
Dekret pengasingan untuk Janda Selir Sun sudah diturunkan. Baili Qingchen mengantarkannya dan membacakannya sendiri di hadapan ibunya.
Pada saat itu, Janda Selir Sun bersikap tenang dan matanya tidak dipenuhi emosi. Dia mirip seperti seorang ibu suri yang digulingkan karena kejahatannya.
Kaisar Baili mengasingkannya di istananya sendiri. Janda Selir Sun tidak boleh keluar satu langkah pun dari istananya, dan tidak ada seorang pun yang diizinkan menemuinya selamanya. Orang yang boleh keluar masuk hanyalah pelayan dan kasim yang ditugaskan untuk melayaninya.
Pengasingan ini sama seperti penjara. Meskipun tidak dibuang jauh ke perbatasan, hidup Janda Selir Sun tidak lebih dari seorang tahanan.
Istananya akan berubah menjadi Istana Dingin yang sunyi dan suram. Janda Selir Sun akan tinggal di sana menikmati hari tua sambil menunggu ajalnya tiba.
Pada saat dekret telah selesai diumumkan, Qingyi tengah mengikat Cui Kong ke batang pohon persik dan memarahinya. Cui Kong pasrah dan tidak berniat melawan, ketika ia melihat penyebab Putri Permaisuri menjadi ganas hari ini. Saat tubuhnya menempel pada pohon, Cui Kong hanya menurut sambil menatap penuh permohonan pada majikan putrinya.
“Buang tatapanmu itu! Kau pikir aku akan iba hanya karena kau memohon padaku?”
“Yang Mulia, aku sudah tahu salah,” ucap Cui Kong.
Kalau tahu begini, pengawal itu lebih baik membawa majikannya ke halaman timur saja dan meninggalkannya di sana sampai Baili Qingchen bangun dengan sendirinya.
Semalam, Cui Kong langsung pergi setelah membawa Baili Qingchen ke halaman barat, jadi dia tidak mengetahui apapun. Namun, setelah melihat sikap Putri Permaisuri hari ini, dia menduga telah terjadi sesuatu yang besar.
Qingyi membuang napasnya kesal. Yinghao yang duduk di pundaknya terus menertawakan bintik-bintik merah yang muncul di leher dan bahu tuannya.
Bintik itu seperti ruam alergi, namun bekasnya lebih dalam dan warnanya lebih segar. Yinghao juga menertawakan sudut bibir tuannya yang sedikit bengkak.
Yah, semalam, memang terjadi sesuatu.
Saat Baili Qingchen menciumnya, kendali tubuh Qingyi lepas dan pria itu merebutnya. Di bawah kelap-kelip bintang yang malu-malu, Baili Qingchen terus melahap bibirnya seakan dia adalah orang kehausan yang telah menemukan sumber mata air. Mata pria itu terpejam dan lenguhan-lenguhan kecil lolos dari mulutnya.
Qingyi seperti orang gila. Ini lebih parah daripada saat di gua tempo hari. Baili Qingchen yang mabuk menjadi lebih kuat dan lebih ganas dari biasanya.
Dulu, pria itu hanya mencuri ciuman dan meninggalkannya untuk menggertaknya. Kali ini, rasanya sungguh berbeda. Tanpa sadar, Qingyi…. Sedikit menikmatinya!
Dia juga membalasnya. Raja dan PutribPermaisuri Changle bermain di taman yang dikelilingi lilin yang menyala. Selain ciuman, bibir pria itu juga mulai turun dan bermain di leher dan bahunya.
Baili Qingchen mengecupnya, menciumnya, dan menggigitnya. Bekas kemerahan dari gigitannya tertinggal di sana dalam jumlah cukup banyak.
Baili Qingchen memperlebar area bermainnya dengan membuka pakaian di bagian bahu. Pada saat itu, malam musim semi tidaklah dingin.
__ADS_1
Hati dan pikiran Qingyi berteriak saling bertolak belakang, antara menikmatinya atau menghentikannya. Sial, tubuhnya juga sudah diambil alih hingga dia cukup kesulitan.
Tangan pria itu mulai nakal dengan bergerak turun ke area tubuh lain. Baili Qingchen menyasar gaun panjangnya, menyingkapnya sedikit dan memberikan sedikit sentuhan di sana.
Tubuh Qingyi seperti tersengat listrik, lalu tangannya mencoba menghentikan usapan tangan Baili Qingchen.
“Baili Qingchen…. Hentikan!” ucapnya parau.
Baili Qingchen yang saat itu tengah bermain di bahunya menggeleng.
“Permaisuriku dermawan. Ayahanda dan kakakku bilang, melayani suami adalah hal yang baik.”
Oh, bisakah dia berhenti menyebut ayahanda dan kakaknya? Qingyi sudah muak!
