Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 49. Perkelahian Tengah Kota


__ADS_3

“A-Chen,” panggil Xiao Junjie.


Baili Qingchen menghentikan sejenak aktivitas menulisnya. Kepalanya mendongak menatap sosok Xiao Junjie yang berdiri tegap di depan mejanya. Balutan jubah abu-abu yang menyelimuti tubuh semampai itu mampu menciptakan pesona yang membuat siapapun menjadi terbelalak dan tidak ingin berhenti menatapnya.


Xiao Junjie berwajah tampan. Rahangnya cukup tegas, dan dia memiliki hidung yang mancung. Bibirnya agak tipis, berwarna sedikit merah muda. Setiap kali berjalan, maka harum aroma persik di tubuhnya akan tertinggal dan terbawa angin. Penampilannya tidak jauh berbeda dengan pemuda bangsawan di kota kekaisaran.


“A-Jie, kau sudah siap?”


“Ya. Mari pergi.”


Baili Qingchen segera menyudahi aktivitasnya. Hari ini, dia berencana mengajak Xiao Junjie ke pusat kota untuk membeli beberapa barang untuk kebutuhan festival Zaochun, sebuah festival khusus yang diadakan oleh mansion Raja Changle untuk menyambut musim semi.


Pada festival ini, biasanya mansion Raja Changle akan mengundang beberapa kaum cendekiawan dan pedagang, untuk sekadar menjalin hubungan baik. Tidak jarang keluarga kekaisaran juga datang untuk meramaikan.


Mansion Raja Changle bukannya tidak punya kesediaan. Hanya saja, Baili Qingchen ingin menebus rasa bersalahnya pada Xiao Junjie, karena akhir-akhir ini ia terlalu sibuk sampai tidak punya waktu untuk sekadar berbincang dengannya. Meskipun Xiao Junjie tidak bicara, tapi Baili Qingchen cukup yakin kalau hatinya cukup sedih.


“Kudengar Pangeran Baili Qingyan akan segera kembali ke Chen. Apa kau tidak membantunya berkemas?” tanya Xiao Junjie saat keduanya ada di dalam kereta.


“Ada banyak orang di sisinya. Lagipula, dia tidak akan membawa terlalu banyak barang,” jawab Baili Qingchen.


Obrolan ringan itu tidak berlanjut karena kereta kuda telah tiba di pusat kota. Kedua pemuda tampan di Bingyue tersebut turun dari kereta dengan anggun. Kedatangan mereka menarik banyak perhatian, terutama bagi mereka yang mencintai kecantikan dan ketampanan tidak peduli wanita atau pria. Sungguh sebuah fenomena yang cukup langka melihat Raja Changle dan Pangeran Kecil pergi keluar mansion bersama-sama.


Di belakang mereka, kepala pengurus mansion mengikuti untuk mencatat setiap barang yang dibeli. Jujur saja, kepala pengurus lebih merasa kalau orang yang seharusnya mengurus semua ini adalah Putri Permaisuri Changle, bukan Pangeran Kecil atau Pangeran Permaisuri.


Sekarang di kota kekaisaran namanya sudah cukup dikenal sebagai istri sah Raja Changle, dan urusan mansion seharusnya jatuh ke tangannya. Hanya saja, sang putri tampaknya acuh tak acuh terhadap urusan semacam itu.


Alih-alih mengurus mansion, Putri Permaisuri Changle justru malah asyik bermain-main sepanjang hari. Tingkahnya tidak seperti seorang istri, tapi lebih mirip dengan gadis bangsawan yang masih lajang. Pagi-pagi sekali, Putri Permaisuri Changle sudah keluar mansion bersama Putri Luo, entah ke mana.


“Kepala Pengurus, semua barang sudah dibeli. Kembalilah ke mansion dan simpan semuanya di gudang,” ucap Xiao Junjie ketika semua barang sudah dibeli.


“Baik, Pangeran Permaisuri. Kalau begitu, saya akan membawanya pulang,” jawab kepala pengurus. Dia memanggil pelayan di belakangnya, lalu mulai mengangkut barang-barang ke dalam kereta penyimpanan. Dalam beberapa saat, semua keperluan perjamuan nanti sudah siap diangkut ke mansion.

__ADS_1


“A-Jie, aku telah memesan sebuah ruangan di restoran Jinfeng,” ujar Baili Qingchen saat keluar dari toko terakhir. Mata Xiao Junjie langsung berbinar cerah.


