
“Salam kepada Yang Mulia Putri Permaisuri Changle.”
Para cendekiawan dan anak bangsawan di aula serentak mengucapkan salam dan memberinya penghormatan. Qingyi menyunggingkan senyumnya sebentar, lantas melangkahkan kakinya memasuki aula yang besar tersebut.
Liu Erniang dan kedua sekutunya tampak tidak senang dengan kedatangan Qingyi. Mereka menekuk wajah mereka.
“Bangunlah. Aku tidak bisa menerima penghormatan seperti ini,” ucap Qingyi. Sosok itu memancarkan aura keanggunan yang begitu agung.
Balutan pakaian hijau tua yang disulam dan dijahit rapi, dipadukan dengan bordiran benang berwarna emas di bagian dada dan pinggang membuat Qingyi seperti seorang ratu yang dipuja. Wajahnya yang dihiasi riasan tipis dan totem teratai berwarna merah di dahinya tak ayal membuat tamu pria menelan salivanya.
Bagian leher Qingyi yang terbuka memiliki kulit yang putih dan mulus. Bagian belakangnya terekspos sempurna karena rambutnya disanggul ke atas. Aksesoris kepalanya sesekali bergoyang seiring dengan langkah kaki dan gerak tubuhnya. Dan sungguh, itu benar-benar tampak menakjubkan!
Bahkan Selir Xian, Selir Jia, dan Selir Sui pun kalah jauh darinya!
“Kau sedikit terlambat,” ujar Baili Qingchen saat Qingyi sudah duduk di sampingnya.
“Hanya berbeda beberapa menit. Aku tidak akan melewatkan perjamuan menarik ini.”
“Apa lagi yang ingin kau lakukan?”
Baili Qingchen curiga istrinya ini akan berbuat sesuatu tanpa sepengetahuannya. Tingkah Qingyi yang gila dan suka memberi kejutan membuat Baili Qingchen harus waspada setiap saat, terutama saat acara sebesar ini diadakan. Qingyi seperti bom yang bisa meledak kapan saja.
“Aih, kau tidak boleh selalu curiga kepada permaisurimu,” seloroh Qingyi.
Sungguh, pemandangan di depan sana sangat menggetarkan hati. Putri Permaisuri Changle dan Raja Changle yang duduk berdampingan tampak sangat serasi.
Wanita cantik dan pria tampan duduk di tempat yang sama, siapapun tidak bisa melewatkan ini. Apalagi, busana hijau tua yang mereka pakai begitu pas dan membuat mereka tampak seperti pengantin yang baru melaksanakan upacara pernikahan.
“Mulai perjamuannya!”
Lantas, perjamuan Festival Zaochun dimulai. Tahun ini, mansion Raja Changle mengundang rombongan penari terkenal untuk mempersembahkan sebuah tarian yang legendaris.
Alunan musik lembut mengalir seperti air, masuk ke dalam telinga dan membuat syaraf otak menjadi rileks. Di tengah aula, lima orang penari wanita menggerakkan tubuh mereka, meliuk-liuk sesuai irama.
Qingyi memutar cangkirnya sembari menyaksikan pertunjukkan tari. Matanya juga telah memandang semua tamu undangan satu persatu. Sejak menikah kemari, Qingyi belum pernah bersosialisasi dengan orang luar, terutama kenalan Raja Changle atau sekutunya.
Kali ini, mereka datang atas undangan, dan Qingyi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengetahui sebesar apa kekuatan yang dimiliki Baili Qingchen. Apakah seperti yang ia duga, atau justru lebih besar daripada itu.
Cukup menarik, pikir Qingyi. Baili Qingchen mengumpulkan kaula muda dalam satu tempat dan membuat mereka menunjukkan bakat.
Dapat dipastikan bahwa orang ini benar-benar tidak memiliki minat terhadap kekuasaan yang besar dan hanya ingin mencari bakat-bakat baru yang bisa bekerja di pemerintahan.
Dengan status dan kedudukannya itu, Baili Qingchen bisa saja merekrut sekutu dari pejabat yang berpengaruh dalam pengadilan istana, jika dia benar-benar ingin berebut dengan Kaisar Baili.
Namun, tentu saja Qingyi tidak melihat itu. Baili Qingchen sama sekali tidak tertarik, dan dia hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik dengan menggunakan posisinya saat ini.
