Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 22: Empat Sehat Lima Sempurna


__ADS_3

“Apa kalian sudah bosan hidup? Kalian ingin membunuh Raja Changle?”


Pelayan pengantar makanan menunduk takut di hadapan Xiao Junjie. Tak jauh dari sana, Baili Qingchen terdiam menatap meja makan yang dipenuhi dengan makanan yang menurutnya tidak pantas dimakan oleh kaum bangsawan kerajaan sepertinya. Menunya begitu sederhana, tidak seperti biasanya.


“Itu…Yang Mulia Putri yang mengaturnya. Dia bilang, mulai sekarang makanan Yang Mulia harus dia yang mengurusnya. Kami…Kami tidak berani membantah,” tutur pelayan.


Pelayan tidak bersalah. Mereka hanya menuruti perintah majikan tanpa tahu apa akibatnya. Di mansion ini, setelah Qingyi datang, hampir semua pelayan menurutinya.


Katanya, Qingyi adalah calon ratu masa depan, yang akan menyelamatkan Raja Changle dari kehancuran. Entah dari mana rumor itu berasal, tetapi para pelayan begitu yakin hingga mereka berbondong-bondong mematuhi perintahnya.


“Yang Mulia Putri sengaja memilah makanan agar penyakit Yang Mulia tidak kambuh lagi. Pangeran Permaisuri, kami sungguh tidak tahu apapun,” ucap pelayan dengan nada takut.


“A-Jie, sudahlah. Aku tidak akan mati meski memakan makanan seperti ini,” ucap Baili Qingchen.


“Tapi, makanan ini sungguh tidak enak! A-Chen, aku akan meminta pelayan memasak makanan yang baru.”


“Tidak perlu. Ini sudah larut.”


Baili Qingchen bertanya-tanya apakah makanan ini benar-benar efektif untuk mencegah penyakit lamanya kambuh. Selama beberapa tahun ini, tabib kerajaan bahkan tidak bisa menemukan penyebab dan obatnya.


Gadis itu malah bisa meredakan sakitnya dalam beberapa menit, juga langsung menemukan cara untuk menekan gejalanya. Jika memang benar, berarti Qingyi cukup hebat.


Xiao Junjie terpaksa menurut. Dia duduk di seberang Baili Qingchen, lalu meletakkan beberapa makanan ke mangkuk kecil Baili Qingchen. Sementara itu, Baili Qingchen berusaha mencerna makanan barunya.


Rasanya memang tidak terlalu enak, tapi dia harus mencoba untuk mengetahui seberapa efektif metode yang diterapkan oleh permaisurinya. Kalau tidak berhasil, dia bisa punya alasan untuk menghukumnya.


“Apa dia belum kembali?” tanya Baili Qingchen setelah makan malam selesai. Pelayan yang melayaninya menggelengkan kepala.


“Yang Mulia belum kembali. Mungkin sebentar lagi dia akan tiba,” ucap pelayan.


“Apa yang dia lakukan di luar sana?”


“Saya tidak tahu, Yang Mulia. Dia tiba-tiba keluar dan pergi dengan terburu-buru.”


Baili Qingchen menebak mungkin ada gadis itu memiliki persoalan mendesak. Mungkin juga terkait dengan kediaman perdana menteri lagi. Hari ini, Baili Qingchen menyerahkan laporan penyelidikan kasus keracunan Xiao Junjie ke Divisi Wude untuk ditindaklanjuti.


Dia juga mengirimkan surat peringatan ke kediaman perdana menteri dan mengatakan kalau berani berbuat macam-macam lagi, maka dia tidak akan tinggal diam. Baili Qingchen masih belum menemukan alasan mengapa Qingyi membiarkannya membongkar kejahatan yang dilakukan orang kediaman perdana menteri.


Pemikiran gadis itu yang sulit ditebak membuatnya semakin kebingungan. Kalau dipikir-pikir, Qingyi ini benar-benar cerdas dan pintar. Dia tahu memanfaatkan situasi dan mencegah mengotori tangannya sendiri. Qingyi seperti sebuah misteri yang sulit dipecahkan.


Suara roda kayu kereta kuda terdengar berhenti di depan gerbang. Qingyi turun dari kereta dengan wajah sumringah yang baru pertama kali dilihat Baili Qingchen. Terlihat manis, gumamnya tanpa sadar. Gadis itu berjalan memasuki halaman mansion, sembari bersenandung dengan kaki melangkah ringan.

__ADS_1


“Kau begitu senggang?” tanya Baili Qingchen.


