Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 56: Bujuk Rayu


__ADS_3

Rencana Qingyi untuk tidak mencampuri urusan imigran gelap sepertinya harus diubah. Setelah dipikirkan matang-matang, ia akhinya menemui kesimpulan bahwa ia tetap akan turun tangan. Terlalu banyak masalah terjadi akhir-akhir ini.


Terlalu banyak orang yang menginginkan nyawa Baili Qingchen. Dia tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepadanya saat penyelidikan.


Apalagi, ini ada kaitannya dengan negara asing. Jika tidak berhati-hati, mungkin bisa memicu konflik dan peperangan.


Sama sekali tidak terbayangkan dalam benaknya jika harus menghadapi situasi perang yang nyata. Itu sama sekali tidak ada dalam naskah dan rencananya.


“Jadi, kau sudah memutuskannya, Tuan?” tanya Yinghao memastikan. Qingyi mengangguk.


“Ya. Lagipula belakangan tidak ada misi khusus darimu. Waktuku jadi lebih senggang.”


Yinghao hanya bisa membiarkannya. Apa kemauan tuannya, maka dituruti saja jika tidak ingin kena pukul.


Yinghao masih kesal karena Qingyi menyindirnya, tapi dia hanya perantara yang tidak boleh melakukan sesuatu yang merugikan tuannya. Dia duduk di kursi taman, menikmati kebebasan sesaat sebelum kembali dalam penyamaran.


“Hormat kepada Yang Mulia Putri,” ucap seseorang, yang kemudian diikuti oleh beberapa suara yang kompak. Qingyi yang sedang bersantai seketika bangun, lalu mengernyit.


“Kepala Pengurus, apa kau datang untuk menghancurkan taman kediamanku?” tanya Qingyi.


Dia melihat kepala pengurus membawa banyak wanita, dan semuanya memakai seragam yang sama!


“Yang Mulia Putri bercanda. Saya datang atas perintah Yang Mulia. Dia bilang, pilihlah beberapa pelayan baru untuk dijadikan pelayan pribadi. Gadis-gadis ini adalah gadis-gadis yang lolos seleksi dan telah dilatih untuk bekerja di mansion Raja Changle,” tutur kepala pengurus mansion.


“Tidak. Pelayan di kediamanku sudah banyak. Bawa mereka kembali dan katakan pada Raja Changle kalau aku tidak butuh pelayan baru.”


Kepala pengurus tidak mau pergi. Katanya, sebelum Putri Permaisuri memilih satu atau dua pelayan baru, mereka tidak boleh pergi meninggalkan halaman barat.


Kalau begini, sama saja dengan memaksa Qingyi memilih. Kalau dia ingin kepala pengurus segera pergi, maka Qingyi harus memilih setidaknya salah satu dari para gadis ini.


Tapi, Qingyi benar-benar tidak membutuhkannya! Dia bukan gadis manja yang setiap saat harus ditemani dan dilayani. Betapa merepotkannya itu jika seseorang menguntitnya sepanjang waktu!


“Putri Permaisuri Changle-ku tidak boleh berkeliaran sendiri. Akan sangat berbahaya jika sesuatu seperti kemarin terjadi lagi,” ucap Baili Qingchen, sambil berjalan memasuki taman kediaman barat.


Kepala pengurus dan gadis gadis calon pelayan menunduk memberi hormat.


Aura keagungan Raja Changle terpancar saat pria itu berjalan di tengah taman, dengan balutan jubah bangsawan berwarna ungu tua. Kain yang terbuat dari satin premium, meskipun bukan sutera, tapi kualitasnya tidak kalah.


Di Bingyue ini, hanya kaum bangsawan tinggi yang mampu membelinya. Jahitannya rapi dan benang peraknya membentuk pola sulaman yang indah, membuat Baili Qingchen benar-benar memiliki aura seorang raja.


Tidak, lebih tepatnya, dia seperti seorang kaisar. Pantas saja orang-orang begitu mengaguminya. Pantas saja Kaisar Baili gusar setiap saat.


“Aku bisa menjaga diri. Orang-orangmu ini tampak seperti mau menghancurkan kediamanku dalam beberapa detik.”


