Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 21: Mengajari Adik Ipar


__ADS_3

Jalan ibu kota kekaisaran selalu ramai di segala musim.


Di ibu kota yang penduduknya mengandalkan perdagangan dan bisnis di gedung-gedung sebagai mata pencaharian, tidak banyak ditemui perbedaan dengan pasar di dunia modern pada biasanya. Yang paling membedakannya hanyalah barang dan cara bertransaksi yang masih tradisional. Tidak menggunakan kartu kredit atau debit bank.


Qingyi turun dari kereta kudanya di depan sebuah bangunan bertuliskan Paviliun Jinfeng. Ada dua penjaga bertubuh kekar berdiri di dekat pintu. Lebar pintu masuknya sekitar tiga meter, ukuran yang cukup lebar untuk pintu masuk sebuah gedung di zaman ini. Di halaman depannya terdapat dua patung batu sebagai hiasan.


Gadis itu melengang masuk. Dua penjaga berwajah datar menatap ke depan. Bau makanan dan bau arak bercampur, menguar di udara ruangan dalam gedung. Arsitekturnya sama persis dengan arsitektur yang sering terlihat di drama-drama kolosal televisi.


Mungkin benar jika penulis naskah film dan drama memiliki ikatan batin yang kuat dengan kehidupan masa lalu, atau imajinasi mereka sangat hebat hingga bisa mereprensentasikan apa yang tergambar ke dalam susunan alur.


Qingyi merasa dirinya cukup hebat sebagai editor novel ini. Julukan “Ratu Fantasi Kharismatik” memang cocok disandangkan untuknya. Dengan imajinasi dan kata-katanya, dunia novel dari penulis yang ia pijaki cukup indah pemandangannya. Gedung ini hanyalah satu dari sekian banyak tempat yang berhasil ia ciptakan dalam imajinasinya.


Qingyi melihat dua orang pemuda tengah berdebat di lantai atas. Tidak jauh dari tempat keduanya terdapat seorang pemuda tegap berwajah datar, di tangannya ada sebilah pedang yang tersarung.


Perdebatan kedua pemuda menarik perhatian, menimbulkan keributan. Penjaga toko hendak melerai, namun tidak kuasa menahan kerumunan.


“Aku yang lebih dulu datang! Kursi ini milikku!” seru seorang pemuda yang usianya sekitar tiga tahun lebih tua dari Qingyi.


“Enak saja! Apa kau buta? Jelas-jelas pengawalku yang tiba lebih dulu! Kursi ini milikku!” ucap pemuda yang satu lagi.


“Jangan karena kau seorang pangeran, kau bisa bertindak sesuka hati! Apa kau lupa kalau kediaman Perdana Menteri juga sangat terpandang?”


“Hah, apa semua orang dari sana selalu angkuh seperti ini?”


Ia masih belum beraksi. Qingyi menunggu selama lima menit untuk menyaksikan sejauh mana keduanya akan terus ribut. Padahal, topiknya karena sepele. Kedua pemuda itu memperebutkan tempat duduk yang sama. Setelah lima menit belum mereda, Qingyi akhirnya naik ke lantai dua untuk memisahkan mereka.


“Cukup! Apa kalian akan terus bertengkar sampai malam?” tanya Qingyi.


Baili Qingyan menoleh, ia pikir siapa yang begitu berani berteriak kepadanya di sini. Ia melihat seorang wanita berpakaian biru muda berjalan membelah kerumunan. Ada aura yang anggun keluar darinya, sekaligus rasa dingin yang tiba-tiba datang entah dari mana.


“Yo, ternyata kau membawa kekasihmu ya! Tidak kusangka Tuan Muda Kedua dari kediaman Perdana Menteri ternyata orang yang berlindung di bawah ketiak wanita!” seru Baili Qingyan.


Liu Qingti hendak menyerang Baili Qingyan, tetapi Qingyi mencegahnya. Tampaknya, Baili Qingyan tidak tahu kalau wanita itu adalah Liu Qingyi, kakak ipar barunya. Yinghao memberinya misi menyelesaikan keributan, menyuruhnya datang ke Paviliun Jinfeng. Ia pikir siapa yang harus ia selesaikan, ternyata kedua pemuda itu adalah kakaknya dan adik iparnya sendiri.


“Heh, hanya seorang pangeran yang tinggal di luar saja sudah begitu berani! Ayo, kita tanding satu lawan satu!” tantang Liu Qingti. Qingyi menepuk jidatnya sendiri.


