Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 37: Sebuah Pembalasan


__ADS_3

Sampai hari ini, tercatat sudah ada lima belas bibi istana yang datang ke mansion Raja Changle. Namun, mereka selalu pulang tanpa membawa hasil apapun. Mereka justru mendapat masalah karena sudah berhari-hari masih tidak bisa mendisiplinkan Putri Permaisuri Changle.


Pihak Divisi Istana Dalam sudah melapor kepada Janda Selir Sun dan Janda Permaisuri Ming, lalu tuan-tuan itu membiarkan mereka kembali.


Qingyi tertawa puas karena akhirnya bibi-bibi tua itu menyerah padanya. Pada akhirnya, dia tetap menang. Xiao Junjie tidak bisa membuatnya jatuh, Qingyi justru akan terbang semakin tinggi setiap kali pria itu menangkapnya. Hari-hari damai Qingyi di halaman barat telah kembali kepadanya.


“Progres alur sudah mencapai empat puluh lima persen. Tuan, sebentar lagi kau akan segera berhasil,” ucap Yinghao. Kini panda itu jadi sering menampilkan dirinya dan sering bermain dengan pelayan.


“Baru berjalan setengah saja sudah membuatku sengsara.”


Qingyi meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Kakinya berselonjor dan ia merebahkan tubuhnya di kursi malas sambil menikmati matahari pagi. Tidak lupa, ia juga memakai kacamata hitam yang diambil dari ruang dimensi. Cemilan renyah dan gurih tersimpan di meja samping, dilengkapi segelas minuman segar.


Suasana hatinya semakin baik setelah mengetahui hukuman yang diberikan kepada perdana menteri. Setelah pengadilan bubar, perdana menteri dipanggil ke ruang belajar kaisar. Dia dimarahi dan ditegur habis-habisan oleh Kaisar Baili.


Selain itu, Kaisar Baili juga menurunkan titah pengurungan dan melarang perdana menteri menghadiri sidang pengadilan dan rapat istana sampai batas waktu yang belum ditentukan. Gajinya juga tidak akan diberikan selama satu tahun.


Qingyi tidak protes akan hukuman itu. Lumayan, pikirnya. Kalau perdana menteri dihukum sekaligus, ceritanya jadi tidak seru.


Meskipun Kaisar Baili hanya mendakwanya atas perbuatan menghalangi pekerjaan dan tidak menyebut-nyebut percobaan pembunuhan, tidak masalah. Qingyi sendiri yang akan menghukumnya nanti.


“Yang Mulia, Janda Selir Sun memintamu masuk istana,” ucap pelayan. Qingyi membuka kacamatanya untuk memastikan siapa yang baru saja bicara.


“Sekarang?”


“Ya, Yang Mulia.”


Telinga Yinghao tiba-tiba bergerak. Panda kecil itu meloncat ke pangkuan Qingyi.


“Tuan, ada misi baru yang telah aktif. Pergi temui Janda Selir Sun dan dapatkan kepercayaannya!”


“Kurasa mertuaku itu mau mencari masalah karena aku membuat bibi-bibi istana sengsara.”


Qingyi terpaksa memenuhi panggilannya karena berkaitan dengan misi. Sekalian ia juga ingin melihat seberapa luas istana kekaisaran. Pelayan istana yang mengetahui kedatangannya langsung membawanya ke taman kekaisaran.


Di sana, beberapa janda selir dari dua generasi kaisar sebelumnya berkumpul bersama Janda Selir Sun. Umur mereka tidak terlalu tua meskipun suami mereka merupakan dua kaisar sebelumnya.


Mata Qingyi memicing kala menangkap sesosok wanita setengah tua yang paling dibencinya. Nyonya Besar Gao duduk di antara para janda selir, bersama beberapa nyonya bangsawan yang lain. Seketika suasana hatinya buruk. Ini bukan permintaan masuk istana biasa, tapi sebuah perjamuan yang diadakan tanpa memberitahunya.


“Putri Permaisuri Changle sudah datang. Silakan duduk,” ucap Janda Selir Sun.