Melihat pria itu menyambutnya dengan pertanyaan seperti sindiran, mood Qingyi tiba-tiba turun drastis.


“Tuduhanku sudah dibersihkan. Aku juga berbaik hati mengobati orang itu. Apa kau masih punya dendam lama yang belum kau tuntaskan kepadaku? Tidak bisakah kamu menghilang beberapa menit saja?”


“Mengapa kau memberikan petunjuknya padaku?” tanya Baili Qingchen tanpa mengindahkan pertanyaan Qingyi.


“Karena itu bukan urusanku. Orang yang harus menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan keluargamu adalah kau, bukan aku.”


“Kau juga bagian dari mansion ini, jika kau lupa.”


“Begitukah? Bagian berdasarkan status saja, bukan? Aku ingat kau bahkan menuduhku dan mengancam akan membunuhku. Menurutmu, apa hubungan seperti itu termasuk hubungan keluarga?”


Baili Qingchen terdiam. Dia salah, dia salah karena telah menuduh Qingyi sebelumnya. Gadis itu bukan hanya membantunya, tapi juga ikut menyembuhkan Xiao Junjie. Seharusnya bukan ini perkataan yang keluar dari mulutnya. Baili Qingchen entah mengapa selalu tidak senang jika gadis itu pulang larut malam dan pergi tanpa seizinnya.


Mood Qingyi benar-benar rusak. Tidak apa-apa jika Baili Qingchen tidak berterima kasih padanya, karena dia bukan orang yang haus akan itu. Qingyi hanya ingin sehari saja hidupnya terasa damai. Siang hari dia harus menyelesaikan misi dan setumpuk masalah, malam harinya masih harus dimarahi.


Siapa yang tahan? Kalau begini terus, cerita ini tidak akan pernah selesai!


Sembari mengatur emosi, Qingyi melihat Baili Qingchen berbalik pergi. Aneh, pikirnya. Pria itu selalu marah-marah belakangan ini, padahal sebelumnya begitu dingin padanya. Beberapa hari lalu bahkan masih mengancamnya, lalu menanyakan asal herbal, hari ini kembali memarahinya. Bagi Qingyi, itu benar-benar menyebalkan.


“Delapan puluh tiga hari, Tuan,” jawab Yinghao.


Qingyi lemas. Menyelesaikan alur cerita 83 hari lagi, rasanya sangat sulit. Lakon yang dia jalani kini bahkan belum sampai ke tengah. Seingatnya, ketika Xiao Junjie sakit, Liu Qingyi dikurung sampai mati. Itu menjadi titik tengah cerita, ketika akhir kehidupannya sudah ditentukan.


Pada saat itu, seharusnya terjadi pergolakan politik yang menyudutkan Raja Changle. Namun sampai kini, belum ada tanda-tanda kalau Kaisar Baili dan perdana menteri bergerak. Dia jadi merasa kalau perubahan alur mempengaruhi kelanjutan cerita.


Ada banyak alur baru yang terselip sejak ia datang dan menjalankan misi, dan ini mungkin tidak akan selesai dalam waktu lima puluh hari. Ditambah lagi hubungannya dengan Baili Qingchen tak kunjung membaik. Setiap pertemuannya diwarnai dengan perdebatan dan adu mulut.


“Tuan, apa kau memerlukan bantuan sistem? Ada opsi untuk mempersingkat cerita,” tawar Yinghao seakan mengerti pemikiran host-nya.


“Kalau caranya dengan menyingkirkan banyak tokoh dan membuang beberapa adegan, aku tidak mau. Jalan ceritanya malah tidak nyambung,” ucap Qingyi.


“Tapi itu lebih baik daripada kau tidak bisa menyelesaikannya, bukan?”


“Tetap saja. Integritasku sebagai editor akan dipertanyakan nanti. Sudahlah, jangan bahas ini dulu. Ayo, ke ruang dimensi!”


“Tidak bisa. Ruang dimensi sedang dalam perbaikan,” tutur Yinghao.


Sayang sekali, padahal Qingyi ingin mandi air ajaib di sana untuk menghilangkan penatnya. Karena terlalu lelah, ia perlahan memejamkan mata dan tertidur pulas.

__ADS_1


Tengah malam, pintu kamar Qingyi terbuka. Baili Qingchen masuk tanpa suara, mendekati tempat tidur Qingyi. Tepat di samping tempat tidur, dia berdiri memperhatikan wajah Qingyi yang tampak damai.