Liu Qingti ini memang kekanak-kanakkan. Walau usianya sudah cukup dewasa, tapi karena perdana menteri dan istrinya tidak terlalu menyayanginya, hidupnya jadi serampangan. Seharian hanya bermalas-malasan dan kerap menerima hukuman cambuk. Dia tidak pergi belajar ke akademi, malah berdebat dengan keluarga kekaisaran.


Baili Qingyan juga sama. Menurutnya, pangeran yang satu ini sembrono. Dulu dia hampir mencelakai Luo Mingyue dengan rombongan kudanya, sekarang malah ribut di gedung ini. Kalau kebanyakan pangeran akan sibuk melatih diri dan menguatkan posisi, yang satu ini justru sebaliknya. Mungkin, ini efek karena ia dibesarkan di negara ibunya.


“Siapa takut!”


Qingyi geram karena pemuda tegap yang bertugas sebagai pengawal Baili Qingyan hanya berdiri dan menonton. Seharusnya ia membela majikan, atau setidaknya berusaha agar keduanya tidak bertengkar. Qingyi menatap kesal kepada Jingling – pengawal pribadi Baili Qingyan.


Baili Qingyan dan Luo Qingti sudah bersiap hendak bertarung. Qingyi langsung menjewer telinga mereka, membuat mereka terkejut dan meringis kesakitan.

__ADS_1


“Kau berani menjewer seorang pangeran! Wanita, apa kamu tidak takut dihukum?” ucap Baili Qingyan marah.


Qingyi semakin mengeraskan jewerannya. Ia tidak takut dihukum, mereka berdua yang harusnya dihukum.


“Sebagai kakak iparmu, aku berhak menghukummu jika kau membuat masalah!” seru Qingyi.


Jingling dan Baili Qingyan terkejut. Kakak ipar? Kakak ipar dari mana?


“Bohong! Aku tidak punya kakak ipar sepertimu!”


“Qingyi, lepaskan aku. Telingaku bisa putus karenamu,” pinta Liu Qingti.


Sebagai seorang tuan muda yang tidak terikat aturan, dia memanggil adiknya yang sudah menjadi Putri Permaisuri Changle dengan namanya, dan Qingyi tidak keberatan atas itu.


Baili Qingyan menahan ringisan dan tertegun. Nama itu terdengar tidak asing. Tiba-tiba ia ingat beberapa minggu lalu keponakan kaisarnya menurunkan dekret pernikahan untuk kakak ketiganya – Baili Qingchen dengan seorang gadis bernama Liu Qingyi. Jika tebakannya benar, maka wanita ini memang kakak iparnya.


“Baiklah, baiklah. Lepaskan telingaku dulu,” ucap Baili Qingyan menyerah. Qingyi melepas jeweran di telinga kedua pemuda itu.


Merepotkan, pikirnya. Mengapa ia harus repot-repot mengurusi pertikaian kakak dan adik iparnya. Mereka sudah besar, seharusnya bisa menyelesaikan masalah sendiri. Lagipula ia tidak ingin terlibat lagi dengan kediaman perdana menteri dan keluarga kekaisaran yang lain.


Qingyi sudah dibuat pusing oleh permasalahan di mansion Raja Changle. Kalau bukan karena misi, ia mana mau datang jauh-jauh kemari. Merebahkan diri sambil menikmati cahaya matahari pagi atau pergi tidur di ruang dimensi seratus kali jauh lebih menyenangkan daripada ini. Setidaknya, ia bisa menikmati hidupnya yang singkat ini.


“Katakan! Apa masalahnya?”


“Hanya karena ini kalian berkelahi? Ya ampun, sudah umur berapa kalian ini?” tanya Qingyi tak percaya.


“Seharusnya putra Perdana Menteri yang mengalah untukku!” seru Baili Qingyan tak terima.


Sifat kekanak-kanakan dua bocah dewasa ini membuatnya pusing. Akhirnya, Qingyi memaksa mereka duduk bersebelahan karena sudah terlalu geram. Ia menceritakan beberapa kisah persaudaraan yang berakhir tragis akibat hal sepele, membuat Baili Qingyan dan Liu Qingti patuh dalam seketika. Mereka pada akhirnya memahami bahwa kekanak-kanakkan hanya akan menimbulkan masalah.


Baili Qingyan dan Liu Qingti berbaikan. Keduanya bersalaman dan sama-sama berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Kelak jika kebetulan menginginkan tempat duduk yang sama, salah satu dari mereka akan mengalah.


Baili Qingyan juga berjanji tidak akan mengadukan ini kepada Kaisar Baili dan Liu Qingti tidak akan memberitahu masalah hari ini kepada perdana menteri.


Ketika makanan sudah datang, ketiganya makan bersama-sama. Qingyi lalu menarik Jingling, menyuruh pengawal itu duduk dan makan bersama. Beberapa orang yang melihat interaksi keluarga kekaisaran dan keluarga perdana menteri begitu akrab merasa iri.


