Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 34: Pelajaran untuk Adik Tersayang


__ADS_3

Setelah melarikan diri dari mansion, Qingyi langsung pergi ke kediaman perdana menteri untuk memperhitungkan utang. Belakangan dia baru tahu kalau orang yang memprovokasi Su Wan’er agar menyerangnya di Xizhou adalah Liu Erniang.


Su Wan’er dan Liu Erniang pernah beberapa kali berjumpa pada event perjamuan istana, dan mereka sering berkomunikasi karena punya tabiat yang sama.


Qingyi memang tidak seharusnya melepaskannya saat itu. Orang seperti Liu Erniang tidak akan berhenti sampai dirinya mati. Rasa iri dan benci yang telah mengakar itu kini telah berubah menjadi obsesi yang merugikan Qingyi. Liu Erniang sengaja mencari cara untuk melampiaskan ketidakpuasannya pada Qingyi, bahkan sampai melibatkan putri besar Walikota Xizhou.


Para penjaga kediaman perdana menteri tidak berani menghalangi kedatangan Qingyi, karena jelas mereka tahu status dan kedudukannya saat ini. Qingyi yang saat ini bukan lagi Liu Qingyi si anak selir yang tertindas, tapi seorang Putri Permaisuri Changle yang bermartabat. Mereka ketakutan bahkan hanya dengan melihat matanya.


Begitu pula dengan pelayan. Mereka yang melihatnya melengang memasuki halaman langsung lari, takut dengan aura dingin yang dipancarkan gadis itu. Sebelumya mereka sudah menyaksikan bagaimana Qingyi bertindak sampai membuat perdana menteri dan istrinya tidak berkutik dan tersudut. Para pelayan itu tidak berani main-main lagi.


Istri perdana menteri sedang tidak ada di kediaman dan perdana menteri masih berada di istana. Qingyi jadi lebih mudah masuk karena tidak ada orang yang menghalangi. Dia berjalan cepat menuju halaman kediaman Liu Erniang di sebelah utara. Seringaiannya tidak berhenti tersungging, begitu menyeramkan jika dilihat.


Liu Erniang yang sedang bersantai di halamannya terpekik ketika seseorang tiba-tiba menarik kursinya sampai ia terjatuh. Begitu menoleh, matanya membola melihat Qingyi berdiri dengan tegap dan menatapnya tajam. Liu Erniang seketika bangun dan membersihkan debu yang menempel, lalu salah tingkah.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.


“Menurutmu?”


“Jika kau ingin menemui ayah dan ibu, sebaiknya kau kembali beberapa saat lagi. Mereka tidak ada di sini.”


“Urusanku adalah denganmu.”


Wajah Liu Erniang berubah pias. Terakhir kali dia melihat sikap Qingyi yang seperti ini ialah pada hari ketika gadis itu datang menyaksikan pertunjukkan keluarga yang dilakoni olehnya.


Dia begitu menakutkan, terlebih saat berbisik di telinganya. Liu Erniang kini berhadapan kembali dengannya, semua bulu kuduknya terasa berdiri.


Qingyi ingin tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi ketakutan di wajah Liu Erniang. Gadis kurang ajar itu pasti tidak mengira ia akan didatangi ketika sedang sendiri.


Liu Erniang itu penakut, ia hanya sering berpura-pura kuat dan selalu serakah hanya untuk memenangkan hati orang tuanya. Saat dia sendiri, gadis itu seperti kucing jalanan yang ketakutan dikejar anjing.


“Bukankah sudah kuperingatkan terakhir kali agar kau diam? Mengapa kau terus berulah?” tanya Qingyi penuh intimidasi.


“Apa yang kau bicarakan? Kakak, aku tidak mengerti maksudmu.”


“Sampai kapan kau akan terus berpura-pura bodoh? Temanmu di Xizhou sekarang sudah menjadi biarawati. Apa perlu aku membuatmu menyusulnya?”


Liu Erniang semakin terpojok karena Qingyi terus berjalan mendekatinya selangkah demi selangkah. Tubuhnya bahkan kesulitan bergerak karena sudah membentur meja.


