
Siang itu juga, Qingyi dan Baili Qingyan, serta Cui Kong masuk ke istana untuk melihat kebenarannya. Semua menteri sudah dibubarkan dan rapat pengadilan telah diselesaikan tanpa penyelesaian.
Di pelataran istana, Qingyi berpapasan dengan beberapa menteri yang membicarakan kejadian di dalam aula pengadilan tadi, yang menyebabkan Raja Changle ditahan.
“Kehendak apa yang dia tentang sampai harus ditahan?” tanya Qingyi.
Cui Kong hendak menjawabnya, namun Baili Qingyan terlebih dulu berkata, “Mungkin ini ada hubungannya dengan perkataanmu tadi.”
“Tunggu! Jangan bilang dia ditahan karena menentang keinginan Kaisar yang mau menikahkan Liu Erniang dengan Pangeran Ketiga?” tebak Qingyi.
Cui Kong mengangguk. Qingyi menahan amarahnya, tangannya terkepal sampai kuku-kukunya memutih. Tebakannya selalu benar dan tepat. Tapi, tidakkah waktunya begitu tidak pas?
Baili Qingchen baru saja sembuh, dan dia masih dalam masa pemulihan! Pria itu bisa benar-benar mati jika harus berdiam di dalam penjara!
Sipir penjara memberi izin pada Qingyi untuk masuk, dengan syarat bahwa ia harus masuk sendirian. Cui Kong dan Baili Qingyan terpaksa menunggunya di luar. Di dalam penjara yang sumpek dan pengap, juga bau, Qingyi dipandu menuju sel tempat Baili Qingchen ditahan.
Pria itu tampak sedang duduk di dipan beralas jerami sambil merenung. Tatapannya tenangnya langsung berubah saat Qingyi datang.
“Mengapa kau di sini?” tanya Baili Qingchen.
“Menyelamatkanmu,” jawab gadis itu.
“Kau ingin membobol penjara?”
“Jika memang harus, aku akan melakukannya.”
Baili Qingchen perlu menasihati istrinya sebelum gadis itu melakukan hal-hal di luar nalar. Dengan temperamennya itu, Qingyi pasti akan membobol penjara untuk melepaskannya. Kalau terjadi dan gagal, yang mendekam di sini tidak hanya dirinya seorang. Baili Qingchen menyiapkan kata-katanya terlebih dahulu.
“Dengarkan aku. Jangan berbuat gegabah. Pergi dari sini dan tetap berada di mansion,” perintah Baili Qingchen.
“Kaisar sialan! Beraninya dia memenjarakanmu! Aku akan menghajarnya!”
Gadis itu tidak mengindahkan perintah suaminya. Yang ada di matanya sekarang hanyalah kemarahan yang membara. Sipir penjara sampai bergidik melihat ekspresi Putri Permaisuri Changle. Menakutkan, juga begitu menyeramkan.
“Jangan mengacau! Kau bisa mati jika gegabah! Dengarkan aku,” sergah Baili Qingchen.
Dia meminta Qingyi mendekat padanya, lalu Baili Qingchen mulai membisikkan beberapa kata yang membuat Qingyi berkali-kali mengerutkan kening.
“Kau yakin?”
Baili Qingchen mengangguk.
“Kalau begitu, bertahanlah selama beberapa jam di sini."
Setelah mengatakannya, Qingyi meninggalkan penjara. Di luar, Baili Qingyan dan Cui Kong menunggu dengan setia, lalu langsung menerornya dengan beragam pertanyaan. Alih-alih menjawab, Qingyi justru menyuruh mereka diam jika ingin Baili Qingchen keluar lebih cepat.
Baili Qingyan bertanya-tanya cara apakah yang dimiliki kakak iparnya untuk membebaskan kakaknya. Yang jelas, pasti di luar dugaannya. Ia juga harus memikirkan dirinya sendiri, karena awal dari kejadian ini berkaitan dengannya. Nasib hidupnya juga dipertaruhkan. Jika bisa, dia harus pergi secepat mungkin.
__ADS_1
“Kongkong, beritahu Xiao Junjie untuk tetap diam dan jangan berbuat apapun.”
“Tapi, bagaimana dengan Yang Mulia Putri?”