“Kalau begitu, mari. Kita akan mampir ke sana sebentar.”


Baili Qingchen mengangguk. Jarak dari toko terakhir ke tempat itu tidaklah seberapa, jadi mereka lebih memilih berjalan kaki. Suasana kota cukup ramai untuk awal musim semi yang hangat. Sepasang pria yang serasi tersebut melewati beberapa toko, menembus keramaian sembari menikmati suasananya.


Restoran Jinfeng tinggal beberapa langkah lagi di depan, namun mereka terpaksa berhenti karena sebuah suara bentakan yang familier bergema menarik perhatian orang-orang. Ketika mereka melihatnya, dua orang wanita muda tampak tengah berdebat di depan penjual jepit rambut dengan beberapa pria.


“Omong kosong! Kau pikir aku remaja yang bisa dikibuli?” bentak Qingyi, si gadis familier yang bersuara keras. Bos pemilik jepit rambut yang berwajah garang balas membentaknya dengan sengit, tidak terima dengan tingginya suara yang baru saja sampai ke telinganya.


“Heh, Nona, kau tahu apa? Jepit rambut ini diimpor dari selatan dan harganya sangat mahal! Kalau kau tidak mampu membeli, tidak usah ribut denganku!”


Satu wanita lain – Luo Niang, mendekat kepada penjual itu dan berbisik, “Kusarankan agar kau tidak memprovokasi wanita ini.”


Namun, penjual itu tetap keras kepala dan melawan Qingyi dengan kata-katanya. Dia bilang, jepit rambut yang dipegang Qingyi terbuat dari emas dan itu sebabnya harganya sangat mahal. Qingyi mendecih, memperkirakan bahwa harganya tidak sampai seratus tael perak. Jepit rambut di tangannya memang menarik, tetapi dia lebih tertarik dengan perdebatan ini.


Bukan masalah harga yang jadi topik utama. Qingyi justru penasaran akan asal-usul jepit rambut tersebut, yang ukirannya tampak berbeda dari kebanyakan. Di mansion, dia punya beberapa pasang jepit rambut emas, namun pola ukirnya relatif sama, menunjukkan bahwa benda itu dibuat oleh pengrajin asli Bingyue.


“Oh? Kalau begitu mari buktikan!” ucap Qingyi. Dia berbisik pada Yinghao yang menyamar menjadi pelayannya – Xiao Ying, meminta alat pengetes logam mulia.


Si penjual itu merasa besar kepala karena yakin kalau gadis kurang ajar di depannya tidak akan bisa membuktikan apapun. Namun, dugaannya meleset jauh saat jepit rambut di tangannya perlahan berubah warna setelah ditetesi cairan aneh oleh Qingyi. Qingyi lantas membandingkannya dengan jepit rambut emas di kepalanya, yang mendapat perlakuan sama dengan jepit rambut emas milik si penjual.


“Penipu! Ini bukan emas, bodoh! Berapa banyak gadis yang sudah kau tipu?” sungut Qingyi. Semua orang melihat dengan jelas apa yang telah dilakukannya. Meski mereka tidak sekolah, tapi mata mereka tidak buta untuk membedakan mana emas asli dan mana yang palsu.


Si penjual jadi marah. Merasa dirinya dipermalukan, dia telah memanggil beberapa temannya yang bersembunyi di beberapa sudut kota. Gerombolan pria berbadan kekar mengepung Qingyi, dengan wajah garang yang siap menunggu perintah. Si penjual kurang ajar menyeringai, ia berpikir untuk memberikan pelajaran pada gadis tengik yang telah membongkar kepalsuannya.


“Pukul dia!” seru si penjual.


Xiao Junjie hendak menghentikan mereka, namun pergelangan tangannya dicekal Baili Qingchen dan kepala pria itu perlahan menggeleng. Dengan pelan, Baili Qingchen berujar, “Dia bukan orang yang bisa dipukuli dengan mudah.”


Kali ini, Baili Qingchen ingin menunjukkan betapa hebatnya seorang Qingyi kepada Xiao Junjie. Dia berharap perselisihan di antara keduanya bisa selesai, terlebih setelah Xiao Junjie tahu seperti apa kemampuan Qingyi yang sebenarnya. Baili Qingchen sudah cukup bosan melihat pertengkaran mereka setiap hari, dan itu sangat menganggu ketenangannya. Setelah ini, mungkin penilaian Xiao Junjie terhadap Qingyi bisa berubah.

