Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 114: Penculikan


__ADS_3

Dalam sekejap, kemegahan festival puncak musim semi menghilang. Perayaan megah itu berubah menjadi tragedi pembantaian yang mengerikan.


Seluruh kota porak poranda. Mayat-mayat penduduk yang tidak bersalah tergeletak di mana-mana. Bau anyir darah bercampur dengan aroma pembakaran yang menyengat.


Pasukan pengawal rahasia datang membantu Baili Qingchen dan Qingyi. Baili Qingchen kemudian berteriak, “Lindungi Yang Mulia Kaisar!”


Teriakan itu seperti perintah. Pasukan pengawal rahasia dengan patuh menurut, berlari menuju menara kota yang keadaannya jauh lebih parah dari distrik ini.


Di sana, puluhan pengawal istana tergeletak tak bernyawa, bersimbah darah. Pasukan yang masih hidup mencoba bertarung mati-matian menghadapi serangan pembunuh, menghalau pedang yang menyasar tubuh anggota keluarga kekaisaran.


Kaisar Baili dan Janda Permaisuri Ming yang telah turun dari menara kota berlindung di balik pasukan pengawal. Janda Permaisuri Ming beberapa kali berteriak saat pasukan pengawal tumbang di depannya. Pakaian indahnya sudah ternoda darah.


Kaisar Baili menatap dingin, mencabut pedang pengawalnya dan ikut bertarung. Meski kemampuannya di bawah Baili Qingchen, dia masih bisa membunuh orang.


Hanya saja tenaganya habis lebih cepat. Kaisar Baili hampir diserang jika Cui Kong tidak datang tepat waktu dan menghalau serangan itu. Cui Kong datang bersama pasukan khusus Raja Changle. Dengan adanya bantuan ini, melawan musuh akan lebih mudah.


“Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?” tanya Cui Kong di sela-sela menahan serangan.


“Di mana pamanku?”


“Yang Mulia Raja terjebak di Distrik Selatan bersama Putri Permaisuri. Dia memerintahkanku agar melindungi Yang Mulia.”


“Berapa persen keyakinanmu untuk menang?”


“Dengan bantuan pasukan khusus Raja Changle, pembunuh ini bisa ditumpas dalam lima belas menit.”


Lima belas menit itu terasa seperti lima belas jam. Pembunuh yang datang tiada henti dan jumlahnya sangat banyak. Selain itu, mereka sangat kuat.


Para pembunuh ini sudah sangat terlatih. Walau serangan mereka ganas, mereka sepertinya tidak berniat membunuh Kaisar Baili atau Janda Permaisuri Ming.


Cui Kong menyadari itu dan memerintahkan bawahan untuk menangkap satu orang dalam keadaan hidup. Jika tertangkap, dia bisa menyerahkannya kepada Baili Qingchen dan mengungkap motif di balik penyerangan dan pembantaian ini. Tapi, itu nyatanya sangat sulit.


Kaisar Baili baru berhasil diselamatkan satu jam kemudian. Pasukan khusus Raja Changle berhasil menumpas pembunuh di bawah menara kota.


Mereka segera melarikan Kaisar Baili dan Janda Permaisuri Ming ke istana. Selir Jia dan Liu Erniang juga berhasil diselamatkan beberapa saat kemudian.


Sementara itu, di Distrik Selatan, Baili Qingchen dan Qingyi kewalahan melawan pembunuh karena pasukan pengawal semuanya diperintah untuk menyelamatkan Kaisar Baili.

__ADS_1


Qingyi sudah sangat lelah, namun karena kemarahannya membara, semangat menghajarnya kembali dan naik berkali lipat.


Qingyi seperti orang kesetanan. Sekarang dia bahkan berani mengangkat pedang dan tidak segan-segan membunuh lawan yang mendekat kepadanya.


Matanya menyala merah. Pada saat itu, gadis yang biasanya bermata terang dan bening tampak seperti iblis yang mengerikan.


“Dasar sampah!” maki Qingyi pada pembunuh.


“Tuan! Tekan amarahmu! Kau tidak ditugaskan untuk membunuh di sini! Tuan, kau bukan seorang pembunuh!”


Yinghao yang sudah berubah wujud ke setelan pabrik mencoba menyadarkan tuannya. Sangat berbahaya bagi Qingyi jika sampai hatinya dipenuhi aura gelap dan membunuh banyak orang.


Qingyi menggelengkan kepala dan mengedipkan mata beberapa kali setelah mendengar suara Yinghao. Akal sehatnya seperti kembali.


Gadis itu mengangkat pedangnya yang sudah berlumuran darah. Matanya lalu memperhatikan kondisi penampilannya yang sudah berantakan.


Mayat-mayat pembunuh bergelimpangan di tengah mayat para penduduk. Qingyi seketika menjatuhkan pedangnya, hatinya terguncang.


