
Orang yang gila adalah orang yang kehilangan akal sehatnya, atau orang yang otaknya tidak berfungsi normal layaknya manusia biasa. Tapi, definisi orang gila itu berbeda jika diberikan kepada sosok Liu Qingyi. Definisi gila yang sebenarnya jauh lebih gila dari orang gila manapun di dunia.
Berbekal informasi sistem dan sedikit ingatannya, Qingyi menyelinap keluar dari mansion malam-malam dan pergi ke tempat pemakaman.
Ia menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk melompat dari satu atap ke atap yang lain. Qingyi seperti serigala liar yang berkeliaran di bawah cahaya bulan purnama. Setelah cukup lama, ia sampai di sebuah pemakaman keluarga.
Sebelum masuk, ia memperhatikan sekitar dan memastikan tidak ada siapapun di sana. Qingyi berjalan memasuki area pemakaman yang letaknya di pinggir hutan.
Pakaian yang ia kenakan adalah kostum baru dari sistem, sangat ringan dan nyaman sampai mempermudah Qingyi bergerak. Tangannya memegang sebuah senter dan ia menyorotkannya ke jalan yang hanya setapak itu.
Qingyi tiba di depan sebuah gundukan batu yang ada nisannya. Hurufnya mandarin kuno, lalu ia menyipitkan matanya dan mengeja tulisan tersebut.
Nisan bertuliskan “Wang Lingshan” itu berhasil ia baca dalam sepuluh detik. Qingyi mencondongkan tubuhnya, lantas melirik tahun kematian yang tertera pada nisan tersebut.
“Jadi, ini makam istri pertama Baili Qingchen?” gumam Qingyi.
Dirinya benar-benar gila. Seorang wanita, bertatus mulia, malah mengunjungi makam orang tengah malam sendirian! Yah, meskipun Yinghao ada di pundaknya, tapi tetap saja.
Kebanyakan wanita takut dengan hal-hal menyeramkan, dan paling menghindari pemakaman. Tapi, Qingyi justru malah pergi ke sana sendirian seolah-olah tempat itu adalah tempat wisata.
Benar-benar gila!
“Tuan, kau akan membongkarnya?” tanya Yinghao.
“Aku tidak segila itu sampai harus membongkar kuburan orang,” jawab Qingyi.
Ia berpikir kalau kematian istri pria pertama suaminya ada hubungannya dengan Janda Selir Sun, dan sebab itulah hubungannya dengan Baili Qingchen renggang walau tampak baik-baik saja di permukaan. Ini dapat dimengerti.
Janda Selir Sun pasti tidak bisa menerima kenyataan kalau putra satu-satunya memiliki ketertarikan yang tidak normal seperti pria pada umumnya. Terlebih, dia seorang pangeran bergelar raja, adik dari kaisar sebelumnya. Meski ayah Baili Qingchen menyetujuinya, Janda Selir Sun belum tentu punya pemikiran yang sama.
Ibu mana yang mau anaknya tidak normal? Janda Selir Sun sangat terpukul saat itu. Putranya memilih menikahi pria ketimbang menjadi menantu seorang menteri tinggi.
Padahal, gadis yang dicalonkan untuknya sebelumnya sangat cantik dan berbakat. Baili Qingchen tidak tergoda dan malah memilih rekan seperjuangannya.
Qingyi baru tahu kalau orang bernama “Wang Lingshan” ini adalah putra jenderal besar sebelumnya. Ia bergabung ke militer dan mengikuti Baili Qingchen sejak kecil, lalu tumbuh bersama. Hanya saja Qingyi tidak terlalu mengerti mengapa Baili Qingchen memilihnya di antara ribuan pria yang lebih cantik dari wanita.
__ADS_1
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
“Aku hanya ingin tahu senjata apa yang digunakan Janda Selir Sun untuk membunuhnya.”
Apakah itu racun? Yah, di zaman seperti ini, racun menjadi satu-satunya senjata ampuh untuk membunuh seseorang. Banyak jenis racun yang tidak meninggalkan jejak setelah bereaksi, sampai tabib tidak bisa memeriksanya.
Mungkin saja orang yang ada di kuburan ini juga diracun sampai mati. Berhubung sudah lama dan sudah jadi tulang belulang, penyelidikan atau identifikasi tidak bisa dilakukan lagi.
Jika tidak bisa mendapatkan jawaban karena tidak bisa menyelidiki, maka Qingyi akan bertanya kepada sumbernya langsung. Dia mendongak, melihat cahaya bulan sebentar.
Qingyi membungkuk menghormati makam, lalu keluar dari area pemakaman dengan langkah cepat. Senter di tangannya terus menyorot menerangi jalan, menemaninya sampai dia melompat-lompat di atas atap.
...***...
Istana Harem sunyi di malam hari. Istana Janda Selir Sun yang letaknya tidak jauh dari istana milik Janda Permaisuri Ming terlihat terang dengan lilin yang masih menyala. Pemilik istana itu baru saja selesai membersihkan dirinya setelah lelah menjamu wanita istana yang lain di taman kekaisaran.
Ketika hendak mematikan lilin, sebuah suara membuatnya waspada. Tidak lama kemudian, pintu istananya terbuka dan sesosok wanita yang familier tengah berdiri menatapnya.
Wanita itu berjalan mendekat, dengan ekspresi yang sulit diartikan. Janda Selir Sun dan pelayannya mengernyitkan dahi, tidak tahu apa maksud wanita ini kemari tengah malam.