Kalau begitu, kaisar pemalas itu benar-benar orang yang suka berpikir berlebihan!
Qingyi tidak tahu apa yang ada di dalam otak Kaisar Baili. Cerita mengatakan bahwa ia adalah kaisar yang kejam dan sangat waspada. Menurutnya, itu memang benar, namun kewaspadaannya justru terlihat tidak masuk akal.
__ADS_1
Qingyi tahu, Kaisar Baili mengutus Liu Erniang, Selir Jia dan Selir Sui kemari hanya untuk mengawasinya.
“Musik ini membuatku mengantuk. Aku butuh sesuatu yang menyegarkan. Apa kau punya?” tanya Qingyi. Baili Qingchen lantas menjawab, “Tunggulah sebentar lagi. Penyegarmu akan segera tiba.”
Baili Qingchen lebih suka menyerah daripada menghentikan Qingyi. Walaupun dia sangat mewaspadai istrinya, namun perjamuan kali ini benar-benar membosankan.
Entah karena tamu undangannya kurang banyak, atau karena ia sudah terlalu sering mengadakannya sampai rasanya tidak menarik lagi. Atau bisa jadi karena kedatangan Qingyi yang membuatnya selalu menuntut sebuah sensasi berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Di mejanya, Liu Erniang sudah tidak tahan melihat betapa akrabnya Raja Changle dan Putri Permaisurinya. Walau tidak mesra, tapi siapapun bisa melihat kalau sepasang suami istri itu memiliki hubungan yang baik.
Liu Erniang tidak ingin melihat orang yang dibencinya hidup damai. Liu Erniang memberi isyarat pada Selir Jia, menyuruhnya menjalankan rencana kedua mereka.
“Tari-tariannya sudah dipertunjukkan. Yang Mulia, bukankah ini saatnya memulai persembahan puisi?” tanya Selir Jia. Baili Qingchen mengangguk.
“Kalau begitu, biarkan aku membukanya untuk semua.”
Kemudian, Selir Jia melantunkan sebuah puisi dengan rima yang sama. Puisinya berjumlah tiga bait, isinya tentang musim semi yang indah.
Namun, pada bait ketiga, makna puisinya malah melompat ke dalam makna yang mengarah pada politik dan kekuasaan. Seringaian Selir Jia tampak beberapa saat sebelum ia mengubahnya menjadi sebuah senyuman yang tampak tulus.
Qingyi mengorek telinganya yang gatal mendengar suara Selir Jia. Puisinya tidak sebagus itu, namun karena dia memilih diksi yang indah, itu membuatnya terdengar menarik dan puitis.
Qingyi sebagai seorang editor yang telah terjun dalam dunia kepenulisan selama bertahun-tahun tidak akan tersentuh oleh tiga bait puisi tersebut. Hanya saja ia menebak bahwa Selir Jia sebentar lagi akan memulai aksinya.
“Karena tahun ini mansion Raja Changle telah memiliki permaisuri, kalau begitu, akan lebih baik jika Putri Permaisuri Changle menyambung puisi kedua. Anggap saja sebagai penyambutanmu di mansion Raja Changle. Bagaimana, Yang Mulia Putri?”
Benar saja! Mulut Selir Jia berbisa! Dia bahkan tidak bisa menahan diri sekarang.
Pertunjukkan ini belum saatnya dimulai. Mereka harus menyalakan api yang lebih besar jika ingin membuat Qingyi bangun dari tempat duduknya.
“Aiya! Selir Jia, kau sangat tidak sopan! Kau tidak boleh meminta Yang Mulia Putri Permaisuri melakukan sesuatu sesuai kehendakmu,” ujar Liu Erniang.
Ekspresi liciknya terlihat di mata Qingyi dan Baili Qingchen. Liu Erniang menambahkan api kembali agar Qingyi tersulut emosi. Hari ini, dia harus mempermalukannya bagaimanapun caranya.
Liu Erniang ingin Qingyi mempermalukan dirinya sendiri di hadapan banyak orang. Jika itu terjadi, bukan hanya harga dirinya yang jatuh, namun nama baik mansion Raja Changle juga akan ternodai.
“Oh? Benarkah? Tetapi, sebagai keluarga kekaisaran, permintaan seperti ini sepertinya tidak memberatkan, bukan?” ucap Selir Jia lagi.
