
Matahari baru sepenggalan naik. Rapat pengadilan kekaisaran dibubarkan karena kasim memberitahu kalau Kaisar Baili sedang tidak sehat. Laporan dikirimkan ke ruang belajar dan kaisar akan memeriksanya ketika sudah baik-baik saja.
Para menteri bersikap tidak biasa. Mereka semua sejak awal memasuki aula telah memandang kepada Baili Qingchen dengan diam-diam. Mata tajam Baili Qingchen tentu saja menyadarinya. Hanya saja dia pura-pura tidak tahu.
Di dalam otak mereka mungkin terpikirkan sebuah kalimat, “Jika Kaisar mati, maka kandidat terkuat yang akan menggantikannya hanyalah Raja Changle.”
Spekulasi-spekulasi aneh itu muncul bukan tanpa alasan. Meskipun Baili Jingyan telah menjadi kaisar selama lebih dari lima tahun, tetapi dia belum memiliki putra.
Semua selirnya belum ada yang melahirkan anak. Entah itu karena para selirnya yang mandul, atau kaisar sendiri yang tidak mampu.
Namun, bukan itu yang dipikirkan Baili Qingchen sekarang. Sebelum pulang, kasim pribadi keponakannya mengatakan kalau Kaisar Baili menyuruhnya menemuinya di istananya.
Lalu ketika sepasang paman dan keponakan itu bertemu, semua yang terjadi berada dalam dugaan Baili Qingchen. Kaisar Baili benar-benar menyerahkan kasus imigran gelap dari selatan kepadanya.
Dia bilang, dia sengaja membubarkan rapat pengadilan karena muak dengan para menterinya yang selalu mempertanyakan kebijakannya. Aturan yang dibuatnya kebanyakan selalu mendapat pertentangan.
Kalau sampai mereka tahu ada imigran gelap dari selatan yang menyusup ke kota kekaisaran, maka para menteri itu akan langsung menyerangnya terang-terangan. Itulah sebabnya kasus ini diserahkan kepadanya dan diselidiki diam-diam.
Baili Qingchen harus melaporkan hasilnya secepat mungkin, dan siapapun yang terkait harus segera ditangkap.
“Yang Mulia? Apa kau mendengarku?”
Baili Qingchen sadar dari ketermenungannya setelah Cui Kong memanggilnya berkali-kali. Berkat panggilan itu, semua kesadarannya kembali. Baili Qingchen berdehem.
Di dalam keretanya, dia membetulkan posisi duduknya. Jubah kekaisarannya menjuntai ke bawah. Sementara di luar, Cui Kong duduk di pinggir kusir.
“Apa yang kau katakan?”
“Oh, itu, jika Yang Mulia merasa butuh seseorang untuk bercerita, mungkin Yang Mulia bisa menemui Yang Mulia Putri. Aku yakin dia bisa menjadi pendengar yang baik.”
“Oh? Sejak kapan kau akrab dengannya?”
Cui Kong diam. Mulutnya langsung tertutup begitu ucapan tidak enak tuannya keluar. Menurutnya, Putri Permaisuri Changle adalah orang yang asyik diajak bicara.
Dia bukan hanya pandai berkata, tetapi juga sangat cekatan dan sangat rapi dalam bertindak. Lebih tepatnya, dia bisa menjadi teman diskusi, bukan hanya pendengar saja.
Tuannya terlalu kaku untuk memulai sebuah percakapan dengan wanita. Itu sebabnya mereka sering bertengkar setiap kali bertemu.
Padahal jika komunikasinya berjalan baik, maka tidak hubungan mereka tidak akan selalu berakhir buruk.
Baili Qingchen membuka tirai keretanya. Matanya memicing, lalu menangkap sesosok wanita berhanfu hijau tengah berlari mengejar seseorang.
“Berhenti!” serunya.
“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Cui Kong.
Alih-alih menjawab, Baili Qingchen justru keluar dari kereta dengan terburu-buru. Dia setengah berlari mengejar sosok berhanfu hijau yang sangat dikenalnya. Wanita itu – Qingyi, berbelok ke sebuah gang perumahan yang sepi.
Baili Qingcen mempercepat langkahnya, tidak mau kehilangan jejak istrinya. Dia juga sangat penasaran mengapa istrinya itu berlari dan siapakah orang yang sedang dikerjarnya itu.