Qingyi lalu menyunggingkan senyumnya, lantas menjawab, “Aku ingin mendapatkan jawaban darimu.”
“Jawaban apa?”
“Tentang kematian istri pertama Raja Changle. Kau yang membunuhnya, bukan?”
Janda Selir Sun terkejut. Namun, ia segera mengontrol dirinya sendiri. Sebenarnya ini bukan rahasia lagi, karena putranya sendiri pun tahu akan hal itu.
Putranya memilih berpura-pura dan bersikap biasa, walau Janda Selir Sun jelas tahu kalau putranya itu sakit hati. Hubungannya dengan Baili Qingchen baru membaik saat kedatangan Xiao Junjie, dan rasanya itu cukup melegakan untuknya.
Melihat Qingyi yang datang tengah malam, tanpa sopan santun, membuat Janda Selir Sun menghela napas. Dia menyuruh pelayannya keluar dan menutup pintu.
Janda Selir Sun menyuruh Qingyi duduk di depannya, agar ia bisa melihat wajah gadis itu dengan baik. Siang tadi dia tidak sempat memperhatikannya dengan baik karena ulah Kaisar Baili.
“Siapa yang memberitahumu?” tanya Janda Selir Sun.
__ADS_1
“Tidak ada. Raja Changle mengucapkan beberapa kata padaku yang menjelaskan tentang hubungan kalian. Jadi, aku mencari tahu sendiri,” jawab Qingyi.
Jika itu orang lain, orang itu pasti sudah diseret ke ruang bawah tanah dan dipukuli sampai mati. Janda Selir Sun paling sensitive jika sudah menyangkut kematian istri pertama Raja Changle. Dugaan Qingyi benar, dia memang tidak bisa menerima kenyataan kalau putranya bermasalah. Apalagi, orang yang dipilihnya tidak sepadan dengan latar belakangnya.
Akan tetapi, Janda Selir Sun telah menjatuhkan kepercayaannya pada Qingyi. Ditatapnya menantunya dengan intens, mencari sebuah keraguan dan ketakutan yang tersembunyi. Sayang, dia tidak menemukannya. Janda Selir Sun hanya melihat sorot mata jujur yang tidak terhalang apapun.
“Kau tidak takut aku akan membunuhmu juga?” tanya Janda Selir Sun, ia mencoba menguji menantunya.
“Kalau aku mati di tanganmu, itu hanya akan memperjelas bahwa kau memang tidak bisa menerima kenyataan akan kondisi putramu,” jawab Qingyi tanpa ketakutan sedikit pun. Janda Selir Sun tertawa.
“Sungguh, gadis yang menarik. Kau beruntung karena aku telah menjatuhkan kepercayaanku padamu.”
“Lalu, apakah sekarang kau bisa memberitahuku alasannya?”
Janda Selir Sun lantas menjelaskan alasannya. Ia menyingkirkan istri pertama putranya dengan sengaja karena sebuah harapan, bahwa putranya akan kembali seperti sedia kala. Namun, ia menyesal karena perkiraannya salah.
Putranya tidak bisa berubah, dan perlahan Janda Selir Sun mulai bisa menerimanya. Itulah sebabnya sekarang ia begitu toleran dan menyayangi Xiao Junjie, meski ia tidak benar-benar menganggapnya sebagai menantu dan hanya sebatas pendamping putranya.
Qingyi bersorak karena dugaannya benar. Janda Selir Sun memang tidak sederhana, sama seperti yang dikatakan oleh Baili Qingchen. Qingyi beruntung karena ia telah mendapatkan kepercayaannya. Jika tidak, malam ini mungkin ia sudah menjadi mayat di ruang bawah tanah.
“Aku tidak berharap banyak. Aku hanya ingin putraku hidup damai, entah itu denganmu, Xiao Junjie, atau kalian berdua,” ucap Janda Selir Sun di akhir ceritanya.
Qingyi sengaja tak menanggapi karena keberadaannya di sini hanya sementara. Kedamaian yang diinginkan Janda Selir Sun tidak bisa dia janjikan.
Qingyi pamit setelah Janda Selir Sun menyelesaikan ceritanya. Ia kembali melompati atap tanpa ada yang melihat. Setelah beberapa menit, ia sampai di mansion. Namun, karena mengantuk, Qingyi salah mendarat. Kakinya tidak menapak di halaman barat, melainkan halaman timur tempat Baili Qingchen berada.
Pria itu heran melihat istrinya berdiri di halaman dengan pakaian aneh. Qingyi menoleh, lalu beradu tatap dengan Baili Qingchen sejenak sebelum saling mengalihkan pandangan. Pria itu tidak melihatnya terbang melompati atap barusan, kan?
“Dari mana saja kau?” tanya Baili Qingchen. Tadi, Cui Kong memberitahu kalau Putri Permaisuri Changle keluar diam-diam.
“Istana. Oh, aku mengantuk. Yang Mulia, aku pinjam kamarmu sebentar. Bangunkan aku kalau matahari sudah terbit,” jawab Qingyi. Ia melengang masuk tanpa mempedulikan reaksi Baili Qingchen.
Gadis itu selalu semena-mena!
“Jangan masuk!” cegah Baili Qingchen.
__ADS_1
Mata Qingyi sudah sangat berat, ia tidak mempedulikan larangan Baili Qingchen dan langsung masuk ke kamarnya. Halaman barat terlalu jauh, ia mungkin langsung tidur di jalan jika memaksa.