
“Niang’er, kau sudah sadar?”
Liu Erniang mengerjapkan matanya beberapa kali. Setelah penglihatannya menjadi jelas, dia memandangi satu persatu orang yang mengerubunginya dengan tatapan bingung.
Perdana menteri dan istrinya menghela napas lega. Akhirnya, putri bungsu mereka sadar juga setelah pingsan selama empat jam
“Putriku, apa yang sebenarnya terjadi padamu?” tanya Nyonya Besar Gao.
Dia begitu terkejut saat pelayan memberitahukan kalau Liu Erniang pingsan di halamannya dan tangannya terluka. Tabib sudah memeriksanya dan mengobatinya, tapi tidak menemukan apa-apa.
Liu Erniang menatap kosong, lalu dia berteriak seperti orang gila. Liu Erniang memberontak dan menatap semua orang dengan ketakutan. Tubuhnya bergetar, sama persis seperti yang terjadi padanya saat berhadapan dengan Qingyi tadi.
“Tidak! Jangan sakiti aku! Jangan merusak wajahku!” seru Liu Erniang. Perdana menteri dan istrinya saling berpandangan.
Tidak satu pun pelayan yang berani menceritakan kejadian tadi siang kepada tuan dan nyonya mereka. Aksi Qingyi yang memberi pelajaran pada Liu Erniang merupakan pelajaran terbaik untuk gadis arogan sepertinya.
Para pelayan itu telah disakiti selama bertahun-tahun, dan mereka sedikit merasa lebih baik setelah orang yang menyakiti mereka mendapat sebuah balasan yang tidak terduga.
Nyonya Besar Gao mencoba menenangkan putrinya yang malang. Ia pikir seseorang pasti sudah menindasnya sampai jadi begini. Liu Erniang berteriak seperti orang gila, sampai kedua orang tuanya merasa sangat khawatir. Mereka lalu menyuruh tabib untuk menenangkannya, dan beberapa saat kemudian Liu Erniang mulai dapat dikendalikan.
“Siapa yang berani melakukan ini padamu?” tanya Nyonya Besar Gao setelah Liu Erniang tenang.
“Nyonya Besar, beberapa jam yang lalu Putri Permaisuri Changle datang kemari dan menemui Nona Erniang,” ucap pelayan Liu Erniang. Dia juga tidak jelas mengenai detail kejadiannya karena saat itu ia tengah keluar membeli sesuatu.
“Liu Qingyi? Mau apa lagi dia?”
Nyonya Besar Gao langsung marah. Perempuan sialan itu masih saja membuatnya kesusahan walau sudah pergi dari kediaman. Kebenciannya terhadap Qingyi semakin hari semakin membesar. Istri perdana menteri menatap suaminya yang juga tampak marah, namun ekspresinya seperti tertahan.
“Anak sialan itu mengganggu putriku! Apa kau akan diam saja?” tanyanya pada perdana menteri.
“Kau harus segera menyingkirkannya! Masa depan Niang’er bisa terancam jika anak sialan itu masih hidup! Bagaimana jika kau menyewa kembali pembunuh untuk melenyapkannya?” tambah Nyonya Besar Gao.
“Diam! Kau pikir kita bisa mengganggunya sesuka hati?” bentak perdana menteri. Nyonya Besar Gao terkejut atas bentakan yang ia terima, lalu memandang suaminya dengan marah.
“Kekuasaan Raja Changle perlahan pulih. Hari ini, dia mendakwa Pengawas Akademi Xizhou dan memenangkan hati para menteri. Kaisar marah karena Pengawas Akademi Xizhou ditunjuk atas rekomendasiku. Kau tahu apa yang lebih parah? Kepala Akademi Xizhou juga datang dan terus menerus menyindirku!”
Perdana menteri mendapat tekanan besar hari ini. Di pengadilan, Baili Qingchen berhasil melaporkan kasus penyalahgunaan kekuasaan Pengawas Akademi Xizhou dan membuatnya terkena marah Kaisar Baili. Perdana menteri juga kesulitan karena Kepala Akademi Xizhou tiba-tiba hadir di pengadilan dan terus menyindirnya.
