Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 32: Firasat Buruk


__ADS_3

Xiao Junjie menyunggingkan senyum bahagianya saat melihat kereta kuda yang ditumpangi Baili Qingchen tiba di depan gerbang mansion Raja Changle. Sudah lebih dari dua pekan dia tidak berjumpa dengan pria yang membuatnya mempunyai perasaan memiliki.


Xiao Junjie menekan rasa marahnya karena Baili Qingchen pergi tanpa memberitahunya, karena kenyataannya dia tidak pernah bisa marah pada pria itu. Xiao Junjie mengerti kalau Baili Qingchen melakukannya dengan terpaksa.


Saat kusir membawakan tangga dan Baili Qingchen bergegas turun, Xiao Junjie segera menghampirinya. Jelas sekali kalau wajahnya seperti seorang anak kecil yang bertemu ibunya kembali setelah sekian lama. Qingyi yang melihat adegan ini jadi tambah mual, karena sekarang dia harus bertemu kembali dengan pria menyebalkan itu.


“A-Chen!”


Senyum kecil Baili Qingchen juga terbit.


“Maaf telah membuatmu khawatir. Kau baik-baik saja, A-Jie?” tanya Baili Qingchen.


“Ya. Aku baik-baik saja. Ayo masuk, aku telah menyiapkan makanan kegemaranmu.”


Baili Qingchen mengangguk. Qingyi berdecih, karena sepasang lovebirds itu kini kembali bertemu. Hari-hari damai Qingyi di Xizhou sudah berakhir, dan terbitlah hari-hari mengesalkan karena Xiao Junjie pasti tidak akan melepaskannya. Tadinya ia ingin melihat raut wajah marah pria itu, tapi di hadapan Baili Qingchen, pengendalian dirinya begitu baik. Huh, sungguh menyebalkan!


“Lihatlah. Dia kembali pada sifat aslinya setelah bertemu kekasihnya kembali.”


Qingyi mengikuti sepasang manusia menyebalkan itu ke dalam mansion. Xiao Junjie membawa Baili Qingchen ke kediaman utama, karena di sanalah ia menempatkan makanannya. Keduanya duduk di meja yang kerap digunakan dalam acara makan besar bersama.


Hidangan sudah tersaji dan beraroma menggoda. Hidung Qingyi juga tergoda oleh aroma hidangan itu. Ia terpikirkan sebuah ide brilian, yang mungkin bisa mengabulkan keinginannya yang tidak terlaksana tadi.


Baili Qingchen menatap hidangannya dengan berbinar. Dia mengambil sumpit dan mangkuk kecil, lalu hendak mengambil beberapa potong daging bumbu yang kelihatan sangat lezat.


“Tunggu!” cegah Qingyi.


Baili Qingchen dan Xiao Junjie refleks menoleh padanya dengan tatapan bertanya-tanya.


“Kau ingin membuat Yang Mulia memproduksi lebih banyak kolestrol dengan makanan berlemak ini?” tanyanya pada Xiao Junjie.


“Apa maksudmu?”


“Pelayan! Cepat ambil semua makanan ini!” titah Qingyi pada pelayan. Karena tahu siapa majikan yang sebenarnya, pelayan menurut dan mengangkat hidangan di meja. Xiao Junjie marah, tidak terima dengan perlakuan Qingyi.


“Hentikan! Liu Qingyi, apa yang kau lakukan?”


“Kau lupa? Orang ini punya riwayat penyakit lambung. Jika kau membiarkannya mengkonsumsi terlalu banyak makanan berlemak dan sulit dicerna, besok atau lusa mungkin dia bisa mati.”


“Liu Qingyi kau berani berkata seperti itu!”

__ADS_1


“Aku memang berani! Kenapa? Kau iri?”


Xiao Junjie terpancing emosi. Kehadiran Qingyi memang sebuah bencana untuknya. Xiao Junjie sudah menyiapkan ini sejak pagi, karena tahu kalau Baili Qingchen tidak akan makan makanan enak selama di Xizhou.


Xiao Junjie semakin marah karena Qingyi ikut campur urusannya. Seharusnya dia tidak membiarkan wanita itu masuk ke sini tadi.


Baili Qingchen merasa terganggu dengan keributan yang ditimbulkan oleh istri dan pendampingnya. Perkataan Qingyi ada benarnya, tapi dia juga tidak bisa menolak Xiao Junjie. Baili Qingchen sudah cukup merasa bersalah karena pergi tanpa memberitahunya. Kalau dia menyia-nyiakan usaha Xiao Junjie, rasa bersalahnya jadi kembali muncul ke permukaan.


“Cukup! Turuti apa kata Putri Permaisuri,” tegas Baili Qingchen.


“A-Chen, kau?”


“Tidak apa-apa. A-Jie, aku lelah. Antarkan makanan yang diatur olehnya ke kediamanku,” tukas Baili Qingchen. Pria itu langsung pergi meninggalkan ruangan, lalu bergegas menuju halaman timur. Suasana hatinya jadi sedikit buruk.


Qingyi tersenyum puas. Dia menang. Bukan hanya berhasil membuat Xiao Junjie marah, tapi juga berhasil mendapatkan makanan yang menggugah selera tanpa menguras banyak tenaga. Xiao Junjie menatapnya dengan mata menyala, seperti hendak memakannya hidup-hidup. Tapi, ini belum berakhir.


“Aku tidak akan membiarkanmu menang sampai akhir. Liu Qingyi, kejutan yang besar akan segera menghampirimu,” ujar Xiao Junjie. Namun, intimidasi seperti itu tidak mempan terhadap Qingyi. Dia justru ingin melihat apa yang akan dilakukan Xiao Junjie setelah ini.


