
Hari ini, pengawal istana datang untuk menjemput Putri Permaisuri Changle. Mereka diutus Janda Permaisuri Ming untuk mengawal Qingyi ke istana, karena hari ini adalah hari yang telah ditentukan untuk mulai mengobati para selir.
Pagi-pagi sekali para pengawal itu sudah berkumpul di depan gerbang.
Para penduduk kota kekaisaran mulai bertanya-tanya, mengapa kereta dari mansion Raja Changle dikawal pasukan istana begitu iring-iringan lewat di tengah jalan.
Orang yang tahu segera memberitahu yang tidak tahu, bahwa kasus besar yang mengguncang Istana Harem telah terjadi.
Bukan apa-apa sebenarnya. Janda Permaisuri Ming hanya khawatir seseorang mengacaukan perjalanan Putri Permaisuri Changle ke istana karena tahu gadis itu hendak mengobati para selir. Hal ini membuat Qingyi tidak nyaman dan merasa semua perhatian menjadi tertuju padanya seorang.
“Seharusnya aku pergi dengan menyamar saja!” keluhnya. Di dalam kereta, dia kebosanan. Entah mengapa perjalanan menuju istana terasa lebih lama dari biasanya.
Gadis itu memikirkan ide. Dia masuk ke ruang dimensi dan tidur di sana. Ketika rombongan sampai di istana, mereka terkejut karena kereta kuda ternyata kosong.
Janda Permaisuri Ming menjadi marah dan memarahi pasukan pengawal. Pasukan hanya menunduk, takut sekaligus heran. Jelas-jelas tadi Putri Permaisuri masuk ke dalam kereta, mengapa sekarang malah tidak ada?
“Mengawal seorang Putri Permaisuri Changle saja tidak bisa! Kelak, bagaimana cara kalian melindungi Kaisar jika kemampuan kalian seperti ini?”
Kaisar Baili, yang saat itu juga ada di gerbang merasa geram sendiri. Jika bukan karena Qingyi bisa mengobati para istrinya, dia tidak sudi berdiri di sini untuk menyambutnya.
Apa-apaan ini? Gadis menyebalkan itu bahkan tidak ada di dalam keretanya!
“Ibunda, tenanglah. Jika dia tidak bisa datang, biarkan tabib lain yang menggantikannya,” ucap Kaisar Baili.
Janda Permaisuri Ming tidak mengindahkan ucapan putranya. Dia sudah kecewa karena putranya itu bahkan tidak bisa menjaga istri-istrinya sendiri.
“Apa yang kalian ributkan?”
Sebuah suara bening perempuan menginterupsi mereka. Di belakang, seorang gadis muda berpakaian biru muda berdiri menatap mereka. Janda Permaisuri Ming menghembuskan napas lega. Wajah Kaisar Baili juga mulai menunjukkan warna. Semua orang menatapnya dengan bingung.
“Mengapa kau tiba-tiba muncul di sini?” tanya Kaisar Baili.
“Jika aku tidak di sini, lalu di mana aku harus muncul? Apa aku harus muncul dari dalam danau, atau melompat dari atap istana? Yang Mulia, kau tahu bahwa aku tidak sebodoh itu,” jawab Qingyi.
__ADS_1
Baru saja dia berniat menyapa dengan baik, sungguh tidak disangka kaisar pemalas ini malah membuat moodnya jadi buruk.
“Jika kalian ingin bertengkar, lakukan nanti saja. Putri Permaisuri, mereka sudah menunggumu,” Janda Permaisuri Ming menengahi.
Qingyi mengagumi penguasaan dirinya yang pandai menilai situasi.
Mereka memasuki kawasan Istana Harem. Suasana sedikit berbeda dengan yang terakhir kali. Para tabib istana yang tidak jadi dipecat sudah berkumpul.
Ekspresi mereka menunjukkan harapan yang tinggi saat Qingyi datang. Para tabib itu sudah berusaha mengobati selir-selir, namun hasilnya tidak menunjukkan sesuatu yang memuaskan.
Meskipun enggan, Qingyi tetap harus memeriksa mereka. Kaisar Baili dan Janda Permaisuri Ming menyaksikan secara langsung. Kaisar Baili ingin tahu sampai mana gadis sialan ini mampu menyembuhkan mereka.
Dia tidak begitu berharap istri-istrinya bisa sembuh total. Toh jika dia ingin, dia bisa mencari yang baru. Untuk kaisar sepertinya, mencari selir bukan perkara sulit.
Dua puluh tujuh selir diperiksa dengan bantuan para tabib. Mereka dipisahkan berdasarkan tingkat keparahan kondisi mereka. Yang sudah parah menangis menjadi-jadi, terus bertanya apakah mereka masih dapat hidup atau tidak. Mereka yang belum cukup parah juga menangis, namun dengan suara kecil.
“Berisik! Jika kalian pikir air mata kalian bisa menyembuhkan, itu salah!” seru Qingyi yang tidak tahan akan suara tangisan di sana. Kata-katanya kasar, tapi mengandung kebenaran.
