Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 151: Aksi Pengamanan


__ADS_3

“Cepat! Cari Putri Permaisuri sampai ketemu!”


Pasukan pengawal kekaisaran yang menyadari Putri Permaisuri Changle hilang dari mansion mengerahkan semua bawahan untuk mencarinya.


Poster pencarian berisi potret dan ciri-cirinya sudah bersebaran di seluruh penjuru kota. Mereka juga memeriksa setiap orang yang lewat dan menanyainya.


“Nyonya Selir akan menghukum kita jika kita tidak menemukannya!”


Liu Erniang benar-benar murka. Tidak disangka, orang-orang bodoh ini malah teledor dan membiarkan kakaknya kabur dari mansion.


Liu Erniang tidak takut pada para menteri, namun ia sangat mewaspadai Qingyi. Satu orang saja, cukup dengan wanita itu, semua rencananya bisa hancur.


Liu Erniang teralu sibuk mengurus pencarian Putri Permaisuri Changle hingga ia melupakan keberadaan Selir Jia dan Pangeran Manyue. Saat dia sedang sibuk marah-marah satu hari sebelum penobatannya, Selir Jia dan Baili Wuyuan sudah diam-diam meninggalkan istana. Sesuai dengan instruksi rahasia dari Qingyi yang disampaikan oleh pelayannya, mereka berdua bersembunyi di kediaman Luo Niang.


Tempat itu aman karena luput dari pengawasan Liu Erniang. Sejak keluar dari istana, Luo Niang yang tidak berpihak memilih untuk tidak mencampuri urusan istana lagi. Karena itulah dia lepas dari pengamatan Liu Erniang dan dianggap tidak penting. Siapa sangka jika perannya ternyata cukup berguna juga.


“Sepupu iparku benar-benar ajaib!” decaknya kagum saat Selir Jia menjelaskan instruksi Qingyi.


“Yah, dia memang ajaib,” ucap Selir Jia, mengiyakan perkataan Luo Niang.


Ia juga baru menyadari jika wanita itu bisa tetap tenang saat situasi mengikatnya sampai tegang.


“Bibi bukan ajaib. Dia itu seorang Dewi yang luar biasa!” sahut Baili Wuyuan.


Walau situasi di luar kacau, bocah kecil itu justru tidak panik sama sekali. Dia mewarisi sikap tenang Baili Qingchen, mungkin karena dia berguru padanya.


Sementara itu, Qingyi membawa Baili Qingchen singgah di ruang dimensi. Fitur teleportasi diaktifkan, kemudian dalam beberapa detik mereka akan tiba di gerbang kota kekaisaran saat keluar dari sini.


Qingyi sengaja mengaktifkan fitur itu untuk mempersingkat waktu perjalanan, juga agar mereka datang tepat sebelum Liu Erniang dinobatkan menjadi Permaisuri Bingyue.


Selama di ruang dimensi, Baili Qingchen dengan patuh menutup matanya. Ia kembali mendengar suara air terjun yang ia lihat kala itu. Semilir angin yang familier ini juga turut berhembus membawa kembali ingatannya. Semakin dipikirkan, ia semakin penasaran.


Baili Qingchen kemudian memberanikan diri untuk membuka matanya diam-diam. Saat Qingyi tidak menyadarinya, ia mencuri pandang ke sekeliling. Benar saja, dia kembali lagi ke tempat mimpi ini.


Bedanya, sekarang bukan mimpi. Apa yang dilihatnya adalah kenyataan dan alam ini benar-benar ada.


Dia melihat permaisurinya tengah memunggunginya. Saat itu, Qingyi sedang bernegosiasi dengan Yinghao agar fitur teleportasi bisa digunakan dua kali.

__ADS_1


Qingyi juga meminta Yinghao agar menukarkan beberapa item kepada sistem dengan tambahan waktu lagi, meski hanya beberapa jam saja. Awalnya Yinghao tidak setuju, tapi karena Qingyi adalah pelaksana tugas yang baik, ia sepakat untuk memberinya tambahan waktu lagi.


Qingyi lalu memetik beberapa herbal, masuk ke dalam pondok dan memilih kostum untuk aksi puncaknya. Ia pikir, ia harus membuat suasana semakin heboh. Tidak seru jika pertarungan menggunakan kostum biasa.


Walau tidak mendengar pembicaraan permaisurinya, Baili Qingchen tidak berniat mengejutkannya. Ia yakin permaisurinya punya alasan sendiri mengapa ia menyembunyikan ini.


Pertanyaan terbesar Baili Qingchen mengenai siapa sebenarnya permaisurinya itu juga turut mendorongnya untuk tetap diam. Ia memejamkan mata kembali saat Qingyi menghampirinya.


“Kau sudah siap?” tanya Qingyi tanpa menaruh rasa curiga. Baili Qingchen mengangguk. “Aku sudah siap.”


“Pegang erat tanganku!”


Baili Qingchen menurut. Qingyi kemudian menyuruh Yinghao untuk mengaktifkan fitur teleportasinya, lalu sebuah cahaya gelap muncul di depan mereka. Cahaya itu menelan Qingyi dan Baili Qingchen.


Saat Qingyi membuka matanya, dia tiba di halaman barat. Ia melihat ke langit dan mendapati bulan yang tinggal separuh tengah menggantung.


“Kita sudah sampai. Kau bisa membuka matamu sekarang.”


