
Baili Qingchen menghentikan langkah begitu ia melihat sosok Qingyi tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada dan tatapan wanita itu menusuk dalam. Ekspresi Baili Qingchen langsung berubah dan ia bermaksud untuk memutar arah. Ia pikir, wanita ini sedang ingin mencari perhitungan dengannya.
“Kau mau ke mana, Yang Mulia Raja?” tanya Qingyi dengan nada yang dibuat sarkas dengan sengaja.
“Ah, sepertinya aku melupakan sesuatu. Ada berkas yang belum kuserahkan kepada Kaisar dan harus diterima hari ini juga,” Baili Qingchen memutar arah menghindari Qingyi, melangkah pergi.
Qingyi mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Kakinya mengetuk bebatuan taman dengan tempo konstan.
“Baili Qingchen, berhenti kau!”
Baili Qingchen seketika berhenti. Tubuhnya masih tidak berbalik, ia seperti patung. Qingyi berjalan kepadanya, lalu menarik kerah belakang jubah pria itu sampai membuatnya hampir terjengkang. Baili Qingchen meronta saat Qingyi menariknya dan membuatnya berjalan mundur.
“Biarkan aku berjalan dengan benar!” pinta Baili Qingchen.
“Berjalanlah di dalam mimpimu!”
Qingyi membawanya ke halaman barat sambil menahan emosi. Jika Selir Jia tidak menanyakannya tadi, ia mungkin akan lebih lama mengetahui kalau telah terjadi sesuatu di Pengadilan Tinggi Kekaisaran.
Qingyi tidak akan tahu jika kepala Paviliun Litao melarikan diri dari penjara. Intinya, Qingyi sangat kesal karena Baili Qingchen tidak memberitahu apapun dan ia justru mendengarnya dari orang lain.
Di halaman barat, ia mendengus dan melepaskan cekalan di kerah belakang jubah suaminya. Baili Qingchen buru-buru merapikan penampilannya agar pelayan yang melintas tidak melihatnya seperti anak kucing yang digusur induknya. Pria itu berbalik, berdiri tegap di depan Qingyi.
“Mengapa kau menyembunyikannya dariku?” tanya Qingyi. “Apa kau sudah menganggap aku mati?”
“Tidak. Bukan begitu.”
Bukan seperti itu maksud Baili Qingchen. Pemberitahuan itu datang secara rahasia dan ia tidak ingin membiarkan Qingyi terlibat lagi. Jalan di depan sana sangat berbahaya.
Sudah terlalu banyak percobaan pembunuhan yang dialami wanita itu karena banyak ikut campur. Namun, sepertinya usahanya sia-sia. Qingyi pada akhirnya tetap mengetahuinya. Setelah ia tahu, ia pasti memaksa terlibat lagi dan lagi.
“Aku hanya tidak ingin kau terluka lagi. Nyawamu hanya ada satu, jika orang itu menemukan kesempatan, kau tidak akan selamat.”
“Jadi, kau pikir aku akan mati semudah itu?”
“Tidak! Tanpa seizinku, kau tidak boleh mati!”
Siapa pula yang menginginkan kematiannya? Baili Qingchen justru melakukan ini untuk menyelamatkan nyawanya. Qingyi sudah menjadi musuh banyak orang, dan kapanpun dia bisa dalam bahaya.
Baili Qingchen tidak berharap itu terjadi, ia hanya ingin permaisurinya hidup tenang seperti permaisuri-permaisuri raja yang lain, yang hidup serba berkecukupan dan tanpa ancaman nyawa. Qingyi masih dalam mode kesal. Ditatapnya Baili Qingchen dengan tajam dan penuh selidik.
Aneh, surat pemberitahuannya datang secara rahasia dan inspeksi itu seharusnya juga menjadi rahasia, namun mengapa Selir Jia bisa mengetahuinya? Mungkinkah seseorang sengaja membocorkannya?
“Apa Kaisar Baili yang menyuruhmu menyembunyikannya dariku?”
Baili Qingchen menggelengkan kepala. “Aku yang sengaja menyembunyikannya darimu. Aku tidak mau kau melompat ke dalam bahaya lagi.”
Tiba-tiba Qingyi berdecak dan membuat Baili Qingchen terkejut.
__ADS_1
“Ckckck....Aku yang menangkap dan menghancurkan markas Paviliun Litao. Bola nasi kecil juga diselamatkan olehku. Bukankah aku juga punya hak untuk ikut campur?”
“Wanita tidak bisa masuk ke Pengadilan Tinggi Kekaisaran dan menjadi penyidik.”
