
Baili Qingchen tersentak. Ia menoleh, lalu matanya membelalak.
Saat itu, Qingyi sudah jatuh pingsan dengan darah mengalir dari hidungnya. Wajah gadis itu menjadi sangat pucat dalam seketika. Di dalam kereta, Baili Qingchen segera merangkulnya dan memeluk tubuhnya. Malam kian larut, kepanikan Baili Qingchen bertambah berkali lipat.
“Percepat laju keretanya!”
Mendengar tuannya berteriak, kusir kuda langsung memecut kudanya dan laju kereta bertambah dua kali lipat. Suara sepatu kuda menggema di jalan yang sepi. Cui Kong yang sedang duduk bersama kusir mengerti situasi. Pengawal itu lalu melompat dari kereta, kemudian menggunakan ilmu meringankan tubuh dan melompat ke udara. Dia meloncat-loncat di antara atap rumah penduduk, mendahului laju kereta Baili Qingchen.
Tidak lama kemudian, kereta sampai di mansion dan pria itu segera menggendong Qingyi masuk. Kepala pengurus panik karena rajanya menggendong Putri Permaisuri dengan terburu-buru.
Dia lebih panik saat melihat pakaian Qingyi dipenuhi dengan darah berwarna merah gelap. Ada apa ini? Bukankah tadi Putri Permaisuri baik-baik saja?
“Yang Mulia, apa yang terjadi pada Yang Mulia Putri?”
Baili Qingchen mengabaikan pertanyaan itu dan langsung menuju halaman barat. Kakinya menendang pintu kamar dengan kasar lalu tubuh Qingyi dibaringkan di atas ranjang.
Wajah gadis itu sangat pucat dan darah terus mengalir dari hidungnya. Baili Qingchen semakin panik.
“Di mana Cui Kong?” tanyanya dengan tidak sabar.
“Komandan Cui belum kembali, Yang Mulia,” jawab kepala pengurus.
“Memanggil tabib saja tidak bisa! Apa dia menjadi begitu lamban setelah lama tidak berperang?”
Kepala pengurus menunduk takut. Walau sudah terbiasa melihat wajah dingin Raja Changle, namun ketika wajah itu berubah menjadi marah, itu sangat menakutkan. Kepala pengurus bergetar tubuhnya tanpa sadar, ia tidak berani mendongak hanya untuk menatap mata Baili Qingchen.
“Yang Mulia, tabibnya sudah datang!”
Cui Kong muncul sembari menggendong paksa tabib istana. Tabib itu kemudian disuruh berdiri dan raut wajahnya sangat ketakutan. Ia tidak terima dibawa dengan paksa.
Namun, ketika melihat Raja Changle yang marah dan Putri Permaisuri yang sudah bersimbah darah, dia menunda perasaannya. Rupanya, ini adalah hal yang sangat mendesak.
“Apa yang kau lakukan? Cepat obati dia!” bentak Baili Qingchen.
Tabib istana lantas memeriksa sesuai perintah Baili Qingchen. Butuh waktu beberapa lama sampai akhirnya tabib itu bisa memastikan kondisi sang Putri Permaisuri. Tabib mencopot semua jarum akupuntur di tubuh Qingyi, kemudian menghela napas dengan pasrah.
Baili Qingchen tentu saja semakin marah. Apa maksud helaan napas itu?
“Katakan bagaimana kondisinya!” seru Baili Qingchen.
__ADS_1
“Yang Mulia, Yang Mulia Putri sepertinya tidak sengaja terkena racun. Apakah akhir-akhir ini Yang Mulia Putri sering meracik obat?”
“Hanya obat penyubur selir.”
Tabib istana mengernyit. Bukan, obat penyubur tidak akan menjadi racun.
“Katakan dengan jelas! Apa dia baik-baik saja?”
Kesabaran Baili Qingchen menjadi sangat tipis jika berkaitan dengan Qingyi. Apalagi setelah gadis itu tidak sadarkan diri di hadapannya, kesabarannya seperti terkuras habis saat itu juga.
Yang diinginkan Baili Qingchen adalah gadis itu segera bangun dan pulih seperti sedia kala, bukan berbaring layaknya mayat seperti ini!
“Saya akan mencoba mendetoksifikasi racunnya. Tubuh Yang Mulia Putri mungkin terlalu lelah hingga racun itu menyebar dengan cepat.”
Ia baru sadar jika permaisurinya itu sudah terlalu banyak melakukan sesuatu. Masalah akhir-akhir ini selalu ia selesaikan dengan cepat. Baili Qingchen tidak tahu, apakah Qingyi beristirahat dengan cukup dalam beberapa hari ke belakang?
Rasanya hatinya dipenuhi oleh kabut. Sebagai suami, dia merasa telah mengabaikan kesehatan istrinya sendiri. Qingyi adalah seorang wanita, tubuhnya tidak akan kuat jika dipaksa melakukan ini itu dan dipaksa berpikir dengan keras.
Jika ditambah dengan emosinya yang tidak stabil itu, tubuhnya memang akan mengalami kelelahan yang berlebihan.
Ya Tuhan, mengapa dia bisa seceroboh ini?