“Kepala Akademi? Maksudmu, Zhao Peng? Untuk apa dia menyindirmu?” tanya Nyonya Besar Gao.
“Karena Zhao Yinniang adalah cucu Keluarga Zhao. Zhao Peng mengetahui apa yang telah kita lakukan pada Zhao Yinniang selama ini!”
Nyonya Besar Gao terbelalak tidak percaya. Lututnya seketika lemas sampai pelayannya sigap menopangnya.
Kejutan ini terlalu besar!
Nyonya Besar Gao tidak menyangka kalau Zhao Yinniang yang selama ini diperbudak olehnya di kediaman ini adalah cucu sebuah keluarga besar yang sangat berpengaruh. Seharusnya dia tidak membiarkan Zhao Yinniang pergi dan menyingkirkannya saat itu.
“Jangan bertindak gegabah. Liu Qingyi bukan orang yang bisa diusik sesuka hati, terutama pada situasi sekarang!” peringat perdana menteri. Nyonya Besar Gao semakin marah. Emosinya naik ke ubun-ubun. Dia melemparkan benda-benda yang ada di atas meja ke lantai.
“Anak sialan itu! Mengapa dia harus lahir di keluarga ini? Seharusnya aku membunuhnya sejak lama!” teriak Nyonya Besar Gao. Perdana menteri menghela napas. Dia berada dalam situasi yang sulit.
“Untung saja para pembunuh dari Paviliun Litao itu memegang janjinya. Mereka tidak akan membuka mulutnya sampai mati,” ucap perdana menteri.
Dia dalang dari penyergapan saat perjalanan ke Xizhou. Saat tahu Kaisar Baili mengirim Baili Qingchen untuk menyelidiki Akademi Xizhou, perdana menteri menyewa para pembunuh itu untuk melukainya. Dia tidak berniat membunuh Baili Qingchen.
__ADS_1
Namun, setelah tahu Qingyi ikut bersamanya, niat menyingkirkannya langsung muncul. Target pembunuhan itu adalah Qingyi, tapi gadis sialan itu beruntung bisa selamat bahkan kembali dengan aman dan membawa banyak masalah untuknya.
Perdana menteri dan istrinya sama sekali tidak menyadari, bahwa seseorang tengah menahan mulutnya agar tidak berteriak karena terkejut di luar jendela. Orang itu berusaha menahan agar tidak menimbulkan suara atas apa yang baru saja ia dengar. Dengan langkah hati-hati, orang itu lalu segera pergi dari halaman.
...***...
Bibi Zhang tidak menyerah semudah itu. Keesokan harinya, dia datang membawa lima pengajar etika yang lain. Bibi Zhang meminta Divisi Istana Dalam untuk membantunya, lalu lima pengajar itu berangkat bersamanya ke mansion Raja Changle.
Janda Selir Sun dan Janda Permaisuri Ming menyetujui permintaan Bibi Zhang, terlebih setelah mereka mendengar apa yang telah dilakukan Qingyi pada jam belajarnya.
Qingyi berdecak tak percaya saat pengajar etika yang membosankan itu bertambah jadi enam orang. Satu Bibi Zhang saja sudah membuatnya sengsara, apalagi jika ditambah lima Bibi Zhang yang lain! Qingyi langsung mengunci pintu kamarnya dan menutup jendelanya rapat-rapat karena tidak ingin belajar lagi.
“Yang Mulia, jika Yang Mulia tidak keluar, aku terpaksa merusak pintu kamar Yang Mulia,” ujar Bibi Zhang.
“Terserah! Aku tidak akan pernah membuka pintu bahkan jika kau menghancurkan seluruh kediaman barat milikku!” tolak Qingyi.
Bibi Zhang mencoba bersabar sebentar. Di belakangnya, lima pengajar dan beberapa pelayan pria sudah siaga untuk mengeluarkan Qingyi dari kamarnya. Hari ini, dia tidak akan tertipu lagi. Putri Permaisuri Changle harus segera diajari agar bersikap baik layaknya seorang putri.