“Tidak. Statusmu mulia dan kau adalah keluarga kekaisaran. Membawa satu atau dua pelayan sudah lebih dari wajar,” ucap Baili Qingchen.


“Aku tidak mau repot memberi mereka makan.”


“Kepala pengurus yang akan melakukannya.”

__ADS_1


“Aku tidak mau punya pengikut.”


“Tapi kau adalah Putri Permaisuri Changle.”


Oh, Qingyi benar-benar malas berdebat. Baili Qingchen tidak akan membiarkan gadis-gadis itu pergi sebelum dia memilihnya.


Baili Qingchen melakukannya karena ia tidak mau permaisurinya berkeliaran sendirian di luar. Bagaimanapun, selain statusnya adalah Putri Permaisuri Changle yang terhormat, dia juga seorang wanita.


Banyak sekali orang yang sedang menargetkannya, dan tidak setiap saat dia bisa melawan mereka sendiri. Apalagi, Baili Qingchen juga tidak bisa selalu datang tepat waktu. Jika ada pelayan yang mengikutinya, setidaknya satu kekhawatiran itu bisa hilang.


“Lain kali saja.”


“Sekarang, Putri Permaisuri.”


“Nanti saja, Raja Changle,” balas Qingyi.


Kepala pengurus dan gadis-gadis calon pelayan jadi bingung. Ternyata, Raja Changle dan permaisurinya sangat suka berdebat perihal hal-hal kecil. Cukup lucu, tapi mereka merasa canggung karena interaksi itu.


“Liu Qingyi, menurut atau tidak?”


“Tidak, Baili Qingchen. Aku sudah mengganti margaku. Namaku Zhao Qingyi.”


Baili Qingchen geram sekaligus gemas. Dia menarik tangan Qingyi, lalu secara alami tubuh istrinya itu tertarik dan menempel padanya. Mereka mengikis jarak.


Qingyi terkejut dan hendak melepaskan diri, namun Baili Qingchen dengan cepat meletakkan tangannya di punggung Qingyi untuk menahannya. Dia merendahkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke wajah Qingyi.


Sontak, kepala pengurus dan gadis-gadis itu menunduk. Aneh, mengapa jadi mereka yang merasa malu?


“Aku juga bisa membungkam mulutmu jika kau tidak menurut,” balas Baili Qingchen.


Otak Qingyi seketika memberi peringatan akan kejadian di dalam kereta tempo hari. Tapi, dia tidak bisa kalah.


Enak saja, pikirnya. Memilih atau tidak, itu adalah haknya dan Baili Qingchen tidak seharusnya memaksanya.


Jadi, ketika Baili Qingchen menatap intens padanya dan semakin mendekatkan wajahnya, kaki Qingyi langsung segera bertindak.


Dia menginjak kaki Baili Qingchen sekuat tenaga, sampai reaksi kesakitan disertai keterkejutan berkilat di mata Baili Qingchen. Meskipun begitu, dia belum mau melepaskan Qingyi.


Qingyi menginjak kembali kaki Baili Qingchen, beberapa kali. Baili Qingchen tetap tidak melepasnya. Kakinya sudah diinjak berkali-kali, tapi dia juga tidak ingin kalah.


“Kau pikir itu akan efektif padaku?” tanya Baili Qingchen.


“Kita lihat saja sebentar lagi,” jawab Qingyi.


Kepala pengurus dan gadis-gadis pelayan semakin merasa canggung. Setidaknya, biarkan mereka pergi dahulu, bukan membuat mereka diam di sini dan menyaksikan interaksi yang lebih mirip dengan adegan saling menggoda ini.


Mereka tidak bisa menahan senyum dan rasa malu mereka, sampai tanpa sadar wajah mereka memerah.


“Yang Mulia, Yang Mulia Putri, Perdana Menteri meminta izin untuk bertemu,” ucap seorang pelayan setelah lari tergesa-gesa.

__ADS_1


Qingyi dan Baili Qingchen menyudahi aksi balas-balasan mereka. Mendengar nama perdana menteri, suasana hati keduanya sontak berubah buruk.


Keduanya menoleh bersamaan pada pelayan, “Mau apa dia kemari?”


Pelayan tidak tahu dan hanya menggelengkan kepala. Qingyi segera membetulkan posisi tubuhnya setelah terlepas dari pelukan Baili Qingchen, lalu mundur dua langkah.


