
Dua angsa yang dibawa pulang oleh Putri Permaisuri Changle berkeliaran di mansion. Dua pelayan yang ditugaskan untuk merawat mereka kewalahan karena sepasang angsa putih tersebut tidak mau diam. Mereka bahkan terbang ke halaman utara, ke tempat kediaman Xiao Junjie yang damai.
Xiao Junjie yang kedatangan tamu tak diundang merasa kesal, akan tetapi ia tak berdaya karena tahu bahwa kedua angsa yang memasuki kediamannya itu bukan sembarang angsa.
Xiao Du dan Xiao Di berkeliaran merusak bunga-bunga yang tengah mekar, juga mengotori teras kediaman Xiao Junjie dengan kaki mereka yang kotor.
Sementara itu, Qingyi justru tengah sibuk berkutat di antara tumpukan buku. Mengingat Janda Permaisuri Ming memaksanya untuk mengobati orang, dia tidak bisa membuang waktu. Menurutnya, lebih cepat maka lebih baik. Tidak peduli hasilnya bagaimana, yang penting dia sudah berusaha.
“Sepertinya ada serangga di dalam otakku,” keluhnya ketika beberapa buku tentang pengobatan tradisional selesai ia baca.
Entah mengapa, huruf-huruf kuno ini seperti rentetan huruf tegak bersambung yang susah dimengerti. Sejauh ini, Qingyi hanya dapat memahami beberapa kata. Ini tidak beres, karena biasanya ia akan menyerap materi itu dengan cepat.
“Yinghao, mengapa aku merasa aku telah memasuki dunia yang salah?”
“Maksudmu, Tuan?”
“Novel ini novel wuxia, tetapi mengapa aku justru merasa telah menjadi detektif dan seorang dokter? Apa sistem ingin menipuku?”
Pada saat itu, Yinghao tidak menjawab. Panda kecil tersebut asyik bermain loncat tinggi dengan buku sebagai tumpuan.
Karena kakinya pendek, Yinghao tidak bisa melewatinya dan buku-buku tersebut jatuh berserakan. Hal itu menimbulkan suara nyaring yang bersambung, menggema di ruang belajar.
“Diamlah! Jangan menggangguku!” gerutu Qingyi.
“Tuan, aku bosan. Ayo jalan-jalan!”
“Tidak.”
“Ayolah, Tuan.”
“Kubilang tidak.”
Gadis itu kembali berkutat dengan buku. Seandainya saja dia benar-benar seorang dokter, semua buku-buku ini pasi sudah masuk ke dalam kepalanya dan sudah diolah menjadi informasi.
Lagi pula, dia heran mengapa Janda Permaisuri Ming begitu memaksanya. Jelas-jelas dia tahu jika Putri Permaisuri Changle sebetulnya tidak pernah belajar apapun.
__ADS_1
Menyembuhkan rahim orang, bahkan dokter paling professional pun tidak semuanya mampu. Dengan alat dan obat seadanya, mereka tidak mungkin bisa sepenuhnya. Ini namanya jatuh ke dalam lubang yang dalam.
Kalaupun mereka sembuh, maka dunia ini mungkin akan mengalami guncangan yang lebih besar. Tetapi, jika mereka tidak diobati, mereka juga bisa mati.
Dilema. Qingyi terjebak dalam dilema yang dalam.
“Tuan, mengapa hari ini kau sangat lambat?” ejek Yinghao. Panda itu sengaja ingin membalas Qingyi dan menguji kesabarannya.
“Jika kau ingin aku menyelesaikan ini lebih cepat, beritahu sistem pusat cara praktis mengobati mereka.”
“Dasar Tuan tidak peka! Jelas-jelas memiliki solusi, tetapi berlagak tidak menemukan apapun.”
Qingyi mendelik. Dia menatap Yinghao dengan dahi berkerut, memikirkan perkataan panda menyebalkan tersebut. Solusi di depan mata?
“Ah, jadi maksudmu, aku harus berkorban banyak lagi?”
Yinghao menganggukkan leher pendeknya.
“Tidak. Aku bisa rugi besar jika melakukan itu!”
Dia juga tidak akan memberikan pil vitalitas ajaib yang ampuh untuk memulihkan orang. Kedua benda tersebut terlalu berharga, dan Qingyi akan sangat rugi jika menggunakannya.
Gadis itu juga tidak akan menggunakan persiknya untuk stimulan energi, apalagi menggunakan fermentasi air terjun ajaib. Intinya, Qingyi tidak ingin menggunakan apapun yang ada di ruang dimensi, karena itu sangat berharga dan di sini, dia sama sekali tidak mendapatkan keuntungan.
“Kalau begitu, berusahalah lebih keras, Tuan.”
"Pergi! Aku tidak ingin melihatmu saat ini!"
Qingyi berdecak. Tumpukan buku yang ia kumpulkan sudah menggunung, menghalangi wajahnya dan memenuhi meja. Semilir angin musim semi masuk lewat jendela yang terbuka, menepuk pelan wajah lembutnya yang manis. Terpaan angin yang membelai itu seperti membawa gelombang kantuk yang membuatnya menguap beberapa kali.