Baili Qingchen yang kebetulan lewat bersama Xiao Junjie menghampiri Bibi Zhang. Setelah menerima penghormatan, dia bertanya, “Ada apa?”
“Yang Mulia, Yang Mulia Putri tidak mau keluar. Dia mengunci pintu dan jendelanya rapat-rapat,” jawab Bibi Zhang.
Xiao Junjie berdecih namun hatinya senang. Akhirnya dia bisa membalas Qingyi. Senjata yang dia pinjam dari tangan Janda Selir Sun dan Janda Permaisuri Ming memang ampuh. Xiao Junjie menyaksikan penderitaan Qingyi dalam pembelajaran wanita dengan hati yang berbunga-bunga.
“Yang Mulia, perlukah saya mendobrak pintunya?” tanya Bibi Zhang. Baili Qingchen menggeleng. “Biar aku saja.”
Tanpa diduga, Baili Qingchen menendang pintu kamar Qingyi sampai terbuka. Bibi Zhang dan yang lainnya hampir saja jantungan atas sikap tuan mereka. Baili Qingchen memasuki kamar Qingyi, namun tidak melihat gadis itu di manapun. Matanya memicing melihat jendela yang terbuka.
“Cepat sekali kucing liar itu kabur!” ucap Baili Qingchen.
“Yang Mulia, kau mau ke mana?” tanya Cui Kong.
“Lepaskan! Aku tidak mau diganggu oleh orang-orang menyebalkan itu!”
Namun, Cui Kong tidak melepaskannya. Dia justru membawa Qingyi ke hadapan Baili Qingchen. Qingyi merengut, tidak percaya pada tindakan yang baru saja dilakukan pengawal itu.
Dia berkali-kali menendang kaki Cui Kong karena berani-beraninya mengkhianatinya. Cui Kong hanya menyunggingkan senyum karena tendangan Qingyi tidak berarti apa-apa. Itu membuat Qingyi semakin kesal.
“Bibi Zhang, silakan dimulai,” ucap Baili Qingchen.
“Baili Qingchen, kau!”
“Yang Mulia Putri, mari kita mulai pelajarannya. Bukankah kemarin Yang Mulia begitu menantikannya?” ucap Bibi Zhang. Jika Qingyi seekor harimau, dia akan menggigit orang-orang ini dan mencabik-cabik dagingnya karena kesal.
Baili Qingchen mengangguk sebagai tanda bahwa Bibi Zhang sudah boleh memulai pembelajarannya. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung berbalik dan meninggalkan halaman barat diikuti Cui Kong. Xiao Junjie yang sejak tadi senang melihat kesengsaraan Qingyi menghampirinya, lalu berbicara beberapa kata dengannya.
“Bagaimana dengan kejutan yang kuberikan ini? Menyenangkan, bukan?” tanya Xiao Junjie. Qingyi ingin memukul wajahnya, tapi Xiao Junjie langsung kabur. Dia berjalan mundur, sambil terus mengejek Qingyi.
Qingyi tidak tahan lagi melihat wajah menjijikan Xiao Junjie. Dia melepas sepatunya, lalu melemparnya sampai mengenai perut Xiao Junjie. Pria menyebalkan yang belok itu mengaduh.
“Baili Qingchen! Cui Kong! Xiao Junjie! Aku pasti akan membalas kalian!”
Jumlah pengajar etika yang terlalu banyak membuat Qingyi agak kesulitan. Mereka semua sama galaknya dengan Bibi Zhang. Qingyi menahannya sebentar sambil memikirkan cara untuk melarikan diri.
Yinghao yang baru saja muncul hanya bisa menyaksikan majikannya menderita. Qingyi jadi tambah kesal. Dia menyuruh Yinghao mengambil dua butir granat kecil yang tidak berbahaya dari ruang dimensi.
__ADS_1
Saat Bibi Zhang dan rekan-rekannya lengah, granat itu dilemparkan dan meledak. Kepulan asap membumbung dan wajah Bibi Zhang berserta rekan-rekannya cemong penuh jelaga. Qingyi menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
“Ledakan dari mana ini?” tanya Bibi Zhang.