Dilihatnya baik-baik wajah dan tubuh itu, yang cukup kecil dibandingkan wanita bangsawan pada umumnya. Baili Qingchen penasaran apa yang sudah dilakukan gadis ini sampai tertidur pulas seperti itu.


“Aku tidak bermaksud memarahimu,” gumamnya.


Baili Qingchen kemudian membetulkan posisi tidur Qingyi dengan hati-hati, lalu menyelimutinya dengan pelan. Terlihat sedikit gerakan dari gadis itu. Baili Qingchen kemudian keluar dari kamar tersebut. Dia tidak kembali ke kamarnya di halaman timur, tapi malah berbelok ke ruang belajar. Cui Kong sudah menunggu untuk melaporkan informasi.


Raja Changle ini terlihat santai di luar, namun sebenarnya dia selalu tahu apa yang terjadi di dalam istana. Sebenarnya dia tidak terlalu percaya saat menyerahkan pasukannya pada keponakannya, dan karena itulah dia selalu mengawasinya diam-diam.


Cui Kong kemudian melaporkan perihal keadaan di dalam istana kepadanya. Katanya, Kaisar Baili menyuruh bendahara kerajaan untuk memberikan dana bulanan Raja Changle secara keseluruhan, juga menyuruhnya menaikannya.


Baili Qingchen mengernyit, ia bukan tidak tahu kalau jatah bulanannya dipotong oleh keponakannya. Hanya saja dia tidak tahu mengapa keponakan kaisarnya itu tiba-tiba memberinya jatah utuh, malah menjadikannya lebih banyak.


“Apa mungkin ini ulah Liu Qingyi?” gumam Baili Qingchen.


Begitu memikirkannya, dia langsung teringat pada kunjungannya ke istana bersama Qingyi dan Xiao Junjie sehari setelah pernikahan. Gadis itu sempat mengatakan kalau dia ada urusan sebentar.


Mungkinkah dia pergi menemui kaisar?


“Yang Mulia, hari ini Yang Mulia Putri juga berhasil mendamaikan perkelahian Pangeran Ketiga dan Tuan Muda Kedua Liu. Mungkin itu sebabnya dia pulang larut malam,” terang Cui Kong.


“Maksudmu, dia bisa menenangkan adik ketiga? Dengan temperamen Baili Qingyan, itu tidak mudah.”


“Tapi, dia melakukannya dengan baik. Hanya dengan menjewer telinga, keduanya langsung menurut dan berdamai. Mereka bahkan makan dan berbincang bersama.”


Pantas saja gadis itu pulang dengan wajah sumringah. Harinya diisi dengan perbincangan dengan dua pria berdarah bangsawan. Itu wajar. Tapi, Baili Qingchen tidak menyangka kalau gadis itu rela keluar mansion dan mengeluarkan tenaga hanya untuk mengurusi perkelahian adiknya dan kakak iparnya. Setahunya, dia adalah gadis yang tidak suka ikut campur.


“Baiklah. Kau boleh pergi,” ucap Baili Qingchen. Cui Kong kemudian pergi. Tinggallah ia sendiri di ruang belajar.


Baili Qingchen mengambil sebuah kotak kayu yang dibungkus kain berwarna biru muda. Setelah membuka bungkusnya, dia membukanya. Tangannya bergerak meraih sebuah kain berwarna emas, yang dibubuhi stempel dan aromanya wangi.


Dia membentangkannya, lalu membaca setiap tulisan yang ada di sana. Meski sudah ratusan kali, Baili Qingchen masih merasa kalau tulisan itu baru dibuat kemarin sore.


“Kakak, aku sungguh berharap benda ini tidak pernah kukeluarkan. Semoga putramu bisa bajik sepertimu,” gumamnya.


Baili Qingchen kemudian menggulung kembali kain tersebut, menyimpannya ke dalam kotak kayu dan merapikannya kembali. Benda itu sangat berbahaya jika dikeluarkan karena bisa mengancam takhta kaisar saat ini.


Baili Qingchen sangat berharap kalau dia tidak akan mengeluarkan benda itu. Dia juga berharap kehidupannya di sini tetap damai. Sama sekali tidak terbersit dalam pikirannya untuk membuat kekacauan, bahkan jika orang lain memprovokasinya.


Dia hanya ingin menjadi seorang pangeran yang tanpa beban. Namun, hal itu tidak akan terwujud karena dia masih punya tugas penting. Dia juga tidak bisa leluasa bergerak, karena kini di sampingnya muncul seorang gadis aneh yang tidak dapat diprediksi.

__ADS_1


__ADS_2