
Sampai di mansion, Qingyi langsung kembali ke kediamannya di halaman barat.
Di sana, pelayan yang kerap ia sebut berisik menunggunya. Raut wajahnya menjadi cerah ketika melihat majikannya datang.
Pelayan mengira majikannya tidak akan kembali secepat ini, karena setiap kali ia pergi, maka sampai malam pun belum akan pulang. Kekhawatiran yang sering datang itu menjadi hilang dalam beberapa detik.
“Yang Mulia Putri, syukurlah Yang Mulia Putri sudah kembali. Tadi Yang Mulia datang mencarimu, tapi tidak menemukanmu di manapun,” ucap pelayan itu.
“Aku tahu. Kau, kemarilah.”
Pelayan tersebut mendekat. Ragu, namun mana mungkin tidak menurut.
“Ada apa, Yang Mulia?”
“Kau masuk lewat seleksi Divisi Istana Dalam, bukan?” tanya Qingyi. Pelayan tersebut mengangguk.
“Kalau begitu, kau pasti tahu siapa saja pelayan yang diutus ke setiap istana?”
“Hamba masuk beberapa bulan yang lalu. Mengenai siapa saja yang bekerja di istana, mungkin perlu menemui Bibi Zhang dan bertanya kepadanya,” ucap pelayan.
Bibi Zhang lagi! Mendengar namanya saja Qingyi sudah malas. Mengusir Bibi Zhang dari mansion dan antek anteknya ketika dia dipaksa belajar etika saja sudah kian menyusahkan, apalagi bertanya soal urusan Istana Dalam! Menurutnya, lebih baik dia gunakan caranya sendiri daripada berurusan dengan Bibi Zhang itu.
“Baiklah. Kau boleh pergi.”
“Yang Mulia, jika Yang Mulia membutuhkan sesuatu, tolong panggil hamba saja,” ucapnya.
Pelayan itu selalu takut dirinya disalahkan dan disebut pemalas karena tidak melayani majikan dengan baik. Jangan sampai dirinya terjerumus dan dijebak orang.
“Ya, ya, ya. Pergilah, jangan berisik!”
Qingyi kemudian merebahkan diri di atas kursi malas. Matahari sudah mulai naik, namun karena taman di halaman barat dipenuhi bunga dan kursi malas itu terletak di bawah pohon yang rindang, cahaya matahari jadi tidak sepanas biasanya. Qingyi samar-samar mencium aroma persik yang tengah mekar di ujung barat taman.
Saat masih berada di dunia nyata, Qingyi tidak pernah memiliki waktu untuk menikmati harinya sendiri. Dia selalu sibuk dengan beragam naskah yang harus diedit dalam waktu yang singkat, karena tulisan-tulisan itu harus tayang sesuai jadwal.
Bosnya sering memarahinya ketika hasil kerjanya tidak cukup memuaskan, dan itu membuatnya memiliki motivasi yang mendorongnya menjadi seorang editor muda berjuluk “Ratu Fantasi Kharismatik”.
__ADS_1
Ada banyak kisah fantasi yang ia baca dan ia edit. Kebanyakan jalan ceritanya hampir sama, yakni tentang konflik keluarga, perebutan kekuasaan, berebut kasih sayang, dan juga kisah dewa-dewi. Karena terlalu banyak kisah seperti itu, rasanya menjadi hambar dan tidak baru.
Qingyi terkadang menjadi bosan sendiri. Namun, kisah yang ia edit sampai membuatnya masuk kemari agak beda. Protagonis sedikit, antagonis menang dan akhir menyedihkan, itu cukup jarang ditemui.
Apalagi setelah ia memasuki dunia ini dan turut merasakan sensasi dari setiap perubahan alur, dan juga kisah yang tidak terduga, membuatnya menemukan kembali rasa menjadi ‘editor’ fantasi.
Sampai kapan ini akan berakhir?
Yinghao tidak memberitahu kapan ia harus benar-benar menyelesaikan cerita. Panda kecil itu hanya bilang kalau hari yang dimiliki Qingyi tidak lama lagi dan dia terus membuatnya mengajukan tambahan waktu. Seolah-olah sistem pusat tidak menginginkan cerita ini cepat berakhir.
“Yinghao, cepat keluar kau!” seru Qingyi.
Yinghao muncul dan langsung jatuh di meja. Panda kecil itu mengusap pantatnya karena panggilan mendadak Qingyi membuatnya belum bersiap-siap. Aih, padahal ia sedang asyik tertidur di ruang dimensi. Tuannya tiba-tiba memanggil dan refleks sistem pada sensor tubuhnya langsung bekerja.
“Tuan, bisakah kau lebih lembut? Kau seharusnya memanggilku pada saat jam operasional berlangsung!” ketus Yinghao.
“Bodoh! Kau pikir ini perusahaan? Aku ini tuanmu, dan kau adalah pengurus rumahku!”
“Baiklah. Aku tidak pernah menang berdebat denganmu.”
“Pintar sekali! Memang benar, mencari tahu konspirasi keturunan Kaisar Baili menjadi misi barumu.”