Mereka berandai-andai bisa duduk satu meja dengan Putri Permaisuri Raja Changle yang terhormat, atau bersama Pangeran Ketiga, atau bersama pengawal Jingling yang terkenal kehebatannya.


Tapi, mereka tidak tertarik satu meja dengan Tuan Muda Kedua dari kediaman perdana menteri karena sudah terlalu sering melihatnya berfoya-foya.


“Misi berhasil. Satu set perlengkapan fotografi sudah ditambahkan ke ruang dimensi,” Yinghao bersuara dalam mode penyamarannya.


Diam-diam, Qingyi menyunggingkan senyumnya yang tersembunyi.


“Tidak kusangka orang yang ditunjuk keponakanku untuk Raja Changle ternyata sangat liar sepertimu,” ucap Baili Qingyan sebelum menyuapkan makanan ke mulutnya.

__ADS_1


“Memangnya seperti apa perkiraanmu?” tanya Qingyi.


“Yah, kau tahu sendiri, kakak keduaku itu tidak menyukai wanita. Dia saja lebih memilih menikahi seorang pria untuk menjadi istri pertamanya dibandingkan menikahi seorang putri menteri tinggi.”


Qingyi mengernyitkan dahi. Apa Baili Qingchen pernah dijodohkan sebelumnya?


“Ada cerita seperti ini?” tanya Qingyi lagi. Baili Qingyan mengangguk.


Ia kemudian menceritakan kejadian saat Baili Qingchen masih lajang. Saat itu, dia baru pulang dari peperangan. Kaisar terdahulu ingin menjodohkan seorang putri menteri tinggi kepadanya, menjadikannya Permaisuri Changle yang pertama.


Tapi, tidak ada yang mengira kalau Raja Changle ternyata ingin menikahi seorang pria yang pernah berjuang bersamanya di medan perang. Tak kuasa menolak, akhirnya kaisar terdahulu terpaksa menyetujuinya.


Kejadian tersebut membuat keluarga menteri itu menjadi lelucon ibukota. Orang-orang bilang mereka kalah dengan seorang prajurit kasar. Demi membendung kecaman, kaisar terdahulu terpaksa melarang Permaisuri Raja Changle pertama keluar kediaman. Siapa sangka dia malah meninggal beberapa tahun kemudian.


“Menurutku, kakak keduamu itu terlalu aneh. Apa kau tidak tahu kejadian apa saja yang dia alami selama ini?” tanya Qingyi.


“Aku besar di Kekaisaran Chen. Mana tahu urusan kehidupan kakak keduaku?”


“Lalu mengapa kau kembali ke Kekaisaran Bingyue?”


“Hanya berkunjung. Beberapa bulan lagi aku akan kembali ke Kekaisaran Chen.”


Qingyi mengangguk. Ia pikir Baili Qingyan akan menetap di Bingyue. Jika dipikir-pikir, tindakan itu bagus juga. Baili Qingyan hanya akan menjadi korban kekuasaan politik jika tetap berada di sini. Kaisar Baili tidak akan membiarkan seorang pun menggoyahkan posisinya.


Baili Qingyan adalah kandidat perebut takhta yang ideal, karena memiliki darah dan dukungan kuat dari kekaisaran yang lain. Apalagi, umurnya juga hanya terpaut beberapa tahun lebih muda dengannya.


Ayah Baili Qingchen dan Baili Qingyan, alias kakek Kaisar Baili yang sekarang memang memiliki putra yang umurnya tidak jauh berbeda dengan para cucunya. Itu adalah pangeran-pangeran yang lahir dari selir muda, beberapa tahun sebelum sang kaisar meninggal.


“Qingyi, bagaimana kehidupanmu di mansion Raja Changle? Apa Xiao Junjie dan Pangeran menindasmu?” tanya Liu Qingti.


“Lumayan. Orang seperti mereka tidak akan bisa menindasku dengan mudah,” jawabnya ringan.


Qingyi mengaduk mi di mangkuknya sekuat tenaga sambil membayangkan wajah Xiao Junjie dan Baili Qingchen yang menyebalkan. Sumpitnya sampai patah. Liu Qingti dan Baili Qingyan saling berbisik,


“Menurutmu apa dia benar-benar baik-baik saja?” tanya Liu Qingti.


“Entahlah. Kakak keduaku itu terkenal kejam. Kakak ipar mungkin mengalami beberapa kesulitan saja.”


...****************...


...Permisi, Baili Qingyan sama Liu Qingti mau numpang lewat dulu......



__ADS_1


__ADS_2