“Katakan padanya, mansion Raja Changle tidak menerima tamu,” ujar Qingyi.


Berani sekali perdana menteri datang kemari. Setelah ingin membunuhnya berkali-kali, dia masih punya muka untuk bertemu dengannya. Meskipun Liu Qingyi adalah putrinya, tapi semua orang jelas tahu kalau dia tak ubahnya pelayan rendahan.


Perdana menteri sendiri yang mendorong Qingyi untuk menikah ke mansion ini. Susah-susah melepaskan diri, kenapa orang tua sialan itu malah ingin menjeratnya kembali? Dia pikir dia siapa?


Orang yang paling tidak senang di sini adalah Baili Qingchen.


Perdana menteri bukan hanya membuatnya merasa kesal, tapi juga telah merusak momennya di sini. Baili Qingchen belum puas bermain-main dengan Qingyi dan orang tua itu malah datang dengan tidak tahu malu.


Pelayan menurut dan pergi. Tapi, beberapa menit kemudian dia kembali dan menyampaikan pesan yang sama. Katanya, perdana menteri punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan dengan putrinya.


Baili Qingchen jelas menolaknya kembali dan mengatakan kalau Putri Permaisuri Changle bukanlah orang yang bisa ditemui hanya karena dia menginginkannya.


Lagipula, bukankah Qingyi sudah lama memutuskan hubungan dengan Keluarga Liu?


Baili Qingchen benar-benar dibuat geram. Pada saat pelayan kembali untuk yang ketiga kalinya, Baili Qingchen bersiap memanggil pengawal untuk mengusir perdana menteri.


Tapi, Qingyi tiba-tiba menahan tangannya dan berpikir. Sepertinya menarik jika mempermainkan orang tidak tahu malu itu.


Dia menatap sebentar Baili Qingchen, lalu bertanya, “Kau mau memancing ikan besar?”


Seakan mengerti, Baili Qingchen mengangguk. “Kalau begitu, kita lihat seberapa tahan dia menunggu dengan tekadnya itu.”


Di luar gerbang, para penjaga menahan perdana menteri. Antara takut dan berani, para pengawal itu mencoba yang terbaik untuk menahannya. Di satu sisi, mereka tidak enak menahan orang yang sangat dihormati di Bingyue setelah Kaisar, seorang pejabat negara yang paling berpengaruh.


Kalau itu kediaman lain, mungkin sudah akan diporak-porandakan karena menghalangi pejabat tinggi.


Tapi di sisi lain, para pengawal itu punya hati yang setia dan ingin menjalankan perintah Raja Changle, yang melarang siapapun dari kediaman perdana menteri masuk ke mansion, termasuk perdana menteri sendiri.


Perdana menteri gusar. Dia sudah berdiri di sana sejak setengah jam yang lalu, tapi para pengawal penjaga mansion masih tidak mempersilakan masuk. Orang-orang yang kebetulan lewat di depan mansion sesekali memandangnya.


Pandangan itu membuat perdana menteri marah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya saja bawahannya bisa menculik Qingyi waktu itu, dia mana mau menginjakkan kakinya di sini.


“Cepat! Sampaikan pada Yang Mulia kalau aku ingin bertemu dengan Putri Permaisuri!” ucap perdana menteri ke sekian kali.


Para pengawal saling pandang, lalu fokus kembali berjaga. Mereka mengabaikan permintaan perdana menteri, dan itu membuatnya marah.


“Kalian! Beraninya mengabaikan Perdana Menteri Bingyue?”


Tidak ada tanggapan. Satu jam berlalu. Kaki perdana menteri sudah kebas karena terus berdiri. Qingyi dan Baili Qingchen sengaja mempermainkannya dan membuatnya menunggu.


Jika ingin bertemu dengan Raja Changle dan Putri Permaisuri Changle, maka dia harus berkorban sedikit. Menunggu satu jam lebih baik daripada bertarung dengan para pengawal penjaga yang kekar. Qingyi dan Baili Qingchen sudah sangat bermurah hati.

__ADS_1


“Sialan! Anak durhaka itu sengaja membuatku menunggu!”


Meski begitu, perdana menteri tidak menyerah.


__ADS_2