“Turuti saja aku!” seru Qingyi.
“Lalu bagaimana denganku?” tanya Baili Qingyan.
Untuk Baili Qingyan, Qingyi menyuruhnya tetap diam di istananya sampai situasinya terkendali.
Mereka berpisah di dekat gerbang utama. Cui Kong kembali ke mansion, sementara Baili Qingyan ke istananya. Qingyi sendiri masih diam di tempatnya berdiri.
Tadi, Baili Qingchen menyuruhnya melakukan sesuatu untuk membebaskannya, tapi Qingyi ragu karena cara yang diberikan oleh pria itu terlalu ekstrim daripada membobol penjara. Selama lima menit, ia terus berdiri di sana. Setelah itu, ia membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju komplek Istana Harem.
Orang yang ingin ditemuinya adalah Janda Selir Sun. Mertuanya tampak sedang berdiri di taman kekaisaran, di pinggir kolam teratai yang airnya tenang. Ia menoleh saat Qingyi datang. Wajahnya tampak tenang, namun wajah tenang itu tidak bisa menipu Qingyi. Janda Selir Sun jelas-jelas sedang panik.
“Nyonya, bisakah kau memberitahuku keseluruhan ceritanya?” tanya Qingyi tanpa memberi salam terlebih dahulu.
“Putraku menentang keinginan Kaisar di hadapan semua orang. Kaisar marah dan menganggapnya tidak sopan. Itu sudah biasa terjadi pada para pangeran sepertinya.”
Janda Selir Sun seperti acuh tak acuh. Qingyi mengerti sekarang, ia menyesal telah datang kemari karena Janda Selir Sun ternyata tidak punya cara untuk membebaskan Baili Qingchen.
Tidak ingin membuang waktu, ia segera pergi dari tempat itu. Ia berputar ke istana Janda Permaisuri Ming untuk melihat kondisi, lalu berbalik kembali karena di sana tengah diadakan perjamuan kecil pada janda dari kaisar terdahulu.
Istana yang memuakkan itu sungguh membuat Qingyi ingin muntah. Sudah lama dirinya berputar-putar tapi malah tersesat. Untungnya ada seorang pelayan yang menunjukkan jalan kepadanya sampai ia bisa keluar dari sana. Meskipun hari sudah sore, semangatnya untuk membebaskan Baili Qingchen tidak pernah terbenam.
Sesampainya di mansion, dia disambut oleh berendelan pertanyaan Xiao Junjie. Pria itu seperti wanita yang suaminya direbut orang saja. Qingyi terlalu lelah untuk meladeninya, dan ia juga sudah kehabisan tenaga jika berdebat dengannya.
“Melelahkan!” keluh Qingyi. Yinghao melompat dari pundaknya lalu berubah wujud jadi manusia.
“Yinghao, kau kalah. Pertahankan wujud manusiamu dan jadilah pelayanku,” ucapnya saat ingat taruhan beberapa hari lalu.
Yinghao meskipun tidak terima, tapi juga tidak bisa menolak. Ia mengangguk dengan enggan.
“Kita beraksi malam ini!”
“Tuan, kau mau membobol penjara?”
“Tidak, itu terlalu merepotkan. Lebih baik langsung menemui inti masalahnya saja!”
Yinghao pasrah pada hal gila yang akan dilakukan oleh tuannya nanti. Qingyi berencana menyusup ke istana malam nanti. Tujuannya adalah ruang belajar Kaisar Baili.
Menurutnya, akhir-akhir ini Kaisar Baili sudah keterlaluan. Pria yang sama menyebalkannya dengan Xiao Junjie itu tampaknya sudah lupa dengan kesepakatannya pada Qingyi. Kalau begitu, biarkan dia mengingatkannya sekali lagi.
Setelah beristirahat beberapa jam dan makan malam, Qingyi diam-diam keluar dari mansion dan memasuki istana. Ruang belajar Kaisar Baili yang saat itu pernah didatangi kini ia datangi kembali.
Tata letak dan isinya masih sama, kecuali tumpukan laporan yang semakin hari semakin banyak. Lampu temaram dari lilin-lilin di dalam ruangan itu membuat suasana terasa damai dan elegan.
