Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 140: Sketsa


__ADS_3

“Kau tidak beristirahat dan duduk di sini, apa kau tidak lelah?”


Baili Qingchen melingkarkan lengannya di pinggang Qingyi dan memeluk wanita itu dari belakang. Tubuhnya yang membungkuk membuat dagunya bertengger di bahu Qingyi.


Ia terbangun saat menyadari Qingyi tidak ada di sampingnya. Ia menemukan Qingyi tengah duduk di kursi sambil menuliskan sesuatu di atas papan putih yang tintanya berbentuk bulat dan agak panjang.


“Jika aku lelah, apa kau akan membiarkanku tidur dengan nyenyak?” tanya Qingyi tanpa mengalihkan perhatiannya dari papan tulis putih.


Ia tengah menuliskan sebuah sketsa abstrak mengenai skenario yang mungkin ada di balik semua kejadian akhir-akhir ini.


“Mungkin. Lihat suasana hati saja,” jawab Baili Qingchen. “Apa masih sakit?”


“Tidak sesakit dulu. Hanya saja tetap merasa sesak.”


“Kau harus mulai membiasakan diri.”


Qingyi menyikut pinggang Baili Qingchen yang berdekatan dengan tubuhnya. Pria ini menjadi sangat cabul saat bersamanya.


Tidak hanya mencium dan mengigitnya, tangannya juga sangat nakal. Baili Qingchen mahir menggerayangi tubuh Qingyi sampai membuatnya merinding dan geli.


Qingyi tidak bisa mencegah Baili Qingchen melakukan itu padanya lagi dan lagi. Ingin sekali ia kabur ke ruang dimensi, namun tubuhnya selalu mengkhianatinya.


Qingyi juga merasa nyaman dan sangat hangat, terutama setiap pria itu memeluknya dengan erat dan mengusap kepalanya dengan lembut setelah selesai bermain.


Hari ini, mereka baru berhenti sekitar dua jam lalu. Qingyi dan Baili Qingchen bahkan melewatkan makan malam karena terlalu asyik bermain. Saat Baili Qingchen tertidur setelah pelepasan karena lelah, Qingyi justru tidak mengantuk sama sekali.


Ia malah terpikirkan hal lain dan buru-buru memakai kembali pakaiannya. Qingyi mengeluarkan papan tulis kecil dari ruang dimensi lengkap dengan spidolnya, kemudian mulai menulis di sana. Ia pikir, penting untuk membuat sebuah sketsa yang mungkin bisa membuat skenario di balik kejadian besar di Bingyue terungkap.


Baili Qingchen menghirup aroma mint yang masih menempel di leher permasurinya meskipun mereka telah berkeringat. Aroma itu masuk dan menenangkan syarafnya, membuatnya merasa tenang dan damai. Baili Qingchen sampai menyusupkan wajahnya di celah antara leher dan bahu Qingyi, membuat Qingyi kegelian.


“Hei, jangan bermain di sana lagi!” ucapnya.


Baili Qingchen terpaksa mendongak. “Apa yang kau tulis?”


“Sebuah sketsa. Kurasa kau harus melihatnya.”


Pria itu belum berniat melepas pelukannya. Kepalanya dicondongkan ke depan.

__ADS_1


“Duduk dengan benar!” tegas Qingyi.


Meski enggan, Baili Qingchen melepas pelukannya, duduk di depan Qingyi. Awalnya ia berpura-pura serius mendengarkan penuturan Qingyi, tapi tiba-tiba raut wajahnya barubah benar-benar serius saat penuturan itu mengarah pada suatu kesimpulan. Ia yang awalnya tidak ingin memikirkan masalah malam ini jadi tergugah.


“Gao Lian membebaskan si keparat kepala Paviliun Litao atas paksaan Liu Erniang. Paviliun Litao berkaitan erat dengan insiden festival puncak musim semi dan pelaku penculikan Baili Wuyuan. Meskipun dia memiliki motif untuk menyingkirkan Baili Wuyuan karena takut posisinya kelak terganggu, Liu Erniang tidak akan bertindak gegabah, terlebih dia juga hadir di festival itu,” tutur Qingyi. Jari tangannya asyik bergerak mencoret-coret papan tulis.


“Dengan kata lain, pelaku utama yang memerintah Paviliun Litao bukan Selir Xian, tetapi Selir Xian mengenalnya dan memiliki hubungan,” sambung Baili Qingchen.


Qingyi mengangguk membenarkan analisis Baili Qingchen. “Karena orang itu tahu Liu Erniang adalah kerabat jauh Gao Lian, dia memintanya untuk membebaskan kepala Paviliu Litao. Liu Erniang kebetulan memegang kelemahan Gao Lian dan memanfaatkannya untuk melaksanakan perintah pembebasan.”


“Dengan demikian, Gao Lian menjadi kambing hitam atas kaburnya kepala pembunuh Paviliun Litao.”


“Dan masalah besarnya adalah, kita tidak tahu siapa orang itu sampai sekarang.”


Memikirkan ini, keduanya terdiam. Kebuntuan petunjuk membuat mereka kesulitan menemukan pelaku utama dengan cepat.


Pelaku utama pasti sudah bersiap. Dia telah menyiapkan skenario besar untuk mengacaukan Bingyue, dan anehnya kekacauan itu dimulai sejak Baili Wuyuan diangkat menjadi pangeran.


Konspirasi demi konspirasi yang dibongkar Qingyi dan Baili Qingchen mengarah pada satu konspirasi yang besar. Orang itu memiliki rencana lain.


Qingyi frustasi karena sampai sekarang orang itu masih belum ditemukan dan ia tidak tahu rencana apa yang ada padanya. Ia ingat, naskah asli tidak mengatakan ada konspirasi lain selain yang sudah disusun sebelumnya.


