
Dua hari kemudian, sebuah perjamuan kecil diadakan di istana untuk menyambut kedatangan Liu Erniang, putri bungsu Perdana Menteri Liu ke istana.
Dia akan dimahkotai sebagai selir setelah acara perjamuan selesai. Saat ini, Kaisar Baili hanya mengundang beberapa menteri tinggi dan keluarga inti kerajaan.
Ini bukan sesuatu yang bisa dirayakan dengan upacara besar.
Iring-iringan keluarga Raja Changle datang bersamaan dengan iring-iringan Keluarg Liu. Kereta kuda mereka terparkir di gerbang istana bersama beberapa kereta kuda lainnya.
Prajurit penjaga yang akan mengurusnya. Dua keluarga yang hakikatnya masih berhubungan itu berjalan tanpa saling menyapa.
Seperti yang diharapkan, Liu Erniang benar-benar memakai gaun merah yang diberikan Qingyi. Orang-orang terpukau melihat kecantikan nomor dua di Bingyue berjalan anggun di pelataran istana dengan gaun mewah yang ekornya panjang.
Ditambah dengan hiasan kepala berupa mahkota emas dan riasan secukupnya, Liu Erniang menjelma seperti seorang dewi yang turun ke bumi.
“Dia benar-benar merasa dirinya seekor phoenix, ya? Lihat saja bagaimana elang ini akan mematukmu sampai jatuh,” gumam Qingyi.
Dua keluarga itu disambut di Istana Xueyue, sebuah istana megah yang kerap digunakan untuk perjamuan besar. Ini aneh sekali. Jelas-jelas hanya perjamuan kecil untuk menyambut Liu Erniang, tetapi justru malah diadakan di istana besar yang megah. Semua orang berpikir Kaisar Baili punya maksud lain, karena perlakuan dan ucapannya saling bertolak belakang.
Di sebelah kanan adalah tempat duduk para tetua kekaisaran seperti Janda Permaisuri atau Ibu Suri, Janda Permaisuri Sun, selir-selir kaisar sebelumnya, dan juga para menteri tinggi.
Sementara itu, di sebelah kanan paling belakang adalah tempat duduk keluarga kaisar, yakni para selir dan para saudara kaisar. Saat Qingyi menghitungnya, ternyata jumlah istri Kaisar Baili lebih banyak daripada yang ia duga.
Raja Changle beserta permaisurinya duduk di sebelah kanan pada jajaran paling depan, yang berhadapan langsung dengan para tetua dan menteri.
Qingyi segera merebut tempat duduk yang paling nyaman dan paling strategis, sementara Baili Qingchen duduk di tengah, diapit oleh Qingyi dan Xiao Junjie. Melihat pemandangan ini, orang-orang mau tak mau bergosip.
Rumor mengatakan kalau Putri Permaisuri Changle dan Pangeran Permaisuri, alias Pangeran Kecil tidak akur. Tapi, melihat pemandangan hari ini yang penuh dengan toleransi, rasanya rumor itu sengaja dibuat untuk meramaikan kota kekaisaran.
Jika keduanya tidak akur, mana mungkin mereka duduk sejajar. Posisi Putri Permaisuri lebih tinggi, dan seharusnya dia merasa risih jika Pangeran Kecil duduk sejajar dengannya.
Padahal mereka tidak tahu bahwa Qingyi dan Xiao Junjie adalah musuh abadi.
Sekilas, penampilan Qingyi terlihat memukau dalam balutan busana berwarna peach yang terlihat elegan dan menawan. Riasan sederhana di wajahnya justru membuat gadis itu tampak sangat muda dan anggun, juga begitu berwibawa.
Sesaat mereka jadi linglung karena Liu Qingyi dan Liu Erniang sebenarnya sama-sama menarik perhatian. Dua putri dari Liu Wang sama-sama cantik dan menawan dalam porsi mereka masing-masing.