“Selir Jia, kau tidak tahu. Kakakku tidak banyak belajar seni dan sastra. Kau memaksanya seperti ini, itu sangat menjatuhkan harga dirinya,” Liu Erniang berujar dengan nada yang dibuat-buat.
Qingyi hampir tersedak mendengarnya.
Xiao Junjie terpancing. Meskipun dirinya tidak menyukai Qingyi, namun itu tidak menjadi alasan bahwa dia harus menutup mata. Qingyi adalah Putri Permaisuri Changle, dan apapun yang terjadi padanya semuanya akan tetap menyeret nama Raja Changle. Harga diri Putri Permaisuri Changle adalah harga diri mansion Raja Changle.
“Kulihat Selir Jia dan Selir Xian hanya ingin mengacau, bukan?” Xiao Junjie bersuara.
“Pangeran Permaisuri, apa maksudmu? Aku hanya tidak ingin Yang Mulia Putri menjadi bahan tertawaan orang,” seloroh Liu Erniang.
Para cendekiawan dan anak bangsawan yang ada di sana seperti penonton. Mereka berdiskusi dan mulai bespekulasi apakah Putri Permaisuri Changle benar-benar bodoh hingga tidak mampu mempersembahkan sebuah puisi atau tidak. Sebagai permaisuri raja, seharusnya dia memiliki kualifikasi.
__ADS_1
“Apa yang kalian ributkan?” tanya Qingyi, suaranya memecah suasana.
“Selir Xian, sejak kapan kau belajar berprasangka terhadap keluargamu? Apa Keluarga Liu tidak mengajarimu sopan santun?” tambahnya.
Qingyi bangkit dari tempat duduknya, lalu dengan langkah tenang menghampiri Liu Erniang.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Liu Erniang. Bekas telapak tangan Qingyi memerah di kulit wajah yang tipis itu. Dalam sepersekian detik, Liu Erniang merasakan kepalanya berputar lalu ditarik kembali dalam kondisi sadar. Rasa sakit dan perih atas tamparan itu membuatnya refleks memegangi pipinya.
“Kau! Beraninya kau menampar Selir Xian!” Selir Sui yang sedari tadi diam menjadi marah.
Selir Sui hendak menangkap tangan Qingyi, namun gerakannya terlalu lambat. Qingyi menyumpal mulut Selir Sui dan Selir Jia dengan paha ayam yang besar.
“Aku adalah kakak sekaligus bibinya!” seru Qingyi.
“Sekalipun kalian adalah selir Kaisar, lalu kenapa? Kalian tidak berhak mengaturku!”
Qingyi maju selangkah, lalu menatap Liu Erniang.
“Biarkan aku mengajarimu apa itu sopan santun dan moral!”
Plak.
Tamparan kedua mendarat di pipi kanan Liu Erniang.
“Ini untuk ketidaksopananmu terhadap Raja Changle!”
Plak.
Tamparan ketiga mendarat di pipi kirinya.
“Ini untuk prasangka burukmu dan provokasimu terhadapku!”
Plak.
Tamparan keempat mendarak kembali di pipi kanan.
“Ini untuk perilakumu yang tidak menghormati saudara!”
Sekarang, wajah Liu Erniang alias Selir Xian mulai membengkak. Semua orang terpana dan kehilangan kata-kata. Mereka tidak mengira, seorang Putri Permaisuri Changle berani menampar Selir Xian, bahkan sampai empat kali berturut-turut! Jika Kaisar Baili tahu selirnya ditampar seperti ini, bagaimana reaksinya?
“Meskipun kau adalah istri Kaisar, kau tetaplah seorang selir! Aku adalah Permaisuri Changle. Kau pikir, posisi selir bisa disandingkan dengan posisi permaisuri?” ucap Qingyi.
Secara tidak langsung ucapan itu bermakna: selir tetaplah selir!
Kata-kata ini membekas di ingatan para cendekiawan dan anak bangsawan. Mereka mengagumi cara Putri Permaisuri Changle dalam menegaskan statusnya dan bagaimana dia mengajari seorang selir kaisar!
Baili Qingchen tersenyum puas. Dia kemudian berseru, “Pelayan! Antarkan tamunya!”
__ADS_1
Mau tidak mau, Liu Erniang dan kedua sekutunya harus meninggalkan aula mansion.