Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 155: Kembali?


__ADS_3

Setelah ledakan cahaya itu menyebar, waktu kembali beputar. Semua orang masih tidak sadarkan diri.


Baili Qingchen terbangun karena rasa sakit dan dingin yang begitu menusuk. Perlahan ia mulai bangkit sambil menahan sakit dari dadanya yang tertusuk pedang.


Ia melihat sekeliling. Ia masih ada di tempat itu, di tengah aula istana kekaisaran yang dipenuhi dengan darah dan mayat pasukan pengawal dari kedua belah pihak.


Baili Qingchen meraba seluruh  tubuhnya. Dadanya sobek, tapi darah sudah berhenti mengalir dari sana. Sakitnya masih terasa, tapi bukan itu yang penting sekarang.


Baili Qingchen menatap sebuah liontin yang biasa dipakai oleh Qingyi, tapi tidak mendapati sosok itu di manapun. Bahkan saat dia mengelilingi aula dengan luka di dadanya, dia masih tidak menemukan Qingyi. Baili Qingchen seketika teringat sesuatu, tidak lama kemudian dia terduduk di lantai sambil memegang erat liontin tersebut.


“Kau benar-benar pergi?” lirihnya.


Jauh sebelum kejadian ini terjadi, Baili Qingchen selalu gelisah. Setiap kali melihat Qingyi, hatinya menjadi sangat tidak nyaman dan ketakutan. Tidak ia sangka, ternyata itu adalah pertanda bahwa wanita itu akan pergi.


Baili Qingchen pikir ia akan mati, tapi sepertinya Qingyi telah menukar hidupnya untuknya. Di dunia ini, mungkin hanya Baili Qingchen yang percaya jika Qingyi bukanlah Liu Qingyi asli.


Hatinya tercabik-cabik. Hampir tidak ada tenaga untuk bergerak lagi. Kehilangan terbesar dalam hidupnya adalah kehilangan Qingyi. Ia masih duduk di sana dengan luka.


Beberapa jam kemudian, Cui Kong yang baru datang setelah menyelesaikan pertarungan di gerbang kota segera berlari menghampirinya.


“Yang Mulia!”


Cui Kong begitu panik sampai tidak menyadari jika di dalam aula, semua orang masih tidak sadarkan diri. Cui Kong sangat panik saat melihat luka tusukan pedang di dada rajanya.


Dia buru-buru memapah Baili Qingchen dan membawanya kembali ke mansion. Saat ia sampai, ia baru sadar jika sedari tadi dia tidak melihat Putri Permaisuri. Mungkin, itu pula yang membuat rajanya begitu lemah dan tidak mau bicara.


Orang-orang di dalam aula sadar beberapa jam kemudian. Mereka seperti berada di alam mimpi, sama sekali tidak sadar akan apa yang terjadi. Ingatan mereka hanya terputus sampai saat Baili Qingchen jatuh di lantai akibat tusukan pedang Pangeran Kecil yang menjadi pendampingnya sendiri.


Saat mereka menoleh, mereka melihat Xiao Junjie sudah tergeletak bersimbah darah. Tidak jauh dari sana, ada mayat Janda Selir Sun yang bunuh diri setelah membunuh Xiao Junjie.


Kaisar Baili yang masih lemah belum berniat menanyakan banyak hal. Ia hanya memerintahkan kepada pasukan yang setia kepadanya untuk segera mengamankan Liu Wang dan Liu Erniang yang masih tidak sadarkan diri. Setelah itu, Kasim Li membawanya kembali ke istananya untuk diperiksa dan diobati.


Satu persatu mayat di aula dibawa dan aula dibersihkan. Meski sudah tidak ada noda darah, namun bekas bau anyirnya masih tercium.


Kaisar Baili yang baru selesai diperiksa kemudian terdiam. Setelah sedikit tenang, ia menarik napas pelan.


“Apa kalian sudah menemukan pamanku?” tanyanya pada pelayan.


“Yang Mulia Raja Changle sudah kembali ke mansionnya, Yang Mulia. Tapi,” pelayan itu menggantung ucapannya. “Tapi apa?”

__ADS_1


“Yang Mulia Putri Permaisuri menghilang dan tidak ditemukan di manapun.”


Pada saat itu, Baili Qingchen memejamkan matanya. Ia sangat berterima kasih pada wanita itu, namun ucapan itu tidak akan pernah terucap sampai kapanpun.


Kaisar Baili mengerti, jika Qingyi bahkan meninggalkan suaminya tanpa mengucapkan apapun, maka dia tidak akan mempedulikan yang lainnya.


“Bantu pamanku untuk menemukannya.”


“Baik, Yang Mulia.”


Kabar mengenai pertarungan di dalam aula sudah sampai ke telinga Selir Jia dan Baili Wuyuan. Saat situasi mulai tenang, pasukan pengawal menjemput mereka kembali dari kediaman Putri Luo ke istana.


Selir Jia langsung menemui Kaisar Baili dan menanyakan keadaannya. Ia menangis melihat kondisi Kaisar Baili yang tampak sakit parah.


Kaisar Baili menatapnya ringan. Kemudian, dia menyuruh tabib kekaisaran yang terpercaya untuk memeriksa Selir Jia.


Tabib itu terbelalak, kemudian bersimpuh di hadapan Kaisar Baili, memberinya selamat karena Selir Jia telah hamil. Kabar itu seketika membuatnya terkejut dan langsung menanyakannya kepada Selir Jia.