Gara-gara mereka, Baili Qingchen menjadi cabul ketika mabuk. Beginikah cara keluarga kekaisaran membesarkan para pangeran?
Saat Baili Qingchen sedang asyik bermain, Qingyi mengeluarkan tenaganya yang besar dan berhasil mendorongnya ke samping. Tubuh Baili Qingchen terbaring di sisinya, dengan senyuman yang paling menawan yang pernah dilihat Qingyi.
Dia tidak marah walaupun dihentikan secara paksa. Setidaknya, beban di hatinya sedikit berkurang malam itu.
“Kenapa bintang-bintang itu berkelap-kelip? Apa mereka malu dan iri padaku?” tanya Baili Qingchen polos.
“Hihihi. Permaisuriku, kau begitu dermawan. Bagaimana jika malam ini kita tidur bersama?”
Qingyi tentu saja terkejut. Pria ini! Tidak bisakah ucapannya sedikit dijaga? Atau setidaknya, pakailah kata-kata yang lebih lembut.
Qingyi memukul perutnya sampai Baili Qingchen sedikit meringis, lalu pria itu tertawa. Dengan malas Qingyi menjawab, “Aku tidak mau tidur denganmu.”
“Mengapa? Permaisuriku, apa kau menyalahpahami arti dari tidur bersama?”
“Tutup mulutmu! Pikiranku tidak sekotor itu!”
“Lalu mengapa kau menolak?”
“Aku tidak tertarik padamu. Apa kau lupa jika kau juga punya istri lain?”
Dahi Baili Qingchen mengernyit. Istri lain? Kapan dia punya istri lain selain wanita di sampingnya ini? Apa ayahnya atau kakaknya diam-diam mengirimkan selir untuknya? Mengapa dia tidak pernah melihat wanita itu?
__ADS_1
“Jika kau penasaran di mana istrimu yang lain, kau bisa pergi ke halaman utara.”
Alih-alih menurut, Baili Qingchen justru menarik Qingyi ke dalam pelukannya. Kepalanya menyelundup ke leher Qingyi, menghembuskan napas lembutnya ke kulit gadis itu. Pipi Qingyi memerah. “Hei, menjauh dari leherku!”
“Tidak. Karena tidak bisa tidur bersama berdua, kalau begitu tidur ditemani bintang-bintang saja!”
Baili Qingchen memejamkan matanya, dan dia benar-benar tertidur memeluk Qingyi. Qingyi terpaksa menggendongnya ke dalam kamarnya dan membiarkannya tidur di sana. Gadis itu sangat terkejut saat melihat bekas gigitan di leher dan bahunya ternyata lebih banyak dari yang ia kira.
“Bibi!”
Teriakan bening bocah kecil memecah ingatan Qingyi pada momen tadi malam. Dia menoleh, lalu melihat Baili Wuyuan berlari memasuki kediamannya dengan riang.
Di belakangnya, Baili Qingchen menyusulnya dengan langkah teratur. Jubah kerajaannya berkibar dan mahkota di kepalanya sedikit bergoyang.
“Bola nasi kecil, mengapa kau kemari?” tanya Qingyi.
“Bibi, aku bosan di istana. Ayahanda mengizinkanku berkunjung ke mansion Paman Kakek untuk belajar beberapa hal,” ucap Baili Wuyuan.
“Paman Kakek? Yo, secepat itukah panggilanmu berubah?” tanya Qingyi pada Baili Qingchen.
Bola nasi kecil menarik gaun Qingyi, lalu berkata, “Paman Kakek terlalu muda untuk dipanggil kakek. Jadi, aku menggabungkan kata paman dan kakek untuk menyebutnya.”
Baili Qingchen melihat Cui Kong diikat di pohon persik. Melihat tuannya datang, Cui Kong menatap penuh harap agar Baili Qingchen mau membujuk Qingyi agar melepasnya.
“Apa yang kau lakukan pada pengawalku?” tanya Baili Qingchen.
“Menghukumnya karena kau tidak bisa mendidiknya dengan baik,” jawab Qingyi.
Pupus sudah harapan Cui Kong untuk melepaskan diri. Sia-sia dia menatap penuh harap pada tuannya, karena Baili Qingchen ternyata sama sekali tidak mempedulikannya.
Baili Qingchen justru mengangguk dan membiarkan Qingyi. Sepertinya, Cui Kong benar-benar tidak boleh berharap.
“Bibi, mengapa di lehermu terdapat banyak bintik merah? Apa kau alergi?” tanya Baili Wuyuan.
Sudut mata Qingyi dan sudut mata Baili Qingchen berkedut. Pria itu berdehem dan mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Baili Wuyuan. Qingyi merengut, kemudian menjawab, “Hanya gigitan serangga.”
“Serangga sebesar apa yang mengigitmu sampai bekasnya begitu banyak?”
__ADS_1
Sampai saat itu, keduanya kehilangan kata-kata.