Celaka, pikirnya. Kakaknya ini sudah tahu kalau dia yang memprovokasi Su Wan’er lewat surat. Liu Erniang ketakutan, wajahnya semakin pucat.

__ADS_1


Tidak ada pelayan yang berani membantunya karena mereka sudah lari ketakutan. Liu Erniang kesulitan. Tatapan tajam Qingyi terus menusuk matanya. Tangannya meraih sesuatu di belakang tubuhnya, lalu hendak melemparkannya kepada Qingyi. Liu Erniang tidak peduli jika Qingyi mati hari ini, karena hatinya mungkin merasa lebih puas.


Sayang sekali, gerakannya terlalu lambat. Poci teh yang berisi air panas itu tertahan di udara karena Qingyi menahan pergelangan tangan Liu Erniang. Qingyi menghempaskannya dengan sekuat tenaga sampai poci keramik itu pecah dan Liu Erniang tersungkur di tanah.


Qingyi berjongkok, mengambil jepit hiasan rambut di kepala adiknya. Dia meraih dagu Liu Erniang, lalu mengarahkan ujung tajam jepit rambut itu ke pipi adiknya.


“Menurutmu, bagaimana rasanya ketika wajahmu tergores oleh ujung tajam jepit rambutmu sendiri?”


“Tidak! Jangan lakukan itu!”


Liu Erniang berontak. Tidak, wajahnya adalah aset berharganya. Tanpa wajah ini, dia tidak akan bisa mendapatkan suami yang diinginkan. Liu Erniang susah payah merawatnya hingga jadi secantik dan semulus itu. Kalau wajahnya rusak, hidupnya juga akan hancur. Liu Erniang tidak mau, dia menitikkan air mata karena tenaga Qingyi terlalu kuat.


“Kenapa? Bukankah kau sangat suka bermain?”


“Tidak, ampuni aku. Lepaskan aku!”


“Satu gores saja, ya? Rasanya tidak akan terlalu sakit.”


Qingyi sengaja menakutinya karena teringat akan penyiksaan yang dialami karakter ini selama hidupnya. Walau bukan tokoh utama, tetapi kehidupan yang mengenaskan itu juga telah membuatnya kehilangan nyawa dengan sia-sia.


Dulu, Liu Erniang selalu tidak puas dengan pekerjaan Liu Qingyi, sampai menghukumnya dengan menusukkan jarum ke bahunya berkali-kali. Telapak tangannya bahkan sempat terluka karena Liu Erniang menggoresnya dengan ujung jepit rambut yang tajam.


“Tidak, kumohon jangan lakukan itu,” mohon Liu Erniang.


Liu Erniang menggelengkan kepala.Mode bermain Qingyi yang menakutkan itu membuat Liu Erniang seperti kehilangan nyawa. Dia sampai memohon agar Qingyi melepasnya.


Puas melihat wajah ketakutannya, Qingyi menancapkan jepit rambut tersebut di atas tumpukan kue ketan yang ada di meja. Tekanan yang luar biasa membuat kue itu seketika hancur dan piringnya pecah. Qingyi melepaskan dagu Liu Erniang, lalu menampar pipinya dua kali.


“Kalau kau masih ingin bermain-main denganku, kau akan bernasib sama dengan kue ketan itu. Aku bukan orang baik yang berbelas kasih pada manusia sampah sepertimu!” tegas Qingyi.


Tubuh Liu Erniang bergetar ketakutan. Dia meringkuk di bawah meja itu dan terus meracau. Pecahan piring terjatuh, lalu Liu Erniang mengambilnya dan hendak menusuk Qingyi. Qingyi menahannya, lalu merebutnya dengan paksa.


Tangan keduanya terluka karena Liu Erniang mencengkramnya dengan erat. Darah merah yang segar mengalir melewati pergelangan tangan sampai mengotori lengan bajunya.


Setelah berhasil merebut pecahan piring, Qingyi lalu melemparnya sejauh mungkin. Dia berdiri, lalu pergi tanpa mempedulikan Liu Erniang yang masih bergetar ketakutan.