Baili Qingchen berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Seperti biasa, ia menyembunyikan keterkejutannya. Ini benar-benar ajaib.


Beberapa detik lalu ia masih berada di ruang beralam ajaib itu, sekarang ia tiba-tiba ada di mansionnya. Ia sampai tidak mampu berkata-kata.


“Beristirahatlah. Besok adalah panggung untuk pertunjukkan yang sesungguhnya,” ucap Qingyi. Baili Qingchen mengangguk. Tubuhnya juga sudah lelah. Ia harus bersiap untuk menghadapi pertarungan puncak esok hari.


“Kau juga harus beristirahat. Selamat malam, Putri Permaisuri.”


***


Keesokan harinya, istana kekaisaran yang sudah ada dalam kendali Liu Erniang sibuk dari fajar terbit. Di istana Selir Xian, para pelayan dengan sigap membantunya memakai jubah Permaisuri.


Hari ini, dia akan dinobatkan menjadi Permaisuri Bingyue, dan kendali kekuasaan akan berada di tangannya.


Liu Erniang tersenyum lebar, menatap bayangan dirinya yang terpantul di depan cermin tembaga. Mahkota phoenix emas bertengger di kepalanya.


Aksesoris emas lain menghiasi di kiri dan kanan. Jubah permaisurinya menjuntai dengan indah, membuatnya tampak seperti seorang dewi.


Sayang, ia tak mewarisi sifat seorang dewi. Liu Erniang tidak peduli pada penilaian orang. Saat dia menjadi permaisuri nanti, dia bisa membungkam mulut orang yang menghina dan merendahkannya.

__ADS_1


“Bukankah ini menarik? Liu Qingyi, Baili Qingchen, pada akhirnya akulah yang memenangkan pertarungan ini!”


Meski belum ditemukan, ia yakin wanita itu akan datang terlambat. Raja Changle juga tengah diawasi karena tuduhan palsunya. Mereka tidak akan berbuat banyak saat penobatan itu berhasil. Kaisar Baili juga tidak berdaya, pria itu hanya bisa menuruti perintahnya jika tidak ingin mati.


Setelah semua persiapan selesai, ia naik ke dalam tandu dan pergi menuju aula pengadilan untuk upacara pemberian gelar. Sepanjang jalan, ia tak berhenti tersenyum.


Aula pengadilan yang megah dan agung hari itu memiliki aura yang suram. Sama sekali tidak ada aura keagungan akan penyambutan seorang permaisuri.


Begitu Liu Erniang memasuki aula, Kaisar Baili yang sudah siuman menatapnya penuh kebencian. Rasa sakit di dadanya mendera kembali, hanya saja lebih kecil karena obat dari Qingyi menekannya. Jika tidak ada obat itu, ia mungkin sudah lama mati karena emosi.


Kaisar Baili bergantian menatap Liu Wang yang berdiri di barisan depan para menteri. Orang tua sialan itu dengan tenang menatapnya penuh kemenangan.


Liu Erniang benar-benar memanggilnya kembali dan memaksa Kaisar Baili untuk menjadikannya perdana menteri lagi. Jika penobatan ini benar-benar tejadi, maka kehancuran akan datang padanya.


Pada saat seperti ini, Kaisar Baili baru menyadari arti penting keberadaan pamannya. Seandainya pamannya ada di sini, situasinya tidak akan sekacau ini.


Pamannya selalu menjadi tameng yang menghalanginya dari serangan Liu Wang dan kawan-kawannya. Saat dia tidak ada, nyatanya Kaisar Baili memang kesulitan.


Kaisar Baili memejamkan matanya menahan emosi, sementara Kasim Li mencoba menenangkannya.


“Yang Mulia, mohon tahan amarah. Obat dari Putri Permaisuri Changle hanya dapat menahan racunnya untuk sementara.”


Menteri-menteri yang tidak senang dengan kembalinya Liu Wang hanya bisa menahan gelisah mereka dalam hati. Mereka sungguh berharap Raja Changle akan datang pada saat ini dan menghentikan aksi ayah dan anak itu.


Mereka tahu Kaisar Baili telah diracuni dan tidak berdaya. Mereka lebih kecewa pada diri sendiri karena tidak mampu menghalangi sepasang ayah anak yang kurang ajar itu.


“Yang Mulia, bisa kita mulai upacaranya?” tanya Liu Erniang disertai senyum kemenangannya.


Kaisar Baili menatapnya sengit, kebencian memenuhi hatinya. Kaisar Baili mengepalkan tangannya, lalu menatap ke arah Kasim Li.


“Mulai saja penobatannya!” seru Kaisar Baili sambil menahan marah.


Kasim Li mengangguk, kemudian bersiap membacakan dekret. Tepat sebelum ia membacakan kata pertama, sebuah anak panah melesat, menyobek gulungan dekret dan menjatuhkannya ke lantai.


Kasim Li terkejut, ia seketika terjatuh. Para menteri semuanya membelalakkan mata, tidak terkecuali Liu Wang. Kaisar Baili masih menatap sengit pada Liu Erniang.


“Penobatan apa yang kau maksud, Yang Mulia?” ucap seseorang.

__ADS_1


Semuanya menoleh ke asal suara. Saat sosok itu muncul di ambang pintu, senyum Kaisar Baili tiba-tiba terbit.


__ADS_2