Tangannya terangkat, dan dia gemetar melihat begitu banyak darah menodai kulitnya. Qingyi seperti orang linglung, napasnya sesak.


“Aku….Membunuh mereka?”


Baili Qingchen yang melihat permaisurinya tiba-tiba terdiam dan linglung langsung merasa heran. Tadi, gadis itu sangat ganas.


Sekarang, dia berubah seperti wanita lugu yang terkejut akan suatu hal. Pedangnya bahkan tergeletak di tanah, menjadi merah seluruhnya akibat tergenang darah.


“Putri Permaisuri, kau baik-baik saja?”


Akan tetapi, Qingyi tidak menghiraukannya. Dia masih mencoba mencerna apa yang telah ia lakukan dan bagaimana cara menerimanya.


Pembunuh-pembunuh ini mati karenanya?


“Liu Qingyi, awas!”


Berkat peringatan yang diteriakkan Baili Qingchen, Qingyi berhasil menghindari tembakan anak panah yang menyasar lehernya. Iblis di hatinya yang sempat hibernasi beberapa menit bangun kembali.


Mata Qingyi memerah, tapi sekarang dia lebih sadar dan akal sehatnya menyertainya. Dia tidak akan mengotori tangannya dengan darah lagi secara langsung.

__ADS_1


“Yinghao, keluarkan bom dan senjata apinya!”


Yinghao senang akhirnya tuannya sadar dan mendapatkan dirinya kembali. Panda kecil tersebut kemudian mengeluarkan satu peti bom kecil dan dua buah senjata api.


Tanpa disadari Baili Qingchen, Qingyi mulai melemparkan bom-bom kecil itu kepada para pembunuh dan gas air mata seketika keluar.


Baili Qingchen mencium aroma ini, lalu menutup hidung dan matanya dengan kain. Gas ini sama seperti gas ketika dia melawan pembunuh dalam perjalanan menuju Xizhou.


Tidak salah lagi, ini pasti senjata rahasia milik permaisurinya. Dalam kondisi itu, seperti biasa, Baili Qingchen kembali melawan pembunuh dan dia menang telak.


Pembunuh lainnya sudah ditaklukkan Qingyi. Tembakan senjata api itu tidak berisi peluru, melainkan obat bius dosis tinggi yang bisa membuat orang langsung pingsan. Gas air mata perlahan menghilang, beberapa pembunuh yang masih tersisa kembali menyerang.


“Ayo, nikmati pertunjukan tragedi yang kalian buat sendiri dan tidurlah dengan nyenyak! Siapa tahu kalian bertemu dengan Raja Neraka!”


Iblis kecil itu tertawa mengerikan. Yinghao sampai bergidik karena tuannya yang bertarung dalam keadaan sadar jauh lebih mengerikan daripada saat kehilangan akal sehatnya. Pembunuh yang tersisa memanggil bala bantuan, dan beberapa pembunuh lain kembali muncul dari dalam air.


Sebuah kembang api kemudian meledak di udara. Cui Kong datang setelah menyelamatkan Kaisar Baili dan anggota keluarga kekaisaran yang lain.


Pengawal itu ikut membantu Baili Qingchen menumpas pembunuh yang tersisa. Pasukan pembunuh lain datang setelah kembang api diledakkan.


Seiring dengan tibanya pasukan pembunuh susulan, pasukan pengawal rahasia dan pasukan khusus Raja Changle datang. Pertarungan sengit kembali terjadi di Distrik Selatan. Qingyi kehabisan bom gas air mata, dan hanya bisa menembakkan obat bius kepada pembunuh susulan.


Saat asyik menembak, Qingyi tanpa sengaja menangkap pemandangan lain. Seorang pembunuh tampak sedang menggendong seorang anak kecil di punggungnya, berlari menjauhi kekacauan dan hampir menghilang di dalam kegelapan. Qingyi menyeringai, lalu tanpa sadar memisahkan diri dari Distrik Selatan.


“Tuan, kau mau ke mana?” tanya Yinghao.


“Menagih utang!”


Yinghao dengan enggan mengikuti tuannya.


Ketika pasukan pembunuh susulan akhirnya dapat dilumpuhkan, Baili Qingchen baru menyadari bahwa dia melupakan sesuatu. Baili Qingchen menatap sekeliling, mencari sosok permaisurinya yang tadi berdiri tidak jauh darinya.


Nihil. Hanya ada mayat pembunuh dan penduduk, serta beberapa pembunuh yang pingsan.


“Di mana Putri Permaisuri?”


Cui Kong terperangah. Sial, dia juga melupakannya!

__ADS_1


“Yang Mulia, sepertinya para pembunuh itu menculik Putri Permaisuri,” Cui Kong menjawab dengan ragu dan takut.


Pupil mata Baili Qingchen membesar, dan ekspresi dinginnya menguar. Aura membunuhnya begitu kuat. Cui Kong bahkan tidak tahu jika tuannya semengerikan ini.


__ADS_2