“Kalau begitu, jadikan aku pejabat saja.”
Perkataannya mendapat tatapan tajam dari Baili Qingchen. Enak saja! Wanita, apalagi yang seperti Qingyi, mana boleh masuk ke dalam pengadilan. Hanya ada satu Qingyi di dunia dan hanya Baili Qingchen yang boleh memilikinya.
Qingyi adalah milik Baili Qingchen, bukan milik publik. Hanya Baili Qingchen yang boleh melihatnya dari dekat dan bergaul dengannya, berinteraksi sepanjang hari dengannya. Putri Permaisuri Changle adalah milik Raja Changle, bukan milik Pengadilan Tinggi Kekaisaran.
“Sembarangan! Putri Permaisuriku bukan milik publik.”
Sikap posesif Baili Qingchen meningkat sejak hubungan mereka berubah dari sekadar suami istri dalam status. Entah sejak kapan Qingyi merasa kalau pria yang semula dingin seperti kutub utara dan lebih menyebalkan dari Yinghao menjadi begitu dekat dengannya.
Pria itu selalu menyempatkan diri datang ke kediamannya setiap hari dan sesekali mencuri ciuman darinya. Ia terkadang risih karena Baili Qingchen selalu bertindak tidak terduga.
“Ah, sudahlah. Jangan bahas yang lain. Pelayan, bawa orangnya kemari!”
Dua pelayan pria kemudian datang sambil membawa seseorang. Sudut mata Baili Qingchen berkedut dan bola matanya membesar saat wajah orang yang sudah babak belur itu mendongak.
Ekspresinya memohon ampun, menatap sayu pada Baili Qingchen. Sesekali orang itu meringis saat bekas pukulan di wajahnya berdenyut.
“Gao Lian?” ucap Baili Qingchen tidak percaya.
Gao Lian berkata dengan lirih, “Yang Mulia...”
“Jika aku tidak tahu, apakah kau akan membiarkan orang ini kabur dari kota kekaisaran?”
Sebagai pria, dia merasa harga dirinya terkoyak, namun reaksi cepat tanggap permaisurinya juga tidak bisa disalahkan. Sebaliknya, dia patut mendapat pujian.
Pemikiran Qingyi selaras dengan Baili Qingchen. Pengkhianat di Pengadilan Tinggi Kekaisaran bukan hanya pejabat kecil biasa. Orang itu pasti memegang kuasa sampai bisa memerintah dengan sembunyi-sembunyi dan melancarkan aksinya dengan mudah. Di tempat itu, Gao Lian adalah terduga utama yang patut dicurigai.
Terlebih lagi, dia pergi di saat Baili Qingchen menginspeksi, seolah-olah dia sudah tahu Raja Changle akan datang. Baili Qingchen melakukan trik tarik ulur, sementara Qingyi menangkap dan mengikatnya secara langsung. Wanita itu bertindak tanpa membuang banyak waktu dan tenaga.
“Menteri Gao, inikah urusan mendesak yang perlu kau selesaikan hingga kau tidak datang ke Pengadilan Tinggi Kekaisaran?”
Pertanyaan Baili Qingchen mengandung pedang. Gao Lian seketika menunduk lesu. Tenaganya sudah habis karena dipukuli oleh Putri Permaisuri saat dirinya hendak pergi ke luar kota kekaisaran.
Gao Lian padahal sudah sangat berhati-hati, namun ia telah meremehkan orang-orang dari mansion Raja Changle.
Gao Lian tahu dirinya tidak bisa melarikan diri lagi. Sejauh apapun ia berlari, pihak kaisar pasti akan mengejarnya. Sebagus apapun ia bersembunyi, Raja dan Putri Permaisuri Changle pasti akan menemukannya. Gao Lian sudah di ujung tanduk, nasibnya sudah tidak bisa memiliki keberuntungan lagi.
“Yang Mulia, aku terpaksa melakukannya, sungguh,” ucap Gao Lian dengan pandangan yang suram. Hatinya dipenuhi dengan rasa bersalah.
Sungguh, ia tidak bermaksud melakukannya dengan sengaja. Gao Lian dipaksa harus melakukan itu. Dia dimintai tolong oleh seseorang.
Orang itu berkata bahwa tuannya memiliki kelemahannya dan jika tidak ingin dibocorkan, Gao Lian harus melakukan sesuatu untuknya. Orang itu berkata bahwa ia telah menempatkan dua orang pejabat sebagai mata-matanya dan siap beraksi di bawah perintah.