Baili Qingchen merutuki diri sendiri karena tidak mampu mencegah istrinya melakukan sesuatu. Seandainya Qingyi mau mendengarkannya, mungkin dia tidak akan berakhir seperti ini. Tapi, tetap saja Baili Qingchen tidak bisa menyalahkannya. Justru dia sendiri yang telah bersalah kepada Qingyi.
Pria itu yakin racunnya pasti masuk melalui makanan yang dikonsumsi oleh Qingyi. Kepala pengurus kemudian menjawab dengan hormat setelah mengusir semua ketakutannya.
“Yang Mulia Putri memakan makanan yang disajikan pelayan. Tetapi karena ada laporan dari istana mengenai kematian Selir Sui, dia tidak menghabiskannya dan langsung bergegas, Yang Mulia.”
“Di mana sisa makanannya?”
“Sepertinya disimpan di dapur, Yang Mulia.”
Cui Kong segera pergi walaupun tidak diperintah. Baili Qingchen berdiri di sisi ranjang Qingyi dengan gelisah. Tabib istana sedang berusaha mendetoksifikasi racun di tubuh Qingyi dan memusatkannya pada satu titik agar keluar sekaligus.
Melihat adegan itu, Baili Qingchen teringat akan pertolongan yang diberikan gadis itu kepadanya.
Dulu, Qingyi mendetoksifikasi racunnya dengan tangannya sendiri. Sekarang, ketika gadis itu jatuh, dia bahkan tidak bisa melakukan apapun! Baili Qingchen merasa menjadi orang yang tidak berguna untuk pertama kalinya. Ekspresinya muram, semuram malam yang gelap.
Sementara itu, kesadaran Qingyi tertahan di ruang dimensi. Jika sebelumnya dia bisa masuk bersama tubuh fisiknya, kini ia seperti hantu.
__ADS_1
Walau tidak transparan dan tidak bisa terbang, Qingyi tidak bisa menyentuh benda-benda yang ada di sana. Dia berdiri menatap Yinghao dengan penuh tanya.
“Apa aku akan segera mati?”
“Tuan, kau tidak akan mati. Jika kau mati pun, tubuh yang mati hanyalah tubuh figuran. Tubuh aslimu ada di dunia nyata.”
“Oh, benar juga. Apa aku akan segera kembali ke dunia nyata?”
“Tidak semudah itu. Kau harus tetap menyelesaikan misimu jika kau ingin kembali.”
Qingyi merengut dan ingin memukul Yinghao. Panda kecil itu berlari menghindari serangan tuannya. Ini bukan salahnya. Sistem juga tidak salah. Kejadian ini berada di luar kendali dan tidak ada dalam prediksi.
“Jika tidak bisa menyembuhkanku, maka kembalikan aku ke dunia nyata! Sistem sialan, akan kuhajar kau sampai rusak!” geram Qingyi.
“Tuan, jangan marah. Sistem memerlukan waktu untuk mengembalikan kesadaranmu ke dalam tubuh fisikmu!” sahut Yinghao yang tidak mau kalah.
“Lalu apa aku harus tetap di sini seperti hantu penunggu?”
Qingyi tidak terima. Menurutnya ini tidak adil. Dia ingin menyelesaikan semua urusannya, dia ingin menuntaskan semua janji dan menepati setiap perkataan yang telah dia ucapkan.
Qingyi juga harus membalas dendam kepada orang yang telah meracuninya. Namun jika seperti ini, bagaimana bisa dia melakukannya?
Waktunya telah tertunda begitu lama!
“Tuan, jangan khawatir. Ada orang yang akan membantumu membalaskan dendam,” ujar Yinghao seakan-akan mengerti kegelisahan hati Qingyi.
Hati Qingyi langsung menebak orang itu. Yah, itu bagus jika dia benar-benar melakukannya. Qingyi ingat sebelum dia tidak sadarkan diri, pria itu memasang ekspresi panik seakan-akan dunia ini hendak menimpa kepalanya.
Selain pria itu, tidak ada orang lain yang mempedulikannya. Jika dia benar-benar punya hati, maka membalas dendam adalah kewajibannya.
“Diamlah! Lebih baik cepat pikrikan cara untuk mempercepat pemulihan tubuhku!”
Di kamar Qingyi, tabib istana baru selesai mendetoksifikasi racun. Tubuh Qingyi bereaksi dengan mengeluarkan darah hitam dari hidung dan mulut. Meskipun masih pasif, setidaknya gadis itu berhasil diselamatkan. Sampai beberapa menit kemudian, matanya masih terpejam.
“Yang Mulia, sisa makanannya ada di sini,” ujar Cui Kong.
Tangannya memegang sebuah mangkuk sup ayam yang sudah dingin. Tabib istana langsung mencelupkan sebuah jarum perak ke dalamnya sesuai perintah Baili Qingchen. Bagian dari jarum yang dicelupkan berubah menjadi hitam setelah beberapa saat.
Ekspresi Baili Qingchen semakin suram. Kemarahannya memuncak dan aura dingin yang menyeramkan seketika menguar memenuhi udara. Kepala pengurus, tabib istana, dan juga beberapa pelayan pengurus berlutut dan menunduk.
__ADS_1
Mereka takut akan kemarahan sang Raja Changle. Ketika Dewa Perang Bingyue marah, maka dunia bisa saja terjungkir balik.
“Kumpulkan semua pelayan sekarang juga!”