__ADS_1
Sama seperti sebelumnya, Kaisar Baili yang baru masuk sangat terkejut melihat Qingyi ada di sana. Firasat dan perasaannya tiba-tiba berubah tidak enak. Qingyi berbalik dan melemparkan senyum misteriusnya.
Bulu kuduk Kaisar Baili merinding. Tapi, penguasaan dirinya terlalu baik sampai ekspresinya tidak berubah. Ia balik menatap tajam Qingyi seperti elang yang hendak memangsa ular.
“Kau datang atas masalah penahanan Raja Changle?”
“Yang Mulia semakin hari semakin tanggap. Kau menebak dengan benar.”
Kaisar Baili menghela napas kasar dan duduk di kursi naganya. Gadis ini datang untuk mencari masalah dengannya. Mungkin juga dia datang untuk membalas dendam atas kejadian di perjamuan kecil tempo hari. Geram, tapi Kaisar Baili tidak bisa bertindak sembarangan pada gadis ini.
“Dia akan keluar setelah tiga hari,” ucap Kaisar Baili.
Qingyi menyeringai.
“Aku datang bukan untuk membujukmu. Yang Mulia, sepertinya kau lupa pada perkataanku tempo hari.”
Kaisar Baili tidak mau kalah atas intimidasi Qingyi. Seorang kaisar sepertinya tidak mungkin kalah dari seorang gadis. Dia menatap tajam Qingyi dengan sejuta pikiran yang sukar ditebak.
Suasana di dalam begitu sunyi karena keduanya bersitegang lewat tatapan mata setajam elang. Baik Qingyi atau Kaisar Baili, dua-duanya sedang berperang dingin.
“Cih, hanya Putri Permaisuri Changle saja, sudah berani mengajariku?”
“Aku sangat berhak mengajarimu bahkan tanpa status itu.”
Qingyi memegangi kuas tinta, lalu mencoretkan sebuah kata di kertas kosong. “Jingyi”, aksara itu terukir di sana dengan jelas. Hitam dan cukup besar. Kaisar Baili memandangnya, lantas melemparkan tatapannya kembali pada Qingyi.
Reaksi Kaisar Baili membuat Qingyi ingin tertawa terbahak-bahak. Marah, kesal, yang dicampur dengan rasa penasaran adalah ekspresi terbaik yang bisa ditampilkan oleh Kaisar Baili saat ini.
“Kavaleri Jingyi?” gumam Kaisar Baili.
Ekspresi garangnya semakin terlihat menakutkan jika dilihat oleh orang biasa. Tidak dengan Qingyi, karena dia sudah biasa menghadapi orang seperti itu. Selain itu, sosok di depannya hanyalah sebuah karakter.
“Yang Mulia, berpikirlah dengan baik. Tiga hari itu terlalu lama.”
Kaisar Baili mengepalkan tinjunya, menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya. Sialan, ia pikir pamannya itu sudah benar-benar kehilangan kuasanya atas militer. Nyatanya, masih ada yang tersisa dan itu merupakan sebuah misteri.
yahnya dulu pernah berkata bahwa Kavaleri Jingyi sangat kuat dan hanya bisa diperintah dengan plakat harimau emas. Karena begitu misterius, maka tidak satupun selain ayahnya yang tahu letak plakat harimau emas tersebut.
Haruskah ia mengalah kembali?
Sudah dua kali gadis itu datang padanya dan mengancamnya dengan cara yang berbeda. Kebencian Kaisar Baili kepada Raja Changle dan semua orang-orangnya kian bertambah besar.
Buku-buku jari yang memutih itu sudah hampir pecah pembuluh darahnya, dan wajah yang sangat tidak ramah itu sungguh sudah tidak enak dilihat.
Seringaian Qingyi yang menyeramkan mulai menyusut setelah ia menyelesaikan kata-katanya. Gadis itu sengaja menyenggol tumpukan laporan kenegaraan sampai jatuh.
Dengan tawa seperti gadis malu-malu, dia berkata, “Ups. Bukunya jatuh. Yang Mulia, jangan lupa menyuruh kasim untuk merapikannya kembali. Bibimu ini pamit dulu.”
__ADS_1
Kaisar Baili menggeram marah. Qingyi menghilang bak ditelan malam.
...****************...