__ADS_1
Gao Lian pada dasarnya penakut. Dengan ancaman seperti itu, dia langsung menurut dan dua orang yang dimaksud dipanggil.
Dua orang itu adalah dua pejabat yang ditangkap hari ini, mereka membebaskan kepala Paviliun Litao dari penjara. Gao Lian takut dia dicurigai, jadi dia berpura-pura punya urusan mendesak.
“Oh, alasan klise. Biar kutebak, orang itu mengatakan memiliki kelemahanmu dan berencana membocorkannya jika kau tidak menurut, bukan?” seloroh Qingyi yang jengah dengan drama orang-orang di dunia ini.
Gao Lian menunduk lagi. Ia tidak kuat menandingi wibawa sepasang suami istri yang agung ini. Rasanya seluruh energi hidupnya sudah menguap.
Gao Lian tahu konsekuensi atas perbuatannya sendiri, ia merasa sangat bersalah telah menuruti perintah orang itu dan mengkhianati Pengadilan Tinggi Kekaisaran. Sebagai menteri, ia telah menodai nuraninya sendiri.
“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Baili Qingchen.
“Orang itu tahu aku memiliki seorang anak di luar yang lahir dari seorang penghibur. Dia mengancam akan memberitahu keluargaku dan membuatnya hancur.”
“Dasar pria! Sudah setua ini masih berminat mencari daun muda? Apa kau percaya aku bisa membuatmu impoten selamanya?” ejek Qingyi. “Semua pria sama saja!”
“Putri Permaisuri, tenangkan dirimu! Tidak semua pria seperti yang kau kira,” sela Baili Qingchen yang tidak terima dirinya disandingkan dengan pria-pria hidung belang yang brengsek.
Qingyi mendecih. “Oh? Bukankah kau sama mesumnya dengan mereka?”
Meski tidak terima disebut mesum, Baili Qingchen tidak ingin melanjutkan perdebatan. Pria itu kembali menatap Gao Lian dengan tajam.
Tidak bisa dipungkiri jika ia sangat kecewa kali ini. Gao Lian adalah satu dari sedikit menteri yang bisa ia percaya, namun kepercayaan itu dihancurkan begitu saja.
“Menteri Gao, apa orang itu adalah suruhan Selir Xian?”
Orang yang bisa menggerakkan Gao Lian selain Kaisar Baili dan dirinya, pasti salah satu keluargnya. Gao Lian bermarga Gao dan dia masih termasuk kerabat Gao Hui. Gao Lian membelalak, tubuhnya membatu.
“Tampaknya, tebakanku benar. Cui Kong! Bawa orang ini ke penjara!”
Cui Kong melompat melewati tembok halaman barat dan mendarat di dekat Baili Qingchen. Dua pengawal muncul, kemudian membawa Gao Lian ke penjara Pengadilan Tinggi diikuti Cui Kong. Cui Kong tidak henti-hentinya menggelengkan kepala. Tidak disangka, kali ini rajanya didahului permaisurinya lagi.
“Huh, sudah kuduga tidak ada yang baik dari dua keluarga itu!”
“Kau tidak mempercayai Gao Lian sejak awal?” tanya Baili Qingchen. Ia ingat bahwa sebelum ini ia pernah mempertemukan Gao Lian dengan Qingyi.
“Apa aku terlihat seperti seseorang yang mudah menjatuhkan kepercayaan?”
“Benar juga. Hanya sedikit orang yang bisa kau percayai dan aku beruntung menjadi bagian dari yang sedikit itu.”
“Kukatakan padamu, ya, narsisme adalah penyakit. Kelak, jangan pernah berpikir untuk menyembunyikan apapun dariku.”
“Jadi, kau tidak marah lagi? Apa aku boleh tidur di tempatmu malam ini?”
Alarm tanda bahaya berbunyi. Qingyi mundur menjauh, menatap horror pada suaminya yang sekarang sedang menatapnya penuh minat. Baili Qingchen seperti serigala lapar yang menemukan mangsanya. Astaga! Mengapa pria ini berubah lebih cepat dari biasanya?
“Tidak. Tempatku bukan penginapan yang bisa direservasi semaumu.”
__ADS_1
Akan tetapi, penolakannya tidak berguna. Baili Qingchen bertindak cepat dengan menggendongnya seperti karung beras dan memboyongnya ke dalam kamar Qingyi.
Wanita itu berteriak sambil memberontak, memukuli punggung tangguh Baili Qingchen. Sia-sia, itu tidak berguna. “Dasar cabul! Cepat turunkan aku!”