__ADS_1


“Ayo! Siapa takut!” seru Qingyi.


Luo Niang menoleh, menangkap sosok Baili Qingchen dan Xiao Junjie berdiri tak jauh dari mereka. Refleks ia berkespresi memohon agar Baili Qingchen menghentikan istrinya, sebelum para pria kekar ini babak belur. Akan tetapi, jawabannya justru membuat Luo Niang menghela napas kesal, itu karena Baili Qingchen dan Xiao Junjie menggelengkan kepala mereka.


Sebelum bertarung, Qingyi meminta Yinghao mengeluarkan stik golfnya. Benda tersebut keluar dari balik jubah Yinghao, dan tangan Qingyi segera menerimanya. Sekumpulan pria kekar menyerangnya bersamaan, dan di waktu itu pula stik golf Qingyi mengayun memukuli para pria kekar itu.


Gesit, lincah dan cekatan. Tidak satupun pukulan pria kekar mengenai tubuh Qingyi. Walau gadis itu memakai hanfu yang panjang, gerakannya tidak terbatas. Dia pernah berkelahi dengan Xiao Junjie mengenakan gaun pengantin, dan dia menang. Kali ini, dia memandang para pria kekar itu seperti Xiao Junjie, dan tiba-tiba dia menjadi lebih bersemangat.


Kurang dari sepuluh menit, sekumpulan pria kekar sudah habis dihajar Qingyi. Qingyi mengayunkan kembali stik golfnya, namun tangannya tertahan di udara saat seseorang mencekalnya. Dia menoleh, lalu mendapati Baili Qingchen ada di sampingnya. Pria itu menatapnya tenang tanpa emosi, seperti biasa.


“Jangan menghajar mereka lagi,” sergah Baili Qingchen. Qingyi tiba-tiba mendecih, dan dia merasa dirinya sangat konyol. Jadi, pria itu diam di sana dan hanya menyaksikannya saja?


“Bagus! Mengapa kau tidak meneruskan untuk tetap diam sampai pertunjukannya selesai? Kau juga mau dipukuli seperti mereka?” cerocos Qingyi.


Yang benar saja! Dia berkelahi, dan suaminya hanya menyaksikan dari kejauhan. Saat Qingyi menoleh ke sudut lain, dia melihat Xiao Junjie berdiri tenang, menatapnya dalam dari pinggir restoran Jinfeng.


“Dasar gila!” gumamnya. Luo Niang pasrah, tidak ingin ikut campur jika urusannya sudah


begini. Dia mundur, lalu bergabung bersama Xiao Junjie.


“Aku sudah memperingatkan mereka agar tidak memprovokasinya, tapi mereka tidak mau dengar,” ujar Luo Niang pada Xiao Junjie.


“Sungguh tidak sopan!” ucap Xiao Junjie.


Luo Niang meliriknya dengan sudut mata yang berkedut. Oh, dia lupa kalau Xiao Junjie juga pernah dipukuli Qingyi sampai babak belur di hari pernikahan. Melihat adegan ini, dia mungkin merasa mengulang kembali kejadian yang menimpanya saat itu.


Sekarang, Qingyi benar-benar ingin menghajar Baili Qingchen sampai babak belur. Bisa-bisanya pria itu diam saja melihat Putri Permaisurinya hendak ditipu dan dihajar. Para pria kekar itu terkejut melihat sosok Baili Qingchen, sang Dewa Perang Bingyue, alias Raja Changle yang terkenal.


Mereka hendak kabur, tapi kemudian rombongan pengawal khusus Raja Changle datang dan meringkus mereka. Dari belakang pasukan, Cui Kong menerobos dan langsung memberi hormat pada Baili Qingchen.


“Kirim mereka ke penjara dan jadwalkan hari untuk interogasi!” perintah itu disambut anggukan serentak dari para pengawal. Mereka yang diringkus telah dibawa pergi.

__ADS_1


“Pulang sekarang!” serunya pada Qingyi. Tangan gadis itu ditarik dengan paksa. Baili Qingchen menghampiri Luo Niang dan Xiao Junjie, tapi matanya menghindari menatap mereka dengan sengaja. Dia hanya berujar, “A-Jie, kau juga harus kembali. A-Luo, ikut pulang ke mansion bersamaku!”


__ADS_2