“Kepala Zhang, Yang Mulia Putri kabur!” seru rekannya saat melihat Qingyi berlari menuju gerbang.
“Kejar dia!”
Aksi kejar-kejaran berlangsung. Bibi Zhang berteriak bahwa Qingyi tidak boleh berlari, lalu Qingyi dengan cerdas membalikkan kata-katanya. Sampai beberapa saat, mereka belum juga berhenti. Napas Qingyi tersengal-sengal karena berputar-putar di kediaman. Yinghao menyemangatinya dengan terus berbicara.
“Yang Mulia! Berhenti berlari!” teriak Bibi Zhang.
“Menyerahlah! Aku tidak akan dikalahkan semudah itu!” seru Qingyi. Bibi Zhang dan komplotannya terus mengejarnya.
“Apa mereka terbuat dari mesin? Mengapa belum berhenti juga?”
Qingyi hampir muntah karena terus berlari. Otaknya tiba-tiba menyuruhnya pergi ke suatu tempat. Qingyi memasuki halaman timur, tempat kediaman Baili Qingchen dan memasuki ruang belajarnya. Pria itu terkejut saat ruang belajarnya diterobos orang. Ia lebih terkejut saat Qingyi tiba-tiba berlindung di belakang tubuhnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Baili Qingchen.
“Bersembunyi,” jawab Qingyi.
“Aku tahu. Maksudku, mengapa kau bersembunyi di sini?”
“Bibi-bibi tua itu tidak akan berani menginjakkan kakinya di ruang belajarmu.”
Baili Qingchen meletakkan kuas tulisnya dan berbalik. Qingyi berjongkok di belakang kursinya sambil mengatur napas. Peluh bercucuran dari dahi gadis itu, membuat Baili Qingchen tidak tahan untuk mengelapnya.
Seharusnya ia mengunci pintu tadi. Qingyi bukan orang yang bisa tunduk pada orang lain, apalagi dipaksa melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Pembelajaran etika bukan sesuatu yang cocok untuk gadis sepertinya.
Baili Qingchen perlahan mulai memahami sifatnya setelah mengamati dan hidup dalam satu kediaman bersamanya. Tadi dia sengaja menyerahkannya pada Bibi Zhang untuk mengujinya. Nyatanya, kesabaran Qingyi memang lebih tipis dari selembar kertas. Gadis itu tidak akan tahan dipaksa belajar etika.
“Kau puas melihatku menderita di tangan bibi-bibi tua itu?” tanya Qingyi.
Napasnya mulai stabil dan detak jantungnya mulai kembali normal. Dia duduk di kursi yang berada tak jauh dari meja belajar Baili Qingchen, lalu meneguk beberapa gelas air putih.
“Lumayan,” jawab Baili Qingchen. Qingyi mendecih.
“Kalau bukan karena Pangeran Permaisurimu itu, para bibi itu tidak mungkin datang kemari.”
“Kau sendiri yang mencari masalah dengannya.”
“Seharusnya aku tidak memberikan obat padanya saat itu,” ucap Qingyi.
“Tanpa herbal itu pun, dia akan hidup.”
Qingyi sungguh-sungguh ingin menyumpal mulut Baili Qingchen dengan gulungan kertas. Mulut pria itu selain sangat tajam juga sangat asam. Setiap hari hanya tahu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar. Selain perilakunya yang tidak normal, Baili Qingchen juga sangat menyebalkan.
Bagaimana bisa seorang raja punya tabiat seperti itu?
“Aku malas berdebat denganmu,” tukas Qingyi.
Baili Qingchen memilih meneruskan pekerjaannya kembali. Tidak lama kemudian, seorang pelayan datang dan memberitahu dari luar, bahwa ada seorang pemuda dari keluarga perdana menteri ribut di depan gerbang dan memaksa ingin bertemu dengan Raja Changle dan permaisurinya.
"Biarkan aku bertemu dengan Raja Changle dan Permaisurinya!"
__ADS_1