Sistem benar-benar menyebalkan. Qingyi harus kembali menyelinap ke dalam istana untuk mencari tahu petunjuk terkait masalah Kaisar Baili dan selirnya yang tidak punya keturunan sejak bertahun-tahun yang lalu.
Ini benar-benar masalah yang merepotkan. Pasalnya, Qingyi tidak tahu siapa saja yang melayani para selir dan kaisar.
“Aargghh… Aku hanya peran pembantu, tapi harus bekerja lebih keras daripada pemeran utama! Sistem benar-benar tidak adil!”
Yinghao mengabaikan gerutuan Qingyi dan memilih kembali ke ruang dimensi. Qingyi memejamkan matanya untuk memikirkan bagaimana menemukan cara praktis agar misinya cepat selesai. Menyelidiki rumah tangga orang? Hei, dia bukan pelakor! Qingyi juga bukan pengacara perceraian!
Kemudian, tercium bau cendana dari kejauhan. Aroma ini langsung membuat Qingyi membuka matanya. Di sana, beberapa meter di depan, Baili Qingchen berjalan tegap dalam langkah konstan menuju taman.
Ekspresinya seperti sedang menahan dan memikirkan sesuatu, sesekali mengernyit sampai kedua alisnya yang melengkung hitam hampir menyatu. Qingyi kembali merebahkan diri.
“Ada apa lagi?” tanya Qingyi dengan nada malas, tanpa berniat menyambut kedatangannya. Baili Qingchen duduk di seberangnya, tampak ragu dengan pertanyaan yang hendak ia ajukan.
__ADS_1
“Apa kau pernah melihat sebuah tempat, mirip lembah, tapi memiliki air terjun tinggi dan kebun obat yang sangat luas?”
Baili Qingchen menjedanya, kemudian melanjutkan, “Terdapat kebun persik yang buahnya lebat. Rerumputannya juga hijau dan empuk. Ada sebuah pondok yang tamannya dihiasi bunga-bunga indah. Di belakangnya ada sebuah gunung bersalju yang tersinari matahari sepanjang tahun.”
Qingyi menanggapinya dengan malas.
“Tempat itu hanya ada dalam mimpi,” ucapnya.
“Aku memang bermimpi.”
“Ya Tuhan! Lalu mengapa kau menanyakannya padaku?”
Orang ini pasti gila. Bisa-bisanya dia bertanya tentang tempat yang hanya ia lihat di dalam mimpi! Qingyi tidak habis pikir mengapa Baili Qingchen begitu penasaran. Ia kira pria itu bisa langsung melupakan kalau dirinya pernah memasuki ruang dimensi yang indah dan tidak tertandingi.
Sialnya, ingatan Baili Qingchen terlalu kuat sampai detailnya pun masih diingat dengan jelas. Parahnya lagi, pria itu malah langsung bertanya kepadanya. Sampai kapanpun, Qingyi tidak akan memberitahu bahwa apa yang dilihat Baili Qingchen adalah sebuah alam di dalam ruang dimensi.
“Karena kau juga ada di sana,” ucap Baili Qingchen.
Sebetulnya ia ingin menanyakan itu saat di dalam kereta. Namun karena waktunya singkat dan ada hal lain yang terbahas tanpa rencana, Baili Qingchen menundanya dan memilih waktu ketika mereka telah kembali ke mansion.
Sungguh, dia benar-benar pensaran apakah Qingyi juga bermimpi hal yang sama dengannya. Ketika ia melihatnya kala itu, Qingyi tampak biasa saja seperti ini, dan sikapnya menunjukkan bahwa gadis itu sudah mengetahui tempat aneh tersebut. Akan tetapi, Qingyi tidak ingin meresponnya sama sekali.
“Itu hanya mimpi dan halusinasimu saja. Mana ada tempat seperti itu di sini!”
Qingyi menyangkal apa yang dikatakan Baili Qingchen. Ruang dimensi adalah rahasianya dan tempat miliknya. Baili Qingchen tidak berhak bertanya meskipun dia begitu penasaran atau memaksanya memberitahu sesuatu.
Jika bukan karena situasi mendesak, Qingyi tidak akan melakukan itu. Sekarang ia merasa menyesal telah membawa Baili Qingchen ke ruang dimensi.
Sepertinya Baili Qingchen tidak puas dengan jawaban yang diberikan gadis itu. Ladang obat yang ia lihat adalah ladang obat kualitas tinggi yang tidak ditemukan di Bingyue.
Baili Qingchen jadi teringat akan obat-obatan herbal yang diberikan Qingyi untuk menawarkan racun Xiao Junjie kala itu. Jenisnya sama dan kualitasnya sama. Terlebih, perkataan Qingyi yang mengatakan bahwa obat itu tidak bisa ditemukan di manapun membuat Baili Qingchen yakin jika itu bukan hanya sekadar mimpi.
“Tidak apa-apa jika kau tidak ingin menjawabnya. Aku akan menunggu sampai kau mau memberitahuku,” ujar Baili Qingchen.
Dia bangkit dari duduknya, merapikan pakaiannya lalu berujar, “Festival Zaochun akan dilaksanakan dua hari lagi. Tampillah sebagai Putri Permaisuri Changle yang terhormat.”
__ADS_1
Kemudian, Baili Qingchen meninggalkan halaman barat.