah payah karena majikannya itu terus-terusan bergerak dalam keadaan mabuknya.
Biasanya, Xiao Junjie akan menyambutnya di depan pintu dan membawanya beristirahat. Namun, karena sekarang dia sedang dihukum, pria itu tetap berada di kediamannya di halaman utara.
Mungkin saja Xiao Junjie tidak tahu kalau Baili Qingchen telah pergi ke istana dan pulang dalam keadaan mabuk.
“Yang Mulia, di mana kau ingin beristirahat?” tanya Cui Kong.
Baili Qingchen cegukkan, suaranya tersendat. Dia bilang, “Di tempat yang bisa membuatku tidur nyenyak.”
Langsung saja pengawal itu membawanya menuju halaman barat. Sesampainya di sana, lilin-lilin beraroma wangi yang dipasang menggunakan sebuah benda mirip labu terpasang di sekitar taman yang biasa digunakan oleh Qingyi untuk bersantai.
Lilin-lilin itu membentuk lingkaran, mengelilingi seputar taman. Di tengahnya, Qingyi sedang berbaring di kursi malasnya sambil menatap bintang-bintang.
“Yang Mulia, apa kau sedang ingin mengutuk seseorang?” tanya Cui Kong.
Qingyi lalu menoleh dan melihat Baili Qingchen sedang dipapah.
“Ya. Aku sedang ingin mengutuk majikanmu agar tidak selalu mengangguku,” jawabnya sembari menatap kesal Baili Qingchen.
“Sayangnya, malam ini tuanku ini harus kembali merepotkanmu lagi, Yang Mulia.”
Lalu, Cui Kong mendudukkan Baili Qingchen di pinggir taman. Qingyi hendak menolak, namun pengawal itu sudah lari terlebih dahulu.
Karena tidak kuat dengan efek anggur, Baili Qingchen sampai tidak mampu berdiri. Dia tergeletak seperti pengemis jalanan yang kehilangan uangnya setelah dipukuli.
Lenguhan pria itu terdengar beberapa kali. Matanya terpejam, namun sesekali terbuka untuk melihat situasi secara sekilas. Qingyi menghela napas, lalu menghampiri suaminya yang sedang mabuk. Aih, dia jadi kesal sekarang.
Qingyi tidak menyangka pria ini akan semabuk ini. Ia pikir, setelah larangan itu, suaminya akan mulai mengurangi konsumsi anggur. Sayangnya Luo Niang malah memberinya akses.
“Sebenarnya berapa banyak yang kau minum?”
Qingyi mencoba untuk memapah Baili Qingchen ke bagian tengah taman. Baili Qingchen mendongak, matanya yang sayu memicing menatap orang yang berbicara kepadanya. Wajah pria itu sudah merah. Bau anggur yang menyengat menguar, membuat Qingyi seketika menutup hidungnya.
“Hanya… Dua botol,” ujar Baili Qingchen. Jarinya membentuk angka lima.
“Kurasa kau harus disiram agar kau bisa sadar.”
__ADS_1
Baili Qingchen menggeleng. Dia merangkul Qingyi.
“Kau tahu? Anggur istana adalah yang terbaik. A-Luo sengaja menyimpannya untukku.”
Luo Niang! Qingyi pasti akan menghitungnya karena telah berani bekerja sama dengan Baili Qingchen!
“Meskipun kau sakit hati, tidak seharusnya kau melampiaskannya seperti ini,” ucap Qingyi.
Dia mengerti alasan mengapa Baili Qingchen sampai seperti ini. Pelaku itu – Janda Selir Sun, adalah ibu kandungnya sendiri. Qingyi telah lama tahu jika mertuanya tidaklah sederhana.
Hanya saja, ia memilih diam dan berpura-pura tidak tahu. Siapa sangka jika perbuatannya akan terkuak begitu saja.
Baili Qingchen pasti dilanda kebimbangan, ketika dia pada akhirnya harus memutuskan untuk menghukum ibunya sendiri atau tidak. Ini keputusan yang sulit, Qingyi juga akan ikut bimbang jika dia dalam posisi yang sama dengan Baili Qingchen.
"Apa kau tahu alasan mengapa dia bisa begitu kejam?" tanya Baili Qingchen. Cegukannya sesekali menghambat suaranya.
"Karena dia seorang ibu."
"Ibu? Dia bahkan membunuh teman terbaik dari putranya sendiri. Katakan, apa begitu seharusnya seorang ibu bertindak?"
Pada saat itu, matanya menatap angkasa yang luas. Dalam setengah sadar, dia masih sempat iri kepada bintang. Lihatlah, mereka begitu bebas berkelap-kelip dan bersinar meskipun tidak setiap malam bisa menampakkan diri.
Baili Qingchen tidak bisa menutup sebelah mata. Sebagai Pengawas Negara sekaligus paman dari Kaisar Baili, tanggungjawabnya lebih dari sekadar menjadi raja dan mengawasi pemerintahan. Dia juga harus memberikan hukuman dan ganjaran dengan jelas.