“Ya, Yang Mulia. Putri Permaisuri Changle yang pertama kali menyadari kehamilanku. Dia juga menyuruhku merahasiakannya dan memberiku perawatan untuk mengamankan nyawaku dan nyawa bayiku.”


Mendengar itu, entah mengapa air mata Kaisar Baili menetes. Begitu banyak hal yang telah dilakukan oleh bibi iparnya itu, namun selama ini Kaisar Baili sama sekali tidak mau tahu dan selalu menutup matanya.


Setelah hari ini, dia sangat menyesal dan penyesalan itu tidak akan pernah hilang.


Baili Qingchen menatap kosong dan membisu, sama sekali tidak berkata apa-apa sejak kembali ke istana.


Bagaimana bisa….bagaimana bisa dia kehilangan orang paling berharga dalam hidupnya?


Dalam satu hari, dia tidak hanya kehilangan ibunya dan Xiao Junjie, tetapi juga Qingyi. Luka besar itu diberikan oleh Xiao Junjie, karena pria yang mendampinginya selama lebih dari tiga tahun itu malah menusuknya dengan pedang dan membunuhnya.


Tetapi, rasa sakit paling besar itu tidak diberikan oleh  tusukan pedang, melainkan karena kepergian Qingyi yang tiba-tiba. Tidak ada jejak, tidak ada petunjuk apapun yang ditinggalkan oleh wanita itu.


Qingyi seperti hilang ditelan bumi. Baili Qingchen masih menatap kosong, saat ia memejamkan mata, air matanya menetes lagi.


***


“Uh…”


Rintihan kesakitan itu terlontar dari mulut Qingyi. Perlahan, ia membuka matanya. Setelah menyesuaikan cahaya yang masuk, samar-samar Qingyi bisa melihat pemandangan yang familier.

__ADS_1


Dia terburu-buru bangun, melihat ke sekeliling. Raut wajahnya kebingungan, karena ia tiba-tiba terbangun di kamarnya sendiri!


Ia ingat saat ia melakukan penukaran hidup dan mati, cahaya keemasan itu menelannya dan mengembalikannya ke dunia nyata. Qingyi agak terkejut karena pemandangan kamarnya ini masih sama dengan saat terakhir kali, sebelum ia masuk ke dalam ruang dimensi dan menerima misi.


Ia teringat Baili Qingchen, lalu berteriak memanggil Yinghao untuk menanyakan kondisinya. Akan tetapi, sekeras apapun ia berteriak, tidak ada yang menjawabnya.


Qingyi terus berteriak sampai kelelahan sendiri. Dia terduduk di lantai, memegang kaki kursi kerjanya dan tanpa sadar menangis.


“Apa dia baik-baik saja?” gumamnya.


Ada rasa sakit yang menyusup ke dalam hatinya. Aneh, padahal ia sendiri yang setuju untuk menukarkan semuanya dan dikembalikan secara paksa kemari, tapi ia merasa sangat sakit dan ketidakrelaan yang sangat menusuk.


Karena kamarnya gelap, ia tanpa sengaja tersandung dan jatuh di dekat mejanya.


Matanya lalu menangkap tumpukan kertas berisi naskah cerita yang harus dieditnya itu. Melihat tumpukan kertas itu, ia kembali menangis.


Di tengah tangisannya, dering telepon tiba-tiba berbunyi. Qingyi dengan ragu meraih ponselnya yang rasanya sudah sangat lama tidak ia lihat.


Di sana, tertulis nama kepala penerbit dari perusahaannya.


“Qingyi, oh Ratu Fantasi Kharismatik-ku! Ke mana saja kau?”


Dia tidak menjawabnya selama beberapa detik. Qingyi masih shock dengan apa yang telah menimpanya.


Setelah beberapa saat, ia kemudian menjawab, “Ketua, tanggal berapa sekarang?”


Suara di seberang sana terdengar kaget dan heran.


“Ratuku, apa yang terjadi padamu? Sekarang adalah tanggal empat belas musim gugur bulan pertama. Apa kau hilang ingatan? Kau pergi dan tidak bisa dihubungi lebih dari sembilan bulan. Kupikir kau telah pergi ke luar negeri tanpa memberitahuku!”


Mendengar itu, Qingyi langsung menutup sambungan telepon tersebut. Ia mengecek ponselnya dan melihat ribuan panggilan tidak terjawab dan jutaan pesan masuk ke dalam chatnya.


Setelah meletakkan ponsel, Qingyi menyalakan lampu, lalu menyadari bahwa kamar apartemennya ini sudah sangat berdebu.


Kedengarannya tidak masuk akal tapi itulah yang terjadi kepadanya. Qingyi telah pergi hampir satu tahun, membuat semua orang mencarinya.


Perkataan Yinghao benar, dia memang telah pergi ke dunia itu. Ingatannya sekarang tercampur secara acak, persis seperti yang dikatakan Yinghao terakhir kali.


Kepalanya jadi sakit. Baili Qingchen, Bingyue, ruang dimensi, semuanya datang silih berganti dengan ingatan dunia nyata. Qingyi merasa kepalanya seperti dipukul.

__ADS_1


Dia berjalan tertatih-tatih menuju tempat tidurnya yang sudah berdebu, merebahkan diri dan menatap langit-langit kamar.


“Ah! Kepalaku sakit. Apa aku akan benar-benar gila?”


__ADS_2