
“Paman, kau tahu apa yang kau katakan?”
Kaisar Baili menatap tajam pamannya. Naga emas Bingyue saat ini tengah diselimuti api amarah yang membara.
Hatinya terbakar setelah mendengar penuturan Baili Qingchen, yang memberitahunya perihal siapa dalang dari semua kejadian yang menimpa selir-selir di harem. Sesuatu yang ditahan dalam beberapa minggu ini seperti meledak seketika.
Baili Qingchen tahu, tidak ada gunanya menggunakan kata-kata untuk menenangkan keponakannya. Semua penghiburan yang diberikan tidak akan berarti dan hanya membuang tenaga.
Sesuatu yang besar seperti ini sebenarnya sudah cukup membuat seorang Kaisar Baili menjadi gila. Melihat dengan tatapan dalam, pikiran dan hati Baili Qingchen terus berdebat tanpa henti.
“Yang Mulia, aku tidak pernah bercanda,” ucap Baili Qingchen.
Tangan Kaisar Baili terkepal. Sungguh, emosinya ini meledak. Kaisar Baili meremas kertas yang tengah ia pegang, lalu menyobeknya menjadi beberapa bagian.
Kasim utamanya menunduk takut, sementara pelayan-pelayan sudah mundur karena mereka masih menyayangi nyawa mereka.
Bagaimana bisa ini terjadi?
Kaisar Baili tidak mengira jika orang yang telah mempermainkan harem dan menyakiti selir-selirnya, ternyata kerabatnya sendiri. Dia telah mengerahkan banyak tenaga dan waktu untuk mencarinya ke seluruh pelosok negeri.
Siapa yang mengira ternyata orang itu bersembunyi di dalam istananya sendiri?
Awalnya Kaisar Baili berpikir dalangnya pasti salah satu menteri. Tapi, penuturan Baili Qingchen membuat ekspektasinya jatuh dari tempat yang sangat tinggi.
Kaisar Baili masih tidak mempercayainya, namun dia tahu pamannya tidak akan berbohong. Apalagi, masalahnya begitu serius.
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan sekarang?” tanya Kaisar Baili.
Sebelum menjawab, Baili Qingchen menarik napas sejenak dan memejamkan matanya. Dia tengah berusaha menyelaraskan hati dan pikirannya yang sejak kemarin selalu bertentangan.
Hatinya mengatakan dia tidak boleh menghukumnya, namun pikirannya memberikan alasan bahwa perbuatan orang itu bukan sesuatu yang bisa diampuni. Dengan pelan, dia berkata, “Aku ingin Yang Mulia menghukumnya.”
Tatapan Kaisar Baili sangat mengerikan. Pamannya bilang apa barusan?
“Paman, dia adalah ibumu.”
“Dan aku adalah Raja Changle. Setelah ayah dan kakakku memberi gelar ini, dia bukan hanya ibuku. Janda Selir Sun telah melakukan kesalahan, dan dia harus dihukum,” ucap Baili Qingchen dengan tegas.
__ADS_1
Namun, ada sedikit getaran dalam suara itu. Kaisar Baili menahan emosinya untuk sesaat. Bukannya dia tidak ingin menghukum, dia malah sangat ingin mencabik-cabik pelakunya.
Akan tetapi, orang itu adalah janda dari kakeknya, alias nenek tirinya. Meskipun usianya hampir sama dengan ibunya, namun dia lebih terlihat senior jika dibandingkan menurut silsilah.
Janda Selir Sun adalah salah satu sesepuh dari pemerintahan kakeknya yang masih hidup. Perilakunya selama ini baik dan dia sama sekali tidak pernah mencoba menjadikan putranya sebagai kaisar. Di istana ini, selain Janda Permaisuri Ming, hanya ada sedikit orang yang bisa bertahan.
Tidak dipungkiri, ini juga sulit bagi Kaisar Baili. Untuk pertama kalinya dia merasa ragu dalam menghukum seseorang.
Kaisar Baili lebih baik tidak tahu apapun, dengan begitu dia bisa meluapkan amarahnya kepada orang yang dia inginkan. Tetapi, keinginan itu kandas karena pamannya telah lebih dulu menemukan pelakunya, yang tak lain tak bukan adalah keluarganya sendiri.
“Jika aku menurunkan dekret untuk menghukumnya, maka tidak akan ada jalan mundur lagi. Paman, kau yakin ingin melakukannya?”
Mendengar pertanyaan ini, hati Baili Qingchen goyah lagi. Sekalipun ibunya telah membunuh Wang Lingshan, Baili Qingchen masih bisa menganggapnya sebagai sebuah kesalahan.
Akan tetapi, ibunya telah menyakiti banyak orang. Bahkan, dia hampir saja membunuh putra dan menantunya sendiri.
Itu adalah kekejaman yang bertopeng perlindungan
dan kasih sayang.
Baili Qingchen dan Kaisar Baili terdiam. Pasangan paman dan keponakan itu sama-sama dilanda kebingungan. Seharusnya ini mudah, namun mengapa terasa begitu berat dan sulit.