Para menteri tinggi langsung menunduk dan mengalihkan pandangan begitu mata mereka beradu tatap dengan Baili Qingchen. Hawa dingin seakan menembus tubuh mereka tatkala Baili Qingchen menatap mereka dengan tajam, dengan wajah tenang namun mengandung begitu banyak ancaman.
Yinghao yang sengaja ikut tanpa menyamar menyembul dari bawah meja, lalu berusaha naik ke pangkuan Qingyi. Tingkahnya dilihat Janda Permaisuri Ming dan menurutnya itu sangat lucu.
Panda sekecil itu memiliki kaki dan tangan yang pendek, saat memanjat, itu memberikan sensasi yang menggelitik. Qingyi kesal, lalu mendudukkan Yinghao di pangkuannya dengan sembarangan sembari berkata, “Diamlah! Jangan mengangguku!”
Yinghao protes. Dia sengaja melompat-lompat agar Qingyi semakin kesal.
“Diam atau aku akan melemparmu!”
“Dasar Tuan galak! Ayo, lemparkan saja! Jika kau melakukannya, aku akan berlari ke pangkuan Janda Permaisuri Ming!” ucap Yinghao.
Qingyi mendecih. Yinghao licik, panda kecil itu turun dari pangkuan Qingyi dan berlari ke seberang, ke pangkuan Janda Permaisuri Ming. Orang-orang yang melihat makhluk kecil itu terkaget-kaget, lalu tidak bisa menahan tawanya. Peliharaan Putri Permaisuri Changle sangat unik dan lucu!
“Kaisar tiba!” seru kasim. Semua orang berdiri menyambut Kaisar Baili.
“Duduklah,” ucap Kaisar Baili setelah dia duduk di kursinya.
Kaisar Baili memakai jubah emas kebesarannya. Kepalanya dihiasi mahkota. Baru pertama kali Qingyi melihat penampilan kaisar pemalas dengan busana formal seperti ini. Biasanya ketika dia menyelinap ke ruang belajarnya, Kaisar Baili paling-paling hanya mengenakan jubah biasa berwarna hitam atau abu-abu. Auranya lebih terasa dan lebih agung.
Qingyi berpikir, kekuatan busana ternyata benar-benar mempengaruhi seseorang.
__ADS_1
“Sajikan makanan!” seru kasim lagi.
Lantas, pelayan istana kemudian masuk membawa nampan berisi makanan ke setiap meja. Qingyi menelan ludah melihat hidangan yang sangat menggugah selera, namun ia terpaksa harus menahannya karena dia bisa saja dibilang tidak tahu malu. Ini perjamuan, dan di sini adalah istana, bukan mansion Raja Changle.
“Hari ini, aku memenuhi janjiku kepada Perdana Menteri Liu. Mari, bersulang,” ucap Kaisar Baili, dia mengangkat cangkirnya kepada semua orang.
Setelah mereka mengangkatnya, mereka sama-sama minum di saat yang sama. Qingyi diam-diam mengganti arak di dalam tekonya dengan air teh biasa. Minum di pagi hari begini merusak kesehatan dan bisa mempengaruhi mood. Lagipula, dia tidak menyukai arak.
Lidahnya dan tenggorokannya terasa terbakar saat ia pertama kali mencobanya empat tahun lalu. Kala itu, dia sedang merayakan ulang tahunnya bersama teman-teman sejawatnya di kafe. Sampai sekarang, Qingyi tidak berani meminumnya lagi.
“Putri Permaisuri, apa yang kau rencanakan?” tanya Baili Qingchen pelan. Dia curiga permaisurinya merencanakan sesuatu.
“Apa maksudmu?”
“Kau begitu tenang hari ini. Melihat adik yang kau benci masuk istana, seharusnya reaksimu tidak seperti ini, kan?” tanyanya lagi.
“Sejak kapan kau memahami pikiranku? Kau harus ingat, aku belum memaafkanmu.”
Mendengar kata-katanya, Baili Qingchen langsung terdiam. Haish, sampai kapan permaisurinya akan terus marah padanya? Padahal Baili Qingchen sudah merelakan diri untuk dirias seperti wanita dan ditendang dari tempat tidur.
