
“Apa Kaisar Baili sudah gila?”
Qingyi tidak dapat mempercayai informasi yang baru saja disampaikan Cui Kong kepadanya. Pengawal itu berkata bahwa pagi ini, Kaisar Baili memecat semua tabib yang ada di Balai Pengobatan Istana karena marah. Baili Qingchen tinggal lebih lama di istana untuk mengurus hal tersebut.
“Yang Mulia, kecilkan suaramu. Bagaimana jika ada yang mendengar dan melaporkanmu?”
Alih-alih menurut, gadis itu malah semakin kesal. Di dunia ini, siapa yang ia takuti? Sekalipun itu Kaisar Baili, dia juga tidak akan takut. Qingyi tidak habis pikir dengan pemikiran sang kaisar.
Di saat seperti ini, dia hanya bisa memecat seluruh tabib istana untuk melampiaskan amarahnya? Bukankah itu sangat bodoh?
Seharusnya Kaisar Baili lebih bersabar dan menunggu hasil penyelidikan sampai ke akarnya. Memecat seluruh tabib istana hanya akan mendatangkan masalah lain. Kalau semua tabib istana pergi, maka tidak akan ada orang yang bisa mendiagnosis kondisi para selir setelah Tabib Shen ditangkap.
“Ambilkan tokenku dan ikut aku ke istana!” ucap Qingyi.
Di istana, para tabib berkumpul di depan Balai Pengobatan Istana. Mereka semua bertanya-tanya mengapa Kaisar Baili memecat mereka hari ini.
Seingatnya, tidak ada satu kesalahan pun yang mereka lakukan. Orang yang bersalah adalah Tabib Shen, dan orang yang telah menanggung akibatnya adalah Tabib Sheng. Mengapa mereka terkena imbasnya pula?
“Apa Yang Mulia Kaisar benar-benar memecat kita?” tanya salah seorang tabib yang bertugas di pusat pengobatan.
“Entahlah. Sebaiknya kita bertanya pada Raja Changle terlebih dahulu.”
Salah seorang tabib kemudian memberanikan diri untuk menghampiri Baili Qingchen yang tengah berdiri di hadapan mereka. Wajah tampannya dipenuhi ekspresi geram yang tertahan.
Tabib tersebut ingin mengurungkan niat, karena orang mulia di hadapannya ini adalah Dewa Perang Bingyue dan Pengawas Negara. Jika sampai salah berkata, dia bisa dipenjara.
“Kau ingin bertanya mengapa Kaisar memecat kalian semua?” tanya Baili Qingchen.
Tabib tersebut mengangguk dan menunggu jawaban dengan antusias.
“Kesalahan yang dilakukan oleh Tabib Shen sangat besar. Dia tidak hanya berencana mencelakai para selir, tetapi bekerja sama dengan Paviliun Litao untuk membunuhku.”
Para tabib tercengang. Paviliun Litao? Bukankah itu adalah organisasi pembunuh kejam yang bayarannya sangat tinggi?
Seorang tabib seperti Tabib Shen hanyalah tabib kecil dengan gaji standar. Dia tidak mungkin punya uang sebanyak itu untuk membayar pembunuh Paviliun Litao. Pasti ada yang salah dengan ini.
“Kaisar sangat marah, dan tidak ada seorang pun yang bisa membujuknya.”
Para tabib kemudian menarik kesimpulan bahwa mereka menjadi objek pelampiasan amarah sang kaisar. Meskipun tahu jika masuk istana adalah hal yang berbahaya, yang memiliki konsekuensi yang harus ditanggung sendiri, namun mereka tidak pernah mengira jika orang yang terseret dalam masalah ini begitu banyak.
Kalau begini, bukankah Balai Pengobatan Istana akan kosong dan tidak ada seorang pun yang bisa memeriksa kesehatan keluarga kekaisaran?
__ADS_1
“Yang Mulia, hamba ini memiliki pendapat. Meskipun Yang Mulia Kaisar sangat marah, tetapi menjadikan seluruh tabib istana sebagai pelampiasan bukanlah hal yang bijak. Harap Yang Mulia dapat membujuk Yang Mulia Kaisar untuk membatalkan perintah,” ucap seorang tabib senior.