“Tidak peduli apapun itu, dia tetap harus dihukum. Aku tidak pernah membiarkan hubungan darah mengikatku dan menghalangiku dalam mengambil keputusan,” ucap Baili Qingchen, ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Aih, seharusnya dia bertanya pada Qingyinsebelum datang kemari. Setidaknya, gadis itu pasti punya ide untuk menentukan akhir dari kejadian ini.
Walau agak gila, jika memuaskan, maka tidak apa-apa. Baili Qingchen hanya terlalu malu untuk bertemu dengannya setelah apa yang terjadi semalam.
“Paman Kakek, Ayahanda, asingkan saja pelakunya,” suara jernih anak kecil memecah keheningan.
Di pintu masuk ruang belajar kaisar, Baili Wuyuan berdiri sambil membawa gulali berwarna kuning kecoklatan. Mulutnya kotor akibat lelehan gulali, sementara pakaian abu-abunya terkena debu.
Di belakangnya, beberapa pelayan menunduk takut. Mereka tidak bisa mencegah pangeran ini menerobos masuk ke ruang belajar kaisar.
Baili Wuyuan lalu berjalan dengan langkah kecil. Bola nasi kecil itu berdiri di samping Baili Qingchen, menarik jubahnya dengan tangan kecilnya. “Paman Kakek, jika kau tidak tega, maka asingkan saja dia. Bukankah Paman Kakek selalu bilang kalau manusia terkadang tidak bisa menahan perasaan meskipun dia menginginkannya?”
Perkataan bola nasi kecil itu membuat Baili Qingchen terenyuh. Bocah ini baru berusia tujuh tahun, tapi sudah seperti orang dewasa.
__ADS_1
Baru beberapa kali diajari, Baili Wuyuan sudah sepintar ini. Otaknya sangat cerdas, dia mampu memahami banyak hal dalam waktu singkat. Ini termasuk bibit unggul.
Baili Qingchen berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan tinggi badan Baili Wuyuan. Mata polos anak itu menusuk ke dalam hati Baili Qingchen.
Dia sangat imut, tapi mungkin memiliki sesuatu yang sangat rumit di dalamnya. Baili Wuyuan menggigit gulalinya, sudut mulutnya belepotan.
“Wuyuan sangat pintar. Tapi, urusan orang dewasa seperti ini, Wuyuan tidak perlu ikut campur,” ucapnya sambil mengelus kepala Baili Wuyuan.
“Paman Kakek, ayahanda telah mengangkatku sebagai pangeran. Jika aku tidak memahami orang dewasa, kelak bagaimana aku bisa membantu Paman Kakek dan ayahanda?”
Bocah ini pintar. Kaisar Baili masih duduk di kursi agungnya, menyaksikan interaksi antara paman dan putranya. Rasanya mereka seperti sepasang ayah dan anak.
Kaisar Baili bahkan tidak sedekat itu dengan Baili Wuyuan. Dia mengunjunginya sesekali ketika senggang, kemudian pergi setelah beberapa saat. Interaksinya juga hanya sekadar saling menyapa tanpa banyak bicara.
Mungkin, Kaisar Baili tidak tahu keseharian putranya sendiri. Sejak dia mengangkatnya menjadi pangeran dan memberinya istana, Kaisar Baili telah mengirimkan banyak pelayan dan kasim serta ibu asuh untuk mengurusnya. Dia juga telah meminta Baili Qingchen untuk mengajari putranya.
Mengapa rasanya Kaisar Baili sedikit iri?
Tentu saja dia tidak menunjukkannya. Kaisar Baili tahu bahwa dirinya adalah kaisar, dan dia tidak bisa dekat dengan siapapun termasuk putranya sendiri. Di kursinya, Kaisar Baili menyembunyikan ekspresinya dengan baik.
Tatapan matanya masih tertuju pada paman dan putranya, kemudian dia berkata, “Perkataan putraku bukan tidak mungkin.”
“Yang Mulia, bukankah itu tidak sepadan?”
“Lalu, apa yang kau inginkan? Apa kita punya cara yang lebih baik?”
Keponakannya benar. Dia sendiri merasa jadi orang bodoh sekarang.
“Janda Selir Sun adalah janda selir dari kakek. Dia tidak bisa mati tanpa keinginannya sendiri. Terlebih, dia adalah ibumu, ibu dari Raja Changle. Apa kau bisa menahan semua rumor tentangmu?”
“Aku tidak pernah peduli dengan opini publik.”
Yah, siapa peduli. Sejak dulu reputasinya juga sudah menurun dan dia sering dicap sebagai mesin pembunuh karena menjadi Dewa Perang Bingyue.
Disebut sebagai anak durhaka yang menghukum ibunya sendiri, memangnya dia peduli? Persetan dengan kata sebuah bakti!
“Aku akan menulis dekretnya. Bawalah berikan padanya dengan tanganmu sendiri,” putus Kaisar Baili.
__ADS_1
Baili Qingchen menghembuskan napas. Keputusan sulit ini, pada akhirnya dipecahkan oleh seorang anak kecil.