Dia juga sudah memberikan kompensasi harta dan Qingyi telah menerimanya walau hanya sebagian. Baili Qingchen benar-benar kesulitan memahami wanita seperti Qingyi.
“Cukup diam dan tunggu saja. Aku punya pertunjukkan menarik yang sangat bagus untuk ditonton,” seloroh Qingyi. Tanpa menunggu orang lain, dia memakan sepotong kue.
“A-Chen, kenapa?” tanya Xiao Junjie saat melihat wajah Baili Qingchen sedikit ditekuk.
“Putri Permaisuri merencanakan sesuatu,” jawab Baili Qingchen.
“A-Jie, bantu aku mengawasinya sampai aku kembali.”
Xiao Junjie mengangguk.
Di dalam aula istana, Kaisar Baili lalu memerintahkan kasimnya untuk mengikuti Raja Changle diam-diam. Sampai saat ini, ia masih sangat waspada meskipun dia sendiri sudah melihat bahwa Baili Qingchen sama sekali tidak ingin berebut dengannya.
Sebagai kaisar sebuah negara, kewaspadaan memang penting. Kaisar Baili masih takut pamannya itu merencanakan sesuatu.
Untuk menyembunyikan niatnya, suasana di dalam aula kemudian dibuat meriah dengan tarian-tarian dan musik. Qingyi berdecak, menurutnya ini sangat membosankan.
Tari-tarian klasik tidak cocok untuk tipe wanita yang urakan sepertinya. Gerakan-gerakan yang lembut dan gemulai itu justru terlihat seperti gerakan erotis yang sengaja diciptakan untuk menggoda orang.
Matanya tanpa sengaja bertemu dengan Janda Selir Sun. Tampaknya, mertuanya sudah tahu kalau orang yang melepaskan Wang Yiyuan dan mengirimnya ke istananya adalah dia.
Sedari tadi, raut wajah Janda Selir Sun tampak tidak senang, tetapi dia berusaha menyembunyikannya. Qingyi melemparkan pandangan ke arah lain, sialnya ia malah bertemu pandang dengan Xiao Junjie.
“Kenapa kau terus menatapku?” tanya Qingyi.
Xiao Junjie lalu menjawab, “Karena A-Chen menyuruhku mengawasimu. Kau pasti merencanakan sesuatu, kan?”
“Kau ingin tahu? Aku memang punya sebuah pertunjukkan besar.”
“Jangan mengacau!”
“Kalau begitu, bagaimana jika kau bergabung dengan mereka? Aku mungkin bisa mempertimbangkan untuk membatalkan aksiku.”
“Sungguh?”
Tentu saja tidak, bodoh!
__ADS_1
Tapi, Qingyi benar-benar kebosanan saat ini. Dia mengiyakan pertanyaan Xiao Junjie. Otak Xiao Junjie melambat karena kepalanya dipenuhi dengan nama Baili Qingchen.
Dia kehilangan kemampuan untuk berlogika dan hanya berpikir bagaimana caranya membantu Baili Qingchen. Xiao Junjie berdiri, lalu memohon kepada Kaisar Baili untuk mengizinkannya mempersembahkan sebuah tarian.
“Pangeran Permaisuri memang berbakat. Kalau begitu, menarilah!” ucap Kaisar Baili.
Xiao Junjie lantas mulai menari bersama para penari istana. Gerakan tubuhnya begitu luwes. Dia seperti penari professional.
Para tamu undangan dan para selir semuanya mengagumi bakat Xiao Junjie. Selain pandai berpuisi, dia juga memiliki bakat seni yang luar biasa. Bahkan para wanita saja belum tentu sehebat dirinya.
“Dasar dungu! Sejak kapan dia mempercayai ucapanku?” gumam Qingyi.
Xiao Junjie benar-benar bodoh! Tapi tidak apa-apa, kebetulan dia sangat bosan dan Xiao Junjie dengan senang hati menghiburnya. Saat tarian selesai, Xiao Junjie kembali ke kursinya. Kaisar Baili dan beberapa menteri memujinya, mengatakan kalau Pangeran Kecil sangat hebat.