Para pelayan yang mengintip diam-diam menahan suara mereka. Darah segar dari tangan Qingyi membuat mereka bergidik dan berpikir macam-macam.


“Tuan, kau terlihat keren sekali!” ujar Yinghao setelah menonaktifkan mode penyamarannya.

__ADS_1


“Aku selalu terlihat keren setiap kali menghadapi musuhku,” tukas Qingyi. Dia menaiki keretanya, lalu menyuruh kusir untuk kembali.


“Bagaimana dengan lukamu?”


“Hanya luka kecil. Aku akan mengobatinya di mansion.”


“Kau akan kembali? Bukankah kau keluar dengan susah payah?”


“Aku kembali untuk membuat Bibi Zhang menyerah dan berhenti memaksaku.”


Tahu akan pemikiran tuannya, Yinghao tidak berkomentar lagi. Untuk saat ini, sistem tidak memberinya misi sampingan sebagai bentuk reward atas keberhasilan misinya terakhir kali. Berkat itu, dia juga bisa sedikit bersantai. Qingyi diam sepanjang perjalanan, entah otaknya sedang berpikir apa.


Sementara itu, Baili Qingchen yang tengah berbicara dengan Bibi Zhang di halaman seketika menoleh saat Qingyi tiba. Mereka baru saja membicarakan masalah terkait Qingyi yang kabur.


Tidak disangka gadis itu malah langsung muncul. Baili Qingchen mengernyit saat melihat luka di telapak tangan Qingyi dan noda darah yang mengotori lengan bajunya.


“Yang Mulia, apa kau baru saja membunuh orang?” tanya Bibi Zhang tidak percaya.


“Oh, benar. Aku baru saja membunuh seekor semut kecil yang mengangguku,” jawab Qingyi sekenanya. Bibi Zhang membelalakkan mata, lalu menahan mulutnya agar tidak terbuka.


“Y-Yang Mulia, saya rasa saya harus segera kembali ke istana. Ada urusan mendesak yang harus ditangani di Divisi Istana Dalam,” ucap Bibi Zhang.


“Sekarang? Lalu bagaimana dengan pembelajaranku?” tanya Qingyi.


Bibi Zhang tertawa canggung. Qingyi menerjemahkannya sebagai reaksi ketakutan karena Bibi Zhang sepertinya benar-benar berpikir dia telah membunuh orang.


“I-itu, Divisi Istana Dalam akan mengurusnya. Kalau begitu, saya permisi, Yang Mulia, Yang Mulia Putri.”


Bibi Zhang benar-benar ketakutan. Qingyi tertawa kecil karena misinya berhasil. Tidak sia-sia dia melukai tangannya sendiri. Segalak apapun Bibi Zhang, dia tetap manusia yang takut mati. Bibi Zhang pasti berpikir dialah target selanjutnya jika Qingyi benar-benar membunuh orang.


Baili Qingchen menghela napasnya. Gadis ini begitu pintar dan perencana yang baik. Hanya dengan luka kecil dan darah di lengan baju, dia sudah bisa membuat guru etika paling disegani di Bingyue melarikan diri.


Tapi yang membuatnya penasaran adalah dari mana gadis itu mendapatkan luka dan mengapa dia kembali. Pikirnya, gadis itu seharusnya tidak pulang sampai larut malam.


“Hah, dia bahkan lebih penakut daripada seekor semut,” decak Qingyi.


Baili Qingchen memandanginya, namun gadis itu tidak menyadarinya sama sekali.


“Benar-benar sembarangan!” ucap Baili Qingchen.

__ADS_1


Dia menarik tangan Qingyi dan memaksanya ikut dengannya. Rupanya, Baili Qingchen membawanya ke halaman barat dan meminta pelayan mengambilkan air dan obat, lalu membersihkan dan membalut luka di telapak tangan Qingyi. Baili Qingchen langsung pergi setelah menyelesaikannya.


Qingyi yang memandangi telapak tangannya yang dibalut kain kasa. Dia berdecak karena Baili Qingchen membuat tangannya seperti mumi, padahal jelas-jelas lukanya tidak sebesar itu.


__ADS_2