“Lancang! Beraninya kalian mempertanyakan keputusan Kaisar!”
Pengawal istana siap menodongkan pedang. Semua tabib berkumpul di tengah membentuk kerumunan. Karena perkataan itu, pengawal berpikir jika para tabib ini sudah tidak menginginkan hidup mereka lagi. Mereka dengan beraninya menyuruh Raja Changle untuk membujuk Kaisar Baili!
“Apa gunanya kalian ribut di sini?”
Semua orang menoleh ketika suara seorang wanita menginterupsi ketegangan yang tengah terjadi di sana. Qingyi berjalan ke arah mereka dengan langkah cepat dan tegas.
Di belakangnya, Cui Kong mengekorinya sambil membawa sebuah koper berwarna putih yang di tengahnya terdapat tanda tambah berwarna merah.
“Mengapa kau kemari?” tanya Baili Qingchen. Dia khawatir Kaisar Baili semakin marah dengan kedatangannya.
“Menyelesaikan masalah. Alih-alih berdebat dan berkelahi, lebih baik kalian pergi dan periksa pasien kalian!”
Qingyi berbalik menghadap Baili Qingchen. Sebelum berkata, dia menarik napasnya terlebih dahulu. Tidak boleh marah, tidak boleh marah, pria ini tidak tahu banyak perihal masalah wanita.
Setelah sedikit tenang, kemudian Qingyi berkata, “Bawa mereka menemui wanita-wanita istana itu.”
“Yang Mulia Putri, itu tidak boleh! Memasuki Istana Harem tanpa izin adalah dosa dan akan dihukum! Kecuali dalam keadaan darurat, kita tidak diperbolehkan masuk ke sana,” seorang tabib lantas menyanggah.
“Bawa mereka masuk. Biar aku yang berbicara dengan Kaisar,” Baili Qingchen akhirnya menengahi.
Qingyi mengangguk, kemudian memimpin para tabib menuju Istana Harem, sementara Baili Qingchen pergi menemui Kaisar Baili.
Tiga puluh selir Kaisar Baili, termasuk Liu Erniang, semuanya diminta keluar dari istana mereka dan berkumpul di luar. Tiga puluh wajah yang berbeda menampilkan ekspresi yang sama.
Mereka bertanya-tanya mengapa mereka dikumpulkan di sini. Liu Erniang sangat tidak senang, lantas mencari kesempatan untuk mempermalukan kakaknya dengan memprovokasi para selir.
“Putri Permaisuri Changle, apa yang kau lakukan? Apa kau bisa memerintah kami sesuka hati hanya karena kau adalah permaisuri Raja Changle?”
Selir Jia dan Selir Sui bersemangat menambahkan kobaran api.
“Itu benar! Harem Kaisar bukan tempat yang bisa kau datangi sesuka hati!” tambah Selir Sui.
“Kau ingin mempermalukan kami?” Selir Jia menambahkan.
Qingyi tidak memedulikan itu. Dia menganggap perkataan Liu Erniang, Selir Jia dan Selir Sui sebagai kicauan burung yang tidak enak didengar. Ekspresi Qingyi berubah dingin ketika melihat raut wajah beberapa selir mulai tidak senang dan membicarakannya. Gadis itu tetap berdiri tegak, menatap mereka satu persatu.
“Jika kalian ingin selamat, diam dan tutup mulut kalian. Periksa mereka satu persatu!”
__ADS_1
Para tabib kemudian hendak memeriksa para selir, namun Liu Erniang kembali menolak dan berteriak, “Lancang! Beraninya kalian menyentuh kami!”
Pada saat itu, Janda Permaisuri Ming datang bersama pelayannya. Melihat selir-selir kaisar berkumpul bersama para tabib, dia mempercepat langkahnya. Semua selir langsung memberi salam hormat saat sang ibu suri datang.
Qingyi juga melihatnya, namun tidak ikut menunduk. Melihat itu, Janda Permaisuri Ming jadi semakin penasaran.
“Putri Permaisuri Changle, apa yang kau lakukan?” tanya Janda Permaisuri Ming.