Sampai beberapa menit kemudian, dia tertidur dengan tangan memegang dagunya, dalam posisi duduk di antara tumpukan buku di meja. Pintu ruang belajar berderit, lalu sosok berbaju merah maroon berjalan pelan tanpa suara. Pintu itu kembali tertutup, dan sosok itu perlahan menghampiri Qingyi.
Sampai di samping meja, Baili Qingchen tersenyum lembut. Pria itu memandangi istrinya yang tengah tertidur dengan dalam.
Baili Qingchen dengan pelan menaruh kembali buku-bukunya di rak, merapikannya seperti semula. Ia menduga bahwa istrinya ini pasti belum menemukan cara untuk mengobati para selir.
__ADS_1
“Benar-benar suka memaksakan diri,” gumamnya.
Hati Baili Qingchen mungkin telah goyah. Ia sudah lama tak memandang Qingyi sebagai musuh yang harus diwaspadai.
Tatapan mata dari mata elangnya berubah dari tajam menjadi lembut seiring waktu. Baili Qingchen bahkan tidak sadar jika dia telah melangkah sejauh ini, melewati batas-batas yang telah ia buat untuk dirinya sendiri.
Dia memandangi wajah istrinya yang cantik dan putih. Pusat tatapannya jatuh pada sepasang mata yang kelopaknya tertutup. Kelopak itu bergerak membentuk kedipan lambat yang menggerakkan sebagian kulitnya. Sepasang mata purnama yang tertutup tersebut adalah sepasang mata yang menyimpan sejuta rahasia.
Ada cahaya dan kegelapan di dalam sana. Baili Qingchen sudah merasakannya sejak pertama kali mereka bertemu dalam upacara pernikahan. Mata Qingyi yang indah adalah sebuah tabir misteri yang sangat sulit diungkap.
Orang mungkin hanya bisa melihatnya sebagai sosok Putri Permaisuri Changle, namun Baili Qingchen merasakan lebih jauh dari itu. Ia merasa, apa yang ada di dalam diri gadis ini merupakan sesuatu yang tidak tersentuh.
Apa namanya? Aih, Baili Qingchen lupa. Yang jelas, seorang cendekiawan dan taois pernah berkata bahwa hidup manusia tidaklah sendirian.
Dunia ini hanya satu dari sekian dunia yang ada di semesta, yang mungkin lebih kecil atau bahkan sangat kecil. Dunia paralel, mungkin. Apa gadis ini sebenarnya juga mengetahuinya? Atau, dia pernah belajar tentang dunia itu, hingga dirinya menjadi ajaib seperti ini?
Baili Qingchen lantas membetulkan posisi Qingyi dengan gerakan pelan dan selembut mungkin. Pria itu khawatir gerakannya mengusiknya dan membangunkannya.
Kepala Qingyi disandarkan pada kepala meja belajar, sementara tangannya ia letakkan di atas perut. Kaki gadis itu diselonjorkan sampai lurus. Baili Qingchen kemudian mengambil sebuah selimut, dan menutupi tubuh Qingyi dengan kain tersebut.
Tapi, rasanya dia tidak puas. Baili Qingchen takut jika gadis ini bergerak, maka tubuhnya akan jatuh ke lantai. Itu akan sangat sakit. Baili Qingchen kemudian memutuskan untuk memindahkannya. Tubuh Qingyi diangkat dengan pelan, kemudian digendong keluar dari ruang belajar.
Halaman barat terlalu jauh. Pria itu berbelok ke halaman timur, ke kediamannya yang luas nan mewah. Para pelayan di sana saling bertatapan dengan malu-malu, iri melihat kelembutan Raja Changle kepada Putri Permaisurinya.
Mereka tidak pernah menyaksikan raja mereka bersikap begitu baik dan lembut terhadap seseorang selama bertahun-tahun. Ketika pada akhrinya mereka melihatnya, mereka merasa telah melihat pasangan paling manis di dunia.
Qingyi terusik dengan gerakan itu. Dia perlahan membuka matanya, lalu matanya menangkap pemandangan wajah Baili Qingchen dari bawah. Rahang tegas yang mempesona. Dahi gadis itu berkerut, lalu dengan pelan berkata, “Baili Qingchen?”
Baili Qingchen mendengarnya, dan dia menoleh menatap Qingyi. Seulas senyum mempesona terbit, menyihir Qingyi. Baili Qingchen menurunkan pandangannya, menundukkan kepalanya sedikit. Dalam beberapa detik kemudian, bibir pria itu mendarat di dahi Qingyi.
“Tidurlah,” ujarnya dengan suara yang sangat tenang.
Qingyi masih setengah sadar, tak menanggapi kecupan tersebut. Jika biasanya ia akan sangat marah ketika anggota tubuhnya disentuh Baili Qingchen, kali ini dia hanya diam.
Aroma cendana yang menenangkan merasuk ke dalam hidungnya. Qingyi kemudian membenamkan dirinya dalam gendongan Baili Qingchen, membuat pria itu memiliki detak jantung yang lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1