“Apa Kaisar Baili punya musuh?” tanya Qingyi.


Baili Qingchen menggelengkan kepala ragu. “Semua saudaranya sudah dipindahkan ke kota-kota yang jauh dan dilarang kembali tanpa perintah. Setiap kota memiliki pengawas yang menjadi mata dan telinga Kaisar.”


Kaisar Baili sangat licik. Semua saudaranya tidak akan berani mengatur siasat untuk merebut takhtanya, apalagi mereka tahu bahwa Raja Changle adalah Pengawas Negara dan penyokong terbesarnya. Dengan kekuatan Raja Changle dan Kavaleri Jingyi di tangannya, para saudara Kaisar Baili tidak akan bisa bertindak.


“Apa Bingyue punya musuh?” tanya Qingyi lagi.


Jika bukan musuh Kaisar Baili, itu berarti musuh negara. Baili Qingchen terdiam sejenak memikirkan jawaban. Dalam dua puluh tahun terakhir, Bingyue tidak memiliki musuh. Negara ini justru gencar melakukan ekspedisi dan perluasan perdamaian, beraliansi dengan negara-negara tetangga.


“Negara-negara tidak berperang dalam dua puluh tahun terakhir. Aliansi paling kuat adalah dengan Kekaisaran Chen.”


“Bukankah itu tidak menjamin bahwa mereka mematuhi perjanjian dan benar-benar berdamai?”


“Kau curiga ini ulah mereka?” tanya Baili Qingchen dengan sangat ragu. Bagaimana mungkin Qingyi terpikirkan sebuah pengkhianatan aliansi?

__ADS_1


“Aku hanya menganalisis berdasarkan hipotesis.”


“Tapi, Kekaisaran Chen dan Bingyue beraliansi puluhan tahun. Terlebih, Baili Qingyan adalah pangeran berdarah dua negara. Mustahil jika ini ulah mereka.”


“Kau percaya? Aku mungkin harus mengajarimu cara mempercayai orang yang harus benar-benar dipercaya.”


Baili Qingchen termenung. Apa yang dikatakan Qingyi ada benarnya. Aliansi negara seringkali dijadikan bahan untuk mengumpulkan kekuatan. Walau berdamai bertahun-tahun, tidak menjamin tidak adanya upaya perluasan wilayah.


Baili Qingchen hanya tidak ingin percaya kalau Kekaisaran Chen akan mengkhianati perjanjian perdamaian puluhan tahun.


Qingyi tahu ini akan menjadi beban pikiran Baili Qingchen. Ia memegang tangan pria itu, mencoba memberinya dukungan moral. Semuanya masih belum jelas.


Meskipun analisisnya masuk akal, bukan berarti benar. Perlu waktu dan bukti untuk membuktikan hipotesisnya.


“Aku tidak tertarik mengadudomba perdamaian dua negara. Hanya saja, kau haru selalu waspada. Oh, bukan hanya Kekaisaran Chen, negara-negara di selatan dan utara juga bukan ancaman kecil,” ucap Qingyi.


Baili Qingchen seperti tercerahkan. Perkataan barusan memberinya sebuah cahaya untuk menghilangkan keraguan. Benar, tidak hanya Kekaisaran Chen yang bisa dicurigai!


Negara-negara lain juga harus diwaspadai. Baili Qingchen mengangkat wajahnya, kekhawatiran di wajahnya seketika menghilang.


“Ya. Aku tahu. Aku akan memeriksa dengan teliti.”


“Oke. Kau urus urusan negara, aku akan mengurus urusan wanita. Buatlah Kaisar Baili mempercayaimu dan hentikan dia dari hasutan orang, terutama pejabat dan keluarganya. Aku akan mencegah Liu Erniang bertindak lebih jauh dalam mengamankan posisinya.”


Baili Qingchen mengangguk. Ia menarik Qingyi ke pangkuannya dan memeluknya lagi. Kali ini dengan lebih hangat.


Hanya saat bersama Qingyi, Baili Qingchen bisa menjadi dirinya sendiri. Wanita itu membuatnya merasakan kehangatan dan kenyamanan yang selama ini terasa abu-abu untuknya.


“Aku hanya berharap kita memiliki lebih banyak waktu senggang, tanpa masalah pengadilan, tanpa masalah kediaman, tanpa masalah apapun,” Baili Qingchen mengatakannya dengan pelan, namun itu begitu menusuk di hati Qingyi.


Kapan mereka tampak seperti suami istri sungguhan? Sejak menikah, mereka hanya sibuk mengatasi masalah dan intrik. Yah, meskipun mulut mereka sama-sama tidak mengatakan bahwa ada romansa yang tercipta dari semua itu.


Saat Baili Qingchen memeluknya lebih erat, Qingyi tersentak kaget. Ia lupa bahwa ia hanya mengenakan pakaiannya dengan asal, bahkan tanpa dalaman.


Perasaan waswas hadir, namun ia tidak melihat tanda-tanda Baili Qingchen akan menerkamnya lagi. Pria itu larut dalam diam dan mendekapnya hangat.


Setelah beberapa saat, pria itu melerai pelukannya dan menggendongnya ke tempat tidur. Ia membaringkan Qingyi di sisi ranjang paling dalam, sementara ia merebahkan tubuhnya di sisi yang lain.

__ADS_1


“Aku ingin membiarkanmu beristirahat malam ini. Tidurlah dengan nyenyak,” ucap Baili Qingchen, ia mengecup kening Qingyi. Ketenangan itu mengalir padanya, lalu perlahan ia menutup matanya. Qingyi tidur pulas dalam pelukan Baili Qingchen.


__ADS_2