“Pangeran Permaisuri sangat berbakat. Aku tidak pernah kecewa dengan orang-orang dari mansion Raja Changle. Putri Permaisuri, tidak tahu apakah kau juga dapat mempersembahkan tarian untukku?” tanya Kaisar Baili.
Sialan, kaisar malah menjebaknya!
“Aku tidak sehebat Pangeran Kecil,” ucap Qingyi.
“Oh, benarkah?” tanya Kaisar Baili, dengan mata penuh kelicikan.
Saat ini pamannya sedang keluar, jika dia mempermalukannya, maka tidak akan ada orang yang membelanya! Pemikiran Kaisar Baili sungguh licik!
“Kecuali jika Yang Mulia ingin melihatku menarikan tarian pedang. Aih, bukankah itu tidak bagus untuk hari pernikahan yang baik ini?”
Kaisar Baili menaruh tangannya di bawah meja, mengepalkannya dengan tenaga. Kebencian yang tertanam di hatinya kepada Qingyi mendorongnya untuk mencelakai gadis itu bagaimanapun caranya.
Kaisar Baili ingin membunuh Qingyi, melenyapkannya dari dunia ini selamanya. Dia ingin membalas semua bentuk penghinaan dan ancaman yang ia terima dari gadis itu.
Tapi, siapa sangka kepandaiannya meningkat berkali lipat dalam beberapa minggu ini. Kemampuan bersilat lidahnya semakin baik. Qingyi sangat pandai membalikkan kata-kata orang dan membuat orang itu terdiam sampai tidak berkutik.
Qingyi tersenyum kecil, trik kaisar sangat murahan dan Qingyi tentu saja tidak akan jatuh dalam perangkapnya.
“Tetapi, Yang Mulia tenang saja. Hadiah pernikahan dari bibimu ini sebentar lagi akan tiba,” ujar Qingyi. Setelah itu, dia meminum tehnya dengan santai.
“Kalau begitu, aku sangat menantikan hadiah darimu.”
Setelah itu, Kaisar Baili mengabaikan Qingyi. Liu Erniang duduk dalam kegelisahan yang tiada ujung. Dia juga curiga kakak laknatnya merencanakan sesuatu.
Liu Erniang tidak mau hari pernikahan baiknya hancur gara-gara ulah Qingyi. Tapi sekeras apapun dia berpikir, dia tetap tidak mampu menebaknya.
Satu-satunya cara untuk menghindari bencana adalah dengan mengakhiri perjamuan ini secepat mungkin. Liu Erniang melirik ayahnya, memberikan kode bahwa acara ini sudah harus diselesaikan. Perdana menteri mengangguk mengerti, lalu dia berdiri dan membungkukkan diri kepada Kaisar Baili.
“Yang Mulia, hari ini adalah hari yang baik. Putri bungsuku sungguh beruntung mendapat penyambutan langsung dari Yang Mulia,” ucap perdana menteri.
Kaisar Baili merubah ekspresinya, menjadi lebih tenang.
“Karena kalian sudah menikmati perjamuannya, maka aku akan mengumumkan hal pentingnya.”
Qingyi langsung memberi kode kepada Yinghao. Panda kecil itu melompat dari pangkuan Janda Permaisuri Ming dan tanpa diketahui telah masuk ke ruang dimensi.
Kaisar Baili bersiap melanjutkan perkataannya, dia menatap semua orang dan suaranya yang agung menggema di aula Istana Xueyue.
“Sesuai janjiku, aku mengizinkan putri bungsu Perdana Menteri memasuki istana sebagai bentuk bakti terakhirku kepada Perdana Menteri. Liu Erniang, majulah.”
Liu Erniang kegirangan. Dia maju ke depan singgasana Kaisar Baili, lalu berlutut.
__ADS_1
“Hari ini-”
“Tunggu!” seru Qingyi.