Perasaan Baili Qingchen jadi tidak enak. Ia merasa ini adalah sebuah jebakan. Qingyi seperti sengaja dibiarkan menjauhi keramaian. Ketika ia berada di jarak dua puluh meter dari Qingyi, beberapa pria misterius muncul dan hendak menangkap istrinya. Saat itu, Qingyi setengah membungkuk mengatur napas, dan orang-orang itu ada di belakangnya.
“Qingyi! Di belakangmu!” teriak Baili Qingchen.
__ADS_1
Orang-orang itu terkejut dan langsung mengayunkan pemukul di tangan mereka. Sayang sekali, pada saat yang bersamaan sebuah keranjang kayu besar terbang dan menimpa badan mereka.
Saat itu pula Qingyi berbalik dan melihat keranjang terbang itu mengenai tubuh orang-orang misterius. Qingyi mendengus, lalu menghampiri sekumpulan orang yang tumbang.
“Bedebah! Kalian sengaja memancingku?” hardiknya. Orang-orang itu meringis kesakitan.
Baili Qingchen segera menghampirinya.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya. Qingyi menjawab, “Ya. Lemparanmu sangat bagus, lain kali ajari aku.”
Qingyi paling tidak suka ditipu dan dipancing. Ditatapnya orang-orang itu dengan sengit. Tangannya lalu terulur untuk memeriksa mereka. Namun, tidak ada tanda khusus seperti yang dimiliki oleh para pembunuh Paviliun Litao.
Itu artinya orang-orang ini sebenarnya tidak berniat membunuhnya. Mereka hanya memancingnya dan ingin membuatnya tidak sadarkan diri.
Cui Kong langsung meringkus mereka. Sebelum semuanya diikat, Baili Qingchen meminta Cui Kong untuk melepas seorang. Yang dilepas langsung kabur.
“Pulang!”
Qingyi lantas mengekori Baili Qingchen. Kebetulan, keretanya jauh di depan sana dan dia malas berjalan. Yinghao dengan tenang duduk di pundaknya dalam wujud transparan.
Panda kecil itu memilih wujud aslinya karena tidak mau disuruh-suruh terus oleh Qingyi. Menurutnya, itu sangat melelahkan.
Sebelum naik, Baili Qingchen terdiam sejenak. Matanya kembali memicing, menangkap sesosok bayangan yang sangat familier. Namun ketika dia melihatnya lebih teliti, sosok itu menghilang di balik kerumunan.
Seketika jantungnya berdetak kencang dan itu membuat Qingyi jadi tidak tahan untuk tidak bertanya.
“Ada apa?”
“Hei, kau tahu? Manusia itu bisa punya tujuh kembaran. Jadi, orang yang baru saja kau lihat mungkin tampak sama dan kau seperti mengenalnya.”
Meski terdengar absurd, tapi perkataan Qingyi mungkin saja terjadi. Orang yang baru saja dilihatnya mungkin hanya mirip, tetapi itu tidak mungkin orang yang sama karena orang itu telah meninggal. Mungkin saja penglihatannya yang agak terganggu akibat debu yang beterbangan.
Di dalam kereta, keduanya tidak bicara. Baili Qingchen pura-pura memejamkan mata untuk menyembunyikan apa yang ia rasakan. Qingyi acuh tak acuh, dia meluruskan kakinya yang pegal karena berlari.
Hari belum terlalu siang, tapi dia sudah ditipu beberapa orang. Ini sungguh tidak menyenangkan!
Lambat laun, dia menyadari kalau Baili Qingchen memang bisa diandalkan. Pria itu selalu datang di saat yang tepat, terutama saat dirinya berada dalam bahaya.
Kalau tidak ada Baili Qingchen, sekarang mungkin Qingyi sudah pingsan dan diculik entah ke mana. Entah siapa yang tidak punya pekerjaan sampai ingin menculiknya. Padahal, menculiknya tidak menguntungkan sama sekali.
“Hei, apa kau tidur?” tanya Qingyi. Baili Qingchen berdehem, tanda kalau pria itu masih terjaga.
“Kalau begitu, jawab pertanyaanku. Apa keponakanmu itu benar-benar menyerahkan para imigran gelap itu kepadamu?”
Dalam hatinya, Baili Qingchen selalu penasaran mengapa Qingyi selalu mengetahui informasi dengan cepat. Dia juga selalu tahu bahwa sesuatu akan terjadi, seolah-olah semua hal di dunia ini berada dalam kendalinya.
Masalah imigran gelap itu, selain mansion Raja Changle dan Kaisar Baili, sisanya tidak ada yang tahu.