“Beraninya kau meninggikan suara di depanku!” ucap Kaisar Baili. Qingyi menatapnya dengan sengit, dan mendengus kasar.
Kurang ajar! Sekarang gadis itu bahkan berani berdebat dengannya secara langsung!
Para selir yang mendengar seruan itu seketika menghentikan tangis dan tubuh mereka mulai bergetar ketakutan. Suara Kaisar Baili begitu tinggi, sampai-sampai beresonansi dan berdengung di telinga mereka.
Janda Permaisuri Ming jengah, kemudian dia mentapa tajam putranya dan berkata dengan tegas, “Yan’er, diamlah. Biarkan Putri Permaisuri Changle menyelesaikan pekerjaannya.”
“Tidak. Ibunda, sebagai Putri Permaisuri Changle, dia sangat kasar. Aku tidak seperti paman yang bisa menoleransi segala sikap kurang ajarnya itu!”
Lama-lama Qingyi juga jengah. Bisakah Kaisar Baili diam?
Tidak apa-apa jika Kaisar Baili tidak mengucapkan terima kasih. Qingyi juga tidak berharap pria pemalas itu berterima kasih kepadanya.
Hanya saja dia tidak bisa menerima perkataan barusan. Alih-alih membantu, dia malah mengatainya kurang ajar? Qingyi sangat kesal!
__ADS_1
Dia menggebrak meja sampai mengagetkan semua orang. Tatapan Kaisar Baili nyalang dan ingin memakan Qigyi hidup-hidup.
Namun, gadis itu malah berdiri, menatap dingin pada semua selir, terakhir kemudian jatuh kepadanya. Hati Kaisar Baili seperti ditusuk sebilah pedang es. Dingin, dan juga menakutkan.
“Aku tidak mau memeriksa lagi. Yang Mulia, silakan cari orang yang lebih santun daripada Putri Permaisuri Changle ini.”
Maksud Qingyi sudah jelas, ia tidak ingin melanjutkan pekerjaan ini lagi. Sikap Kaisar Baili begitu menyebalkan dan ia sangat marah.
Persetan dengan penyembuhan, ia tidak mau mendengar apapun lagi. Qingyi berbalik, kemudian dengan langkah cepat meninggalkan kawasan Istana Harem tanpa menoleh lagi.
Janda Permaisuri Ming memijat pelipisnya, lalu menatap tajam pada putranya. Baru kali ini Kaisar Baili ditatap seperti itu oleh ibunya sendiri.
Seumur hidup, selain kelembutan, dia tidak pernah melihat yang seperti ini. Hati Kaisar Baili mencelos, lidahnya terasa kelu.
“Yang Mulia Ibu Suri, mohon jangan marah. Yang Mulia Kaisar hanya tidak sengaja menyinggung Putri Permaisuri Changle,” ucap kasim pelayan Kaisar Baili. Namun, itu tidak berfungsi. Janda Permaisuri Ming sudah marah.
Seorang selir kemudian menghampiri Janda Permaisuri Ming dan berlutut di kakinya.
Selir itu memohon agar Janda Permaisuri Ming meredakan amarah dan mengingat bahwa semua selir di sini masih memerlukan pemeriksaan. Mengingat itu, tatapan membawa Janda Permaisuri Ming perlahan memudar.
“Tetap di sini dan jangan lakukan apapun!” ucap Janda Permaisuri Ming kepada Kaisar Baili. Kaisar Baili hanya terdiam.
Janda Permaisuri Ming hendak menyusul Qingyi, namun seorang pelayan istana kemudian datang untuk menyampaikan pesan. Setelah menenangkan napas, pelayan istana itu kemudian berkata, “Yang Mulia, Yang Mulia Ibu Suri, Putri Permaisuri Changle mengatakan bahwa dia bukan orang yang tidak berhati nurani. Putri Permaisuri Changle telah membawa segerobak obat herbal untuk mengobati Nyonya-Nyonya Selir.”
“Apa lagi yang dia katakan?” tanya Janda Permaisuri Ming.
“Putri Permaisuri juga berkata jika para Nyonya Selir tidak ingin meminumnya, maka silakan menyiapkan peti mati. Dia bilang, dia tidak menerima reservasi kematian dan tanggungjawab atas kondisi selanjutnya.”
Janda Permaisuri Ming dibuat kaget sampai kehilangan kata-katanya. Baru kali ini dia menerima ucapan seorang wanita yang begitu lugas dan terbuka.
Kemarahannya berangsur-angsur menghilang dan tergantikan oleh harapan baru. Putri Permaisuri Changle ternyata bukan orang yang berhenti begitu saja. Sebetulnya, dia masih menyimpan kepedulian.
“Kau melihatnya, bukan? Jelaskan baik-baik peristiwa hari ini kepada pamanmu!” ucap Janda Permaisuri Ming.
__ADS_1
Kaisar Baili tetap diam. Ada gejolak api di dalam dadanya, namun dia jatuh dalam ketidakberdayaan setiap kali menghadapi ibu kandungnya ini.