Semua mata langsung tertuju padanya. Nyonya Besar Gao juga mentapnya, tapi dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


“Nyonya Sun, jika tidak salah, kau mengutus pelayanmu untuk memintaku memasuki istana. Aku sungguh tidak menduga jika permintaan itu berubah menjadi sebuah jamuan,” ucap Qingyi.


Janda Selir Sun terkejut, namun ia menyembunyikannya dengan mengubah topik pembicaraan. Menantunya ini tidak terduga.


“Ah, kebetulan sebentar lagi musim semi. Pemandangan akhir musim dingin selalu mengejutkan mata,” ujar Janda Selir Sun.


“Kalau begitu, aku berterima kasih atas undanganmu.”


Semua orang yang ada di sana memang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bagaimana bisa seorang gadis yang dibesarkan tanpa kasih sayang, yang delapan belas tahun hidupnya dihabiskan dengan penuh kesengsaraan memiliki temperamen yang begitu elegan seperti ini?


Mereka tidak melihat ketakutan atau keraguan di mata Qingyi, dan mereka hanya menemukan jejak keberanian yang terukir jelas di mata kejora itu.


Nyonya Besar Gao jadi gelisah. Terakhir kali, gadis itu telah membuat putrinya tergucang. Entah apa yang akan dia lakukan setelah tahu kalau dirinya ada di sini. Dia menatap Qingyi dengan nyalang. Qingyi mengabaikannya, lalu meminum tehnya dengan pelan. Semua mata masih tertuju padanya.


“Apa anjing yang ada di pangkuanmu itu adalah peliharaanmu, Putri Permaisuri?” tanya seorang wanita.


Qingyi mendongak, menatap wanita itu dari atas ke bawah. Dari perawakan dan penampilannya, wanita itu pasti Janda Permaisuri Ming atau Ibu Suri, ibu dari Kaisar Baili.


“Yang Mulia, hewan ini bukan anjing. Dia adalah seekor panda,” jawab Qingyi. Janda Permaisuri Ming tampaknya terkejut karena Qingyi mengetahui siapa dirinya.


“Panda? Mengapa aku baru mendengarnya?”


“Itu karena hewan ini satu-satunya di dunia ini,” ucap Qingyi.


“Apa kau bisa membiarkanku menyentuhnya?”


Telinga Yinghao bergerak tanda setuju. Lalu, Qingyi menggendongnya dan menyodorkannya pada Janda Permaisuri Ming.


Yinghao langsung meloncat ke pangkuannya, lalu meringkuk nyaman dalam pelukan Janda Permaisuri Ming. Qingyi tersenyum kecil, menatap Yinghao yang sengaja mencuri perhatian dan memanfaatkan kesempatan.


“Sepertinya dia menyukaimu, Yang Mulia.”


“Ah, dia sangat lucu dan bulunya sangat lembut.”


Saat Janda Permaisuri Ming sedang asyik mengelus kepala Yinghao, Kaisar Baili datang bersama Baili Qingchen. Semua orang menyambut dengan senyuman di wajah, kecuali Qingyi. Kaisar Baili sedikit terkejut saat gadis kurang ajar itu ada di sini. Baili Qingchen juga menatapnya sebentar sebelum dia menghampiri ibunya.


“Karena Putri Permaisuri Changle ada di sini, bagaimana jika kau menyajikan teh untuk Janda Selir Sun?” ucap Kaisar Baili pada Qingyi.


Menyajikan teh? Qingyi sangat tahu kalau maksudnya bukan hanya menyajikan teh biasa. Tapi juga dengan seni. Qingyi tidak bisa memainkan seni menyeduh teh. Apakah dia harus menyajikannya dengan tarian pedang? Rasanya itu agak memalukan. Kaisar Baili pasti sengaja menyulitkannya untuk membalas dendam.


“Bagaimana, Putri Permaisuri?” ulang Kaisar Baili. Qingyi menatapnya tajam.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Baili Qingchen berdiri dan menyela perkataan Kaisar Baili.