Perintah penyelidikan rahasia juga baru diketahui Baili Qingchen dan Cui Kong seorang. Namun, karena orang yang menanyakannya adalah Qingyi, maka Baili Qingchen tidak terlalu terkejut.
“Ya. Kaisar ingin menyelidikinya diam-diam.”
“Sudah kuduga Kaisar itu pemalas. Lihat, dia bahkan tidak mau mempublikasikannya.”
__ADS_1
“Jangan katakan itu. Masalah ini cukup serius, tidak boleh dibiarkan terpublikasi dengan gegabah. Aku yakin, pertanyaanmu yang sebenarnya bukan ini,” ujar Baili Qingchen.
Qingyi sedikit mendecih. Entah sejak kapan Baili Qingchen memahami pemikirannya.
“Apa kau tahu sesuatu tentang Wang Yiyuan?”
Baili Qingchen mengernyit. Untuk apa dia menanyakan ini?
“Penguasa Pasar Gelap. Kenapa? Kau tertarik untuk membeli barang darinya?”
Qingyi menggeleng. Bukan itu yang ingin ia ketahui. Nama Wang Yiyuan muncul di tengah plot, dan ia pikir ini ada hubungannya dengan kasus yang tengah ditangani oleh suaminya. Orang bilang Wang Yiyuan sangat kaya dan seluruh bisnisnya tersebar di penjuru Bingyue.
Siapa sangka kalau orang ini juga penguasa pasar gelap, sebuah pasar yang memperjualbelikan barang berharga hasil curian dan penjarahan secara rahasia. Kalau begitu, orang ini pasti tidak sederhana.
“Itu artinya, orang ini tidak sederhana. Kutebak dia tidak pernah muncul ke publik dan selalu berada di belakang layar.”
Baili Qingchen mengangguk.
“Penguasa Pasar Gelap adalah orang yang sangat misterius,” tambah Baili Qingchen.
Meski ia tidak tahu mengapa Qingyi menanyakannya, tapi ia yakin gadis ini telah mengetahui sesuatu secara tidak sengaja.
Jika tidak, dia tidak akan menanyakan sesuatu yang bisa mendatangkan masalah untuknya seperti ini.
“Jangan pernah berpikir untuk bersepakat dengannya,” peringat Baili Qingchen.
“Tentu saja tidak,” jawab Qingyi.
Pikirnya, dia sangat kaya. Barang selangka apapun, ia punya. Apa yang dimiliki penguasa pasar gelap itu tidak sebanding dengan barang-barang yang ada di ruang dimensi.
“Mengapa kau bisa masuk jebakan?” tanya Baili Qingchen, sesaat setelah dia menjeda sejenak perputaran pemikirannya.
“Ah, orang yang kukejar mengambil uangku. Siapa sangka dia sengaja memancingku,” jawab Qingyi.
“Di mana pelayan barumu itu?”
“Sudah kupecat. Dia sangat pemalas dan sangat merepotkan,” ucap Qingyi.
Yinghao merasa tersindir. Sayang sekali dia sedang dalam wujud panda dan dalam kamuflase, jadi tidak ada yang bisa melihat ekspresi kesalnya.
“Oh, begitu.”
Tanpa terasa, kereta kuda telah sampai di depan mansion Raja Changle. Kusir menghentikan kuda, lalu menurunkan tangga. Dia berkata bahwa mereka telah sampai.
Baili Qingchen keluar lebih dahulu. Kakinya yang panjang menuruni tangga, lalu mendarat di tanah dalam beberapa detik. Dia berbalik, lantas mengulurkan tangan untuk membantu Qingyi.
Gadis itu terdiam sesaat, bingung dengan perlakuan Baili Qingchen yang satu ini. Jika tidak salah, terakhir kali pria ini mengulurkan tangan yang sama ialah pada saat hari pernikahan.
Qingyi tidak menyambutnya, dan malah memberikan penggaruk punggung pada pria itu sebelum melengang masuk tanpa kerudung.
Mengingat ini, dia jadi tertawa dalam hati. Berhubung Baili Qingchen sudah mengulurkan tangan, maka sayang sekali jika Qingyi menolaknya. Dia menyambutnya dan turun dengan bantuan Baili Qingchen.
Cui Kong yang melihat interaksi singkat itu merasa hatinya dipenuhi lautan bunga. Senang rasanya melihat pasangan suami istri itu akur walau hanya sesaat saja.
__ADS_1