Qingyi menatapnya dengan iba. Hatinya seperti digelitik. Pria ini, sejak menjadi suaminya, tidak pernah mengungkapkan perasaan dan tekanan dalam dirinya. Baili Qingchen tidak pernah menunjukkan ekspresi tertekan atau mengungkapkan gejolak batinnya. Dia, selalu menutup diri dengan ekspresi dinginnya.
"Menangislah jika kau ingin. Malam ini, tidak ada Raja Changle atau Pengawas Negara. Hanya ada Baili Qingchen."
"Tidak. Seorang pria tidak boleh menangis."
"Siapa bilang?"
Baili Qingchen mendongak kembali. Keningnya berkerut dan pipinya menggembung. Tiba-tiba saja dia bersikap seperti anak kecil berusia lima tahun. Pria itu menggenggam erat tangan Qingyi, tidak ingin melepasnya.
"Ayahanda dan Kakak Putra Mahkota yang mengajariku untuk tidak menangis. Kakak, kau siapa?"
"Aku? Aku adalah leluhurmu."
"Tapi, mengapa kau terlihat sangat muda? Apa kau adalah selir Kakak Putra Mahkota? Atau kau adalah selir baru Ayahanda?"
Dari tingkah dan perkataannya, Qingyi dapat menyimpulkan betapa menggemaskannya Baili Qingchen ketika kecil. Sewaktu ayah dan kakaknya masih ada, dia adalah mutiara yang berharga. Baili Qingchen tidak pernah diperlakukan dengan dingin.
Sebaliknya, dia mendapatkan banyak kasih sayang dari ayah dan kakaknya. Bahkan setelah mereka tiada, Baili Qingchen tetap mengenang kehangatan mereka sepanjang hidupnya. Itu pula salah satu alasan mengapa ia bertahan di kota kekaisaran.
__ADS_1
"Aku adalah istri masa depanmu," Qingyi menjawab sekenanya.
"Istri? Kalau begitu, bolehkah aku menciummu?"
Gadis itu membelalakan mata. Hei, apa maksudnya?
"Tidak. Anak kecil tidak boleh sembarang mencium orang," tolak Qingyi.
Enak saja, pikirnya. Qingyi merasa pria itu hanya pura-pura mabuk. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengatakan itu dengan mudah?
"Aku sudah besar. Lihat, badanku sudah sebesar ini. Ayahanda bilang tidak apa-apa jika mencium seorang istri."
"Kubilang tidak ya tidak. Menjauh dariku atau kau akan kutendang!"
Baili Qingchen merengut persis seperti anak kecil dilarang memakan permen. Pipi merahnya menggembung. Dia mengibaskan tangan Qingyi dan melepasnya dengan kasar.
"Istriku pelit!"
Lalu, Baili Qingchen berdiri. Dia berbalik dan berjalan satu langkah ke depan. Pada langkah yang kedua, dia kembali berbalik dan langsung melompat, menangkap tubuh Qingyi dan menekannya di pelataran taman yang terbuat dari kayu.
Tangannya mencekal pergelangan tangan Qingyi, mencegah gadis itu bergerak. Gerakan memberontak mulai bereaksi di tubuh Qingyi, dan gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri.
"Hei, lepaskan aku!"
Baili Qingchen menatapnya dan menyapu wajahnya dengan matanya yang hitam. Setiap inci dari wajah Qingyi dilihat dengan teliti, begitu lembut dan perlahan.
"Hmpphh..."
Baili Qingchen mendaratkan bibirnya di bibir Qingyi. Hanya sebuah kecupan yang sekilas, kemudian dia menjauhkan wajahnya sedikit. Matanya memandang penuh arti pada Qingyi.
"Permaisuriku harus dermawan," ucapnya.
"Kau!"
Baili Qingchen tidak membiarkan Qingyi melanjutkan perkataannya. Dia kembali mendaratkan bibirnya. Kali ini, dia memberikan sedikit tekanan dan gerakan yang perlahan.
Mata nyalang Qingyi perlahan berubah melembut. Sepertinya, dia tidak melawan lagi karena gerakannya mulai terhenti. Qingyi tanpa sadar membuka mulutnya, memberikan ruang kepada Baili Qingchen.
Merasa mendapat sambutan yang baik, Baili Qingchen bertamu lebih dalam. Itu berubah dari sekadar ciuman biasa menjadi adegan saling memagut. Seperti permen, rasanya manis.
Lenguhan kecil lolos dari pita suara mereka tanpa disadari. Tangan Qingyi masih ditahan Baili Qingchen, namun tubuhnya terasa seperti lilin yang meleleh. Qingyi seperti kehilangan akal seperti terakhir kali.
Bahkan, bintang-bintang pun tampaknya malu menyaksikan adegan yang tengah dilakoni oleh Raja dan Putri Permaisuri Changle. Di angkasa, mereka berkelap-kelip seperti jutaan mata yang sedang berkedip.
__ADS_1
Mereka sangat manis, namun juga begitu menyedihkan.
Itu berlangsung cukup lama, sampai mereka tidak menyadari bahwa seseorang yang sejak tadi berdiri di gerbang telah berbalik pergi, dengan tatapan tidak percaya dan rasa sakit yang kian mendera di dalam dada.