“Yang Mulia, semua orang tahu bahwa Nyonya Zhao hanyalah seorang selir tanpa latar belakang yang bagus. Yah, tentu sebelum identitasnya diverifikasi. Selama periode itu, mustahil istri Perdana Menteri mengajarinya. Mohon Yang Mulia jangan mempermalukannya,” ucapnya.


Qingyi berdecak dalam hati. Baili Qingchen ini membelanya atau sengaja membuatnya marah?


“Benar juga. Putri Permaisuri Changle pasti belum diajarkan etika yang baik.”


Ini pun termasuk dalam pelajaran etika? Tanya Qingyi dalam hati.


“Bukankah hanya menyajikan teh? Untuk apa dibuat repot seperti itu. Tetapi, berbicara tentang etika, bukankah Nyonya Besar Gao mengetahuinya lebih jelas dari siapapun?” sela Qingyi. Kali ini, dia benar-benar sudah kesal.


Nyonya Besar Gao terdiam. Wajahnya memerah. Sialan, gadis ini sengaja mempermalukanku, pikirnya. Qingyi menghampiri meja Janda Selir Sun, lalu berjongkok.


Dia melakukan beberapa gerakan aneh sebelum menuangkan tehnya ke cangkir. Semua mata tidak lepas memandang setiap gerak-geriknya. Baili Qingchen juga sama, dia justru yang paling serius memperhatikannya.


“Aku adalah orang yang mementingkan efisiensi. Aku tidak bisa membuang banyak waktu untuk melakukan sesuatu yang pada akhirnya bisa dilakukan dengan cara yang lebih praktis. Bukankah begitu, Nyonya Sun?”


Perkataannya menyiratkan bahwa dia tidak suka hal yang belibet. Menyeduh teh yang menyeduh teh saja, untuk apa dilakukan dengan repot. Toh pada akhirnya tehnya tetap diminum juga.


Meskipun ini melanggar adat kebiasaan, tapi Qingyi tidak benar-benar ingin merusaknya. Dia hanya berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.


Janda Selir Sun tersenyum atas perkataan menantunya. Jarang ada wanita yang berani mengungkapkan pikirannya secara terbuka. Dia meminum teh sajian Qingyi, dan merasakan keharumannya perlahan.


Memang tidak ada bedanya antara yang memakai seni dan juga secara langsung. Entah karena suasana hatinya baik, atau karena gadis yang ada di depannya.


“Yang Mulia, Putri Permaisuriku sedang tidak enak badan. Aku akan membawanya pulang ke mansion,” mohon Baili Qingchen. Dia menarik tangan Qingyi, dan membuat gadis itu menatapnya penuh tanya.


"Kau yang sakit, Baili Qingchen," bisik Qingyi.


“Pulanglah jika kau tidak ingin dipersulit lagi.”


Mengerti dengan maksud Baili Qingchen, Qingyi lalu mengangguk. Dia juga tidak ingin berlama-lama di istana yang banyak wanitanya ini.


Terlebih, ia tidak ingin melihat wajah Kaisar Baili yang menyebalkan itu. Ancaman yang diberikan Qingyi sebelumnya sepertinya masih kurang. Lain kali, dia akan mengancamnya lebih kejam lagi.


“Karena Raja Changle memintanya, aku tidak akan melawan. Kalau begitu, aku permisi.”


Qingyi dan Baili Qingchen meninggalkan taman kekaisaran. Janda Selir Sun dan Janda Permaisuri Ming saling pandang, lalu keduanya tersenyum bersama-sama.


Perjamuan itu masih berlanjut meskipun peran utamanya sudah pergi. Kaisar Baili menahan marah, lalu meninggalkan taman kekaisaran beberapa menit setelah Raja Changle dan permaisurinya pergi.

__ADS_1


Yinghao yang masih ada dalam pangkuan Janda Permaisuri Ming bergumam dengan pasrah, “Tuan yang kejam. Dia melupakanku!”


__ADS_2