Liu Erniang menggunakan kesempatan itu untuk kembali mencelakai Qingyi.
“Yang Mulia Ibu Suri, Putri Permaisuri Changle bertindak lancang dan ingin mempermalukan kami. Mohon Yang Mulia menyelidiki dengan jelas dan memberikan keadilan untuk kami,” ucapnya.
Janda Permaisuri Ming mengernyit, melambaikan tangan dan menyuruh Liu Erniang untuk diam.
“Apa yang dikatakan Selir Xian benar?” tanyanya. Barulah pada saat itu, Qingyi menunduk dan memberi hormat dengan sopan.
“Janda Permaisuri, aku datang karena tanggungjawabku. Aku membawa para tabib istana untuk memeriksa kondisi para Nyonya Selir. Anda pasti sudah tahu perihal masalah yang melibatkan Tabib Shen dan Istana Belakang. Penyelidikan masih berlanjut, dan aku hendak memastikan kondisi mereka dan mencoba untuk menemukan petunjuk. Namun, sepertinya ada orang yang mencoba untuk menghalangi. Atau mungkin, ada yang tidak ingin diperiksa karena takut kelicikan mereka diketahui.”
Raut wajah Liu Erniang seketika menegang. Dia mengutuk kakaknya yang sangat pandai berbicara. Janda Permaisuri Ming mengangguk, melepaskan kewaspadaannya.
Perkataan Putri Permaisuri Changle masuk akal. Yang harus dilakukan sekarang adalah memeriksa kondisi para selir dan memastikan apakah mereka masih memungkinkan untuk mendapatkan keturunan atau tidak.
“Biarkan Putri Permaisuri Changle melanjutkan pemeriksaan!”
Para tabib langsung menurut. Para selir juga berhenti melawan. Mereka begitu terkejut saat mendengar berita bahwa selama ini mereka telah diperdaya dan tubuh mereka telah diberikan ramuan yang membuat mereka sulit untuk hamil. Sekarang, nasib mereka bergantung pada hasil pemeriksaan para tabib.
Qingyi juga ikut memeriksa mereka. Dengan keahlian baru yang ia pelajari di ruang dimensi, dia juga dapat memeriksa kondisi tubuh orang seperti para tabib ajaib ini. Dia mengatakan mereka ajaib karena para tabib di zaman ini hebat, dapat mendiagnosis tubuh tanpa harus melakukan pemindaian dan pemeriksaan laboratorium.
Dua jam kemudian, pemeriksaan selesai. Hasilnya memang sesuai dengan dugaan. Dari tiga puluh selir, dari junior sampai senior, dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi, sembilan puluh persen dari mereka dalam kondisi tidak baik. Rahim mereka bermasalah dan tidak memungkinkan untuk hamil.
Selir-selir syok dan menangis. Jika mereka tidak bisa hamil dan memberikan keturunan, lalu untuk apa mereka tetap hidup dan tinggal di istana ini?
Hidup mereka akan menderita, dan ketika Kaisar meninggal nanti, mereka akan dikuburkan bersamanya. Pemikiran egois itu tertanam di benak mereka. Ternyata, selama bertahun-tahun, merekalah yang tidak berguna!
Qingyi menghela napas. Pada saat itu, Kaisar Baili dan Baili Qingchen datang untuk memeriksa. Ketika melihat ekspresi Qingyi, Baili Qingchen sudah tahu jika hasilnya sungguh tidak baik. Dia menghampiri istrinya, berkomunikasi lewat tatapan mata. Kaisar Baili menatap semua selirnya dengan khawatir.
“Bagaimana hasilnya?” tanyanya. Tabib paling senior kemudian maju.
“Yang Mulia, dua puluh tujuh selir berada dalam kondisi tidak baik. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengandung lagi.”
Wajah Kaisar Baili mengeras. Tangannya terkepal dan matanya memejam, amarahnya kembali terkumpul. Kaisar Baili menatap tabib dengan tatapan membunuh, yang membuat mereka langsung ketakutan. “Maksudmu, hanya ada tiga orang yang bisa memberiku keturunan?”
__ADS_1