“Aku sangat menantikan kejutan darimu. Ah, terima kasih atas makanannya, Pangeran Kecil.”


Usai menyelesaikan kata-katanya, gadis itu pergi. Pelayan pembawa makanan berjalan di belakangnya dengan takut. Putri Permaisuri pernah berpesan bahwa setiap makanan yang dikonsumsi oleh Raja Changle harus berada dalam pengawasannya. Melihat dia yang menggertak Xiao Junjie sampai tidak berkutik tadi, para pelayan yakin kalau dia tidak akan melepaskan mereka juga.


“Kami sungguh tidak tahu, Yang Mulia. Pangeran Permaisuri meminta kami membuatkan makanan kesukaan Yang Mulia Changle, kami tidak berani menolak.”


“Sepertinya kalian sudah lupa siapa Permaisuri Changle yang sebenarnya di sini.”


Mendengar pernyataan itu, lutut para pelayan mendadak lemas dan hampir tidak bisa berjalan. Keseimbangan mereka terganggu sampai makanan di nampan bergoyang.


Qingyi membuang napas, lalu berbalik dan menatap para pelayan itu satu persatu. Disiplin penting dilakukan. Jika Qingyi tidak mendisiplinkan mereka, kelak mereka akan menjadi pemberontak yang kurang ajar.


“Sudahlah. Antarkan makanannya ke kediamanku dan pergi untuk menerima hukuman kalian sendiri!” tukasnya.


Pelayan mengangguk dan berterima kasih karena Qingyi tidak mengambil nyawa mereka. Dia berubah menjadi monster yang menyeramkan di mata pelayan sejak masuk ke mansion. Qingyi memperlihatkan kekuasaannya langsung di hadapan mereka.


Makanan lezat itu sudah terhidang di meja Qingyi. Setelah para pelayan pergi, dia mulai menikmatinya. Yinghao yang berubah wujud ke bentuk panda muncul di pundaknya. Hidangan lezat yang dinikmati tuannya begitu menggugah selera. Yinghao melompat ke kursi di samping Qingyi, lalu meloncat-loncat kegirangan.


“Tuan, biarkan aku mencicipinya!” pinta Yinghao.


“Tidak. Makanan berlemak tidak cocok untuk hewan sepertimu,” tolak Qingyi.

__ADS_1


“Tuan, ayolah. Jangan selalu pelit!”


“Haish, mengapa ada kumpulan kabel yang menyebalkan sepertimu?”


Qingyi heran ke mana perginya semua makanan yang masuk ke dalam tubuh Yinghao. Setahunya, panda kecil itu hanyalah sekumpulan data yang tersusun dan membentuk sebuah tubuh. Entah kenapa tingkah dan sifatnya justru mirip dengan panda asli. Qingyi menyerah, lalu membiarkan Yinghao makan bersamanya.


Sambil makan, Qingyi sebenarnya tidak pernah berhenti berpikir. Dia terus teringat perkataan Xiao Junjie tadi. Firasatnya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Xiao Junjie pasti telah merencanakan sesuatu sebelum dia pulang kemari. Orang seperti Xiao Junjie yang punya wajah dua sangat licik dan picik.


“Tuan, apa yang kau pikirkan?”


“Entahlah. Firasatku buruk. Xiao Junjie pasti ingin merencanakan sesuatu untuk menyusahkanku lagi.”


“Bukankah kau bilang dengan senang hati akan menunggu kejutan darinya?”


“Itu benar. Hanya saja aku tetap tidak tenang.”


Tidak peduli apapun yang terjadi nanti, Qingyi tidak akan pernah membiarkan Xiao Junjie menang. Jiwa kompetitifnya selalu terbangun setiap kali berhadapan dengan pria bengkok itu.


Kalau Xiao Junjie menang, peluang Qingyi untuk bertahan di sini akan mengecil. Tapi jika dia bisa mengimbangi permainannya, maka dia masih bisa bertahan sampai batas waktunya tiba.


Keeseokan harinya, pintu kamar Qingyi diketuk berkali-kali dengan keras. Qingyi masih tidur, lalu perlahan terbangun karena suara itu terus mengganggunya. Dia mengucek kedua matanya, menguap sambil mengumpulkan kesadarannya. Ketukan di pintu semakin nyaring, dan Qingyi jadi geram. Dia bergegas membukanya.


Seorang wanita setengah baya berdiri dengan tatapan menelisik kepada Qingyi yang berdiri di hadapannya. Rambutnya disanggul rapi, pakaiannya merupakan seragam khas yang sering dipakai orang-orang dari Divisi Istana Dalam. Wanita setengah baya tersebut membungkuk memberi salam, lalu memperkenalkan dirinya.


“Yang Mulia, saya Bibi Zhang dari Divisi Istana Dalam. Saya diutus untuk mengajarkan etika wanita kerajaan kepada Yang Mulia mulai hari ini,” ucap Bibi Zhang.


“Oh, kau dari Istana Dalam. Aku tahu, kau boleh pergi,” ujar Qingyi.


Qingyi menutup kembali pintu, namun Bibi Zhang mencegahnya. Qingyi mengernyitkan dahinya karena pintu kamarnya jadi susah ditutup.


“Apa pintunya rusak?” gumamnya.


“Yang Mulia?”


Qingyi menatap kembali Bibi Zhang. Setelah beberapa saat, dia membelalakkan matanya lebar-lebar.


“Apa katamu tadi? Mengajariku etika wanita kerajaan?”


Bibi Zhang mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2